Home / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 2 Nikmat yang Berdosa

Share

Bab 2 Nikmat yang Berdosa

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-02-19 16:59:13

"Duduk dulu, Nan, Mir. Jangan kayak di depan Pak RT gitu mukanya, santai saja," suara Fandi memecah keheningan yang kaku. Bunyi klontang kunci motor sport yang dilempar sembarangan ke atas meja jati terdengar seperti lonceng peringatan. Mirah sedikit terlonjak, matanya tak henti menjelajahi ruang tamu yang luasnya seolah hendak menelan dirinya.

Lantai marmer di bawah telapak kakinya terasa beku, menusuk kulit dengan keangkuhan materi. Fandi melangkah ringan ke arah dapur, meninggalkan aroma citrus mahal yang menggantung di udara.

Ia kembali membawa tiga botol soda dingin yang berembun tebal. Fandi duduk tepat di antara Nani dan Mirah, begitu rapat hingga bahu mereka bertiga bersentuhan erat. Tanpa sepengetahuan mereka, cairan di dalam botol itu telah dicampuri ramuan yang sanggup membakar nalar.

"Duh, kok perut gue koq tiba-tiba nggak enak ya? Gue numpang ke belakang ya, Fan," pamit Nani tiba-tiba. Tangannya memegangi perut dengan wajah sedikit meringis. Fandi mengangguk santai, "Pakai kamar mandi di kamar gue aja, Nan, lebih bersih".

Nani segera menghilang ke bagian dalam rumah yang megah itu. Kini Mirah mematung, terjebak dalam kesunyian yang mencekam bersama predator di sampingnya. Sepuluh menit lebih telah berlalu, namun sosok Nani tak kunjung muncul kembali ke ruang tengah.

Fandi bangkit, langkahnya nyaris tanpa suara saat menyisir lantai marmer menuju ambang pintu kamarnya. Ia melongok ke dalam, melihat Nani sudah tumbang, tertidur pulas di atas kasur empuk setelah membersihkan diri. Kelelahan dan hawa sejuk kamar mandi mewah itu rupanya telah melumpuhkan pertahanan Nani.

Fandi kembali ke ruang tengah dengan seringai yang membuat bulu kuduk Mirah meremang. "Habisin minumnya, Mir, biar santai. Cobain cemilannya juga," ajak Fandi dengan nada yang terlalu ramah. Mirah meneguk sodanya, tak menyadari bahwa gairah asing mulai merayap di bawah sarafnya.

Efek ramuan itu bekerja cepat, menaikkan suhu tubuh Mirah hingga pikirannya mulai berkabut. Fandi membuka laptop di meja jati, memutar sebuah tayangan adegan film syur yang liar dan terang-terangan. Matanya menjelajahi tubuh Mirah yang mulai gemetar hebat, seperti kuncup desa yang siap direnggut.

"Sstt... dengerin deh. Cuma ada suara napas kita dan suara di film ini, kan?" bisik Fandi tepat di telinga Mirah. Sentuhan lihai Fandi mulai menjelajahi area sensitif, memicu reaksi fisik yang tak lagi bisa dikontrol Mirah. Mirah meronta lemah, namun tubuhnya justru mulai memberikan respons panas yang mengkhianati nuraninya.

"Fan, jangan... ini nggak benar. Kamu pacar Nani, dan aku... aku punya Jaya," bisik Mirah parau. Napasnya mulai tercekat di tenggorokan, berat dan memburu. Namun, Fandi tidak peduli; ia semakin merapat.

Mirah melenguh panjang saat bibir Fandi mulai menyerang lehernya dengan ciuman basah yang beringas. Pakaian kurung putih itu kini berantakan, nyaris terlepas dan memperlihatkan kulit bersihnya di depan Fandi. Fandi semakin bergairah mencumbu tubuh yang selama ini hanya ia bayangkan dalam fantasi gelapnya.

Tanpa Mirah sadari, sebuah kamera tersembunyi merekam setiap inci percumbuan mereka. Bukti digital itu akan menjadi rantai yang mengunci nasibnya dalam jurang kehinaan selamanya. Gairah terlarang membakar habis akal sehatnya, membuat seluruh tubuhnya melengkung dalam nikmat yang berdosa.

