LOGINSebelum gadis tidak dikenal itu meraih rambut Ilyena yang sudah ditata sangat rapi untuk acara hari itu, tangan Alexis meraihnya lebih dulu. Bahkan melangkah maju di depan Ilyena seolah hendak melindungi gadis yang kondisinya tidak tahu apa-apa itu.
Gadis tidak dikenal itu mendengus kasar sambil menatap Alexis dengan tangan sebelum berusaha menarik lengannya dar genggaman tangan Alexis. “Apa-apaan ini?” Ilyena memekik, dia mulai mencemaskan reputasinya sendiri. Ilyena melirik ke arah para tamu undangan yang sekarang menatap ke arah mereka juga. Dia mulai merasa kehilangan wajah di depan teman-temannya, dan keluarganya tentunya. Dia tidak peduli dengan orang-orang dari pihak Alexis. Tetapi ini jelas sesuatu yang memalukan. “Kenapa kau datang ke sini? Bukankah sudah kubilang jika kau tidak boleh mencampuri segala jenis urusan bisnisku?” Alexis menatap tajam balik gadis yang lengannya dia cengkeram cukup erat, menunjukkan jika ini bukan masalah yang sepele. “Ini urusan bisnis kau bilang?” Gadis itu melirik lagi ke arah Ilyena dan bersikap agresif setiap kali menatapnya. Bisnis. Kata itu menyadarkan Ilyena tentang status pernikahannya. Urusan bisnis yang berkaitan dengan birokrasi. Bukan hukum pernikahan. “Aku tidak tahu kau siapa. Tetapi dia tidak mengatakan apa pun jika dia sudah punya istri atau dalam suatu hubungan kepadaku,” tegas Ilyena membela diri, dia harus mengatakan itu, untuk membela dirinya dari pandangan keluarga dan temannya sendiri. Alexis melirik Ilyena. Dia memejamkan matanya sesaat, menenangkan dirinya beberapa detik sebelum akhirnya menarik lengan gadis tak dikenal itu untuk mengikutinya. Langkah heels yang terkesan terburu-buru di belakang Alexis berhasil membuat suasana ruangan itu menjadi lebih senyap setelah suara itu hilang. Dua orang itu menghilang dari pandangan mereka semua. Meninggalkan Ilyena yang masih berdiri kaku di samping kakak iparnya. Wajah merah padam setelah dipermalukan seperti tadi. “Aku minta maaf semuanya. Adikku memang berurusan dengan banyak orang gila belakangan ini.” Fransesco tertawa tenang, seolah itu bagian dari humornya. Sementara Valentine menghela nafasnya, ini bukan pertama kalinya Fransesco bersifat seperti itu. Valentine kemudian mendekati Ilyena dan menaruh tangannya di bahunya dengan lembut. Wanita itu berusaha menunjukkan empati kepadanya. “Jangan terlalu dipikirkan tentang hal itu. Dia bukan siapa-siapa selain seorang obsesif gila pada Alexis.” Valentine berusaha menghibur Ilyena yang tampak terkejut setengah mati. “Katakan padaku dengan jujur, siapa dia?” Ilyena menatap Valentine, dia terlihat kesal. “Apakah dia istrinya? Pacarnya? Atau apa?” “Tidak, Alexis tidak pernah berada dalam hubungan yang seserius itu. Dia juga bukan mantannya.” Fransesco menggeleng santai. “Dia sugar baby-nya. Alexis bukan orang yang suka gonta-ganti pasangan.” Senyuman Fransesco sangat mengganggu bagi Ilyena. Caranya menjadikan sesuatu yang serius sebagai bercandaan jelas membuat Ilyena tak nyaman. Sebenarnya orang seperti apa yang dia nikahi saat ini. Teman-teman Ilyena bangkit dari duduknya dan mendekati Ilyena untuk memastikan kondisi dirinya. Ilyena menatap mereka dengan tatapan tak enak. Ini bukan yang seharusnya terjadi di hari pernikahan. Mereka juga tahu itu. Setelah makan malam itu, Ilyena