LOGINAlicia berjalan pelan menyusuri barisan, matanya menatap tajam pada setiap wajah yang dilewatinya.
Ia tidak membawa alat apa pun, sebab kemampuannya bersumber dari matanya sendiri, pola bunga teratai di sekeliling pupilnya adalah anugerah spiritual langka yang memungkinkannya membaca aliran energi tersembunyi hanya dengan menatap seseorang cukup lama. "Kenapa dia menatap wajah setiap orang selama itu?" bisik murid di sebelah Suliwa. "Sepertinya itu kemampuan bawaannya," bisik yang lain. "Kudengar matanya bisa mengenali anomali kultivasi yang tersembunyi, cukup dengan menatapnya saja." Suliwa menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu. Ia memusatkan pikirannya untuk menekan sekuat mungkin energi di dalam tubuhnya, berharap Segel Rantai Takdir cukup rapat menyembunyikan keberadaannya. Satu per satu, Alicia memeriksa para murid, menatap tajam ke dalam mata masing-masing selama beberapa detik untuk membaca aliran energi mereka lewat pola teratai di matanya, namun tidak ada satu pun yang menunjukkan keanehan. Ia melangkah semakin dekat ke arah barisan tengah, dan jantung Suliwa serasa berhenti berdetak ketika Alicia akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Pola bunga teratai di sekeliling pupil mata Alicia berdenyut samar, hampir tidak kentara, namun cukup untuk membuat matanya menyipit tajam. "Siapa namamu?" tanya Alicia, suaranya dingin dan penuh selidik. "Suliwa," jawabnya berusaha sedatar mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Alicia mengamatinya dari atas ke bawah, matanya berhenti sejenak di pergelangan tangan Suliwa yang tertutup rapat oleh lengan jubah. "Kau bekerja di bagian apa?" "Logistik, terutama pengumpulan tanaman obat di area tebing," jawab Suliwa, mencoba menjaga nada suaranya agar terdengar tetap biasa. "Ah, begitu rupanya," gumam Alicia. Ia melangkah lebih dekat, matanya tidak pernah lepas dari wajah Suliwa. "Coba, Perlihatkan tanganmu." Suliwa membeku sesaat, namun cepat menguasai diri. "Tangan saya kotor dan penuh luka gores, Nona. Tidak ada yang menarik untuk dilihat." "Aku tidak suka bantahan atas perintah ku," balas Alicia tegas, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. "Perlihatkan!" Dengan enggan, Suliwa menjulurkan kedua tangannya, sengaja menyembunyikan sedikit pergelangan tangan kanannya di balik lengan jubah yang masih menutupinya. Alicia memeriksa telapak tangannya dengan seksama, mengamati bekas luka gores dan kapalan hasil kerja fisik bertahun-tahun. "Wah, jadi kau memang benar-benar pekerja keras, ya?" Tanya Alicia, meski nada suaranya masih terdengar tidak sepenuhnya percaya. Matanya kembali melirik ke arah lengan jubah Suliwa yang masih menutupi sebagian pergelangan tangannya. "Ada apa dengan lenganmu itu?" "Oh ini.. ini bekas luka bakar lama, Nona," jawab Suliwa cepat, berusaha terdengar sewajar mungkin. "Terkena bara api saat memasak beberapa tahun lalu. Rasanya tidak enak dipandang, jadi saya biasa menutupinya." Alicia menatapnya lama, seolah mencoba membaca kejujuran di balik kata-katanya. Pola bunga teratai di sekeliling pupil matanya yang biru muda seakan berdenyut pelan seiring ketajaman fokusnya, membuat tatapan itu terasa jauh lebih menusuk dari sekadar sepasang mata biasa. Suliwa mempertahankan tatapannya, wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup sangat kencang di balik dada. "Baiklah," ucap Alicia akhirnya, meski nada suaranya masih menyisakan sedikit keraguan. "Pemeriksaan mu aku hentikan, untuk sekarang." Ia melangkah pergi untuk melanjutkan pemeriksaan pada murid berikutnya, namun sebelum benar-benar berlalu, ia menoleh sekali lagi ke arah Suliwa. "Jangan senang dulu. Aku akan kembali lagi," ucapnya singkat, matanya menyipit penuh arti. "Jaga dirimu baik-baik, Suliwa." ** Suliwa hanya mengangguk singkat, menunggu sampai Alicia benar-benar menjauh sebelum akhirnya menghela napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Tangannya masih gemetar halus, menyadari betapa dekatnya ia baru saja dengan terbongkar. "Gawat! Sepertinya Dia mulai curiga," batin Suliwa, menatap punggung Alicia yang semakin menjauh bersama kedua pengawalnya. "Aku harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Tabib itu bukan orang yang bisa dianggap remeh." Sepanjang