LOGINPagi itu datang tanpa peringatan.
Suara terompet perang menggema tiba-tiba dari arah gerbang utama, memecah ketenangan Lembah Gunung Hitam yang biasanya hanya diisi suara angin dan kicau burung pagi. "Razia mendadak! Semua murid berkumpul di halaman sekarang juga!" teriak salah satu penjaga sambil berlari melewati barisan gudang logistik. Suliwa yang sedang menyusun karung gandum langsung menghentikan pekerjaannya, jantungnya berdegup kencang mendengar kata razia. Ia bergegas keluar bersama murid lain, dan begitu sampai di halaman, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya seketika dingin. Puluhan prajurit berzirah marun berbaris rapi di halaman gudang, dan di depan mereka semua, berdiri seorang pemuda tegap dengan jubah sutra merah marun bersulam emas, rambut hitam legamnya tertata rapi di bawah mahkota giok kecil. Wajahnya angkuh, matanya menyapu seluruh murid yang berkumpul dengan tatapan merendahkan. "Komandan Kanaka," bisik salah satu murid di sebelah Suliwa, suaranya bergetar ketakutan. Suliwa menahan napas, berusaha keras menjaga wajahnya tetap datar meski seluruh tubuhnya menegang. Ini pertama kalinya ia melihat langsung sosok yang selama ini hanya ia kenal lewat kilasan ingatan sang Tetua. "Dengarkan baik-baik," ucap Kanaka dengan suara lantang penuh wibawa, melangkah maju di depan barisan murid. "Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Aku ingin memastikan sendiri, apakah ada pengkhianat di antara kalian yang menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya?" Ia mengangkat tangannya, dan salah satu pengawalnya segera menyerahkan sebuah artefak berbentuk kepala naga terukir dari giok hijau tua, berkilau samar seperti memiliki kehidupannya sendiri. "Ini adalah giok pelacak warisan Sekte Pedang Langit," lanjut Kanaka, suaranya dingin dan tegas. "Siapa pun yang menyembunyikan energi asing di tubuhnya tidak akan bisa lolos dari deteksinya." Suliwa merasakan jantungnya nyaris berhenti berdetak. Ia mencoba menekan energinya sekuat mungkin, mengingat kembali teknik pernapasan yang selama ini ia latih diam-diam. Namun semakin ia menekan, semakin gelisah pula energi di dalam dirinya bereaksi, seolah tertarik secara alami oleh kehadiran giok naga yang membawa jejak familiar dari sumber yang sama. Kanaka mulai berjalan menyusuri barisan, giok naga di tangannya sesekali berkedip pelan tanpa reaksi berarti. Namun semakin ia mendekat ke arah barisan tengah, tempat Suliwa berdiri, kedipan itu mulai terasa lebih sering, lebih terang. "Tahan," gumam Suliwa dalam hati, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Bertahanlah sedikit lagi." Ketika Kanaka akhirnya berhenti tepat di hadapan barisan tempat Suliwa berdiri, giok naga di tangannya berpendar terang selama sepersekian detik, cukup terlihat oleh siapa pun yang berdiri cukup dekat. Mata Kanaka menyipit tajam, menatap lurus ke arah barisan itu. "Ada sesuatu di sini." Suliwa merasa dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Namun tepat pada saat itu, sebuah suara tegas memotong ketegangan yang mencekam. "Komandan Kanaka," Alicia melangkah maju dari sisi lain halaman, wajahnya tenang meski matanya menyimpan kewaspadaan tersembunyi. "Maaf mengganggu, tapi izinkan saya menjelaskan sesuatu." Kanaka menoleh, alisnya terangkat sedikit melihat kedatangan Alicia yang tiba-tiba. "Tabib Alicia. Ada urusan apa kau di sini?" "Saya sedang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di area ini," jawab Alicia, melangkah mendekat dengan langkah tenang yang penuh perhitungan. "Kebetulan salah satu murid di barisan itu baru saja menjalani pengobatan untuk luka bakar meridian ringan akibat kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Sisa energi dari ramuan pemulihan mungkin yang terdeteksi oleh giok Anda." Kanaka menatapnya dengan curiga. "Kau yakin itu bukan sesuatu yang lebih serius?" "Saya yang