Share

Bab 4

Penulis: Mochi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 10:51:04

Murid itu mengangguk, lalu berlalu untuk kembali ke posnya.

Suliwa menatap punggungnya yang menjauh, dadanya masih terasa sesak oleh kebohongan yang baru saja ia ucapkan.

Ia tahu ini hanya permulaan dari rentetan kebohongan yang harus ia jaga rapi-rapi, satu demi satu, tanpa pernah boleh ada celah sedikit pun.

Sore harinya, Suliwa kembali ditugaskan mengangkut pasokan air ke sumur belakang gudang, tugas rutin yang biasanya ia kerjakan tanpa banyak berpikir.

Namun kali ini, pikirannya terus melayang ke arah percakapan tadi siang, membayangkan wajah tegas Komandan Kanaka yang pernah ia lihat sekilas dalam kilasan ingatan sang Tetua.

"Kalau dia benar-benar datang ke sini," gumamnya sambil menimba air dari sumur, "apa yang harus kulakukan? Bersembunyi selamanya jelas itu mustahil."

Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air yang beriak pelan. Wajah itu masih sama seperti biasa, kurus dan lelah, namun matanya kini menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar rasa lapar dan kelelahan fisik.

"Aku harus lebih kuat," bisiknya pada bayangan itu, tekadnya semakin bulat. "Bukan hanya untuk menyembunyikan ini, tapi juga untuk bertahan kalau suatu hari rahasia ini terbongkar dan aku terpaksa menghadapinya."

Malam harinya, setelah seluruh tugas selesai dan gudang logistik sunyi ditinggalkan para murid yang sudah beristirahat, Suliwa kembali menyelinap ke sudut tersembunyi di belakang bangunan.

Ia duduk bersila seperti malam-malam sebelumnya, mencoba lagi teknik pernapasan yang samar-samar ia ingat dari kilasan memori sang Tetua.

Kali ini, ia lebih fokus, lebih tenang. Perlahan, ia merasakan aliran energi di dalam tubuhnya mulai bergerak lebih teratur, tidak lagi liar dan menyakitkan seperti malam pertama.

Meski hanya sedikit demi sedikit, Suliwa mulai merasakan secercah kendali yang sebelumnya terasa mustahil.

Namun di tengah latihannya, sayup-sayup ia mendengar derap langkah kaki dari kejauhan, diiringi suara gemerincing zirah logam yang khas. Suliwa membeku, matanya membuka lebar dalam kegelapan.

Ia mengintip dari balik tumpukan kayu, dan jantungnya nyaris berhenti melihat sekelompok kecil prajurit berbaju zirah marun berjalan menyusuri perbatasan gudang logistik, obor mereka menyala terang membelah kegelapan malam.

"Sudah dimulai," bisik Suliwa pada dirinya sendiri, tubuhnya menegang waspada. "Lebih cepat dari yang kukira."

Ia mundur perlahan ke dalam bayangan, menahan napas sampai suara langkah kaki itu menjauh dan akhirnya hilang ditelan kabut malam. Suliwa bersandar pada dinding gudang, dadanya masih berdebar kencang.

"Ini baru penyisiran awal," pikirnya, mencoba menenangkan diri. "Kalau mereka benar-benar serius mencari, tidak akan lama lagi sebelum mereka memeriksa setiap sudut, termasuk tempatku bekerja."

Suliwa menatap ke arah langit malam yang gelap, bintang-bintang berkelip samar di balik kabut tipis.

Ia tahu waktunya semakin sempit, dan setiap hari yang berlalu berarti semakin dekat pula saat kebenaran ini bisa saja terbongkar.

Dengan langkah pelan, ia kembali masuk ke dalam gudang, merebahkan diri di atas tumpukan jerami yang menjadi tempat tidurnya selama ini.

Matanya menatap langit-langit kayu yang reyot, pikirannya masih dipenuhi bayangan prajurit bersenjata dan nama Kanaka yang terus terngiang.

"Aku harus lebih kuat, dan lebih cepat," batinnya sebelum akhirnya rasa lelah membawanya jatuh ke dalam tidur yang gelisah. "Karena aku tidak tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa untukku."

**

Dua minggu berlalu sejak penyisiran pertama pasukan Kanaka di sekitar Lembah Gunung Hitam.