Di tengah puncak rasa, bayangan wajah tulus Jaya melintas tiba-tiba seperti sambaran petir. Mirah tersentak, mendorong dada Fandi dengan sisa tenaga yang masih tersisa di jemarinya yang lunglai. Rasa kotor dan hina seketika membanjiri dadanya, lebih dingin dari marmer di bawah sana.

"Akuuu... aku harus pulang, Fan," bisiknya parau sambil merapikan kemejanya yang berantakan. Fandi hanya terkekeh puas, membiarkan gadis itu lari keluar rumah dengan tangis yang tertahan. Tujuannya menjebak Mirah telah tercapai sepenuhnya, sebuah kemenangan yang licik.

Mirah berjalan gontai menembus kegelapan desa yang sunyi.  Sementara itu, di dalam rumah, Fandi kembali ke kamar dan mendapati Nani masih terlelap di atas sprei satin.

Dengan perlahan, ia melucuti sisa pakaian Nani hingga gadis itu polos total di bawah temaram lampu. Fandi memutar kembali adegan panas di laptopnya, lalu mulai mencumbu tubuh Nani yang ranum. Nani terbangun dengan napas memburu, terkejut mendapati dirinya sudah bugil di bawah jamahan Fandi.

"Minum dulu, Nan. Kamu kelihatan capek banget tadi sampai ketiduran," ucap Fandi sambil menyodorkan botol soda. Nani yang haus segera meminum cairan yang mengandung perangsang dosis tinggi tersebut. Tak butuh waktu lama, gairah Nani meledak hebat, membakar seluruh sarafnya tanpa ampun.

Fandi mengenakan pengaman dengan gerakan cepat, memastikan Nani tidak akan hamil nantinya.. Suara kecupan yang dalam, "Cupp… Cupp…", memecah kesunyian saat mereka saling melumat dengan rakus. Jemari Fandi mulai meraba lubang kenikmatan Nani yang sudah sangat siap menerima serangan.

"Ahhh… Ughhh…" desah Nani saat merasakan kejantanan Fandi mulai melakukan penetrasi yang dalam. Bunyi ritmis pertemuan dua tubuh, "plok… plok…", bergema di dinding kamar seiring gairah yang tak terbendung. Ritme Fandi semakin cepat dan kasar, tak memberikan ruang bagi Nani untuk sekadar bernapas.

"Eughhh… Fannn… Sakittt… Tapi Ennakkk…" rintihan Nani yang liar. Keringat mereka bercampur, menciptakan aroma gairah yang memenuhi ruangan pengap itu. Penyatuan mereka mencapai puncaknya, mengaburkan batas antara cinta dan nafsu hewani.

"Aku keluar... aku keluarrr... Arghhh!" teriak Fandi dalam seruan pelepasan pamungkas. Suara letupan kenikmatan, "Crottt.. Crottt…", membanjiri lapisan karet yang ia kenakan. Nani terengah-engah, merasa seluruh energinya terserap habis oleh pergulatan yang ia kira adalah bukti cinta.

Fandi bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa dosa mereka. Nani, dalam kelelahan yang memabukkan, meraih ponsel Fandi yang tergeletak di nakas karena sebuah notifikasi. Wajahnya memucat seketika saat membaca sebuah pesan dari nama Clarissa di Jakarta.

"Sayang, gimana? Udah pesan tiket buat minggu depan? I miss you so much...". Kalimat itu terasa seperti belati yang menghujam tepat di ulu hatinya. Rasa sakit yang menyengat seketika membunuh sisa-sisa kehangatan di atas ranjang satin itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 150 Bahagia di Tanah Kelahiran (Tamat)

