Share

Bab 5

Penulis: Mochi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 10:52:08

Alicia berjalan pelan menyusuri barisan, matanya menatap tajam pada setiap wajah yang dilewatinya.

Ia tidak membawa alat apa pun, sebab kemampuannya bersumber dari matanya sendiri, pola bunga teratai di sekeliling pupilnya adalah anugerah spiritual langka yang memungkinkannya membaca aliran energi tersembunyi hanya dengan menatap seseorang cukup lama.

"Kenapa dia menatap wajah setiap orang selama itu?" bisik murid di sebelah Suliwa.

"Sepertinya itu kemampuan bawaannya," bisik yang lain. "Kudengar matanya bisa mengenali anomali kultivasi yang tersembunyi, cukup dengan menatapnya saja."

Suliwa menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu.

Ia memusatkan pikirannya untuk menekan sekuat mungkin energi di dalam tubuhnya, berharap Segel Rantai Takdir cukup rapat menyembunyikan keberadaannya.

Satu per satu, Alicia memeriksa para murid, menatap tajam ke dalam mata masing-masing selama beberapa detik untuk membaca aliran energi mereka lewat pola teratai di matanya, namun tidak ada satu pun yang menunjukkan keanehan.

Ia melangkah semakin dekat ke arah barisan tengah, dan jantung Suliwa serasa berhenti berdetak ketika Alicia akhirnya berdiri tepat di hadapannya.

Pola bunga teratai di sekeliling pupil mata Alicia berdenyut samar, hampir tidak kentara, namun cukup untuk membuat matanya menyipit tajam.

"Siapa namamu?" tanya Alicia, suaranya dingin dan penuh selidik.

"Suliwa," jawabnya berusaha sedatar mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Alicia mengamatinya dari atas ke bawah, matanya berhenti sejenak di pergelangan tangan Suliwa yang tertutup rapat oleh lengan jubah. "Kau bekerja di bagian apa?"

"Logistik, terutama pengumpulan tanaman obat di area tebing," jawab Suliwa, mencoba menjaga nada suaranya agar terdengar tetap biasa.

"Ah, begitu rupanya," gumam Alicia. Ia melangkah lebih dekat, matanya tidak pernah lepas dari wajah Suliwa. "Coba, Perlihatkan tanganmu."

Suliwa membeku sesaat, namun cepat menguasai diri. "Tangan saya kotor dan penuh luka gores, Nona. Tidak ada yang menarik untuk dilihat."

"Aku tidak suka bantahan atas perintah ku," balas Alicia tegas, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. "Perlihatkan!"

Dengan enggan, Suliwa menjulurkan kedua tangannya, sengaja menyembunyikan sedikit pergelangan tangan kanannya di balik lengan jubah yang masih menutupinya.

Alicia memeriksa telapak tangannya dengan seksama, mengamati bekas luka gores dan kapalan hasil kerja fisik bertahun-tahun.

"Wah, jadi kau memang benar-benar pekerja keras, ya?" Tanya Alicia, meski nada suaranya masih terdengar tidak sepenuhnya percaya.

Matanya kembali melirik ke arah lengan jubah Suliwa yang masih menutupi sebagian pergelangan tangannya. "Ada apa dengan lenganmu itu?"

"Oh ini.. ini bekas luka bakar lama, Nona," jawab Suliwa cepat, berusaha terdengar sewajar mungkin. "Terkena bara api saat memasak beberapa tahun lalu. Rasanya tidak enak dipandang, jadi saya biasa menutupinya."

Alicia menatapnya lama, seolah mencoba membaca kejujuran di balik kata-katanya.

Pola bunga teratai di sekeliling pupil matanya yang biru muda seakan berdenyut pelan seiring ketajaman fokusnya, membuat tatapan itu terasa jauh lebih menusuk dari sekadar sepasang mata biasa.

Suliwa mempertahankan tatapannya, wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup sangat kencang di balik dada.

"Baiklah," ucap Alicia akhirnya, meski nada suaranya masih menyisakan sedikit keraguan. "Pemeriksaan mu aku hentikan, untuk sekarang."

Ia melangkah pergi untuk melanjutkan pemeriksaan pada murid berikutnya, namun sebelum benar-benar berlalu, ia menoleh sekali lagi ke arah Suliwa.

"Jangan senang dulu. Aku akan kembali lagi," ucapnya singkat, matanya menyipit penuh arti. "Jaga dirimu baik-baik, Suliwa."