menangani sendiri pengobatannya," jawab Alicia tanpa ragu sedikit pun, suaranya tetap tenang dan meyakinkan. "Kalau Anda ingin, saya bisa perlihatkan catatan medisnya." Untuk beberapa detik, Kanaka hanya menatap Alicia dan Suliwa bergantian, wajahnya sulit dibaca. Suliwa berusaha keras menahan diri agar tidak menunjukkan rasa panik yang menggerogoti dadanya. Akhirnya, Kanaka mendengus pelan, menurunkan giok naga di tangannya. "Baiklah. Tapi awasi baik-baik seluruh area ini, Tabib Alicia. Aku tidak ingin ada yang lolos dari pengawasan hanya karena alasan medis." "Tentu, Komandan," jawab Alicia sambil membungkuk sopan. Kanaka berbalik, memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan pemeriksaan ke area lain, meninggalkan halaman gudang logistik dengan langkah tegas penuh wibawa. Begitu sosoknya benar-benar menghilang di balik gerbang, Suliwa merasakan lututnya nyaris goyah karena lega yang begitu besar. Alicia menoleh ke arahnya, tatapannya kini berbeda dari biasanya, lebih tajam, lebih penuh makna yang tidak terucapkan. "Ikut aku," bisiknya pelan, hanya cukup terdengar oleh Suliwa seorang. "Kita perlu bicara, sekarang." Suliwa menatapnya sejenak, jantungnya masih berdegup kencang, kali ini bukan hanya karena rasa takut, melainkan juga oleh pertanyaan besar yang mulai menghantui pikirannya. "Apakah Alicia baru saja menyelamatkanku karena benar-benar percaya pada alasan medis itu sendiri, atau karena ia sudah lama tahu kebenaran yang sesungguhnya?" "Ini bukan kebetulan," batin Suliwa, mengikuti langkah Alicia dengan hati yang masih berdebar tidak menentu. "Aku yakin, dia tahu sesuatu. Dan sekarang, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya."Ruangan latihan itu terasa luas dan sunyi, dinding-dindingnya yang dilapisi formasi pelindung kuno memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan. Suliwa berdiri di tengah ruangan, mengatur napasnya sambil mencoba mengingat kembali seluruh kenangan yang pernah ia terima dari proses pembukaan segel tingkat keempat. "Bagaimana kau berencana memulainya?" tanya Alicia, berdiri tidak jauh darinya, siap membantu kapan pun dibutuhkan. "Aku akan mencoba memusatkan kesadaranku pada benang merah yang pernah kutemukan," jelas Suliwa, memejamkan mata untuk berkonsentrasi. "Keinginan tulus untuk melindungi, bukan menguasai atau menghancurkan." Kanaka dan Ferian berdiri di sisi lain ruangan, mengamati dengan seksama, siap membantu kalau situasi berubah berbahaya. "Kami di sini kalau kau butuh sesuatu," ucap Ferian, memberikan dukungan moral. Suliwa mengangguk, mulai memusatkan energinya ke dalam dada, mencoba merasakan aliran kekuatan yang selama ini ia kendalikan melalui Teknik Aliran Tujuh E
Pagi berikutnya, Ferian mengirimkan pesan mendesak melalui salah satu prajurit pengawal, mengundang Suliwa dan Alicia untuk segera bergabung dengannya di ruangan khusus yang telah disiapkan untuk mempelajari arsip yang dibawa delegasi Sekte Pedang Langit. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan kegembiraan yang tertahan."Aku menemukan sesuatu," ucap Ferian begitu mereka tiba, menunjuk pada sebuah gulungan kuno yang terbentang di atas meja kerjanya. "Catatan ini berasal dari masa pendirian Sekte Pedang Langit sendiri, mendokumentasikan pertemuan pertama antara pendiri sekte kami dengan sosok-sosok dari Kuil Awan Beku."Suliwa dan Alicia mendekat, mengamati tulisan kuno yang memenuhi gulungan itu, sebagian sudah pudar namun masih bisa dibaca dengan seksama. "Apa yang kau temukan tentang simbol itu?" tanya Suliwa penasaran."Di sini," Ferian menunjuk pada sebuah bagian, "disebutkan tentang konflik lama antara Kuil Awan Beku dengan sebuah kelompok yang menyebut diri mereka Aliran