duduk diam di mobil. Dia memejamkan matanya cukup lama sambil memijat keningnya. Rambutnya masih tertata rapi, gaun pengantinnya dilapisi jas abu milik sepupunya, Zack. Karena angin berhembus kencang malam ini. Alexis masuk dan duduk di sebelahnya, bersamaan dengan sopir pribadinya yang segera duduk di kursi pengemudi. Alexis melirik Ilyena yang tak mengatakan sepatah apa pun untuk mengonfrontasinya atau setidaknya mengatakan sesuatu tentang apa yang baru saja terjadi. “Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia bukan apa-apa bagiku,” ucap Alexis, dia tak menunggu ditanya, dia menyampaikannya sendiri. Ilyena tak membalasnya. Dia hanya menoleh ke arah luar dengan wajah lelah. Bukan mudah baginya melewati kehilangan empat anggota keluarganya Minggu lalu, menyiapkan pernikahan di Minggu ini, dan menikah di penghujung pekan. Dia kali ini memutuskan untuk diam. Alexis memutar bola matanya setelah tak mendengar balasan apa pun darinya. Dia juga tampaknya enggan untuk menghibur atau mengatakan hal lain untuk meluruskan hal tersebut. Perjalanan kembali ke mansion dipenuhi keheningan. Tak satu pun dari mereka bicara. Tiba di mansion, Ilyena melepaskan heelsnya di depan rumah. Saat dia hendak membungkuk untuk mengambilnya, Alexis sudah di sana untuk mengambil heels tersebut. Ilyena meliriknya dengan sinis, menatap bahu yang kembali tegak dengan heels di sisi tubuhnya. Keheningan itu terasa memekikkan. Ilyena berjalan lebih dulu dengan kaki telanjang di dalam mansion. Kakinya melangkah langsung menuju ke kamar tidurnya. Dan Alexis mengikutinya dari belakang, menatapi punggungnya dari jauh beberapa anak tangga. Gadis itu tampak menawan hari ini, meski ada bekas air mata karena menangis sore tadi. Alexis menutup pintu kamar Ilyena hingga terdengar bunyi klik dan menatapi Ilyena yang duduk di depan meja rias, mulai melucuti aksesoris rambutnya. “Kau tidak mengatakan apa pun,” komen Alexis, jelas tentang gadis itu. “Sudah kubilang, jika kau punya pertanyaan, tanyakan padaku. Aku akan menganggap kau tidak ingin tahu jika tidak bertanya.” “Aku sudah tanya pada Fransesco,” balas Ilyena sedikit ketus, defensif. Alexis terdiam sejenak. Seolah dia sedang memikirkan apakah perlu menjelaskan lebih lanjut atau tidak. Karena semakin banyak dia bicara, semakin besar kemungkinan mengungkap sesuatu yang tidak perlu. “Teressa,” ucapnya. “Namanya adalah Teressa. Aku mengenalnya sekitar tiga tahun yang lalu. Dia kesulitan secara ekonomi saat kami bertemu.” Ilyena mendengus mengejek. “Sepertinya kau sangat menyukai gadis yang kesulitan ekonomi dan mengambil keuntungan darinya?” Alexis terkekeh. Dia bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Apakah itu hanya sebuah kebetulan atau apa, dia juga tidak begitu tahu. “Entahlah. Tetapi perlu kau ketahui jika hubunganku dengannya tidak seserius itu.” Alexis menghela nafasnya. “Tapi kelihatannya dia tidak berpikir hal yang sama denganmu,” balas Ilyena sinis. “Aku akan memastikan dia tidak mengganggumu.” Alexis berdiri di belakang Ilyena, menatapnya dari cermin sambil membantunya mengambil beberapa aksesoris yang tersisa. “Dia mempermalukan aku.” Ilyena mengeraskan rahangnya, dia lebih terganggu dengan fakta gadis itu muncul tanpa peringatan dari pada apa hubungannya dengan Alexis. “Aku akan