**

Suliwa hanya mengangguk singkat, menunggu sampai Alicia benar-benar menjauh sebelum akhirnya menghela napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Tangannya masih gemetar halus, menyadari betapa dekatnya ia baru saja dengan terbongkar.

"Gawat! Sepertinya Dia mulai curiga," batin Suliwa, menatap punggung Alicia yang semakin menjauh bersama kedua pengawalnya. "Aku harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Tabib itu bukan orang yang bisa dianggap remeh."

Sepanjang sisa hari itu, Suliwa tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada tugasnya.

Bayangan mata biru muda Alicia yang menyipit penuh selidik terus terngiang di benaknya, seperti peringatan bahwa hari-hari tenangnya sebagai murid logistik yang tidak berarti mungkin sudah mulai menuju akhir.

Menjelang sore, ketika ia sedang menyusun tumpukan kayu bakar di dekat gerbang belakang, murid penjaga gerbang yang tadi pagi bertemu dengannya kembali menghampiri, wajahnya masih penuh rasa penasaran.

"Bagaimana tadi pemeriksaannya?" tanyanya sambil membantu menyusun kayu. "Aku dengar tabib itu sempat lama sekali memeriksamu."

"Biasa saja," jawab Suliwa singkat, berusaha tidak menunjukkan kegelisahan yang masih tersisa. "Dia hanya bertanya beberapa hal soal tugasku."

"Untung saja bukan aku yang diperiksa lama begitu," murid itu bergidik pelan. "Auranya menyeramkan, walaupun cantik. Seperti bisa melihat langsung sampai ke dalam jiwa seseorang."

Suliwa hanya mengangguk kecil, tidak ingin memperpanjang percakapan yang bisa saja membuatnya semakin gugup.

Ia melanjutkan pekerjaannya dalam diam, meski pikirannya masih terus berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika kecurigaan Alicia semakin menguat.

Malam harinya, setelah seluruh tugas selesai, Suliwa kembali ke sudut tersembunyi di belakang gudang untuk berlatih seperti biasa. Namun kali ini, pikirannya sulit fokus.

Setiap kali ia mencoba menenangkan diri, wajah Alicia yang menatap tajam terus muncul di benaknya.

"Aku harus lebih pandai menyamarkan energi ini," gumamnya sambil mengatur napas, mencoba kembali pada teknik pernapasan yang sudah mulai ia kuasai. "Kalau indranya bisa menangkap sedikit saja kebocoran dari energiku, bisa mati aku. Pokoknya, aku tidak boleh lengah barang sedetik pun."

Ia berlatih lebih lama dari biasanya malam itu, mencoba menekan energinya serapat mungkin hingga hampir tidak menyisakan jejak yang bisa dideteksi.

Keringat membasahi dahinya, namun ia terus memaksakan diri, sadar betul bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal.

Di sisi lain lembah, di dalam sebuah ruangan mewah berhias sutra putih salju, Alicia duduk termenung sambil menatap telapak tangannya sendiri.

Kilatan energi samar yang tadi ia rasakan di dekat murid bernama Suliwa itu terus mengusik pikirannya.

"Orang itu, Suliwa. Aku bisa merasakan energi yang sangat kuat, meskipun hanya samar-samar," gumamnya pelan, jarinya mengetuk pelan permukaan meja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 9

    Malam itu, setelah seluruh murid logistik terlelap, Suliwa mengendap keluar dari gudang mengikuti tanda yang sudah disepakati, sebuah lentera kecil berwarna biru yang digantung di dekat pohon tua perbatasan faksi alkimia. Ia menyusuri jalan setapak sunyi, jantungnya berdegup campuran antara gugup dan harap.Alicia sudah menunggunya di sana, mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, agar tidak terlalu mencolok dalam kegelapan malam. "Kau tepat waktu," ucapnya pelan. "Ikuti aku, dan jangan bersuara."Mereka menyusuri lorong tersembunyi di balik salah satu bangunan faksi alkimia, menuruni tangga batu yang curam menuju sebuah ruangan bawah tanah luas. Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak berisi bahan ramuan langka, sementara di tengahnya terdapat lingkaran formasi berukir yang berpendar samar kebiruan."Tempat apa ini?" tanya Suliwa, matanya menyapu seluruh ruangan dengan kagum."Ruang latihan rahasia leluhur faksi alkimia," jawab Alicia sambil menyalakan beberapa lampu minyak

