LOGINPewaris Tunggal Sang Presdir Sinopsis: Camilia dan Brandon adalah sepasang ibu dan anak. Camilia adalah bekas perawat dan pengasuh yang hamil dengan majikannya yang seorang Presiden Direktur perusahaan Cakrawala Abadi Property. Brandon merupakan anak yang dilahirkan Camilia. Meskipun merupakan anak di luar nikah, Brandon diangkat menjadi pewaris ayahnya berkat kemampuannya yang hebat dalam membuat desain property. Hak waris Brandon menjadi rebutan oleh istri sah sang ayah beserta anak-anaknya. Mereka bekerja sama menyingkirkan Brandon. Brandon berhasil mewujudkan mimpinya menjadi ahli desain property yang hebat, berkat kegigihan dan semangat pantang mundurnya. Brandon memulai kariernya di bawah. Sepanjang perjalanan hidup, Camilia dan Brandon penuh rintangan. Sepasang ibu dan anak itu sering terluka. Bahkan Brandon terjebak cinta di antara dua wanita yaitu wanita cinta pertamanya dan seorang wanita yang selalu mendampingi melalui ujian hidup.
View More“No, please don't do that!” I screamed but my screams fell on deaf ears.
The five bullies backed me into a corner until there was nowhere to run and then laughing maniacally they began to make a video of me.A video of me dressed in my underwear which was stained with blood. It was my first menstrual period and I didn't know, I had gotten stained in the girl's bathroom and I didn't know.The girls had taken my clothes and I had to walk to the hallway looking for my uniforms where they waited to make a video of me.“This video will be a constant reminder, Davina,” the worst among them chuckled.“No, please stop it!” I cried.It was embarrassing to say the least but I was also half-naked and I had nowhere else to hide.That was when the worst of it happened. He walked up to me and smeared pig’s blood on my face then in a low voice he said, “That’s what you'll always be known for.”***“Ms. Landon!”I blinked and stared at the shrink in front of me. My dad had suggested this therapy nine years ago else I wouldn't be sitting down in this comfy seat.“Yes?” I prompted.“I’ve been calling you for two minutes now,” My therapist, Mrs. Linda Martin said.I shrugged, “I’ve got a lot of things on my mind, Doctor.”“Do those things involve certain events that occurred nine years ago?” she asked.I thought about my dream last night and then I shook my head.“No, doctor.”“You’ve been my patient for nine years, don't you think I would know when you're lying?” she pointed out.I sighed. “Okay fine. I may have had a thirty seconds dream but that was it and I didn't wake up screaming like others years.”She smiled. “That’s progress, I must say. But do you think this reminder has anything to do with your father’s news?”I smiled politely. “I wasn't thinking about it, Doc, but now that you do mention it I seem to recall that I have a flight to catch in an hour's time if I must be in New York before nightfall.”“Well deflected then, Davina. Commendable,” she smiled, “Have a safe trip and I do hope you face your fears and slay your dragons.”“Of course, Linda, I do intend to slay all my dragons,” I smiled, “Besides, chances are a hundred percent that I might not run into either of them.”“Just keep an open eye, Davina, so you won't be surprised by anything,” she said.“Thanks, Doc,” I nodded before leaving.The flight from London to New York took around eight hours plus and so far it's been my longest trip in nine years since I left New York.Normally I wouldn't be caught dead returning to New York, especially after the incident but my father had summoned me and I felt like I owed him so I had to go.He's been there for me all my life and he protected me when I needed him most so I guess it was only proper for me to answer his distress call besides I needed to discuss things with him; the company in London needed funds from New York headquarters but still nothing so it wasn't doing so well.A few more hours later I landed in the airport where my dad’s chauffeur driver was waiting to pick me up.