Home / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 4 Bapak...

Share

Bab 4 Bapak...

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-02-19 17:00:55

Mirah terduduk lemas di lantai semen yang dingin, jemarinya yang gemetar masih menggenggam ponsel Nani. Potongan video di layar itu—kancing kemeja yang ditarik paksa hingga kulit dadanya terekspos—terasa seperti vonis mati bagi kehormatannya sebagai gadis desa.  

"Nan, sekarang kita harus gimana?" tanya Mirah lirih. "Izinin gue nginep sini dulu ya, sumpah, gue ga ada jalan buat balik lagi," bisik Nani dengan nada penuh dendam yang mulai menyala di matanya.

Keesokan paginya, suasana dapur yang biasanya tenang terasa mencekam bagi Nani yang sedang menyikat baju dengan tenaga berlebih. Ibunya Mirah yang sedang mengikat kangkung di dekat sumur melirik tajam ke arah Nani. "Nani, kamu kenapa? Gosok baju sampai segitunya, bisa robek itu kain!" tegur wanita tua itu.

Nani hanya terdiam. "Mikirin apa? Oh, si Fandi ya?" tanya ibunya Mirah tanpa menoleh, jemarinya lincah memutar tali rafia. "Jangan ketinggian mimpi, Nan. Orang kayak Fandi itu cuma mampir minum, abis itu nyari gelas kristal yang lebih pantes di Jakarta. Kita ini cuma kendi tanah liat".

Kata-kata itu terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka Nani yang masih basah. Ia tahu dirinya sudah rusak, meninggalkan noda merah di sprei mahal Fandi, sementara pria itu sudah menyiapkan cincin untuk wanita lain bernama Clarissa. Saat itu juga, Nani memantapkan hati untuk merantau ke Jakarta, melarikan diri dari status "sampah" di desanya sendiri.

Sore harinya, saat Nani berjalan menuju balai desa, ia menemukan amplop cokelat kusam tergeletak di atas batu berlumut. Dengan tangan gemetar, ia membukanya dan mendapati tiga lembar foto cetakan murah potret dirinya dan Fandi di dalam kamar mewah itu. Di balik foto tertulis ancaman: "Ternyata anak tukang sayur kalau di kasur nggak kalah sama bintang film biru. Mau video ini sampe ke grup WA warga, atau mau bayar?".

Tangis Nani pecah dalam senyap, ia jatuh terduduk di atas tanah lembap, merasa dunianya benar-benar kiamat. "Lagi meratapi nasib, Nan?" suara dingin Dian memecah keheningan saat ia berdiri di sana sambil mengisap rokok tipis. Dian memberikan pilihan pahit: tiket ke Jakarta untuk mencari uang dan membungkam mulut orang-orang yang menghinanya.

Di sisi lain, Jaya datang ke rumah. Ia menyerahkan plastik berisi obat batuk sirup generik dan sebungkus nasi rames yang masih hangat. "Mir, ini... aku cuma bisa beli obat biasa. Tadi habis buat benerin rantai motor yang putus," ujar Jaya dengan tangan gemetar.

Jaya duduk di samping Mirah di kursi rotan, mencoba meraih jemari gadis itu. "Maafin aku ya, Mir, belum bisa kasih yang lebih. Aku janji bakal kerja lembur biar Bapak bisa diperiksa dokter spesialis di kota," bisik Jaya dengan ketulusan yang murni. Mirah menarik tangannya dengan kasar, merasakan ulu hatinya dihantam godam rasa bersalah yang luar biasa hebat.

"Proyek itu... gajinya berapa kalau nanti cair, Jay?" tanya Mirah pelan. "Kalau lancar, seminggu bisa dapet tiga ratus ribu, Mir. Tapi itu juga kalau cuacanya bagus," jawab Jaya dengan nada penuh harap.  

Mirah menatap wajah Jaya yang bersih dari kelicikan, merasa dirinya adalah sampah yang sedang dipuja oleh seorang malaikat. "Usaha gimana lagi, Jay? Lu mau kerja dua puluh empat jam? Kita cuma tamatan SMK desa, Jay. Harga kita di sini murah banget!" seru Mirah dengan tawa getir. "Bukan soal harga, Mir, tapi soal kehormatan kamu yang mau aku jaga," ucap Jaya lirih, mencoba menenangkan Mirah.

