แชร์

Part 65

ผู้เขียน: Hanina Zhafira
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-07 19:23:13

Pisah Terindah

#65

Aku menarik napas lega dan berucap syukur atas kemenangan kami dalam kasus ini. Joan Persada, tbk dinyatakan menang atas rivalnya PT.Jaya Mandiri.

Meskipun semenjak setengah perjalanan sudah terlihat celah bahwa kami akan memenangkan perkara ini, tetap saja aku merasa sangat terharu mendengar hakim membacakan keputusan. Antara tak menyangka dan juga bangga melebur jadi satu.

Pertama mengomandoi sebuah penyelesaian kasus dan berhasil memenangkannya merupakan sebuah pencapa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (5)
goodnovel comment avatar
Ly Anna II
blm update
goodnovel comment avatar
Happy Adriana
jangan2 Danar sudah cerai ya
goodnovel comment avatar
Happy Adriana
selalu menunggu kelanjutannya... makasih kak Author
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pisah Terindah   Part 65

    Pisah Terindah #65 Aku menarik napas lega dan berucap syukur atas kemenangan kami dalam kasus ini. Joan Persada, tbk dinyatakan menang atas rivalnya PT.Jaya Mandiri. Meskipun semenjak setengah perjalanan sudah terlihat celah bahwa kami akan memenangkan perkara ini, tetap saja aku merasa sangat terharu mendengar hakim membacakan keputusan. Antara tak menyangka dan juga bangga melebur jadi satu. Pertama mengomandoi sebuah penyelesaian kasus dan berhasil memenangkannya merupakan sebuah pencapaian, prestasi, serta pembuktian tersendiri bagiku.Betapa Tuhan teramat baik padaku. Terlebih kemenangan itu kuraih di depan orang yang dulu pernah menggoreskan luka dalam hidupku. Orang yang pernah berprasangka sangat buruk padaku. Orang yang pernah mematahkan semangat hidupku. Ada hal yang tak kalah penting yang kudapatkan dari kasus ini. Yaitu kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Lewat beberapa unjuk data dan fakta di persidangan terbukalah dokumen yang manyatakan bahwa PT. Jaya Mandir

  • Pisah Terindah   Part 64

    Pisah Terindah #64 POV Danar Terkesima!Itulah yang bisa mewakili diriku saat pertama kali mata ini melihat sosok seorang pengacara debutan yang akan menangani kasus yang tengah dihadapi perusahaan tempatku menggantungkan hidup. Awalnya aku sempat mendebat keputusan Joan. Menurutku akan lebih baik memakai jasa pengacara yang sudah kaya pengalaman. Apalagi melihat rekam jejak lawan. Mereka sudah cukup lihai bermain dalam kasus serupa. "Daripada kepalang tanggung, lebih baik nyebur total. Sama-sama ngeluarin uang juga, kan? Tak apa keluar uang lebih banyak dengan peluang menang besar daripada ekonomis tapi di depannya gelap." Aku mencoba menguraikan beberapa alasan logis. Namun, sang pemilik perusahaan tetap pada keputusannya. Entah apa alasan di balik ketetapan hatinya itu. Meskipun berteman dekat, tetap saja di perusahaan statusku adalah seorang pekerja atau lebih tepatnya bawahan. Tentu aku tidak bisa mengintervensi ataupun memaksakan pendapat. "Kita awali dengan optimis. Kada

  • Pisah Terindah   Part 63

    Pisah Terindah #63Langkahku yang semula panjang mendadak memendek ketika melihat Shahna sudah ada di ruang tunggu tersebut. Namun, dia tidak sendiri. Dia tengah asyik berbincang disertai bibirnya melengkungkan senyum. Bahkan saking asyiknya dia tidak menyadari kedatanganku. Sementara sosok yang duduk menemaninya, walau wajahnya tak menghadap padaku, aku tahu pasti dia siapa. "Mas Danar? Buat apa dia di sini?" Kalimat itu lirih mengalir dari bibirku. Setelah sempat terpaku beberapa saat aku melangkah mendekati Shahna. "Sayang, maaf, ya, Mama sedikit terlambat. Udah dari tadi keluarnya?" "Nggak apa-apa Mama, malah Shahna senang ditemani Papa." "Oh, iya, ada yang kelupaan. Shahna ke kelas dulu ya," seru Shahna seraya berlari ke arah kelasnya. Aku mengambil posisi duduk di tempat yang tadi diduduki Shahna. Sementara Mas Danar tadi ikut berdiri ketika Shahna beranjak. "Apa kabar, Dara?" Nada suara Mas Danar menyiratkan adanya keraguan pada pertanyaannya. Aku tak langsung meresp