“Hello, Steve,” I greeted with a small smile.I've always liked this chauffeur especially since he stood up for me against the bullies and the press but that was a story for another day.“Welcome back home, Ms. Landon,” he replied with a small bow.I nodded and entered the limousine before he shut the door. A short ride later and we were pulling into the parking lot of my family’s mansion.I stepped out of the car and rushed into my mother’s outstretched arms.“My baby, I missed you,” she said, kissing my forehead.I chuckled, “Mom, I'm not a baby again. I'm twenty-one years old.”“You’ll still be my baby,” my mom cooed.I smiled and my dad pulled me in for a hug.“Welcome back home, mi amor,” he kissed my forehead.I snuggled into my dad’s arms. Despite the wealth of my family, we've always been an affectionate family that's why I would always be at the beck and call of my family in a heartbeat.“Alright, enough of all this mushy stuff. Why did you call me here, dad?” I quizzed.I noticed the way the temperature dropped in my home. Then my mom ushered me inside, her blonde curls swaying to the breeze as her green eyes faded a little.I noticed the tense look on my father’s dark eyes, his pink lips pulled into a frown, his brows were knitted in worry and he ran his hands through his mass of dark hair.My stomach twisted itself and I felt the sudden need to throw up from nervousness. I couldn't take the suspense any longer so I stopped.I knew they were taking me into the study which was where all important decisions were taken. I could still vividly recall the decision that was made nine years ago, it was made inside that study.I stopped in my tracks causing my mom to bump into me.“What the hell, Davina?!” She eyed me curiously.“I’m sorry mom but this suspense is killing me. What did you and daddy do?” I asked.My mom glanced at my father and she nodded.“We’re sorry, mi amor, but we had no other choice,” my father apologized.“I want to know right now!” I ordered.“Your father has gotten you engaged to someone,” my mother blurted out.“Engaged? Is this a joke?” I asked, laughing.“Your father got you engaged to settle off his debts. Our company is broke and we're owing them bigtime,” my mom further explained.I blinked, fuck she was serious!“It's not going to be permanent, just enough time for me to raise up funds and pay them off, mi amor,” my father said.I sighed, what's the harm in it? I guess I could help my father out this one time.“Fine. Who am I getting married to?” I asked.Then I saw the dread in their eyes and they mentioned a name, the single name that I’d dreaded for nine years.“Jason Sinclair,” my father whispered.The room spun and the ground gave way beneath my feet as I felt myself free-falling into darkness.Brandon menjalani serangkaian operasi di bagian lengan dan tangan karena beberapa jemarinya nyaris putus. Ia yang terbaring di meja operasinya pikirannya berkecamuk, sesaat sebelum obat bius bereaksi di tubuhnya. Bayangan wajah ibunya, Martin, Angel bahkan gadis yang ia sangka Emily memenuhi otaknya silih berganti.Pandangannya makin lama makin kabur saat gorden ruang operasi telah ditutup. Kesadarannya perlahan hilang, meskipun masih mendengar apapun di sekitarnya. Brandon berharap operasi di tubuhnya lancar dan ia bisa kembali beraktivitas. Bahkan ia juga ingin membuat perhitungan dengan Martin.Sementara, Angel yang setia menunggu Brandon di rumah sakit merasa cemas. Butiran rosario ia genggam kuat sambil mengucap doa demi kelancaran proses operasi pemuda yang diam-diam ia cintai."Nona Angel! Nona sebaiknya pulang dulu, atau setidaknya makanlah di kantin. Saya khawatir dengan Nona," ucap Martin dengan wajah cemas.