Suliwa mulai terbiasa dengan kehadiran prajurit berzirah marun yang sesekali berpatroli di dekat gudang logistik, meski setiap kali mereka lewat, jantungnya tetap berdegup lebih kencang dari biasanya.

Pagi itu, suasana gudang logistik terasa berbeda.

Sejak subuh, para murid senior sudah sibuk membersihkan halaman dan merapikan tumpukan barang, membuat semuanya terlihat lebih teratur dari hari biasa.

"Kenapa semua orang tiba-tiba jadi rajin sekali hari ini?" tanya Suliwa pada murid muda penjaga gerbang yang kebetulan lewat sambil membawa sapu.

"Lho, Kau belum dengar? Ada utusan dari Faksi Medis yang akan datang memeriksa area ini," jawab murid itu sambil terus menyapu. "Katanya salah satu tabib jenius mereka yang ditugaskan langsung oleh dewan penasihat."

Suliwa mengerutkan kening. "Memeriksa apa? Bukannya penyisiran sudah dilakukan oleh pasukan Komandan Kanaka?"

"Katanya ini beda urusan," murid itu mengangkat bahu. "Kalau pasukan Kanaka mencari jejak fisik, sementara tabib ini katanya bisa membaca aliran energi. Entahlah, aku juga tidak terlalu paham soal begituan."

Kata "membaca aliran energi" itu membuat perut Suliwa terasa dingin.

Ia berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, meski di dalam hati ia mulai menghitung ulang seberapa baik kendalinya atas Segel Rantai Takdir selama ini.

Tidak lama kemudian, sesosok perempuan muncul dari arah gerbang utama, diiringi dua pengawal bersenjata.

Rambut putih peraknya yang panjang terurai anggun, berkibar pelan tertiup angin pagi.

Jubah putih salju dengan aksen sulaman emasnya berkilau lembut di bawah cahaya matahari, kontras tajam dengan suasana gudang logistik yang lusuh dan berdebu.

Yang paling mencolok dari penampilannya adalah sepasang mata biru mudanya, dengan pola samar menyerupai bunga teratai yang mengelilingi pupilnya, membuat siapa pun yang menatapnya langsung merasa sedang diteliti hingga ke lapisan terdalam.

"Nah, lihat. Itu pasti dia," bisik murid penjaga gerbang, matanya membelalak kagum. "Aku dengar, namanya Alicia, Tabib Utama Faksi Medis. Cantik sekali, ya."

Suliwa tidak menjawab, matanya justru menyipit waspada mengamati gadis itu dari kejauhan.

Ada sesuatu dalam cara perempuan itu berjalan, tenang namun penuh kewaspadaan, matanya yang biru muda terus bergerak mengamati setiap sudut gudang seolah sedang mencari sesuatu yang tidak kasat mata.

Alicia berhenti di tengah halaman, menatap sekeliling dengan ekspresi datar namun tajam. "Kumpulkan semua murid logistik yang bertugas di area ini," ucapnya pada salah satu pengawalnya, suaranya tegas dan jelas. "Aku perlu memeriksa mereka satu per satu."

Perintah itu segera dilaksanakan.

Para murid logistik berbaris rapi di halaman, termasuk Suliwa yang berusaha berdiri di barisan tengah, berharap tidak terlalu menonjol di antara yang lain.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 9

    Malam itu, setelah seluruh murid logistik terlelap, Suliwa mengendap keluar dari gudang mengikuti tanda yang sudah disepakati, sebuah lentera kecil berwarna biru yang digantung di dekat pohon tua perbatasan faksi alkimia. Ia menyusuri jalan setapak sunyi, jantungnya berdegup campuran antara gugup dan harap.Alicia sudah menunggunya di sana, mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, agar tidak terlalu mencolok dalam kegelapan malam. "Kau tepat waktu," ucapnya pelan. "Ikuti aku, dan jangan bersuara."Mereka menyusuri lorong tersembunyi di balik salah satu bangunan faksi alkimia, menuruni tangga batu yang curam menuju sebuah ruangan bawah tanah luas. Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak berisi bahan ramuan langka, sementara di tengahnya terdapat lingkaran formasi berukir yang berpendar samar kebiruan."Tempat apa ini?" tanya Suliwa, matanya menyapu seluruh ruangan dengan kagum."Ruang latihan rahasia leluhur faksi alkimia," jawab Alicia sambil menyalakan beberapa lampu minyak