    Raungan peluit masinis kereta api senja perlahan meredup di kejauhan, mengantarkan keheningan fajar yang melingkari lereng gunung Jawa Tengah.Mirah turun dari tangga gerbong besi terakhir, menghirup dalam-dalam udara perdesaan yang bersih tanpa sekat polusi semen metropolitan.Kini, keindahan alam desa terbentang sangat nyata di depan pelupuk matanya, membawa kedamaian jiwa yang teramat sangat murni.Mirah dan Jaya resmi meninggalkan gemerlap palsu Jakarta, menanggalkan seluruh kotak pandora dunia lendir yang mengurung batin mereka.Keterangan Tempat: Di sebuah gubuk bambu sederhana di tepi ladang jagung, hamparan kabut pagi nampak merayap lembut di atas pucuk daun hijau.Mirah melepas seluruh topeng estetika kota dan kebayanya, menggantinya dengan kain daster lurik longgar yang sangat luwes di kulit.Dia hidup damai bertani dan mengurus rumah tangga bersama Jaya yang mencintainya secara utuh apa adanya tanpa menuntut draf fisik.Taw

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 149 Fajar Baru Setelah Badai

    Deru mesin motor matic tua milik Jaya perlahan melambat, lalu berhenti tepat di seberang pelataran stasiun kereta api yang mulai disorot mentari pagi.Mirah turun dari boncengan sambil merapikan tas pakaiannya, memandang ke arah langit Jakarta yang nampak jauh lebih cerah tanpa kepulan duka.Kini, suasana pagi yang bersih beneran menyelimuti seluruh sudut jalanan kota, membawa hilangnya beban hitam kota yang selama ini menghimpit dada.Ruko lendir Selatan resmi ditutup selamanya oleh segel aparat, digantikan dengan proyek pembangunan legal berupa draf kompleks perkantoran baru.Menariknya, sesosok pria tegap dengan seragam dinas PDL kepolisian yang sangat necis nampak sudah berdiri menunggu di dekat pintu masuk peron.Elang yang ternyata seorang perwira intelijen melangkah gagah mendekati mereka, menyunggingkan senyuman maskulin yang dipenuhi rasa hormat.Dia memberikan penghormatan terakhir kepada Jaya dan Mirah atas keberanian mereka memba

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 148 Airmata dan Pertobatan Nani

    Rombongan terpidana ruko Barat baru saja digiring masuk ke dalam bus jeruji besi milik kejaksaan, menyisakan langkah gontai Mirah yang menembus lorong bawah tanah pengadilan.Ditariknya napas panjang oleh Mirah untuk menata sisa debaran dadanya, saat seorang petugas sipir wanita paruh baya menyodorkan secarik draf memo duka kusam.Kini, hawa dingin ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan sementara mulai terasa menusuk pori-pori, membawa atmosfer ketulusan psikologis yang teramat mentah.Sebelum dipindahkan ke lapas wanita tingkat provinsi, Nani meminta pertemuan terakhir dengan Mirah di ruang kunjungan utama.Mirah melangkah perlahan mendekati deretan kursi besi, matanya langsung tertuju pada sesosok wanita yang duduk lemas di balik sekat kaca tebal.Deggg...Dengan baju tahanan oranye dan wajah polos tanpa riasan menor, Nani menangis tersedu-sedu meratapi kebodohan batin mudanya yang kini hancur lebur.Alasannya simpel, ketak

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 147 Kejatuhan di Balik Jeruji Besi

    Barisan mobil polisi bergerak menjauh dari pelataran perbatasan, menyisakan kesunyian fajar yang perlahan berganti menjadi proses persidangan kilat metropolitan.Dinding ruang sidang utama pengadilan negeri nampak sangat putih bersih, memancarkan atmosfer hawa dingin yang menusuk tulang kering para pesakitan.Kini, nasib dinasti haram ruko Selatan berada sepenuhnya di bawah ketukan palu hakim ketua yang bermata tajam tanpa ekspresi belas kasihan.Agam duduk membungkuk di kursi pesakitan tengah dengan pakaian tahanan jingga, rahang kejamnya nampak bergetar kaku menahan kecemasan batin.Seluruh aset kekayaan haram milik Agam disita negara tanpa sisa, termasuk draf tabungan gelap hasil pemerasan berdarah masa lalu.Ruko Taman Suci Selatan disegel total menggunakan garis polisi hitam kuning, memadamkan riuh gemerlap paket pelayanan "pijat yuk mas".Menariknya, Fandi duduk di sebelah Agam dengan seluruh dahi yang dibanjiri keringat dingin, terus

