Compartir

Bab 6

Autor: Mochi
last update Fecha de publicación: 2026-07-24 10:53:13

Salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Nona Alicia, apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan hari ini?"

"Belum bisa dipastikan," jawab Alicia, matanya masih menerawang jauh. "Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan murid bernama Suliwa itu. Ada sebuah energi yang asing, meskipun samar-samar tapi aku bisa merasakannya."

"Apakah perlu saya laporkan pada Komandan Kanaka?" tanya pengawal itu.

Alicia terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Jangan. Aku hanya ingin memastikan sendiri terlebih dahulu sebelum melibatkan pasukan penegak hukum. Kalau ternyata dugaanku salah, aku tidak ingin ada murid tidak bersalah yang jadi korban kecurigaan berlebihan, apalagi dia dari murid logistik bawah."

Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke arah Lembah Gunung Hitam yang gelap diselimuti kabut malam. Matanya menyipit tajam, penuh tekad.

"Aku akan kembali ke sana," bisiknya pelan. "Dan aku akan memastikan sendiri, energi apa yang ada di tubuh Suliwa."

Sejak pemeriksaan pertama itu, Alicia tidak benar-benar pergi jauh dari Lembah Gunung Hitam.

Ia mendirikan pos sementara di dekat perbatasan, alasan resminya untuk mengawasi kondisi kesehatan para murid yang bertugas di wilayah berbahaya itu.

Namun Suliwa tahu betul, alasan sesungguhnya jauh lebih personal dari itu.

Hampir setiap dua atau tiga hari sekali, Alicia akan muncul di area gudang logistik dengan berbagai alasan, memeriksa persediaan obat, mengecek kondisi murid yang terluka, atau sekadar berjalan-jalan mengelilingi area kerja.

Setiap kali itu terjadi, matanya yang berpola teratai selalu sempat mampir ke arah Suliwa, meski hanya sekilas.

"Suliwa," panggil Alicia suatu pagi, muncul tiba-tiba di dekat tempatnya sedang memilah tanaman obat. "Aku dengar kau yang paling sering mengambil jamur es dari tebing dalam."

"Benar, Nona," jawab Suliwa, berusaha terdengar sesantai mungkin meski jantungnya langsung berdegup lebih cepat. "Sudah tugas saya sejak beberapa tahun terakhir."

"Menarik sekali," ucap Alicia sambil mengambil salah satu jamur dari keranjangnya, mengamatinya dengan seksama. "Jamur ini hanya bisa tumbuh di tempat dengan konsentrasi energi spiritual yang cukup tinggi. Kau pasti sering terpapar energi semacam itu, ya?"

Suliwa berusaha menampilkan ekspresi bingung yang meyakinkan. "Saya tidak begitu paham soal energi-energi begitu, Nona. Saya hanya tahu di mana tempat jamur ini biasa tumbuh."

"Benarkah?" Alicia menatapnya lekat-lekat, tidak terkesan sepenuhnya percaya. "Kau tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh saat berada di sana? Pusing, mual, atau mungkin sensasi hangat yang tidak biasa?"

"Yang saya rasakan hanya lelah dan lapar, Nona," jawab Suliwa sambil menggaruk kepalanya, sengaja menunjukkan sikap kikuk seorang murid rendahan yang tidak terbiasa berbicara dengan orang penting. "Kadang juga takut kalau bertemu binatang buas."

Alicia mengamatinya beberapa saat lagi, namun akhirnya hanya mengangguk pelan, meski keraguan masih terlihat jelas di sudut matanya sebelum ia berlalu untuk memeriksa area lain.

Begitulah pola yang terus berulang selama beberapa minggu berikutnya.

Alicia akan datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar biasa namun sebenarnya penuh jebakan, dan Suliwa akan menjawabnya dengan sikap bodoh dan ceroboh yang ia latih sedemikian rupa hingga terasa alami.

**

Suatu siang, Alicia bahkan membawa sebuah ramuan kecil berwarna kebiruan dalam botol giok, menawarkannya pada Suliwa dengan alasan sebagai obat penambah stamina untuk para murid logistik yang bekerja keras.

"Minumlah ini," ucap Alicia sambil menyerahkan botol itu. "Minuman ini bisa membantu memulihkan tenagamu setelah bekerja seharian."

Suliwa menerima botol itu dengan ragu, hidungnya yang sensitif segera mencium sesuatu yang tidak biasa dari aroma ramuan itu, samar namun cukup untuk membuatnya waspada. "Terima kasih, Nona. Tapi perut saya sedang tidak enak akhir-akhir ini. Mungkin lain kali saja."

"Kau yakin?" Alicia menatapnya tajam. "Ramuan ini sangat baik untuk kesehatan, apalagi untuk pekerja berat sepertimu."

"Saya yakin, Nona," jawab Suliwa sambil membungkuk sopan, mengembalikan botol itu. "Takutnya malah membuat perut saya semakin bermasalah."

Alicia menerima kembali botol itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, namun Suliwa bisa melihat sedikit kekecewaan tersembunyi di balik matanya.