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 8

    Ruang penyimpanan obat itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil di sudut ruangan. Rak-rak kayu berjejer rapi dipenuhi botol-botol ramuan dan tumbuhan kering, aromanya bercampur antara herbal pahit dan sesuatu yang manis samar seperti mint."Duduklah," ucap Alicia sambil menunjuk bangku kayu sederhana di dekat meja racikan. "Percakapan ini akan lebih lama dari yang kau kira."Suliwa duduk dengan hati-hati, matanya masih waspada mengawasi setiap gerakan Alicia. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"Alicia menarik kursi di seberangnya, duduk dengan sikap tegak yang tidak pernah luntur meski suasana di antara mereka begitu tegang. "Pertama, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit. Dan kedua, aku ingin memastikan energi yang kau sembunyikan itu tidak akan menjadi bencana bagi siapa pun, termasuk dirimu sendiri.""Kenapa kau peduli?" tanya Suliwa, suaranya masih penuh kewaspadaan. "Kau bisa saja langsung melaporkanku

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 7

    Pagi itu datang tanpa peringatan. Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi."Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik.Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia. Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin.Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil. Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan."Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya berge

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 6

    Salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Nona Alicia, apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan hari ini?""Belum bisa dipastikan," jawab Alicia, matanya masih menerawang jauh. "Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan murid bernama Suliwa itu. Ada sebuah energi yang asing, meskipun samar-samar tapi aku bisa merasakannya.""Apakah perlu saya laporkan pada Komandan Kanaka?" tanya pengawal itu.Alicia terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Jangan. Aku hanya ingin memastikan sendiri terlebih dahulu sebelum melibatkan pasukan penegak hukum. Kalau ternyata dugaanku salah, aku tidak ingin ada murid tidak bersalah yang jadi korban kecurigaan berlebihan, apalagi dia dari murid logistik bawah."Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke arah Lembah Gunung Hitam yang gelap diselimuti kabut malam. Matanya menyipit tajam, penuh tekad."Aku akan kembali ke sana," bisiknya pelan. "Dan aku akan memastikan sendiri, energi apa y

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 5

    Alicia berjalan pelan menyusuri barisan, matanya menatap tajam pada setiap wajah yang dilewatinya.Ia tidak membawa alat apa pun, sebab kemampuannya bersumber dari matanya sendiri, pola bunga teratai di sekeliling pupilnya adalah anugerah spiritual langka yang memungkinkannya membaca aliran energi tersembunyi hanya dengan menatap seseorang cukup lama."Kenapa dia menatap wajah setiap orang selama itu?" bisik murid di sebelah Suliwa."Sepertinya itu kemampuan bawaannya," bisik yang lain. "Kudengar matanya bisa mengenali anomali kultivasi yang tersembunyi, cukup dengan menatapnya saja."Suliwa menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu.Ia memusatkan pikirannya untuk menekan sekuat mungkin energi di dalam tubuhnya, berharap Segel Rantai Takdir cukup rapat menyembunyikan keberadaannya.Satu per satu, Alicia memeriksa para murid, menatap tajam ke dalam mata masing-masing selama beberapa detik untuk membaca aliran energi mereka lewat pola teratai di matanya, nam

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 4

    Murid itu mengangguk, lalu berlalu untuk kembali ke posnya.Suliwa menatap punggungnya yang menjauh, dadanya masih terasa sesak oleh kebohongan yang baru saja ia ucapkan.Ia tahu ini hanya permulaan dari rentetan kebohongan yang harus ia jaga rapi-rapi, satu demi satu, tanpa pernah boleh ada celah sedikit pun.Sore harinya, Suliwa kembali ditugaskan mengangkut pasokan air ke sumur belakang gudang, tugas rutin yang biasanya ia kerjakan tanpa banyak berpikir.Namun kali ini, pikirannya terus melayang ke arah percakapan tadi siang, membayangkan wajah tegas Komandan Kanaka yang pernah ia lihat sekilas dalam kilasan ingatan sang Tetua."Kalau dia benar-benar datang ke sini," gumamnya sambil menimba air dari sumur, "apa yang harus kulakukan? Bersembunyi selamanya jelas itu mustahil."Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air yang beriak pelan. Wajah itu masih sama seperti biasa, kurus dan lelah, namun matanya kini menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar rasa lapar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status