"Kamu mau ke mana?" tanya Angel begitu Brandon beranjak dari duduk.Brandon menoleh, menatap Angel dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia kemudian terkekeh, melihat gadis di hadapannya itu wajahnya bersemu merah."Kenapa bertanya aku mau ke mana? Kamu mau ikut?" tanya Brandon kemudian, tetapi Angel malah menggeleng."Gak usah tanya mau ke mana, kalau kamu gak mau ikut. Cantik-cantik, kok, plin-plan!" sindir pemuda itu sambil melirik genit ke arah Angel yang masih terpaku."Tapi!""Tapi, apaan?""Temani nonton, yuk!" seru Angel lantas tertunduk. Gadis itu tiba-tiba memberanikan diri mengajak Brandon."Nonton ke mana? Memangnya kamu gak malu jalan sama aku?" tanya Brandon yang urung melangkah keluar kamar."Kenapa aku harus malu? Kamu baik, tampan. Tapi kadang ngeselin, sih!""What
Brandon berada di stasiun telah hampir setengah jam lamanya. Pemuda itu sebentar-sebentar mengedarkan pandangan ke arah pintu keluar-masuk stasiun. Bahkan ia juga berusaha mengamati setiap penumpang yang naik maupun turun.Sebuah buku yang bertuliskan nama gadis tersebut masih dalam genggaman tangannya yang basah oleh keringat dingin. Brandon tiba-tiba merasakan degup jantungnya berdebar hebat, bersaing dengan suara laju kereta api yang melintas. Ia merasa grogi dan gugup sejak tadi, hingga batinnya berprasangka jika pemilik buku tersebut benar-benar milik gadis yang disukainya saat masih bocah.Tak terasa waktu terus merangkak naik, akan tetapi gadis bernama Emily itu tak kunjung ditemui Brandon. Bahkan batin Brandon sudah tidak sabar. Petugas informasi stasiun mengabarkan jika saat ini tepat jam sembilan pagi. Hal itu, pertanda jika Brandon telah berada di stasiun lebih dari dua jam lamanya.Brandon akhirnya memutuskan
Brandon memasuki halaman luas sebuah rumah mewah. Beruntung, saat dirinya menyelinap, melewati gerbang para penjaga sedang tertidur. Dia lantas berhenti sesaat di halaman, membayangkan deretan masa lalunya. Masa lalu yang begitu menyakitkan baginya, membuat ia ingin membalas dendam atas kesakitannya itu.Sebuah bangunan rumah kecil berhadapan langsung dengan taman, lampunya tampak menyala terang. Pertanda ada seseorang yang Brandon kagumi sedang berada di sana. Perlahan kaki kekarnya melangkah mendekati bangunan rumah itu.Brandon mencari posisi yang tepat untuk mengintip aktivitas di dalam sana. Dia lantas bersembunyi di balik pagar dengan sesekali menyibakkan ranting tumbuhan pagar tersebut. Ekor matanya menatap sang ayah yang sedang beraktivitas di sana. Ayahnya yang telah dua belas tahun ia tinggal gara-gara mencari keberadaan Camilia.Lamunan Brandon mengembara. Ia ingin sekali membalas dendam kepada orang-orang yan
Brandon terkesiap dan lantas menarik lengan salah satu staf yang menolongnya. Ia bergegas menyingsingkan lengan kemeja lelaki itu. Namun, rasa kecewa justru ia dapatkan."Busyet! Kamu mencurigai diriku?" tuduh staf tersebut sembari menatap tajam, seakan-akan merasa jika Brandon
Brandon terpaksa menerima keadaan untuk berbagi kamar dengan Jimmy. Walaupun dia sebenarnya kurang menyukai pemuda yang tampak sombong tersebut. Apalagi Jimmy juga menampakkan sikap kurang bersahabat dengannya.Kini, anak dari Camilia itu menghabiskan waktu lagi, untuk belajar
Setelah beberapa lamanya mengikuti tes tertulis dan praktik tahap pertama, Brandon lolos dengan hasil yang cukup memuaskan. Dia yang hanya mengandalkan pengalaman belajarnya dengan sang ayah dan tidak mengikuti pendidikan formal khusus di bidang itu, wajar saja dengan hasil ujian yang dicapainya.
"Tunggu, Kek!" teriak Brandon, sambil berlari mengejar lelaki tua tersebut. Lagi-lagi dirinya mengusap kasar air mata yang sempat membasahi pipinya.Lelaki lanjut usia itu tampak menghentikan langkah dan menoleh ke arah Brandon. "Kakek, sepertinya aku memilih jalan yang kedua.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore