Share

Bab 3

Author: Richy
Lisa berkata dengan nada menggoda, "Om, elus di sini enak banget, aku juga mau elusin Om."

Selesai bicara, satu tangannya menyelinap masuk ke dalam celanaku.

Begitu digenggam olehnya, aku merasa seluruh darah di tubuhku mendidih.

Telapak tangannya sangat halus, sentuhannya terasa lembut dan lembap.

Apalagi dia menggunakan ujung telunjuknya untuk menggesek pelan bagian paling sensitifku!

Rasanya seperti ada aliran listrik yang merambat melewati tulang belakangku.

Menghadapi situasi seperti ini, mana mungkin aku bisa tahan! Milikku pun langsung tegak berdiri.

Lisa berkata dengan kaget, "Wah! Cowok ajaib banget ya, bisa berubah jadi gede gitu!"

Gadis bodoh ini, sepertinya dia belum pernah pacaran, apalagi menyentuh pria.

Aku makin antusias begitu terpikir Lisa masih perawan.

Aku menjulurkan jari tengah, berniat masuk ke dalam sana.

Baru saja aku memberi sedikit tekanan, napas Lisa langsung memburu.

Aku bahkan merasa satu jari saja susah masuk, sempit sekali.

Lisa sangat menikmati sensasi ini, dia bahkan dengan sengaja menekan tubuhnya ke arah jariku.

Kami berdua saling memanjakan tubuh satu sama lain di siang bolong seperti itu.

Goncangan secara mental dan visual membuat jiwaku mulai bergejolak.

Namun tepat saat itu, putriku sudah selesai memberi makan anjing dan berjalan ke arah kami.

Aku dan Lisa segera menarik tangan masing-masing, lalu makan satai seolah tidak terjadi apa-apa.

Putriku melihat ke arah kami, lalu melihat ke panggangan di atas meja dan berkata, "Kok kalian makannya lambat banget?"

Aku segera menjelaskan, "Ini 'kan lagi nungguin kamu biar bisa makan bareng."

"Nungguin aku buat apa? Ayo ayo, makan bareng."

Setelah dielus oleh Lisa tadi, aku merasa seluruh organ tubuhku seperti terbakar. Rasa itu tidak kunjung hilang.

Begitu juga dengan Lisa, dia menekan tangannya ke perut bagian bawah, jelas-jelas sedang menahan rasa gatal yang menusuk sampai ke tulang.

Selesai makan, putriku membawa Lisa pergi main lagi ke padang rumput.

Aku sudah tidak tahan lagi, terpikir untuk mencari tempat sepi buat menyelesaikannya sendiri.

Saat aku menemukan sebuah pohon besar yang sepi, aku malah melihat sosok cantik yang sedang meraba dirinya sendiri.

Begitu didekati, ternyata itu adalah Lisa.

Aku segera bertanya, "Lisa, kenapa kamu sendirian di sini? Sania di mana?"

Suasana hati Lisa langsung membaik begitu melihatku.

Dia menunjuk ke arah padang rumput yang jauh. "Dia lagi tidur siang di sana. Tadi habis Om elus di sini, rasanya malah makin gatal. Aku nggak tahan lagi jadi mau coba elus sendiri."

Matanya menatap lurus ke arah milikku yang sedang menegang, lalu dia menelan ludah.

"Om, kenapa kalau aku elus sendiri nggak seenak pas Om yang elus? Elusin lagi dong."

Tidak disangka Lisa juga sama denganku, tidak bisa menahan rasa gatal di tubuhnya dan ingin melepaskan hasrat juga.

Kalau sudah begitu, aku tidak perlu pura-pura lagi. Aku langsung longgarkan celana dan memperlihatkan milikku yang besar.

Alat itu berdiri tegak dengan jelas di depan mata Lisa.

"Pakai yang ini aja biar Om bantuin garuk."

Ini pertama kalinya dia melihat alat sebesar itu, dia pun membuka mulut kecilnya yang merah karena terkejut.

"Om, a ... aku boleh coba cicipin nggak?"

Hawa panas dari napasnya saat bicara menerpa milikku, membuatnya terasa makin membengkak.

Aku mengangguk, lalu memegang kepalanya saat dia mulai membuka mulut ....

Aku pun merasakan sensasi jepitan yang erat, terasa hangat dan basah.