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 146 Kehancuran Para Penguasa Lendir

    Raungan sirine polisi mendadak memekakkan telinga, bergema beringas membelah sisa kabut subuh di sepanjang koridor jalur perbatasan Barat-Tangerang.Sorot lampu rotator berwarna biru merah berkelebat cepat menghantam dinding seng, memantulkan bayangan lari ratusan tikus got yang ketakutan.Kini, kepanduan hukum dari kepolisian pusat resmi mengunci seluruh akses pelarian, mengepung rapat setiap jengkal pelataran gudang tua tanpa celah.Tepat saat Agam dan Fandi mencoba kabur membawa koper uang saham, barisan mobil Brimob dan kepolisian pusat bentukan jaringan Elang mengepung seluruh area gudang.Gara-gara panik melihat barisan laras panjang mencuat dari balik pintu truk barak, Fandi nekat menyeret koper kulitnya ke sela batako basah.Ditariknya gagang koper itu dengan sisa tenaga maskulinnya yang kian melemah, mencoba menyelamatkan modal investasi ruko Selatan.Namun, seorang perwira Brimob bertubuh tegap langsung melompat taktis dari atas bu

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 145 Konfrontasi Segitiga Berdarah

    Moncong pistol revolver kecil berlapis krom di tangan Fandi berkilat kejam, membidik lurus ke arah kaki Jaya yang masih berdiri kokoh di atas tanah berlumpur pelataran gudang perbatasan.Fandi bersiap menembak kaki Jaya, jemari necisnya mulai menekan picu baja dengan seringai kepuasan kotor yang teramat sangat binal.Kini, fajar pertama mulai memecah langit kelabu, membawa hawa dingin mencekam yang langsung menguap bersama kepulan debu material bangunan.Gara-gara panik melihat ancaman maut di depan mata, Mirah berguling pasrah ke samping ban mobil Mercedes, mencoba memutuskan lilitan tali di pergelangan tangannya.Namun, Elang yang berhasil meloloskan diri dari ikatan berkat bantuan kode sandi Jaya, langsung menerjang barisan pengawal pusat tanpa rasa takut.Pipa besi silinder di tangan Elang berayun secepat kilat, menghantam pergelangan tangan Fandi sebelum pelatuk revolver itu sempat ditarik penuh.Brakkkk!Bunyi letupan s

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 1 Undangan Beracun

    "Duh, gila ya panasnya! Bedak gue pasti sudah luntur semua, Mir," gerutu Nani sambil menarik kasar kerah bajunya. Celah udara itu memperlihatkan bayangan tipis tali pakaian dalamnya yang sudah melonggar. Sementara Mirah hanya menyeka peluh di pelipis."Ya lagian, lu. Udah tahu acara kelulusan cuma

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 8 Hina Berbayar

    "Gila, hampir saja kita diangkut!" gumam Dian parau sembari menyandarkan punggung pada tumpukan kardus basah di gang sempit. "Kalau ketangkap, bisa habis kita dikarantina di Kedoya kayak binatang dikandangin," lanjutnya sembari menyeka keringat yang melunturkan bedak mahal.Nani justru tertawa keci

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 7 Kena Razia

    Bus menderu pelan sebelum akhirnya memuntahkan asap hitam di Terminal Rambutan yang riuh. Mirah turun dengan kaki gemetar, ransel kumalnya terasa seberat beban dosa yang ia seret dari Sukamaju. Di belakangnya, pria ber-hoodie itu tetap mengawal tanpa suara."Jalan terus, jangan celingukan kayak ora

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 6 20 Juta untuk Tubuhmu

    "Gue... gue udah nggak punya apa-apa buat dijual, Bang. Gue udah rusak," ucap Mirah dengan nada pasrah. Pria di depannya mendongak, memperlihatkan sorot mata tajam."Aku orang yang memastikan 'aset' berharga Kak Dian sampai ke Jakarta dengan selamat," desis pria itu tanpa emosi. "Dian menjemputmu k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status