Malam itu, setelah seluruh diskusi strategi selesai untuk hari itu, Suliwa dan Alicia kembali ke kamar mereka masing-masing, namun sebelum benar-benar beristirahat, mereka berkumpul di kamar Suliwa untuk mencoba menghubungi sosok pendiri kuil seperti yang sudah direncanakan."Kau siap mencobanya?" tanya Alicia, duduk di dekat Suliwa yang memegang cincin gioknya dengan hati-hati."Sesiap yang bisa kulakukan," jawab Suliwa, memejamkan mata dan memusatkan energinya ke dalam cincin itu, mengingat teknik yang pernah diajarkan untuk berkomunikasi jarak jauh.Cincin itu mulai berdenyut hangat, dan setelah beberapa saat yang terasa panjang, suara samar mulai terdengar dalam kesadaran Suliwa, jauh lebih lemah dibandingkan komunikasi mereka sebelumnya di perjalanan pulang dari kuil."Suliwa," terdengar suara sosok pendiri kuil, terputus-putus namun masih bisa dipahami. "Koneksi kita semakin melemah seiring jarak yang bertambah jauh.""Kami butuh bantuanmu," ucap Suliwa cepat, menyadari waktu ko
Kanaka dan Wulandari melangkah menuju ruang tahanan khusus yang telah disiapkan untuk Moza, sebuah kamar sederhana namun terjaga ketat dengan formasi penahan energi yang mencegah kemungkinan pelarian menggunakan kultivasi. Moza duduk di sudut ruangan itu, penampilannya jauh berbeda dari sosok anggun yang biasa memancarkan kepercayaan diri."Moza," sapa Kanaka, suaranya tegas namun tidak lagi menyimpan amarah yang sama seperti sebelumnya. "Kami punya beberapa pertanyaan tambahan untukmu."Moza mengangkat wajahnya, matanya yang biasa berkilau penuh perhitungan kini menunjukkan kelelahan dan sedikit ketakutan. "Aku sudah mengatakan semua yang kutahu.""Mungkin ada detail yang belum sempat terungkap," ucap Wulandari, duduk di kursi yang disediakan di seberang Moza. "Kami membutuhkan informasi lebih lanjut tentang cara komunikasimu dengan pihak yang mengaku sebagai perwakilan Aldebaran."Moza menghela napas panjang, menyadari bahwa kerja sama penuh mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk
Ruang pertemuan kecil yang biasa digunakan tim strategi aliansi baru itu dipenuhi ketegangan begitu Suliwa dan Alicia tiba, membawa buku tua dan laporan tentang kemungkinan penyusupan yang baru saja mereka rasakan. Wulandari, Kanaka, dan Ferian sudah menunggu, wajah mereka menunjukkan keseriusan yang sama."Ada apa?" tanya Wulandari, memperhatikan raut wajah Suliwa dan Alicia yang tampak tegang."Kami menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan," ucap Alicia, meletakkan buku tua itu di atas meja. "Sekaligus merasakan indikasi bahwa mata-mata Aldebaran mungkin sudah berhasil menyusup ke area sekte."Kanaka segera duduk tegak, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada laporan itu. "Penyusupan seperti apa yang kalian maksud?"Suliwa menjelaskan kejadian di lorong, bagaimana salah satu prajurit pengawal mereka merasakan sensasi diawasi yang mengarah ke sayap timur, tempat kamarnya berada. "Kami tidak menemukan siapa pun secara langsung, tapi sensasinya cukup kuat untuk tidak diabaikan.""Ini sejal
Siang itu, ketika sebagian besar delegasi sibuk dengan urusan masing-masing, seorang murid muda dari Sekte Gunung Hitam berjalan sendirian menyusuri lorong sempit menuju perpustakaan sekte, membawa beberapa gulungan yang harus ia kembalikan. Ia tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit terakhir, seseorang mengikutinya dari kejauhan."Permisi," sebuah suara lembut memanggil dari belakang, membuat murid itu berhenti dan menoleh.Seorang wanita asing berdiri di sana, mengenakan jubah sederhana tanpa lambang sekte yang jelas, senyumnya ramah namun ada sesuatu yang aneh dalam sorot matanya. "Aku baru di sini, mengunjungi kerabat dari salah satu delegasi. Bisakah kau menunjukkan arah menuju aula pertemuan?""Tentu," jawab murid itu, tidak curiga sedikit pun. "Ikuti jalur ini, belok kiri di persimpangan berikutnya.""Terima kasih," ucap wanita itu, namun tidak langsung pergi. "Kudengar ada kehebohan besar kemarin. Seorang pewaris misterius muncul di tengah pertemuan?"Murid itu mengangguk,







