LOGINTiga tahun setelah menikah kembali dengan Dimas Aryatama, Sania Prameswari secara tidak sengaja bertemu dengan Dimas dan wanita simpanan barunya di Klub Cakrawala Malam. Di bawah cahaya lampu kristal, Dimas sedang bersandar santai di sofa kulit, ujung jari kirinya menjepit sebatang cerutu, sementara tangan kanannya dengan santai merangkul seorang wanita yang mengenakan gaun tradisional. Hadiah-hadiah mahal menumpuk seperti gunung di hadapan wanita itu. Hadiah-hadiah itu sudah pernah dilihat Sania beberapa hari sebelumnya. Dimas secara khusus terbang ke Valencia dan membelinya di sebuah rumah lelang. Beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun pernikahan mereka, jadi Sania sempat mengira kalau Dimas sengaja membelinya sebagai hadiah kejutan. Ternyata, dia terlalu banyak berandai-andai. Malam ini, Sania sebenarnya datang untuk mengambil foto gosip selebriti kelas tiga, tetapi malah mendapati suaminya sendiri yang kembali berselingkuh. Ini sudah kedua kalinya. Dan kali ini, Sania tidak akan pernah memaafkannya lagi.
View More"Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju
Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed
"Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal
Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.