menyuruhnya minta maaf untuk itu,” balas Alexis. “Apakah kau... cemburu?” Ilyena melebarkan matanya saat dia melihat seringai di wajah Alexis. Itu berhasil membuatnya lebih tersinggung dari apa yang seharusnya. “Tidak, aku tidak cemburu! Kenapa juga aku harus cemburu?! Aku mau menikah denganmu supaya kau membantuku melunasi hutang perusahaan dan menjaga kestabilan perusahaan. Aku tidak peduli dengan siapa kau—” Alexis membungkuk bersamaan dengan menangkap wajah Ilyena untuk menoleh padanya, kemudian menciumnya tepat di bibirnya. Ciuman kali ini berbeda dengan yang terjadi di publik, perlahan dan lembut. Seolah menantikan penolakan. Terlalu hati-hati sebelum akhirnya memperdalam dengan melibatkan lidah.Alexis terdiam sejenak. “Sampai urusanku dengannya selesai.” Ilyena tidak akan puas dengan jawaban yang terlalu umum. “Dan sampai kapan itu?” Sesaat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak ada jawaban pasti dari Alexis. “Apa yang sebenarnya kau coba bicarakan?” tanya Alexis. “Apakah kau sedang mencari tahu di mana batasan hubungan kita?” Ilyena mengernyitkan alisnya sebelum mendengus, entah kenapa jawaban Alexis membuatnya kesal meski memang benar begitu. Dia merasa hubungannya abu-abu sekarang. “Tidak perlu dijawab jika kau memang tidak punya jawabannya, kau bisa mengatakan yang sejujurnya.” Ilyena memalingkan wajahnya. Tak ada respons dari Alexis untuk beberapa saat, tetapi jelas dia sedang mempertimbangkan sesuatu dari caranya mengusap tangannya. “Sampai SMC menjadi stabil sepenuhnya, sehingga tidak ada lagi predator yang merasa berani untuk muncul di depan wajahmu. Teressa juga mempunyai perannya sendiri dalam hal ini, untuk itulah
“Oh, ini Alexis, suamiku,” ucap Ilyena, pertama kalinya memperkenalkan Alexis pada orang lain sebagai suaminya. Herald seketika menahan nafasnya. Lalu memaksakan senyum sambil mengulurkan tangannya pada Alexis. Sementara Alexis hanya tersenyum simpul, menatap matanya tajam seolah sedang memperingatkan, sepertinya Alexis mengenali pria ini. “Aku tidak tahu kalau kau sudah menikah,” gumam Herald sambil menatapnya. “Aku mempostingnya di akun instagramku,” balas Ilyena agak canggung. “Bukankah kau bilang kau ingin ke kamar mandi? Aku sudah bertanya di mana kamar mandinya.” Alexis menginterupsi, itu adalah sebuah kebohongan. Ilyena menoleh padanya, mungkinkah Alexis ingin menyelamatkannya dari suasana canggung atau sekedar ingin memisahkan mereka cepat. “Oh, ya.” “Kalau begitu, sampai jumpa lagi,” ucap Herald. “Kuharap kita bisa bertemu lagi nanti.” Ilyena mengangguk cepat, sebelum mengikuti Alexis yang menarik pinggangnya dan membimbingnya langsung untuk ke kamar mandi. Ilye
“Apa? Apa maksudmu aku menaruh obat tidur ke dalam minumanmu? Kenapa juga aku lakukan itu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu,” balas Ilyena cepat. Alexis mengusap wajahnya, dia bahkan tak tahu apa yang baru saja dia katakan, menuduh istrinya yang bahkan berjalan dengan kaki terbuka untuk melakukan suatu kejahatan seperti menaruh obat tidur? Oh, man... Dia akan segera ketahuan.Alexis membungkuk, menaruh tangannya di kedua lututnya seraya bersandar ke tembok. “Itu pertama kalinya dalam hidupku aku tidur sangat nyenyak,” gumam Alexis. “Well, congrats?” Ilyena mengangkat bahunya acuh. Detik berikutnya, Alexis kembali ke kasur, dia langsung menekan sebuah ciuman di kepalanya Ilyena. Bahkan sikap tak acuhnya Ilyena, seolah dia bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia berikan pada Alexis adalah sesuatu yang besar. Bagi Alexis, tidur nyenyaknya semalam adalah sebuah anugerah yang besar. Ilyena membeku di atas kasur, apa lagi ketika Alexis
