Accueil / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 15 Perjamuan Elit

Share

Bab 15 Perjamuan Elit

Auteur: Irbapiko
last update Date de publication: 2026-04-18 08:05:06

Jakarta pagi ini terasa seperti pemangsa yang diam-diam mengintai di balik kabut polusi. Aroma sisa keringat dan bedak murah di kamar kos sempit ini beradu tajam dengan bau apek dinding yang lembap. Mirah terbangun dengan jantung yang berdegup tidak karuan, sisa tangis semalam masih meninggalkan rasa perih di sudut matanya yang sembab.

Kasur di sampingnya sudah kosong, menyisakan jejak parfum vanila yang kuat sebagai tanda Nani telah melesat pergi lebih awal. "Mir! Bangun! Jangan lelet

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 91 Kuasa Agam di Keindahan Mirah

    Lampu kristal di langit-langit kamar hotel mewah itut berpijar temaram, memantulkan bayangan Mirah yang nampak sangat asing di depan cermin besar.Wajah barunya terlihat begitu sempurna, tajam, dan mematikan.'Gusti, ini beneran muka gue? Kayak bukan anak desa yang dulu cuma jualan jamu,' batin Mirah sambil mengusap pipinya yang mulus.Agam duduk di tepi ranjang king size, hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggang kekarnya.Dihisapnya cerutu itu dalam-dalam, lalu asapnya dihembuskan ke arah Mirah yang masih berdiri kaku."Jangan bengong. Sini, pake teknik Selatan yang paling 'enak' buat gue," perintah Agam dengan nada rendah yang bergetar.Mirah menarik napas panjang, ditariknya botol minyak esensial dari atas meja rias dengan tangan sedikit gemetar."Aa... anu, Mas Agam mau fokus di bagian mana dulu?" tanya Mirah sambil mendekat."Seluruh badan, Mir. Gue mau ngerasain setiap inci jemari baru lo di kulit gue."

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 90 Ratu yang Terlahir Kembali

    Mirah meremas surat ancaman dari Mbak Sesil hingga kertas itu kehilangan bentuknya di dalam kepalan tangannya.Darah di wajahnya terasa berdenyut, seolah plester dan make-up tebal itu tidak sanggup menahan ledakan amarah di balik kulitnya."Sari, jangan bengong! Ambil tas gue, kita berangkat sekarang ke ruko Barat!" seru Mirah dengan nada yang tidak menerima bantahan.Gara-gara panik, Sari nyaris menjatuhkan kotak P3K yang tadi digenggamnya erat-erat.'Aduh, Elang... tunggu gue, Lang. Gue nggak bakal biarin lo jadi barang dagangan di Dubai,' rintih Mirah dalam batinnya yang koyak.Langkah kaki Mirah menuruni tangga ruko Selatan terasa sangat berat, seolah setiap pijakan membawa beban nyawa Elang.Di lobi, Agam sedang berdiri menghadap jendela besar, menatap sisa-sisa massa ormas yang mulai membubarkan diri."Mir, lo mau ke mana dengan muka hancur begitu?" tanya Agam tanpa membalikkan badan."Saya mau jemput keadilan, Mas. Nani

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 89 Malam Persaingan

    Ambulans itu melesat menjauh, sirinenya meraung panjang mengejek kekalahan Mirah di depan pintu darurat rumah sakit.Mirah mematung, dadanya sesak melihat pengkhianatan orang kepercayaannya sendiri yang nampak begitu santai duduk di kursi roda."Lo... lo tega, be-beneran tega khianatin gue?" bisik Mirah dengan bibir bergetar menahan tangis."Dunia ruko itu keras, Mir, siapa yang bayar lebih gede, dia yang menang," sahut pria itu sambil melambai sinis.'Mampus gue, Elang dibawa ke mana lagi ini,' keluh Mirah dalam hati yang sudah babak belur.Gara-gara panik, dia nyaris tidak sadar kalau Sari sedang menarik-narik lengannya dengan sangat kuat."Mbak! Mbak Mirah! Itu... di luar rumah sakit massa ormas Barat makin beringas!"Mirah tersentak, ditariknya napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa nyawa yang berceceran."Sar, panggil preman pelindung Selatan sekarang! Suruh mereka serbu ruko Nani di Barat!""Ta-ta-tapi Mbak... b

