Share

BAB 3

"Tetapi malam ini aku harus menginap di mana?" Mengingat dia sering kena marah orang tuanya jika bermalam di sana, apalagi dengan situasi seperti ini.

Yulianna teringat sesuatu. Dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang yang bisa dimintai tolong. Semua orang termasuk temannya dihubungi agar dia bisa menginap malam ini di salah satu tempat temannya. 

Akan tetapi, semua temannya tidak ada yang bisa membantu. Alasan demi alasan ada saja dari ucapan teman-teman yang dihubungi Yulianna. 

"Maaf, Yulianna, kau tahu sendiri rumahku tidak memiliki kamar kosong untuk kamu tempati," ucap teman Yulianna di telepon. 

"Ayolah, Rika, kan, aku bisa tidur di kamar berdua denganmu." Yulianna merengek kepada temannya yang bernama Lesti.

"Apa kau sudah gila! Suami dan Anakku mau bagaimana? Apalagi Hendra, anakku masih bayi dan harus diawasi. Tidak, tidak, kau cari penginapan saja!" Lesti menutup percakapan secara tiba-tiba. 

"Dasar! Semuanya sama saja, susah sekali dimintai tolong. Apa salahnya Suami dan Anaknya tidur di ruangan tamu untuk semalam?" Di sepanjang jalan, Yulianna mengumpat dengan ekspresi wajah kesal. 

Yulianna tidak kehabisan akal, dia menelepon Rita. Wanita paruh baya yang akan membeli anaknya. 

"Nyonya, apa aku bisa meminta sisa uangnya malam ini? Dan, aku ingin bertemu denganmu juga. Tolong kamu persiapkan hotel untukku menginap malam ini, kalau tidak perjanjian kita batal!" ancam Yulianna kepada Rita melalui telepon. 

"Kau sekarang di mana? Apa kau bersama anak itu?" tanya Rita. 

"Aku tunggu kamu di minimarket  di jalan Yos Sudarso, kita bicarakan ini nanti," jawab Yulianna. 

"Baiklah, kau tunggu di sana," balas Rita dan percakapan pun berakhir. 

Yulianna tersenyum dan bergumam, "Kira-kira berapa uang yang akan diberikan Nyonya itu kepadaku nanti?" Sambil mengusap kedua telapak tangannya, membayangkan uang yang begitu banyak akan dia dapat. 

Di sebuah apartemen, Rita yang sedang duduk bersandar di sofa, sejurus kemudian langsung beranjak berdiri setelah mendapat telepon dari Yulianna. 

"Siapkan mobil!" perintah Rita kepada para pengawal setianya.  

Pengawal-pengawal itu patuh lalu membungkukkan badan. Berbalik badan, melaksanakan perintah tuannya.  

"Tunggu!" Tiba-tiba Rita bersuara, menghentikan langkah mereka. 

"Mengapa, Nyonya?" tanya salah satu pengawal. 

"Sepertinya kalian butuh sedikit hiburan, bagaimana jika kutawarkan hal yang menyenangkan untukmu." Rita tersenyum miring saat menyampaikan hal tersebut.

"Maaf, Nyonya, saya tidak mengerti maksud Anda," ucap pengawal tersebut.  

"Bersenang-senanglah nanti di hotel dan setelah itu, Kau tau maksudku, bukan?" Rita menjelaskan sambil menunjukkan foto Yulianna. 

"Baik, Nyonya."  Para pengawal itu sudah paham dengan maksud Rita. 

"Dan, seperti biasa, jangan meninggalkan jejak." Rita mengingatkan. 

Rita berencana melenyapkan Yulianna karena merasa terhina oleh sikap Yulianna yang dianggap mengancamnya tadi. Berani sekali Yulianna mengatakan itu kepadanya. 

Di sisi lain, tepatnya di tempat Yulianna berada. Dia merasa jengkel sebab Rita tak kunjung datang. Dirinya sudah kedinginan. 

"Lama sekali j*lang itu." Yulianna merasa sedikit bosan telah lama menunggu Rita selama empat puluh tujuh menit. 

Pada akhirnya, dia merasa lega karena sudah melihat Rita telah tiba di seberang jalan. 

Rita yang membuka kaca mobil, mengisyaratkan Yulianna agar menghampirinya.  

"Masuk!" perintah Rita ketika Yulianna sudah di dekatnya. 

Yulianna pun dengan senang hati memasuki mobil mewah itu. 