Alexis tidak memberikan reaksi khusus pada pertanyaan bagaimana jika Ilyena hamil. Dia tetap menekan dadanya ke punggung Ilyena, mendekapnya lembut. “Bagaimana menurutmu jika kau hamil?” tanya Alexis. Ilyena terdiam saat pertanyaan itu berbalik padanya. “Sebenarnya aku belum mau hamil. Kau tahu, kita baru menikah sebulan. Setidaknya aku ingin menikmati waktuku terlebih dahulu. Aku juga baru berusia 22 tahun, tidakkah itu sedikit terburu-buru, menurutmu?” “Hm, aku sedikitnya setuju. SMC masih belum stabil. Jika mereka tahu komisaris utama hamil, mereka bisa melakukan protes lagi, terutama para jajaran direksi. Mereka sangat sensitif terhadap cuti hamil,” balas Alexis. “Aku membawa pil kontrasepsi, jadi tenang saja.” Ilyena akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia bisa tenang karena ternyata Alexis mempersiapkannya. Dia terlalu sibuk mempersiapkan dirinya sendiri secara raga sebelumnya. Setelah mandi air hangat, Alexis membantunya mengeringkan rambut Ilyena
Alexis mengecup pelipis Ilyena seraya merasakan sisa-sisa pelepasannya di dalam tubuh Ilyena, dia tidak langsung menariknya keluar. Dan Ilyena bersandar ke lengannya, dia tampak nyaman. Ilyena pikir itu sudah selesai, sebelum Alexis kembali mendorong masuk. “Bukankah kau baru saja keluar?” tanya Ilyena. “Kita akan melakukannya lagi?”Alexis terkekeh pelan. “Kau belum mendapatkan pelepasanmu. Lagi pula, memangnya kau sudah puas? Bukankah kau belum merasakan rasanya diujung tanduk?” “Kurasa aku sudah selesai saat foreplay tadi,” gumam Ilyena. “Tidak, aku masih ingin melakukannya, karena yang pertama tadi aku keluar lebih dulu. Maaf soal itu, aku tidak menyentuhmu sebulan lebih, sehingga tubuhnya sangat sensitif terhadap sentuhan,” jelas Alexis seraya menghela nafasnya. Ilyena mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu.” “Tetapi aku akan berhenti jika kau sudah tidak ingin melakukannya.”“Tidak, tidak,” bantah Ilyena cepat. “Aku tidak menyangka jika
Tangan Alexis masih berada di pintu masuknya, dengan empat jari tersisa, dia belum menambahkan yang lainnya, menunggunya terbiasa dengan satu.“A-Alexis...” Ilyena membusungkan dadanya, tangannya mencengkram bantal di bawah kepalanya dengan frustasi penuh, dia butuh kamar mandi. “Keluarkan saja di sini,” ujar Alexis seraya menambahkan jari lainnya, berusaha mendorongnya agar segera mendapatkan puncak pertamanya. Ilyena semakin gelisah, pinggangnya bahkan mulai naik. Setiap gerakan, setiap reaksinya tidak luput dari pengawasan Alexis. Dia mempercepat gerak jarinya, kemudian menambahkan satu lagi. Kali ini kedua tangan Ilyena berada di satu pergelangan tangannya, bahkan dua tangan tidak cukup menghentikan satu tangan milik Alexis yang berukuran lebih besar. Tubuhnya seketika merasakan dorongan yang cepat. Dan belum sempat bisa menahannya, Ilyena menyemburkannya. Tubuhnya terhentak saat itu terjadi. Dia tidak bisa memproses apa pun saat itu, tubuhnya menegang beb