Kata 'kehormatan' itu justru membuat Mirah merasa ingin mati saat itu juga; ia merasa tidak pantas lagi bersanding dengan lelaki sebaik Jaya. "Aku nggak takut Jakarta, Jay! Aku lebih takut liat Bapak mati pelan-pelan cuma gara-gara kita nggak punya duit buat beli napas!" teriak Mirah. Ia pun berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jaya yang terpaku di teras tanah dengan hati yang hancur.

Di dalam kamar yang pengap, Mirah duduk bersimpuh di samping dipan Ayahnya yang bernapas tersengal-sengal. Pintu depan kembali diketuk pelan; ternyata Nani telah berdiri di sana dengan mata sembab. "Mir, gue mau pergi besok subuh. Hidup gue di sini sudah berakhir. Gue mohon, ikut gue. Lu liat Bapak lu... dia butuh bantuan lu buat berobat!" desak Nani.

Kepastian terakhir dari Jaya telah runtuh saat pesan singkat masuk menyatakan proyek jalan ditunda lagi karena kendala teknis. "Oke, Nan. Gue ikut," jawab Mirah mantap, sebuah keputusan yang lahir dari rasa hina yang mendalam dan desakan nyawa.  

Tepat saat itu, suara batuk ayah Mirah meledak keras, diikuti suara gelas jatuh dan pecah di lantai kamar. Mirah berteriak histeris melihat darah segar keluar dari mulut pria tua itu, membasahi bantal dan seprai lusuhnya.  

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 61 Pesta Pembukaan Taman Suci

    Laras pistol dingin itu mendadak menjauh dari pelipis Mirah. Agam tertawa hambar sambil menyimpan senjatanya ke balik jas hitam. "Hanya tes nyali, Mir," ucapnya datar.Mirah mematung dengan napas yang memburu hebat di tenggorokan. Keringat dingin membasahi tengkuknya yang terasa kaku dan membeku. Ia tahu Lilis masih meringkuk di balik pintu besi bawah tanah."Malam ini Taman Suci resmi dibuka," perintah Agam dengan tegas. Ia membetulkan kerah kebaya Mirah yang nampak miring dan berantakan. "Jangan pasang muka mayat seperti itu," tambahnya dingin.Agam melangkah pergi meninggalkan aroma cerutu yang sangat pekat. Mirah memejamkan mata berusaha menekan gemetar di ujung jemarinya. Ia harus segera melangkah menuju lobi utama yang mulai ramai.Suara dentuman musik mulai menggetarkan dinding ruko yang tebal. Wallpaper beludru merah marun seolah ikut bernapas mengikuti irama bas. Lobi kini berubah menjadi pasar malam bagi para pengusaha lapar.Karpet merah

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 60 Menghadapi Komplain VVIP

    Mirah mematung di depan Ratna yang memegang pisau dapur. Suara denting gelas kristal pecah tiba-tiba meledak dari Kamar Teratai. Makian kasar memenuhi lorong dan memutus ketegangan di antara mereka.Ratna menurunkan pisaunya sambil menyeringai tajam. "Tamu VVIP lo ngamuk di sana," provokasi Ratna. "Cepat urus atau gue telepon Agam sekarang!".Mirah berlari kecil menuju kamar nomor satu dengan napas tercekat. Tangannya gemetar saat mendorong pintu jati yang berat. Ia melihat Pak Suroto berdiri dengan wajah merah padam.Lilis meringkuk ketakutan di pojok ranjang yang berantakan. Seragam satin merah marunnya sudah robek dan compang-camping. Bau alkohol dan cerutu memenuhi ruangan yang pengap itu."Terapis macam apa ini?!" teriak Pak Suroto dengan suara parau. Ia menunjuk Lilis dengan jari gemuknya yang memakai batu akik. "Baru disentuh sedikit saja sudah menangis histeris!".Mirah segera melangkah maju menghalangi pandangan lapar pria itu. Ia memaksak

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 59 Rahasia Minyak Zaitun dan Gairah

