LOGINPisah Terindah#67 "Kehadiranmu membuat anakku kehilangan bapaknya saat seusia kamu sekarang." Ingin kuteriakkan kalimat itu di depan wajahnya. Tapi kalimat itu hanya ada dalam benakku saja. Terkurung di sana. Aku tahu, dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak salah apa-apa. Takdir yang menempatkan dia menjadi anak dari seorang bapak yang menghianati pernikahannya dan seorang ibu yang tidak bisa menempatkan diri. Atau lebih tepatnya tidak tahu diri. Segera aku beristigfar dalam hati. Aku tidak boleh hanyut dalam masa lalu. Aku tidak boleh terperangkap dalam sakit hati dan luka yang berlarut-larut. Move on, Dara! Untuk beberapa saat hanya ada hening. Sampai akhirnya Mas Danar bersuara dengan nada canggung. "Tumben mampir, dari mana?" "Sengaja mau ke sini. Mumpung ada kamu di sini sekalian ada yang mau aku sampaikan." "Misha, ikut nenek ke belakang!" Ibu meraih tangan Misha dan bersiap menggandengnya ke belakang. Namun, langkah yang sudah dimulainya mendadak berhenti mendengar penutura
Pisah Terindah #66 "Ibu apa kabar?" Aku menyalami ibu Mas Danar dan sejenak kami berpelukan. Setelah itu giliran Shahna yang mencium tangan neneknya. Untuk beberapa saat Shahna berada dalam dekapan neneknya. Memang sudah lumayan lama mereka tidak bertemu. Kalau tidak salah, terakhir bertemu sekitar dua tahun yang lalu. Meski tak pernah membatasi komunikasi dan juga interaksi antara Shahna dan keluarga papanya tetap saja tidak ada pertemuan rutin antara Shahna dengan mereka. Tentu kesibukan dan prioritas masing-masing orang berbeda. Jangankan dengan nenek atau saudara-saudara papanya, dengan papanya saja Shahna bisa berbulan-bulan bahkan hitungan tahun tidak bertemu muka. Ya, begitulah perpisahan. Mau tidak mau akan ada hal-hal yang memang akan terlewatkan. Suasana di rumah ini masih tidak jauh berbeda. Perabotannya, tatanannya, serta halamannya yang luas dengan beberapa pohon berbuah di beberapa sisi. Bagian samping dan belakang rumah adalah tempat favorit Shahna kalau berkunju
Pisah Terindah #65 Aku menarik napas lega dan berucap syukur atas kemenangan kami dalam kasus ini. Joan Persada, tbk dinyatakan menang atas rivalnya PT.Jaya Mandiri. Meskipun semenjak setengah perjalanan sudah terlihat celah bahwa kami akan memenangkan perkara ini, tetap saja aku merasa sangat terharu mendengar hakim membacakan keputusan. Antara tak menyangka dan juga bangga melebur jadi satu. Pertama mengomandoi sebuah penyelesaian kasus dan berhasil memenangkannya merupakan sebuah pencapaian, prestasi, serta pembuktian tersendiri bagiku.Betapa Tuhan teramat baik padaku. Terlebih kemenangan itu kuraih di depan orang yang dulu pernah menggoreskan luka dalam hidupku. Orang yang pernah berprasangka sangat buruk padaku. Orang yang pernah mematahkan semangat hidupku. Ada hal yang tak kalah penting yang kudapatkan dari kasus ini. Yaitu kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Lewat beberapa unjuk data dan fakta di persidangan terbukalah dokumen yang manyatakan bahwa PT. Jaya Mandir
Pisah Terindah #64 POV Danar Terkesima!Itulah yang bisa mewakili diriku saat pertama kali mata ini melihat sosok seorang pengacara debutan yang akan menangani kasus yang tengah dihadapi perusahaan tempatku menggantungkan hidup. Awalnya aku sempat mendebat keputusan Joan. Menurutku akan lebih baik memakai jasa pengacara yang sudah kaya pengalaman. Apalagi melihat rekam jejak lawan. Mereka sudah cukup lihai bermain dalam kasus serupa. "Daripada kepalang tanggung, lebih baik nyebur total. Sama-sama ngeluarin uang juga, kan? Tak apa keluar uang lebih banyak dengan peluang menang besar daripada ekonomis tapi di depannya gelap." Aku mencoba menguraikan beberapa alasan logis. Namun, sang pemilik perusahaan tetap pada keputusannya. Entah apa alasan di balik ketetapan hatinya itu. Meskipun berteman dekat, tetap saja di perusahaan statusku adalah seorang pekerja atau lebih tepatnya bawahan. Tentu aku tidak bisa mengintervensi ataupun memaksakan pendapat. "Kita awali dengan optimis. Kada
