LOGIN"Mir, dodolnya... beneran masih anget, baru nyampe tadi sore ." Suara Jaya terdengar serak. Mirah masih mematung di teras, jemarinya meremas pinggiran ponsel yang layarnya baru saja meredup setelah menampilkan rentetan pesan provokatif dari Nani.
Bayangan kejadian di rumah Fandi—sentuhan kasar yang merayap di balik kancing kemejanya. "Mir? Kok malah bengong? Bapak ada di dalem? " Jaya melangkah mendekat, menenteng kantong plastik berisi dodol Garut.
"Eh, iya, Jay. Masuk saja ." Mirah buru-buru menyelipkan ponselnya ke balik bantal kursi rotan di teras. Mirah bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Jaya.
"Ini, cobain dulu ." Jaya menyodorkan sepotong dodol yang masih terbungkus kertas minyak, Jari mereka bersentuhan saat Mirah mengambil dodol itu, memicu kilatan listrik kecil yang merambat naik ke lengannya.
Detak jantung Mirah mendadak tak beraturan, dibayangi rasa bersalah yang mulai menggerogoti nuraninya. Bayangan cerita Nani tentang "tangan cowok yang gerilya di balik baju" mendadak terputar otomatis di kepala Mirah seperti kaset rusak. "Enak, Jay. Manis ," bisik Mirah.
Tiba-tiba, suara batuk yang berat dan kering terdengar dari dalam kamar, memecah kesunyian teras. Jaya menggeser duduknya, lebih dekat hingga lutut mereka bersenggolan, menatap wajah Mirah yang separuh gelap di bawah temaram. "Bapak lagi sering pusing dan napasnya sesak, Jay ," bisik Mirah dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatap pintu rumahnya yang kusam.
"Mir, kamu... kamu beda banget malem ini ." Jaya menatap leher putih Mirah yang masih sedikit lembap, lalu turun ke arah kancing kemeja Mirah yang tampak sedikit tegang. "Jay, aku... aku cuma lagi mikir soal ijazah itu ." Mirah berdusta cepat.
"Dunia luar itu liar, Jay. Dan kita... kita kayak nggak tahu apa-apa ." Suara Mirah merendah. Jaya menggenggam jemari Mirah dengan tangan kasarnya yang terbiasa mengangkat beban berat.
"Kamu nggak perlu tahu hal-hal yang nggak perlu, Mir. Selama ada aku, aku bakal jagain kamu." "Jagain gimana, Jay? Kayak pacaran anak SD yang cuma pegangan tangan? " Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Mirah; ia sendiri terkejut mendengar suaranya yang terdengar begitu menantang.
Jaya tampak tersentak, genggamannya mengerat mendengar provokasi yang persis seperti ucapan Nani sore tadi. "Maksud kamu apa, Mir? Kamu mau aku... aku kayak Fandi yang pamer motor sport? " "Bukan gitu, Jay... cuma... sembilan belas tahun, Jay. Bodi udah mateng begini kalau nggak dinikmatin ya mubazir."
Jaya menelan ludah dengan keras, matanya menatap kancing kedua kemeja Mirah yang tampak sedikit tegang. "Mir... jangan ngomong gitu. Aku... aku sayang sama kamu. Aku menghargai kamu ," suara Jaya parau. "Sayang atau... atau emang nggak berani? " Mirah mendekatkan wajahnya, menantang mata Jaya.
Napas Jaya menjadi berat, ia bisa mencium aroma sabun mandi melati yang lembut dari tubuh Mirah. Perlahan, tangan Jaya naik menyentuh pipi Mirah dengan ujung jarinya yang gemetar. "Aku berani, Mir. Tapi aku takut ngerusak kamu ," bisik Jaya tepat di depan bibir Mirah.
"Kalau aku yang minta dirusak? " Jaya tidak bisa menahan diri lagi; ia menarik tengkuk Mirah, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang awalnya ragu namun menjadi tuntutan yang liar. Mirah memejamkan mata rapat-rapat, tangannya meremas kaos pudar yang dikenakan Jaya.
Tangan Jaya mulai "gerilya", persis seperti yang digambarkan Nani, memicu sensasi menggelitik yang dahsyat ke seluruh tubuh Mirah. "Jay... ntar Bapak denger ," desah Mirah di sela ciuman mereka. "Bapak udah tidur, Mir... suaranya aja sampe sini ," bisik Jaya, jemarinya kini merayap naik menyentuh pinggiran tali pakaian dalam Mirah yang sudah longgar.