  • Pisah Terindah   Part 62

    Pisah Terindah #62Meski malam semakin larut, tetapi rasa kantuk belum juga datang menyambangi. Biasanya jam seperti ini aku sudah terlelap baik itu karena kelelahan atau karena harus bangun lebih pagi lagi esok harinya dengan kondisi yang bugar. Namun kali ini sepertinya aku akan terjaga lebih lama lagi. Pikiranku masih belum bisa dijinakkan. Aku kembali terbawa ke masa-masa yang telah berlalu. Tentu hal-hal yang dulu sempat terbesit di benakku atau lebih tepatkan pernah kuharapkan untuk terjadi. Mas Danar. Ya, lagi-lagi tentang lelaki itu mengusikku. Dulu, di saat masih dalam fase terpuruk aku meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa bangkit bahkan tumbuh menjulang tinggi. Sedangkan dia, dia yang telah menyakiti kuyakini akan menuai hasil taburannya. Bak roda, kehidupan itu juga berputar. Begitu ungkapan yang diwariskan turun temurun semenjak nenek moyang. Bahwa yang sekarang bersenang-senang suatu hari nanti akan menangis. Yang menindas suatu hari pasti juga akan merasakan ditinda

  • Pisah Terindah   Part 61

    Pisah Terindah #61"Bu Dara, ini Pak Danar. Sewaktu-waktu jika saya berhalangan, Pak Danar ini yang akan mewakili saya." Aku tetap berdiri dalam bisu. Jujur, aku tidak tahu harus memberi reaksi apa. Haruskah aku melebarkan tangan, mengucapkan selamat bertemu lagi, lalu menyebut namanya selayaknya dua orang yang sudah saling kenal bertemu lagi, atau malah harus pura-pura berkenalan lagi selayaknya orang baru pertama kali bertemu? Mas Danar sepertinya juga tidak jauh berbeda denganku. Dia pun tampak canggung setelah didahului oleh ekspresi kaget. Perlahan Mas Danar mendekat. Sementara aku yang masih setia dengan posisi berdiri sejak awal. Untuk beberapa saat aku mempertahankan tatapan yang tertuju pada Mas Danar. Dia pun sama. Hingga akhirnya jarak yang tersisa antara kami hanya seukuran meja. Aku pun buru-buru menyibukkan diri dengan memindahkan map dari tangan kiri ke tangan kanan dan menaruhkannya ke meja guna menghindari kontak fisik dengan Mas Danar. Aku berharap dengan begit

  • Pisah Terindah   Part 60

    Pisah Terindah #60 Aku pun membenahi penampilan. Ini akan menjadi kali pertama aku bertemu dengan klien dengan status sebagai pengacara. Kalau biasanya aku hanya sekadar tahu dan membantu. Sekarang, aku menjadi salah satu tim inti yang harus ikut jungkir balik mengumpulkan data, fakta, alat bukti, saksi, dan sebagainya yang nantinya akan dibutuhkan sebagai senjata dalam menghadapi pertempuran di pengadilan. Kemarin sudah cukup panjang dan lebar kami menganalisa. Sekarang saatnya menindaklanjuti dan menentukan strategi. Aku serta Pak Beni telah menyepakati janji untuk bertemu dengan pihak Joan Persada. Mereka mengundang kami ke sebuah restoran yang menyediakan 'meeting room'. Aku mempersiapkan diri sebaik-baik mungkin. Bagaimana cara bersikap, bertutur kata, menyanggah pendapat orang, serta yang paling penting bagaimana menjadikan diri sebagai magnet. Kemampuan berbicara dan penampilan adalah modal utama seorang pengacara. "Kita harus menampilkan diri sesempurna m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status