"Bagaimana, apakah kau sudah membawa ceknya?" tanya Yulianna girang. 

"Ini cek sisa pembayaran." Rita dengan santai memberikan melalui antara sela dua jarinya. 

"Mana anak itu?" tanya Rita. Sebab dia kira, Yulianna akan datang bersama anaknya. 

"Kau bisa membawanya ... dia ada di rumah," jawab Yulianna dengan senyum lebar melihat cek itu tertulis satu miliar rupiah, membuat Yulianna kalut dan tidak sadar bahwa sebenarnya telah ditipu oleh Rita. 

"Jalan!" perintah Rita kepada sopir pribadi sekaligus pengawalnya. 

Sampailah mereka di hotel berbintang lima yang megah dan sangat terkenal di kota itu. Rita yang tersenyum lalu berkata, "Ini kunci hotel dan kau bisa langsung masuk." Jelasnya kepada Yulianna sekaligus memberikan KeyCard. 

Tanpa kecurigaan, Yulianna turun dari mobil. Dia bergegas masuk ke dalam hotel dan segera ingin melihat dan mencari kamar hotel yang telah disewa untuknya. Dia sangat bahagia karena selama ini dirinya tidak pernah merasakan menginap di hotel, apalagi berbintang lima. 

Yulianna sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Sungguh sebuah bangunan yang mewah. Melihat bangunan yang megah dan kokoh tersebut membuat dirinya berdesir kagum. 

Rita tersenyum kecut memperhatikan Yulianna yang sangat norak dan dia segera meninggalkan wanita itu. 

"Kalian berdua silakan menikmati hidangannya, jangan sampai membuat kecerobohan!" bisik Rita dengan tegas di hadapan kedua pengawalnya. 

Dengan persiapan yang matang, Rita berencana akan naik taksi untuk menjemput David, sedangkan pengawalnya harus memarkirkan mobil mereka tanpa tertangkap kamera CCTV di sekitar. 

"Manajer, Gin! Satu jam lagi CCTV hotel harus kau matikan! Khusus untuk koridor kamar nomor 2077, jangan kau hidupkan jika anak buahku melewatinya. Untuk arahan selanjutnya, kau tunggu anak buahku yang menghubungimu nanti." Rita berbicara di telepon kepada orang suruhannya dan kemudian mematikannya. 

Jelas saja Rita ingin melenyapkan Yulianna tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sebuah mobil lain yang akan dinaiki Rita pun telah tiba di basement hotel. Mobil yang dikendarai oleh pengawal Rita yang lain pun segera pergi meninggalkan lokasi hotel. 

"Turunkan aku di sini! Dan, kau, Hon berhentikan satu taksi untukku!" Rita berbicara kepada pengawalnya tersebut. Hon adalah nama samara.

"Nyonya tidak masalah bepergian ke rumah wanita itu sendirian?" tanya Hon.

"Tidak masalah, biar aku urus untuk urusan begini. Kalian nanti akan aku hubungi setelah aku membereskan anak itu," jawab Rita. Sehabis dari hotel, tujuannya adalah ke ruma Yulianna. 

"Anak itu sedang di rumah sendirian, tidaklah sulit membujuk dan membawanya. Dan, segera pesan tiket pesawat untuk mengantarkan anak itu ... klien sudah menyewa orang untuk membawa anak tersebut nanti.” Rita melanjutkan pembicaraannya lalu keluar dari dalam mobil.

Dalam kamar mandi hotel, memperlihatkan Yulianna sedang berendam dalam bathtub. Dia sangat merasakan ketenangan akan manjaan pelayanan yang diberikan oleh benda itu karena baru saat ini dia bisa menikmati hidup mewah seumur hidupnya. 

Yulianna sempat berpikir betapa malunya dia saat petugas memandu sampai ke depan kamar hotel. 

“Ah, sudahlah. Tak perlu aku pikirkan. Untuk saat ini, aku bisa menikmati menjadi orang kaya,” ucapnya penuh kegembiraan. 

Ketika sedang asyik berendam, dirinya seperti melihat bayangan melintas dari balik pintu kamar mandi.  

“Hei, siapa di sana?” tanya Yulianna. 

Tersentak Yulianna segera keluar dari dalam bathtub membilas dirinya dan memakai handuk untuk segera memeriksa keadaan dikamarnya. 

Merasa heran dan tidak mungkin ada orang lain yang bisa masuk ke dalam kamar tersebut selain dirinya.  

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status