LOGIN"Aku datang untuk membicarakanmu, Gardan."Gardan mengerutkan kening, sementara Yara kembali menatap perempuan asing itu dengan penuh kecurigaan.Sang Penyihir tampak tidak terganggu oleh sikap keduanya, bahkan dengan santai menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan mereka."Tentang aku?" tanya Gardan."Iya. Tentang kemampuanmu menyerap energi makhluk lain, misalnya. Atau mimpi-mimpi aneh yang belakangan sering kamu alami."Sang Penyihir melirik Sang Siluman yang masih duduk di tempatnya. "Dan mungkin kamu juga penasaran mengapa teman barumu ini selalu mengalami perubahan yang menyakitkan setiap malam."Gardan terdiam. Ia menatap Sang Penyihir beberapa saat, berusaha memahami bagaimana perempuan yang baru dua kali ditemuinya itu bisa mengetahui begitu banyak hal tentang dirinya."Kamu tahu semua itu dari mana?"Sang Penyihir tersenyum."Tunggu. Jangan-jangan selama ini kamu ngikutin aku ya?""Yah, sekarang kamu tahu."Jawaban yang begitu santai itu membuat Gardan semakin tidak nyaman.
Langkah kakinya tampak anggun saat menyusuri jalanan sepi, menuju suatu tempat yang jauh dari keramaian. Sebuah bangunan kecil bekas warung internet yang telah lama terbengkalai menjadi tempat persembunyiannya selama ini.Di dalamnya, deretan komputer rusak dan perabotan berdebu memenuhi ruangan yang pengap dan berbau lembab. Beberapa mayat korban wabah menari masih tergeletak di antara meja dan kursi, membusuk dalam kesunyian.Sang Penyihir berjalan menuju dinding di bagian belakang ruangan, mengangkat sebelah tangannya, lalu merapalkan suatu mantra."Velum findatur. Loca coniungantur."Garis-garis cahaya ungu muncul di permukaan dinding, perlahan membentuk sebuah pintu kayu berukir dengan gagang logam kehitaman. JLEG. Krieeekk. Sang Penyihir membuka pintu tersebut, mengarahkannya ke sebuah ruangan ritual luas berdinding batu yang diterangi puluhan lilin.Di sepanjang dinding batu, rak-rak kayu dipenuhi kitab-kitab tua, dan berbagai perlengkapan sihir. Ia berjalan menuju sebuah
“ANAK-ANAKKU!”Jeritan Wewe Gombel menggema di seluruh lapangan. Makhluk itu menoleh ke arah yang tidak diketahui Gardan.“Ora… ora mungkin….”Gardan masih berusaha mengatur napas. Seluruh tubuhnya terasa remuk setelah menerima serangan demi serangan. Yara… mereka berhasil, pikir Gardan sedikit lega. Wewe mendadak berbalik. Kedua matanya membelalak, menatap Gardan dengan kemarahan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.“KOWE!”Gardan tersentak.“BALIKNO ANAK-ANAKKU!”Wewe menerjang.“Ah, sial!!!”Gardan mencoba menghindar, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah. Sebuah hantaman mengenai bahunya, membuatnya terpelanting dan jatuh berguling di atas tanah. Belum sempat bangkit, Wewe kembali menyambar, mencengkeram erat lehernya dan mengangkat tubuhnya hingga kedua kakinya menggantung.“Akh… le… pas….”Gardan meronta. Kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman Wewe, tetapi tenaga yang tadi sempat muncul entah ke mana perginya kali ini.Wajahnya mulai memerah. Pandangannya perlahan
Yara masih berdiri di tengah kegelapan dengan senter yang tidak lagi menyala.Ia menatap titik cahaya kekuningan di kejauhan, mencoba memperkirakan jarak yang harus ditempuh. Ora ono jalan mbalik. Rencana sing keren, Yar, gerutunya, menyesali pilihannya untuk masuk ke Ruang Antara. Yara memasukkan senter ke dalam tas, kemudian mulai berjalan.Ia mengangkat kedua tangan sedikit di depan tubuhnya untuk mengantisipasi benda yang mungkin menghalangi jalan. Beberapa kali ujung sepatunya membentur permukaan keras, memaksanya berhenti dan mencari pijakan lain sebelum kembali bergerak menuju titik cahaya.Tanpa peringatan, dari arah kirinya terdengar suara gesekan rantai besi yang ditarik. Ngiiiikk. Klang.Yara membeku. Ia menoleh, tetapi hanya menemukan kegelapan.“Halo? Sopo iku?” suaranya menggema. Tidak ada jawaban.Yara menunggu beberapa detik sebelum kembali berjalan.Sesuatu melintas cepat di belakangnya. Whoosh.Ia langsung berbalik.Untuk sesaat, sebuah bayangan tampak bergerak
“Jadi, kita masuk dari lapangan tempat kedua anak itu terakhir terlihat?” tanya Gardan sambil memperhatikan Sang Siluman yang sedang duduk di seberang meja.“Ora kita,” sahut Yara. “Aku sing masuk.”Gardan menoleh dalam bingung. Yara mengambil selembar kertas bekas dari bawah meja, lalu menggambar sebuah lingkaran besar menggunakan pensil yang ditemukannya di atas meja dekat kaleng biskuit.Di dalam lingkaran itu, ia membuat beberapa garis tidak beraturan sebelum menambahkan sebuah titik kecil di salah satu sisinya.“Kita anggap iki Ruang Antara,” ujarnya. “Menurut ceritane Sang Siluman, tempat itu gelap, kan?”Sang Siluman mengangguk. “Setidaknya bagian-bagian yang pernah kulihat.”“Anak-anak itu butuh tempat buat turu, mangan, dan dolanan. Kalau teoriku bener, di tempat itu mesti ono bagian sing punya cahaya.”Gardan memperhatikan gambar tersebut. “Kamu yakin? Mereka di tempat yang terang?”“Yo, belum tentu bener, tapi aku kehabisan ide. Kamu punya cara lain?”Gardan menatapnya, la
Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat di belakang rumah. Seorang wanita mengangkat panci berisi air panas dengan kedua tangan.Ia menuangkannya perlahan ke dalam teko, lalu melirik tiga orang anak yang sejak tadi duduk mengelilingi meja kayu sederhana di ruang tengah.“Mas, bukune ojo direbut adhikmu.”Anak laki-laki yang paling besar segera melepaskan buku tipis yang tadi diperebutkan dengan adiknya. Anak perempuan di sebelahnya langsung menarik buku tersebut ke dalam pelukan. Si bungsu hanya tertawa sambil memainkan sendok di atas lantai.Wanita itu menggeleng sambil tersenyum. “Durung ditinggal wae wis rame.”Rumah mereka tidak besar. Dinding anyaman bambu yang mulai kusam memisahkan beberapa ruangan sederhana yang dihiasi dengan meja, kursi, lemari kayu, serta sebuah radio tua yang terletak di sudut ruang tengah.Di dinding dekat lemari tergantung sebuah kalender bergambar pemandangan pegunungan. Sebentar maneh wis arep taun 1979. Ora krasa, batinnya sambil menatap datar.Wa