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 8

    Ruang penyimpanan obat itu remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil di sudut ruangan. Rak-rak kayu berjejer rapi dipenuhi botol-botol ramuan dan tumbuhan kering, aromanya bercampur antara herbal pahit dan sesuatu yang manis samar seperti mint."Duduklah," ucap Alicia sambil menunjuk bangku kayu sederhana di dekat meja racikan. "Percakapan ini akan lebih lama dari yang kau kira."Suliwa duduk dengan hati-hati, matanya masih waspada mengawasi setiap gerakan Alicia. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"Alicia menarik kursi di seberangnya, duduk dengan sikap tegak yang tidak pernah luntur meski suasana di antara mereka begitu tegang. "Pertama, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit. Dan kedua, aku ingin memastikan energi yang kau sembunyikan itu tidak akan menjadi bencana bagi siapa pun, termasuk dirimu sendiri.""Kenapa kau peduli?" tanya Suliwa, suaranya masih penuh kewaspadaan. "Kau bisa saja langsung melaporkanku

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 7

    Pagi itu datang tanpa peringatan. Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi."Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik.Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia. Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin.Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil. Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan."Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya berge

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 6

    Salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Nona Alicia, apakah Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan hari ini?""Belum bisa dipastikan," jawab Alicia, matanya masih menerawang jauh. "Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan murid bernama Suliwa itu. Ada sebuah energi yang asing, meskipun samar-samar tapi aku bisa merasakannya.""Apakah perlu saya laporkan pada Komandan Kanaka?" tanya pengawal itu.Alicia terdiam sejenak, mempertimbangkan dengan hati-hati. "Jangan. Aku hanya ingin memastikan sendiri terlebih dahulu sebelum melibatkan pasukan penegak hukum. Kalau ternyata dugaanku salah, aku tidak ingin ada murid tidak bersalah yang jadi korban kecurigaan berlebihan, apalagi dia dari murid logistik bawah."Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke arah Lembah Gunung Hitam yang gelap diselimuti kabut malam. Matanya menyipit tajam, penuh tekad."Aku akan kembali ke sana," bisiknya pelan. "Dan aku akan memastikan sendiri, energi apa y

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 5

    Alicia berjalan pelan menyusuri barisan, matanya menatap tajam pada setiap wajah yang dilewatinya.Ia tidak membawa alat apa pun, sebab kemampuannya bersumber dari matanya sendiri, pola bunga teratai di sekeliling pupilnya adalah anugerah spiritual langka yang memungkinkannya membaca aliran energi tersembunyi hanya dengan menatap seseorang cukup lama."Kenapa dia menatap wajah setiap orang selama itu?" bisik murid di sebelah Suliwa."Sepertinya itu kemampuan bawaannya," bisik yang lain. "Kudengar matanya bisa mengenali anomali kultivasi yang tersembunyi, cukup dengan menatapnya saja."Suliwa menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu.Ia memusatkan pikirannya untuk menekan sekuat mungkin energi di dalam tubuhnya, berharap Segel Rantai Takdir cukup rapat menyembunyikan keberadaannya.Satu per satu, Alicia memeriksa para murid, menatap tajam ke dalam mata masing-masing selama beberapa detik untuk membaca aliran energi mereka lewat pola teratai di matanya, nam

  • Pewaris yang Tak Diinginkan.   Bab 4

    Murid itu mengangguk, lalu berlalu untuk kembali ke posnya.Suliwa menatap punggungnya yang menjauh, dadanya masih terasa sesak oleh kebohongan yang baru saja ia ucapkan.Ia tahu ini hanya permulaan dari rentetan kebohongan yang harus ia jaga rapi-rapi, satu demi satu, tanpa pernah boleh ada celah sedikit pun.Sore harinya, Suliwa kembali ditugaskan mengangkut pasokan air ke sumur belakang gudang, tugas rutin yang biasanya ia kerjakan tanpa banyak berpikir.Namun kali ini, pikirannya terus melayang ke arah percakapan tadi siang, membayangkan wajah tegas Komandan Kanaka yang pernah ia lihat sekilas dalam kilasan ingatan sang Tetua."Kalau dia benar-benar datang ke sini," gumamnya sambil menimba air dari sumur, "apa yang harus kulakukan? Bersembunyi selamanya jelas itu mustahil."Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air yang beriak pelan. Wajah itu masih sama seperti biasa, kurus dan lelah, namun matanya kini menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar rasa lapar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status