Tidak disangka Lisa yang dari luar kelihatan polos ternyata suka menikmatinya.

Seluruh sel di tubuhku rasanya mau meledak, dia pintar sekali!

Lisa akhirnya tidak bisa bertahan lagi, dia berinisiatif menyingkap rok pendeknya.

Dia berlutut menungging di bawah pohon besar, bokong putih mulusnya terangkat tinggi ke arahku sambil digoyangkan ke kiri dan kanan.

"Om, aku garuk gimanapun nggak hilang gatalnya, bantuin aku sekali aja ya."

"Aku belum pernah tahu rasanya kayak gimana, mau banget ...."

Menghadapi bokongnya yang menggoda itu, kalau aku tidak lanjut, apa aku masih bisa disebut pria?

Detik berikutnya, aku memegang pinggangnya yang ramping, mengarahkan ke lubangnya, lalu mendorong masuk dengan kuat ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Piknik Bersama Putriku dan Sahabatnya   Bab 7

    Suaraku tersedak bukan main, air mata panas menetes di punggung tangannya. "Jangan takut, Ayah bawa kamu pulang."Sania menatapku, akhirnya dia hancur dan memelukku sambil menangis kencang.Semua ketakutan dan rasa sakit hati yang terpendam keluar bersama tangisannya.Tidak lama kemudian, Lisa berlari datang dengan napas terengah-engah. Dia berdiri beberapa langkah di depan kami sambil menatap kami."Sania ... maafin aku ...." Dia membuka mulutnya, suaranya terdengar sangat halus dan lemah.Sania mengangkat kepala dari pelukanku, menatap Lisa di balik air matanya. Tatapan matanya sangat rumit, ada kemarahan, kekecewaan, tapi lebih banyak lagi rasa mati rasa."Lisa, kamu pergi aja." Suara Sania sangat pelan, tapi mengandung ketegasan yang dingin. "Kita bukan teman lagi."Tubuh Lisa berguncang, air matanya jatuh berlinang.Dia ingin mengatakan sesuatu dan membuka mulutnya, tapi akhirnya tidak ada kata yang keluar. Dia hanya menatap kami dalam-dalam lalu berbalik pergi dengan langkah semp

  • Piknik Bersama Putriku dan Sahabatnya   Bab 6

    Aku dan Lisa yang setengah telanjang terlihat sangat jelas oleh putriku.Wajahnya sedingin es, bahkan tidak ada rona kehidupan sedikit pun di matanya.Dengan mulut yang sedikit terbuka, dia terbata-bata berkata, "Ayah, apa yang Ayah lakuin sama sahabatku?"Lisa segera menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu berkata dengan panik, "Sania, ini nggak seperti yang kamu pikirin."Aku pun ikut menimpali di sampingnya, "Iya, kok kamu tiba-tiba ke sini? Ini nggak seperti yang kamu pikirin."Putriku tidak bisa menahannya lagi, dia mulai berteriak kencang, "Jangan bohongi aku lagi! Dari siang aku udah rasa kalian ada yang nggak beres, setiap aku nggak ada, kalian berdua selalu berduaan, tatapan mata kalian ke aku juga nggak benar.""Kalian anggap aku ini bodoh? Kalian pikir aku nggak tahu? Aku sengaja pura-pura tidur cuma mau lihat apa yang sebenarnya kalian sembunyiin dari aku."Putriku makin emosional saat bicara, dia menunjuk ke arah kami sambil teriak dengan emosi, "Lisa! Kamu itu sahabat terb

  • Piknik Bersama Putriku dan Sahabatnya   Bab 5

    Aku menggenggam kaki kecilnya yang halus, menaruhnya di bagian pribadiku, dan menikmati sensasi tegang yang memicu adrenalin ini.Sementara itu, putriku masih tetap tenang menyantap makanannya.Seluruh tubuhku dibuat geli oleh Lisa.Selesai makan, Lisa pergi mandi.Saat keluar setelah mandi, dia cuma memakai baju tidur milik putriku.Tubuh Lisa sangat bagus, sementara baju tidur putriku agak kekecilan.Saat dipakai olehnya, bahkan terlihat jelas bagian yang menonjolnya.Sisa-sisa tetesan air di tubuhnya membasahi pakaian itu, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas.Penampilannya sangat seksi.Setelah mereka selesai, aku pun pergi ke kamar mandi untuk mandi juga.Terlihat di dalam baskom di atas mesin cuci, ada tumpukan pakaian Lisa.Ini adalah pakaian yang baru saja dia lepas hari ini.Aku tidak tahan untuk mengambil sepotong celana dalam dari atas, lalu menempelkannya di hidung dan menghirupnya dalam-dalam.Huff! Ah, aroma wangi yang lembut ini bercampur dengan aroma keringat yang harum