sisa hari itu, Suliwa tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada tugasnya. Bayangan mata biru muda Alicia yang menyipit penuh selidik terus terngiang di benaknya, seperti peringatan bahwa hari-hari tenangnya sebagai murid logistik yang tidak berarti mungkin sudah mulai menuju akhir. Menjelang sore, ketika ia sedang menyusun tumpukan kayu bakar di dekat gerbang belakang, murid penjaga gerbang yang tadi pagi bertemu dengannya kembali menghampiri, wajahnya masih penuh rasa penasaran. "Bagaimana tadi pemeriksaannya?" tanyanya sambil membantu menyusun kayu. "Aku dengar tabib itu sempat lama sekali memeriksamu." "Biasa saja," jawab Suliwa singkat, berusaha tidak menunjukkan kegelisahan yang masih tersisa. "Dia hanya bertanya beberapa hal soal tugasku." "Untung saja bukan aku yang diperiksa lama begitu," murid itu bergidik pelan. "Auranya menyeramkan, walaupun cantik. Seperti bisa melihat langsung sampai ke dalam jiwa seseorang." Suliwa hanya mengangguk kecil, tidak ingin memperpanjang percakapan yang bisa saja membuatnya semakin gugup. Ia melanjutkan pekerjaannya dalam diam, meski pikirannya masih terus berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika kecurigaan Alicia semakin menguat. Malam harinya, setelah seluruh tugas selesai, Suliwa kembali ke sudut tersembunyi di belakang gudang untuk berlatih seperti biasa. Namun kali ini, pikirannya sulit fokus. Setiap kali ia mencoba menenangkan diri, wajah Alicia yang menatap tajam terus muncul di benaknya. "Aku harus lebih pandai menyamarkan energi ini," gumamnya sambil mengatur napas, mencoba kembali pada teknik pernapasan yang sudah mulai ia kuasai. "Kalau indranya bisa menangkap sedikit saja kebocoran dari energiku, bisa mati aku. Pokoknya, aku tidak boleh lengah barang sedetik pun." Ia berlatih lebih lama dari biasanya malam itu, mencoba menekan energinya serapat mungkin hingga hampir tidak menyisakan jejak yang bisa dideteksi. Keringat membasahi dahinya, namun ia terus memaksakan diri, sadar betul bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Di sisi lain lembah, di dalam sebuah ruangan mewah berhias sutra putih salju, Alicia duduk termenung sambil menatap telapak tangannya sendiri. Kilatan energi samar yang tadi ia rasakan di dekat murid bernama Suliwa itu terus mengusik pikirannya. "Orang itu, Suliwa. Aku bisa merasakan energi yang sangat kuat, meskipun hanya samar-samar," gumamnya pelan, jarinya mengetuk pelan permukaan meja.Ruangan latihan itu terasa luas dan sunyi, dinding-dindingnya yang dilapisi formasi pelindung kuno memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan. Suliwa berdiri di tengah ruangan, mengatur napasnya sambil mencoba mengingat kembali seluruh kenangan yang pernah ia terima dari proses pembukaan segel tingkat keempat. "Bagaimana kau berencana memulainya?" tanya Alicia, berdiri tidak jauh darinya, siap membantu kapan pun dibutuhkan. "Aku akan mencoba memusatkan kesadaranku pada benang merah yang pernah kutemukan," jelas Suliwa, memejamkan mata untuk berkonsentrasi. "Keinginan tulus untuk melindungi, bukan menguasai atau menghancurkan." Kanaka dan Ferian berdiri di sisi lain ruangan, mengamati dengan seksama, siap membantu kalau situasi berubah berbahaya. "Kami di sini kalau kau butuh sesuatu," ucap Ferian, memberikan dukungan moral. Suliwa mengangguk, mulai memusatkan energinya ke dalam dada, mencoba merasakan aliran kekuatan yang selama ini ia kendalikan melalui Teknik Aliran Tujuh E
Pagi berikutnya, Ferian mengirimkan pesan mendesak melalui salah satu prajurit pengawal, mengundang Suliwa dan Alicia untuk segera bergabung dengannya di ruangan khusus yang telah disiapkan untuk mempelajari arsip yang dibawa delegasi Sekte Pedang Langit. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan kegembiraan yang tertahan."Aku menemukan sesuatu," ucap Ferian begitu mereka tiba, menunjuk pada sebuah gulungan kuno yang terbentang di atas meja kerjanya. "Catatan ini berasal dari masa pendirian Sekte Pedang Langit sendiri, mendokumentasikan pertemuan pertama antara pendiri sekte kami dengan sosok-sosok dari Kuil Awan Beku."Suliwa dan Alicia mendekat, mengamati tulisan kuno yang memenuhi gulungan itu, sebagian sudah pudar namun masih bisa dibaca dengan seksama. "Apa yang kau temukan tentang simbol itu?" tanya Suliwa penasaran."Di sini," Ferian menunjuk pada sebuah bagian, "disebutkan tentang konflik lama antara Kuil Awan Beku dengan sebuah kelompok yang menyebut diri mereka Aliran