    Mirah berdiri mematung di koridor lobi Taman Suci. Deru mesin air meredam gemuruh di dadanya. Peringatan Elang tentang bahaya bawah tanah terasa menusuk.Ia menghapus sisa keringat dingin di pelipisnya. Langkahnya gontai memasuki ruang VIP utama. Aroma cendana mulai bercampur dengan uap panas."Minyak zaitun ini harganya lebih mahal dari hidupmu," hardik Ratna. Ia membanting botol kaca hijau ke meja marmer. Ratna menatap Mirah dengan pandangan penuh kebencian."Jangan tumpah setetes pun atau kau menyesal," ancam Ratna lagi. Tangannya gemetar menyulut rokok mentol dengan kasar. Mirah hanya diam mengambil botol dingin itu.Telapak tangan Mirah masih terasa basah dan dingin. Minyak ini bening namun kental seperti dosa. "Aku melakukan ini semua demi Bapak," bisiknya.Lilis sudah berbaring tertelungkup di atas ranjang. Kulit punggungnya nampak sangat pucat dan rapuh. Lampu temaram menyinari ruangan yang sunyi itu."Perhatikan ritme jemari saya se

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 58 Blowjob dalam Keheningan

    Nani berdiri tegak di depan deretan terapis baru. Wajahnya mengeras seperti batu karang yang dihantam ombak. Ia menatap satu per satu mata gadis yang gemetar ketakutan."Dengarkan baik-baik instruksi saya sekarang!" bentak Nani keras. "Jangan ada yang berani memejamkan mata sedikit pun!". "Api di perut kalian akan membakar jika tidak dijinakkan!".Nani membanting dildo silikon hitam ke atas meja rias. Meja yang sudah retak itu mengeluarkan suara berdentum nyaring. Para gadis itu tersentak kaget melihat benda tersebut."Lupakan semua teknik tangan yang membuat jemari pegal!" seru Nani. "Malam ini, lidah adalah satu-satunya mesin pencetak uang!". "Kalian harus menjadi pemangsa yang sangat tangguh!".Nani menarik paksa Siska agar segera mendekat padanya. Gadis muda itu terpaksa berlutut di antara kaki Nani. Siska meremas kain satin merahnya hingga jahitan merintih."Kenapa tanganmu gemetar seperti memegang bara api, Siska?" tanya Nani. "Aku tidak ingi

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 57 Sentuhan Jemari yang Menghancurkan

    Keringat dingin membasahi dahi Mirah yang gemetar. Ia mengatur napas pendek agar terlihat tenang. Para junior sudah menunggunya di ruang latihan.Bau karat masih menempel kuat di kebayanya. Aroma cendana di ruangan itu terasa menyesakkan. Mirah mendorong pintu ruang latihan dengan kasar."Jangan ada yang duduk di matras! Waktu kita untuk latihan hampir habis!" hardik Mirah dengan suara serak.Lilis berjengit mendengar suara keras dari Mirah. Matanya sembap karena pengaruh pil pemacu gairah. Pupil matanya terlihat sangat lebar dan kosong.Mirah menatap mereka dengan perasaan yang sangat gelap. Ia merasa harus merusak mereka sekarang juga. Itu lebih baik sebelum Agam meremukkan mereka."Perhatikan botol pelumas berbahan dasar air ini!" perintah Mirah sambil mengambil botol dari lemari. Ia menuangkan cairan bening itu ke tangannya.Cairan itu terasa sangat dingin di kulit. Perut Mirah melilit kencang karena rasa mual. Ia mulai memberikan instru

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 56 Filosofi Pijat : Ketenangan Di Atas Ranjang

    Perjalanan misterius bersama pria bersetelan jas itu meninggalkan tanya yang besar di dalam benak Mirah. Namun, ketika ia kembali ke Taman Suci, kenyataan sebagai seorang pengajar sekaligus tawanan Agam kembali menyambutnya dengan dingin. Ia harus segera mengubur memori malam itu dan kembali mendoktrin Lilis serta para junior lainnya tentang satu-satunya senjata yang mereka miliki: ketenangan.Mirah mengusap memar biru di pipinya. Ia memoles riasan tebal untuk menutupi luka itu. Gema tamparan Agam semalam masih terasa sangat panas."Berdiri tegak!" perintah Mirah kepada Lilis. Gadis-gadis baru itu gemetar menahan takut. Aroma cendana dan pembersih lantai terasa sangat menyesakkan."Jangan pernah tunjukkan rasa takut kalian," bisik Mirah. Ia harus menjadi wanita tanpa hati demi keselamatan mereka. Internal monolognya berdenyut dalam kegelapan yang pekat.Mirah menuangkan minyak zaitun ke telapak tangannya. Cairan kental itu mengalir licin di sela jemari. I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status