Ramuan itu jelas bukan sekadar penambah stamina biasa, kemungkinan besar dirancang khusus untuk memancing reaksi energi tersembunyi jika diminum oleh seseorang yang menyimpan kekuatan asing di dalam tubuhnya.

Ketegangan semacam itu terus berlanjut hingga suatu hari, ketika Bata kembali mencari gara-gara di depan umum, kebetulan tepat saat Alicia sedang berada di area gudang.

"Suliwa, kau ini benar-benar tolol!" teriak Bata sambil melempar sekeranjang kayu bakar yang baru saja disusun rapi oleh Suliwa, membuat seluruh isinya berantakan di tanah. "Sudah kubilang berapa kali, susunannya harus rapat, bukan asal tumpuk begini, goblok!"

Suliwa hanya menunduk, tidak membalas sepatah kata pun, meski di dalam hati ia menyadari betul bahwa Bata sengaja melakukan ini karena ada Alicia yang menyaksikan.

"Maaf, akan saya perbaiki," ucap Suliwa pelan, suaranya dibuat terdengar takut dan tidak berdaya.

"Perbaiki? Kau ini memang selalu begini, tidak pernah becus mengerjakan apa pun dengan benar," lanjut Bata, nada suaranya semakin merendahkan di depan Alicia yang berdiri tidak jauh dari sana. "Untung saja kau masih diberi kesempatan bekerja di sini, dasar sampah rendahan."

Suliwa berjongkok, memunguti kayu bakar yang berserakan satu per satu dengan gerakan kikuk yang sengaja ia buat-buat, sesekali menjatuhkan kembali kayu yang sudah dipungutnya seolah benar-benar ceroboh.

Ia bisa merasakan tatapan Alicia yang mengamati seluruh adegan itu dari kejauhan.

"Kasihan sekali," gumam Alicia pelan pada salah satu pengawalnya yang menemaninya, meski Suliwa masih bisa mendengarnya samar-samar. "Anak itu benar-benar tidak berdaya."

Mendengar komentar itu, Suliwa menahan diri untuk tidak tersenyum.

Rencananya berjalan sesuai harapan.

Semakin Alicia memandangnya sebagai murid rendahan yang malang dan tidak berbakat, semakin kecil pula kemungkinan kecurigaannya bertahan lama.

Namun di balik topeng kebodohan yang ia perankan, Suliwa tahu betul bahwa permainan ini semakin berbahaya setiap harinya.

Alicia bukan orang bodoh, dan cepat atau lambat, jika ia terus datang dan mengamati dengan seksama, sandiwara ini bisa saja terbongkar oleh kesalahan sekecil apa pun.

Malam harinya, setelah Bata dan yang lain sudah beristirahat, Suliwa duduk sendirian di sudut gudang, menatap ke arah bulan yang menggantung tinggi di langit.

Tangannya masih terasa gemetar halus mengingat kejadian siang tadi, bukan karena penghinaan Bata yang sudah biasa ia terima, melainkan karena kesadaran betapa dekatnya ia dengan bahaya setiap kali Alicia berada di dekatnya.

"Berapa lama lagi aku harus bermain peran seperti ini," gumamnya lirih pada dirinya sendiri, "sebelum akhirnya salah satu dari kami membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 61

    Ruangan latihan itu terasa luas dan sunyi, dinding-dindingnya yang dilapisi formasi pelindung kuno memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan. Suliwa berdiri di tengah ruangan, mengatur napasnya sambil mencoba mengingat kembali seluruh kenangan yang pernah ia terima dari proses pembukaan segel tingkat keempat. "Bagaimana kau berencana memulainya?" tanya Alicia, berdiri tidak jauh darinya, siap membantu kapan pun dibutuhkan. "Aku akan mencoba memusatkan kesadaranku pada benang merah yang pernah kutemukan," jelas Suliwa, memejamkan mata untuk berkonsentrasi. "Keinginan tulus untuk melindungi, bukan menguasai atau menghancurkan." Kanaka dan Ferian berdiri di sisi lain ruangan, mengamati dengan seksama, siap membantu kalau situasi berubah berbahaya. "Kami di sini kalau kau butuh sesuatu," ucap Ferian, memberikan dukungan moral. Suliwa mengangguk, mulai memusatkan energinya ke dalam dada, mencoba merasakan aliran kekuatan yang selama ini ia kendalikan melalui Teknik Aliran Tujuh E

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 60

    Pagi berikutnya, Ferian mengirimkan pesan mendesak melalui salah satu prajurit pengawal, mengundang Suliwa dan Alicia untuk segera bergabung dengannya di ruangan khusus yang telah disiapkan untuk mempelajari arsip yang dibawa delegasi Sekte Pedang Langit. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan kegembiraan yang tertahan."Aku menemukan sesuatu," ucap Ferian begitu mereka tiba, menunjuk pada sebuah gulungan kuno yang terbentang di atas meja kerjanya. "Catatan ini berasal dari masa pendirian Sekte Pedang Langit sendiri, mendokumentasikan pertemuan pertama antara pendiri sekte kami dengan sosok-sosok dari Kuil Awan Beku."Suliwa dan Alicia mendekat, mengamati tulisan kuno yang memenuhi gulungan itu, sebagian sudah pudar namun masih bisa dibaca dengan seksama. "Apa yang kau temukan tentang simbol itu?" tanya Suliwa penasaran."Di sini," Ferian menunjuk pada sebuah bagian, "disebutkan tentang konflik lama antara Kuil Awan Beku dengan sebuah kelompok yang menyebut diri mereka Aliran