Malam itu, setelah seluruh diskusi strategi selesai untuk hari itu, Suliwa dan Alicia kembali ke kamar mereka masing-masing, namun sebelum benar-benar beristirahat, mereka berkumpul di kamar Suliwa untuk mencoba menghubungi sosok pendiri kuil seperti yang sudah direncanakan."Kau siap mencobanya?" tanya Alicia, duduk di dekat Suliwa yang memegang cincin gioknya dengan hati-hati."Sesiap yang bisa kulakukan," jawab Suliwa, memejamkan mata dan memusatkan energinya ke dalam cincin itu, mengingat teknik yang pernah diajarkan untuk berkomunikasi jarak jauh.Cincin itu mulai berdenyut hangat, dan setelah beberapa saat yang terasa panjang, suara samar mulai terdengar dalam kesadaran Suliwa, jauh lebih lemah dibandingkan komunikasi mereka sebelumnya di perjalanan pulang dari kuil."Suliwa," terdengar suara sosok pendiri kuil, terputus-putus namun masih bisa dipahami. "Koneksi kita semakin melemah seiring jarak yang bertambah jauh.""Kami butuh bantuanmu," ucap Suliwa cepat, menyadari waktu ko
Kanaka dan Wulandari melangkah menuju ruang tahanan khusus yang telah disiapkan untuk Moza, sebuah kamar sederhana namun terjaga ketat dengan formasi penahan energi yang mencegah kemungkinan pelarian menggunakan kultivasi. Moza duduk di sudut ruangan itu, penampilannya jauh berbeda dari sosok anggun yang biasa memancarkan kepercayaan diri."Moza," sapa Kanaka, suaranya tegas namun tidak lagi menyimpan amarah yang sama seperti sebelumnya. "Kami punya beberapa pertanyaan tambahan untukmu."Moza mengangkat wajahnya, matanya yang biasa berkilau penuh perhitungan kini menunjukkan kelelahan dan sedikit ketakutan. "Aku sudah mengatakan semua yang kutahu.""Mungkin ada detail yang belum sempat terungkap," ucap Wulandari, duduk di kursi yang disediakan di seberang Moza. "Kami membutuhkan informasi lebih lanjut tentang cara komunikasimu dengan pihak yang mengaku sebagai perwakilan Aldebaran."Moza menghela napas panjang, menyadari bahwa kerja sama penuh mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk
Ruang pertemuan kecil yang biasa digunakan tim strategi aliansi baru itu dipenuhi ketegangan begitu Suliwa dan Alicia tiba, membawa buku tua dan laporan tentang kemungkinan penyusupan yang baru saja mereka rasakan. Wulandari, Kanaka, dan Ferian sudah menunggu, wajah mereka menunjukkan keseriusan yang sama."Ada apa?" tanya Wulandari, memperhatikan raut wajah Suliwa dan Alicia yang tampak tegang."Kami menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan," ucap Alicia, meletakkan buku tua itu di atas meja. "Sekaligus merasakan indikasi bahwa mata-mata Aldebaran mungkin sudah berhasil menyusup ke area sekte."Kanaka segera duduk tegak, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada laporan itu. "Penyusupan seperti apa yang kalian maksud?"Suliwa menjelaskan kejadian di lorong, bagaimana salah satu prajurit pengawal mereka merasakan sensasi diawasi yang mengarah ke sayap timur, tempat kamarnya berada. "Kami tidak menemukan siapa pun secara langsung, tapi sensasinya cukup kuat untuk tidak diabaikan.""Ini sejal
Siang itu, ketika sebagian besar delegasi sibuk dengan urusan masing-masing, seorang murid muda dari Sekte Gunung Hitam berjalan sendirian menyusuri lorong sempit menuju perpustakaan sekte, membawa beberapa gulungan yang harus ia kembalikan. Ia tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit terakhir, seseorang mengikutinya dari kejauhan."Permisi," sebuah suara lembut memanggil dari belakang, membuat murid itu berhenti dan menoleh.Seorang wanita asing berdiri di sana, mengenakan jubah sederhana tanpa lambang sekte yang jelas, senyumnya ramah namun ada sesuatu yang aneh dalam sorot matanya. "Aku baru di sini, mengunjungi kerabat dari salah satu delegasi. Bisakah kau menunjukkan arah menuju aula pertemuan?""Tentu," jawab murid itu, tidak curiga sedikit pun. "Ikuti jalur ini, belok kiri di persimpangan berikutnya.""Terima kasih," ucap wanita itu, namun tidak langsung pergi. "Kudengar ada kehebohan besar kemarin. Seorang pewaris misterius muncul di tengah pertemuan?"Murid itu mengangguk,