Tiba-tiba, suara deru motor sport terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian desa dan berhenti tepat di depan pagar. Mirah dan Jaya tersentak, buru-buru melepaskan kaitan tubuh mereka dengan panik. Jaya yang merasa tak enak karena hampir ketahuan sedang bercumbu, segera berpamitan dengan terburu-buru.
"Akuuu... aku pulang dulu ya, Mir. Jaga diri ," bisik Jaya sambil menyalakan motor bebeknya dengan gerakan kikuk sebelum meluncur pergi. Tak lama kemudian, Nani berlari masuk ke teras dengan napas terengah-engah dan maskara yang luntur parah.
"Mir, masuk! Kita harus ngomong di dalem! " ajak Nani sambil menarik tangan Mirah masuk ke rumah. "Mir... kita hancur! Fandi brengsek! " jerit Nani di dalam ruangan sambil menyodorkan ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Liat apa sih, Nan? Lu kenapa? " tanya Mirah bingung, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tersisa dari interaksinya dengan Jaya tadi. "Fandi, Mir... si brengsek itu! " Nani nyaris menjerit. "Dia punya pacar di Jakarta namanya Clarissa, dan dia bilang kita cuma 'mainan lokal'!"
Jantung Mirah seolah berhenti berdetak saat kembali menatap layar ponsel Nani dan melihat potongan video tangan Fandi yang menarik paksa kancing kemejanya tadi sore. Melihat kulit dadanya terekspos dalam rekaman itu bagi Mirah adalah kiamat nyata. "Dia ngerekam... semuanya? " suara Mirah nyaris tak terdengar.
"Fandi bilang kalau kita nggak mau 'melayani' temen-temennya di Jakarta, video elu bakal dikirim ke grup W******p warga desa! " tangis Nani histeris. "Semua orang di Sukamaju bakal liat ini! Pak RT pun tahu! " Kalimat Nani pun menekan saraf ketakutan Mirah. Mirah terduduk lemas, membayangkan kehinaan yang akan menimpa keluarganya.
Nani menatap Mirah yang tertidur pulas dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya. Di bawah bantal sahabatnya itu, terselip uang lima juta rupiah—hasil menjual kesucian di atas kertas kontrak Mas Doni siang tadi. Rasa panas di dada Nani membakar harga dirinya, jauh lebih menyengat daripada udara Jakarta yang polutif."Sepuluh juta per sesi..." gumam Nani pelan dengan bibir bergetar. Angka itu terus bergema di kepalanya seperti ejekan yang merendahkan jam terbangnya. Ia merasa lebih binal dan lebih tahu cara memainkan lekuk tubuh, namun dunia justru memuja "segel" Mirah yang kaku."Gue nggak bakal biarin lo balap gue sejauh itu, Mir," bisik Nani tajam. Ia bangkit dari kasur busanya yang lembap, memilih pakaian paling berani dari lemari plastik reyotnya. Terusan bodycon merah marun membalut pinggulnya yang sintal dengan sempurna, nyaris tidak menutupi pangkal paha. Tanpa bra, payudaranya menonjol menantang di balik kain tipis merah itu.Se
Sisa aroma maskulin Elang masih tertinggal di ceruk leher Mirah, memicu denyut halus yang tak kunjung reda. Ia terbangun dengan napas memburu, menyadari matahari Jakarta yang kusam mulai menusuk celah jendela kosan. Di sampingnya, Nani sudah sibuk memoles lipstik merah menyala, tampak jauh lebih matang dari usia remaja mereka."Bangun, Mir! Jangan kebanyakan mimpi di kasur lembap," seru Nani sambil menepuk paha Mirah keras. "Mas Doni sudah WhatsApp, jam sepuluh kita harus sudah di Gading Resto buat urusan masa depan."Mirah mengerang, mencoba mengumpulkan jiwanya yang seolah tertinggal di taman terminal semalam. Bayangan kartu nama hitam di sakunya terasa sangat berat, menarik nuraninya ke arah yang berbeda. Kartu itu seperti gravitasi baru yang mencoba membuyarkan fokusnya pada misi awal."Nan, semalam aku ketemu pria itu lagi. Dia bilang Gading Resto itu jebakan," bisik Mirah parau. "Katanya lantai tiganya... kotor."Nani menghentikan pulasan l
