INICIAR SESIÓNBab 24 Pertengkaran Hadi dan Bashira"Pa, kenapa urusan di luar belum selesai juga? Ayo cepat pulang! Barusan Bashira mengamuk dan hampir menampar Dania!"Telepon dari istrinya membuat Hadi terpaksa menyudahi pertemuan dengan orang penting. Ya, lelaki paruh baya itu mampir ke tempat lain setelah pulang bekerja. Hadi berusaha mengumpulkan sekutu.Pulang ke rumah, orang pertama yang ia temui adalah Lita."Mama betul, Shira mau menampar Dania?""Iya, Pa!" jawab Lita berbohong. Lita mendramatisir keadaan, berkata bahwa Bashira tiba-tiba saja mengamuk saat mereka sedang bicara. Pada Hadi, Lita menyimpulkan Bashira kesal atas tingkahnya yang masih saja dingin.Di posisi Hadi, ia tidak terima atas tingkah Bashira. Menurutnya itu sudah sangat keterlaluan."Sekarang gimana sama keadaan Dania?" tanya Hadi khawatir."Dania masih nangis, Pa. Tapi sepertinya, lebih baik Papa temui Bashira lebih dulu. Minta dia supaya tidak mengulang kejadian tadi. Kasihan Dania!"Hadi mengangguk tanpa banyak berta
Bab 23 Amarah Yang PecahSabian bergegas pulang setelah mengantarkan Bashira dengan selamat, katanya harus bertemu lagi dengan seorang staff perusahaan, sebelum nanti singgah makan malam di rumah Wira.Bashira masuk ke dalam. Rasa lelah yang sempat hilang, harus kembali menyapa tatkala melihat ada banyak sekali barang belanjaan di atas meja. Sepatu, tas, dan lainnya berserakan di atas lantai."Menurut Mama mana yang bagus buat aku pake besok malam? Yang biru atau merah, Ma?" Dania memperlihatkan gaun dengan warna dan model yang berbeda di depan Lita.Sementara itu, Lita duduk di atas sofa, baru saja mencoba sepatu yang ditaksir harganya sampai belasan juta."Yang merah bagus, Sayang, nanti warna kulit kamu akan terlihat lebih cerah. Mama sarankan juga, besok malam rambut kamu digerai aja.""Tapi kalau digerai, nanti kalung yang baru kita beli gak kelihatan, Ma. Mama tau sendiri 'kan, temen-temenku itu nyebelin banget, mereka selalu nyari-nyari kesempatan bikin aku kesel!" Dania mengom
Bab 22 Minta Maaf Lagi?"Boleh aku bertanya, Ra?" Sabian memulai pembicaraan lebih dulu, setelah lima menit terlewati begitu saja, sejak mereka masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalan pulang menuju kediaman Bashira.Bashira menoleh sebentar, memberikan anggukan kepala sebagai izin."Ada masalah apa antara kamu sama Om Hadi?" tanya Sabian pelan, penuh kehati-hatian.Sempat timbul rasa terkejut di hati Bashira. Yang dilakukannya sekarang adalah menatap Sabian, cukup lama dan dalam."Jangan tatap aku begitulah, Ra," protes Sabian mencoba fokus dengan kemudinya. "Silakan jawab kalau mau. Tapi kalau keberatan, ya tidak perlu dijawab.""Kenapa kamu berpikir aku sama Papa punya masalah?" Bashira balik bertanya, penasaran dari mana Sabian tahu semuanya. Apakah lelaki itu punya indera keenam sehingga bisa menebak isi hati orang lain?"Bodoh kamu, Ra, mana ada kemampuan semacam itu di dunia ini." Bashira malah menyanggah dugaannya dalam hati."Aku sempat lihat kamu berusaha bicara sama Om H
Bab 21 Perubahan SikapBashira kerap memikirkan sikap Hadi, mulai menyalahkan diri sendiri karena tak bisa memenuhi keinginan sang ayah. Namun, Bashira benar-benar tidak bisa berbuat banyak, jika keinginan Hadi bersinggungan langsung dengan Hotel Pakusadewo.Begitulah hidup Bashira. Setelah mendiang ibunya meninggal, ia semacam memiliki ketakutan ditinggalkan orang tersayang. Dulu pun saat Hadi meminta izin menikah dengan Lita dan membawanya tinggal di rumah mereka, sebenarnya Bashira sempat menolak.Ia takut Hadi akan melupakannya, lebih menyayangi Lita dan Dania. Namun, semua kekhawatiran itu ditepis oleh sikap Hadi yang mampu bersikap adil. Tiap kali Dania berulang tahun, maka Bashira juga akan mendapatkan hadiah. Begitu pula sebaliknya.Bahkan setiap liburan keluarga, Hadi selalu menyempatkan waktu bicara berdua dengan Bashira, menceritakan ulang kenangan mereka dengan Sasmita—mendiang ibu Bashira.Lantas sekarang, kenapa Hadi tiba-tiba berubah? Kenapa ayahnya itu sangat berambisi
Bab 20 Menyiram Bensin Ke Dalam ApiKabar diangkatnya Sabian menjadi wakil direktur telah menyebar, tak hanya menciptakan kehebohan di keluarga Atmadja, tapi Lita dan Dania yang bukan siapa-siapa dan tak memiliki pengaruh apa-apa, menjadi sangat heboh sekaligus tidak tenang."Aku gak habis pikir sama Om Wira, Ma. Selama ini yang berdedikasi di perusahaan pusat 'kan Arion, bukan Sabian. Terus kenapa malah Sabian yang diangkat jadi wakil direktur?" Dania mengomel tanpa henti, mengabaikan makanan lezat di atas meja makan. Ia tak berselera sama sekali."Kamu ini gak usah bersikap terlalu berlebih begitu," ucap Lita berusaha tetap tenang, padahal ia pun ingin berteriak keras setelah menerima kabar pengangkatan Sabian. "Mama yakin kalau Om Wira itu cuma mau menjalankan wasiat dari mendiang Pak Seno selama beberapa saat. Nanti kalau Sabian menimbulkan sedikit saja masalah, dia pasti akan langsung dipecat dan diasingkan lagi ke Kalimantan," tuturnya lebih panjang.Dania berusaha percaya, tapi
Bab 19 Tantangan Untuk SabianSetelan jas berwarna biru navy adalah pilihan Sabian untuk pergi ke kantor pusat di hari ini. Lelaki itu datang dengan gagah, ditemani beberapa staff kepercayaan Wira.Inilah hasil dari percakapan antara Sabian dan Wira, ketika Sabian menyempatkan diri datang ke kediaman keluarga Atmadja."Datanglah ke kantor seminggu setelah pertunangan kamu dan Bashira. Papa akan memberikan posisi yang tepat untuk kamu," ucap Wira kala itu.Sabian sempat merasa ragu, lantaran ia sadar akan ada banyak pihak yang menentang keberadaanya di kantor pusat. Dan apa yang ditakutkannya terjadi juga.Saat Sabian diminta datang ke ruangan Wira, beberapa petinggi perusahaan mencegat langkahnya."Kami pikir, kamu sudah kembali ke Kalimantan. Rupanya kamu malah mampir ke sini. Ada apa?" Anton yang memiliki posisi sebagai manager, alias adik Melani, bertanya ketus."Saya datang ke sini atas undangan Papa," jawab Sabian."Undangan macam apa yang diberikan Pak Wira pada kamu, Sabian?" Y