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 59

    Malam itu, setelah seluruh diskusi strategi selesai untuk hari itu, Suliwa dan Alicia kembali ke kamar mereka masing-masing, namun sebelum benar-benar beristirahat, mereka berkumpul di kamar Suliwa untuk mencoba menghubungi sosok pendiri kuil seperti yang sudah direncanakan."Kau siap mencobanya?" tanya Alicia, duduk di dekat Suliwa yang memegang cincin gioknya dengan hati-hati."Sesiap yang bisa kulakukan," jawab Suliwa, memejamkan mata dan memusatkan energinya ke dalam cincin itu, mengingat teknik yang pernah diajarkan untuk berkomunikasi jarak jauh.Cincin itu mulai berdenyut hangat, dan setelah beberapa saat yang terasa panjang, suara samar mulai terdengar dalam kesadaran Suliwa, jauh lebih lemah dibandingkan komunikasi mereka sebelumnya di perjalanan pulang dari kuil."Suliwa," terdengar suara sosok pendiri kuil, terputus-putus namun masih bisa dipahami. "Koneksi kita semakin melemah seiring jarak yang bertambah jauh.""Kami butuh bantuanmu," ucap Suliwa cepat, menyadari waktu ko

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 58

    Kanaka dan Wulandari melangkah menuju ruang tahanan khusus yang telah disiapkan untuk Moza, sebuah kamar sederhana namun terjaga ketat dengan formasi penahan energi yang mencegah kemungkinan pelarian menggunakan kultivasi. Moza duduk di sudut ruangan itu, penampilannya jauh berbeda dari sosok anggun yang biasa memancarkan kepercayaan diri."Moza," sapa Kanaka, suaranya tegas namun tidak lagi menyimpan amarah yang sama seperti sebelumnya. "Kami punya beberapa pertanyaan tambahan untukmu."Moza mengangkat wajahnya, matanya yang biasa berkilau penuh perhitungan kini menunjukkan kelelahan dan sedikit ketakutan. "Aku sudah mengatakan semua yang kutahu.""Mungkin ada detail yang belum sempat terungkap," ucap Wulandari, duduk di kursi yang disediakan di seberang Moza. "Kami membutuhkan informasi lebih lanjut tentang cara komunikasimu dengan pihak yang mengaku sebagai perwakilan Aldebaran."Moza menghela napas panjang, menyadari bahwa kerja sama penuh mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 57

    Ruang pertemuan kecil yang biasa digunakan tim strategi aliansi baru itu dipenuhi ketegangan begitu Suliwa dan Alicia tiba, membawa buku tua dan laporan tentang kemungkinan penyusupan yang baru saja mereka rasakan. Wulandari, Kanaka, dan Ferian sudah menunggu, wajah mereka menunjukkan keseriusan yang sama."Ada apa?" tanya Wulandari, memperhatikan raut wajah Suliwa dan Alicia yang tampak tegang."Kami menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan," ucap Alicia, meletakkan buku tua itu di atas meja. "Sekaligus merasakan indikasi bahwa mata-mata Aldebaran mungkin sudah berhasil menyusup ke area sekte."Kanaka segera duduk tegak, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada laporan itu. "Penyusupan seperti apa yang kalian maksud?"Suliwa menjelaskan kejadian di lorong, bagaimana salah satu prajurit pengawal mereka merasakan sensasi diawasi yang mengarah ke sayap timur, tempat kamarnya berada. "Kami tidak menemukan siapa pun secara langsung, tapi sensasinya cukup kuat untuk tidak diabaikan.""Ini sejal

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 56

    Siang itu, ketika sebagian besar delegasi sibuk dengan urusan masing-masing, seorang murid muda dari Sekte Gunung Hitam berjalan sendirian menyusuri lorong sempit menuju perpustakaan sekte, membawa beberapa gulungan yang harus ia kembalikan. Ia tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit terakhir, seseorang mengikutinya dari kejauhan."Permisi," sebuah suara lembut memanggil dari belakang, membuat murid itu berhenti dan menoleh.Seorang wanita asing berdiri di sana, mengenakan jubah sederhana tanpa lambang sekte yang jelas, senyumnya ramah namun ada sesuatu yang aneh dalam sorot matanya. "Aku baru di sini, mengunjungi kerabat dari salah satu delegasi. Bisakah kau menunjukkan arah menuju aula pertemuan?""Tentu," jawab murid itu, tidak curiga sedikit pun. "Ikuti jalur ini, belok kiri di persimpangan berikutnya.""Terima kasih," ucap wanita itu, namun tidak langsung pergi. "Kudengar ada kehebohan besar kemarin. Seorang pewaris misterius muncul di tengah pertemuan?"Murid itu mengangguk,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status