Setelah melepas Jaya di hotel pengap kawasan Jakarta Pusat siang tadi, Mirah seolah kehilangan separuh jiwanya. Perjalanan singkat namun menyesakkan dengan mobil jemputan Mas Doni membawanya membelah kemacetan Jakarta menuju arah timur. Kini, ia terdampar di sebuah kamar kos di pinggiran Terminal Kampung Rambutan yang terasa semakin mencekam.Di luar, suara klakson bus antarkota bersahut-sahutan, menciptakan simfoni kekacauan yang pas dengan isi kepalanya yang kalut. Mirah melirik Nani yang sedang sibuk mematut diri di depan cermin lemari plastik yang sudah agak reyot."Mir, lo harus liat nih. Kulit gue di Jakarta kok kayaknya malah makin eksotis ya? Apa karena lampu-lampunya?" seloroh Nani sambil mengelus pahanya sendiri. Ia hanya mengenakan daster satin tipis tanpa bra."Nan, kamu benar-benar yakin sama tempat ini?" tanya Mirah pendek. Matanya tak lepas dari ponsel.Nani tertawa renyah, suara tawanya bersaing dengan deru mesin bus di luar. "Yakin seribu
Hotel melati di pinggiran Jakarta Pusat itu pengap, berbau pembersih lantai murahan yang menusuk hidung. Mirah duduk mematung di tepi ranjang, meremas sprei kasar hingga buku jarinya memutih. Pikirannya hanya berputar pada satu mantra: dua puluh lima juta untuk nyawa Bapak.Ketukan ragu terdengar di pintu, membuat jantung Mirah berdegup hingga telinganya berdenging hebat. Dengan tangan gemetar, ia membuka kunci dan mendapati sosok pria berdiri di bawah cahaya remang koridor. Bukan aroma wiski mahal, melainkan bau sabun melati desa dan peluh matahari yang sangat ia kenali menyeruak masuk."Mir..." suara itu parau, penuh luka, dan bergetar hebat.Mirah terperangah melihat Jaya berdiri di depannya dengan jaket denim kusam yang berdebu. "Hahhhh... Jaya? Bagaimana bisa kamu di sini?". Jaya melangkah masuk, meletakkan sebuah tas kecil di atas ranjang yang terlihat sangat kontras dengan kemiskinan di sekeliling mereka."Ini dua puluh lima juta, Mir... aku sudah jual motorku dan menggadaikan
Mirah menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tersandar di dinding kayu.Ponsel bututnya menjerit keras di atas lantai semen, memecah kesunyian yang mencekam di kamar kosan yang sempit itu. Nama 'Ibu' berkedip di layar yang retak, membawa firasat buruk yang langsung menusuk ulu hati Mirah seperti sembilu. Jemari Mirah gemetar hebat saat menggeser ikon hijau dengan napas yang mulai tercekat, pendek, dan tidak beraturan."Mir... Bapak kritis, Nduk," suara Ibu pecah oleh isak tangis yang begitu memilukan dari seberang telepon. Suara itu terdengar sangat jauh, namun rasa sakitnya merambat begitu nyata melalui gelombang sinyal yang tidak stabil. "Dokter bilang Bapak harus operasi jam dua belas ini, kalau tidak... Bapak nggak bakal kuat, Mir," lanjut Ibu dengan suara parau.Tangisan Ibu di desa seolah menjadi palu hakim yang menjatuhkan vonis berat atas nasib Mirah di perantauan. Mirah merasa dunianya gelap seketika, mengaburkan pemandangan kamar kosan yang memang sudah suram sejak aw
"Kenapa diam saja? Kamu takut?" Pak Broto mendekat, aroma wiski murah bercampur cerutu mahal mengepung indra penciuman. Mirah tersentak, punggungnya tertahan pintu kayu jati yang kokoh dan dingin, sementara jantungnya berdegup. Ia teringat Jaya yang selalu memperlakukannya dengan sangat sopan, sebuah kontras yang membuat ulu hatinya terasa nyeri dan sesak.Pak Broto meraih dagu Mirah, memaksanya mendongak untuk menatap mata yang keruh oleh alkohol dan obsesi. "Jaya nggak akan bisa kasih kamu apa yang saya kasih malam ini, Mirah. Dengan uang ini, bapakmu bisa operasi. Kamu mau bapakmu selamat, kan?". Mantra itu menghantam pertahanan terakhir Mirah, memaksanya memejamkan mata rapat-rapat saat air matanya jatuh merusak riasan tebal."Bagus. Sekarang, lupakan desa. Lupakan sawah. Malam ini, cuma ada saya dan kamu," bisik Pak Broto sembari membuka kancing kemeja Mirah satu per satu dengan jemarinya. Kemeja transparan itu perlahan melorot, jatuh ke karpet tebal tanpa suara, meninggalkan Mir