  • Piknik Bersama Putriku dan Sahabatnya   Bab 4

    Tepat saat aku hendak masuk, tiba-tiba ada beberapa orang yang sedang jalan-jalan lewat di dekat kami.Di siang bolong begini, kalau sampai ketahuan orang lain, bisa gawat, 'kan?Aku segera memakai celana dan menarik turun rok Lisa untuk menutupi tubuhnya, supaya tidak terlihat oleh orang lain.Lisa bertanya dengan heran, "Om, kok nggak lanjut? Ayolah cepat, aku nggak bakal kasih tahu Sania kok."Ini bukan masalah putriku atau bukan, aku menempelkan jari di bibir, memberi isyarat agar dia diam.Lalu aku memberi kode dengan dagu ke arah depan yang tidak jauh dari kami.Ada beberapa orang yang sedang berjalan ke arah kami.Setelah Lisa melihatnya, dia segera duduk di bawah pohon besar itu.Saat orang-orang itu lewat di samping kami, mereka menatap kami dengan tatapan aneh.Aku membatin, dengan jarak sejauh itu, mereka harusnya tidak melihat apa yang kami lakukan tadi, kenapa menatapku begitu?Begitu aku menunduk, aku baru sadar kalau posisi wajah Lisa saat duduk tepat menghadap ke arah m

  • Piknik Bersama Putriku dan Sahabatnya   Bab 3

    Lisa berkata dengan nada menggoda, "Om, elus di sini enak banget, aku juga mau elusin Om."Selesai bicara, satu tangannya menyelinap masuk ke dalam celanaku.Begitu digenggam olehnya, aku merasa seluruh darah di tubuhku mendidih.Telapak tangannya sangat halus, sentuhannya terasa lembut dan lembap.Apalagi dia menggunakan ujung telunjuknya untuk menggesek pelan bagian paling sensitifku!Rasanya seperti ada aliran listrik yang merambat melewati tulang belakangku.Menghadapi situasi seperti ini, mana mungkin aku bisa tahan! Milikku pun langsung tegak berdiri.Lisa berkata dengan kaget, "Wah! Cowok ajaib banget ya, bisa berubah jadi gede gitu!"Gadis bodoh ini, sepertinya dia belum pernah pacaran, apalagi menyentuh pria.Aku makin antusias begitu terpikir Lisa masih perawan.Aku menjulurkan jari tengah, berniat masuk ke dalam sana.Baru saja aku memberi sedikit tekanan, napas Lisa langsung memburu.Aku bahkan merasa satu jari saja susah masuk, sempit sekali.Lisa sangat menikmati sensasi

  • Piknik Bersama Putriku dan Sahabatnya   Bab 2

    "Om, aku tadi lagi main di rumput, kayaknya ada serangga yang masuk ke balik rokku, gatal banget nih, mau cari tongkat buat garuk-garuk."Ini … inikah sosok gadis 18 tahun? Cantik sekali.Saat ini putriku masih bermain sendirian di luar, sementara aku berhadapan dengan sosok Lisa yang begitu menawan.Aku tidak bisa lagi menahan gejolak di dalam hati, ingin sekali meraba bagaimana rasanya.Tapi, dia 'kan sahabat putriku, kalau nanti dia marah karena aku raba bagaimana? Putriku pasti tidak akan memaafkanku.Namun, Lisa sama sekali tidak terlihat takut di hadapanku, dia bahkan berinisiatif mengangkat roknya sendiri.Aku pun nekat untuk mencoba, lalu menjulurkan satu tangan bersiap masuk ke sela kedua kakinya."Lisa, Om bantuin garuk pakai tangan dulu ya?"Lisa menatapku dengan wajah yang memerah, lalu mengangguk sambil menggigit bibir.Aku sangat gembira, ternyata Lisa sama sekali tidak menolak.Bahkan saat tanganku mulai meraba ke balik roknya, Lisa tidak bisa menahan erangan kecil. Suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status