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 88 Diplomasi Ranjang Terakhir

    Mirah berdiri tegak, tangannya yang bergetar hebat sengaja disembunyikan di balik lipatan kebaya merahnya. Suasana lobi ruko Selatan mendadak senyap, menyisakan deru napas Nani yang memburu dan kilatan lampu kamera wartawan."Nani bener, ada kekerasan di sini. Tapi pelakunya bukan Mas Agam," ucap Mirah tenang meski pipinya berdenyut nyeri. Dikeluarkannya ponsel rahasia itu, lalu diputar rekaman suara percakapan Nani dengan preman bayaran di Barat."Ini suara siapa, Nan? Mirip suara lo pas lagi nawar harga ruko ya?" tanya Mirah sambil tersenyum miring."Aa... anu, itu fitnah! Be-beneran, itu suara editan AI, Mas Agam jangan percaya!" jerit Nani dengan wajah pucat pasi.Para wartawan mulai kasak-kusuk, mencium aroma skandal yang jauh lebih besar daripada urusan izin bangunan. Agam nampak terpaku, matanya menatap Nani dengan sorot yang bisa membuat nyali orang biasa menciut seketika.'Mampus lo, Nan. Lo pikir gue cuma 'apem tembem' yang bisa lo injak-

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 87 Penangkapan Elang

    Agam memutar botol miras di tangannya, membiarkan cairan keruh di dalamnya berguncang pelan. Ditatapnya Mirah yang berdiri mematung dengan wajah hancur dan darah yang masih merembes dari balik selendang."Minum ini, Elang. Katanya Mirah bilang ini jamu sakti buat stamina lo, kan?" tanya Agam dingin.Elang mendongak, wajahnya lebam membiru, namun matanya tetap menatap tajam ke arah bos besar ruko itu. 'Gusti, itu botol yang udah gue kasih racun pembersih lantai sisa kemaren,' batin Mirah yang merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Keringat dingin membasahi punggungnya, bercampur perih luar biasa dari luka sobek di pipinya."A-anu, Mas Agam... jangan. Itu miras murahan, be-beneran gak layak buat Mas Agam," ucap Mirah terbata."Gue nggak nyuruh diri gue minum, Mir. Gue nyuruh anjing peliharaan lo ini yang minum.""Ta-ta-tapi Mas, Elang gak tahu apa-apa! Dia cuma nganterin saya!"Agam menyentakkan botol itu ke dagu Elang, memaksa mulut lela

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 86 Darah di Lantai Granit

    Taksi itu bergetar hebat saat dua motor besar menghimpit dari sisi kiri dan kanan.Mirah mematung, dadanya sesak melihat kepalan tangan salah satu pengendara motor menghantam kaca jendela hingga retak seribu."Turun lo, Mirah! Mas Agam mau ketemu di ruko Selatan sekarang!" teriak lelaki itu di sela deru mesin.Supir taksi sudah pucat pasi, tangannya gemetar hebat di atas kemudi sambil menginjak rem perlahan.'Mampus, ini beneran kiamat kecil buat gue kalau sampe Agam tahu soal Elang dan Nani,' keluh Mirah dalam batin yang kalang kabut.Ditariknya napas dalam-dalam, mencoba mencari celah untuk tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya."Aa... anu, Pak Supir, jangan berhenti dulu! Terus jalan aja!" pinta Mirah dengan suara yang pecah."Ta-ta-tapi Mbak... kaca saya pecah! Mereka bawa balok kayu, be-beneran!""Saya ganti dua kali lipat, Pak! Buruan tancap gas!"Gara-gara panik, supir itu malah salah meng

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status