Pisah Terindah #63Langkahku yang semula panjang mendadak memendek ketika melihat Shahna sudah ada di ruang tunggu tersebut. Namun, dia tidak sendiri. Dia tengah asyik berbincang disertai bibirnya melengkungkan senyum. Bahkan saking asyiknya dia tidak menyadari kedatanganku. Sementara sosok yang duduk menemaninya, walau wajahnya tak menghadap padaku, aku tahu pasti dia siapa. "Mas Danar? Buat apa dia di sini?" Kalimat itu lirih mengalir dari bibirku. Setelah sempat terpaku beberapa saat aku melangkah mendekati Shahna. "Sayang, maaf, ya, Mama sedikit terlambat. Udah dari tadi keluarnya?" "Nggak apa-apa Mama, malah Shahna senang ditemani Papa." "Oh, iya, ada yang kelupaan. Shahna ke kelas dulu ya," seru Shahna seraya berlari ke arah kelasnya. Aku mengambil posisi duduk di tempat yang tadi diduduki Shahna. Sementara Mas Danar tadi ikut berdiri ketika Shahna beranjak. "Apa kabar, Dara?" Nada suara Mas Danar menyiratkan adanya keraguan pada pertanyaannya. Aku tak langsung meresp
Pisah Terindah #62Meski malam semakin larut, tetapi rasa kantuk belum juga datang menyambangi. Biasanya jam seperti ini aku sudah terlelap baik itu karena kelelahan atau karena harus bangun lebih pagi lagi esok harinya dengan kondisi yang bugar. Namun kali ini sepertinya aku akan terjaga lebih lama lagi. Pikiranku masih belum bisa dijinakkan. Aku kembali terbawa ke masa-masa yang telah berlalu. Tentu hal-hal yang dulu sempat terbesit di benakku atau lebih tepatkan pernah kuharapkan untuk terjadi. Mas Danar. Ya, lagi-lagi tentang lelaki itu mengusikku. Dulu, di saat masih dalam fase terpuruk aku meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa bangkit bahkan tumbuh menjulang tinggi. Sedangkan dia, dia yang telah menyakiti kuyakini akan menuai hasil taburannya. Bak roda, kehidupan itu juga berputar. Begitu ungkapan yang diwariskan turun temurun semenjak nenek moyang. Bahwa yang sekarang bersenang-senang suatu hari nanti akan menangis. Yang menindas suatu hari pasti juga akan merasakan ditinda
Pisah Terindah #29Kembali bekerja setelah bertahun-tahun mengabdikan diri menjadi ibu rumah tangga yang hanya fokus pada urusan domestik. Di hari pertama memang terasa kikuk tetapi itu tak lama. Di hari berikutnya aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan lebih baik. Aku sangat menikmati aktivitas ter
Pisah Terindah #31Rasa penasaran makin menjadi-jadi menghampiriku. "Apa dibuka aja?" "Tapi ...." Entah kenapa aku harus membuat bingung diri sendiri. Padahal urusan apa pun di kantor Mbak Tania tidak ada kaitan apa-apa dengan kehidupanku. Aku cukup melakukan apa yang diperintahkan oleh orang mempeke
Pisah Terindah #27POV DanarLama aku tertekur duduk di ruang tengah. Dalam rentang waktu tertentu aku melirik ke arah pintu kamar berharap pintu itu akan terbuka. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Dara. Harusnya Dara marah, berteriak histeris, menangis terisak-isak, atau bahkan mengeluarkan kata-kata
Pisah Terindah #30"Dara, nanti sekitar pukul sepuluh tolong ke kantor Mas Lindan, ya. Cuma ngasihin beberapa dokumen aja. Cuman, harus diterima sama Mas Lindan langsung," ujar Mbak Tania yang baru saja datang. "Aku udah terlanjur ada janji sama calon klien. Padahal aku pengen ngobrol serius sama di







