홈 / Romansa / Piutang Kesayangan / Pernikahan Kilat

공유

Pernikahan Kilat

last update 게시일: 2026-06-28 16:53:58

“Tentu saja kita akan tidur di kamar yang sama.” Alexis menjawab dengan tenang. “Aku bisa menemanimu tidur malam ini juga jika itu yang kau inginkan.”

“Aku tidak menginginkan itu,” balas Ilyena cepat, menyangkalnya segera. “Aku bertanya karena aku penasaran. Siapa tahu kau seperti orang-orang di dalam novel. Kita akan tidur di kamar terpisah setelah menikah.”

Alexis mencatatnya dalam pikirannya. Jika Ilyena ternyata suka membaca genre tersebut.

“Aku memikirkannya juga sebelumnya. Tidur di kamar yang sama berarti saling mempercayai. Dan itu caraku menghormati pernikahan. Menjaga kepercayaan.”

Ilyena terdiam sejenak. Pria di depannya ini terdengar bijak. Tetapi dia tak ingin kagum terlalu cepat. Toh, dia masih tak tahu banyak tentangnya. Dan dalam beberapa hari ke depan, tersisa lima hari lagi untuknya mengenal pria ini sebelum benar-benar membiarkannya masuk ke kehidupannya.

Tidak, sebenarnya pria ini sudah masuk dan menginvasi kehidupannya.

“Kau tidak keberatan dengan orang-orang itu, kan? Aku akan memastikan mereka tidak masuk ke kamarmu, dan hanya pelayanmu saja yang akan mengurus kamar tidurmu.”

Ilyena hanya mengangguk sebelum mulai memakan sarapannya juga.

Hari ini, yang akan dilakukan Ilyena tidak banyak. Dia hanya perlu memilih gaun pengantinnya sendiri. Dia ingin membelinya, dan menyimpannya untuknya sendiri.

Ditemani dengan Frederick, Ilyena menatap pria itu dengan tatapan skeptis. Dia ingin pergi dengan teman-temannya dan memberitahu mereka, setidaknya dia membutuhkan dukungan emosional, bukan dukungan keuangan atau bantuan langsung yang nyata lagi.

Frederick, yang merupakan asisten Alexis tampak tegang saat duduk di kursi pengemudi. Karena dia bisa melihat Ilyena yang menatapnya dengan tajam.

“Aku ingin pergi ke rumah temanku dulu dan mengajaknya. Aku membutuhkannya untuk saran,” jelas Ilyena, dia sedikit memaksa agar diizinkan membawa satu saja temannya.

“Tidak bisa, nona,” jawab Frederick. “Tuan Genovese memintamu menjaga kerahasian pernikahannya dulu sebelum pernikahannya benar-benar berlangsung.”

“Memangnya dia tidak mengundang siapa pun? Dia sendiri yang bilang bahwa undangan sudah disebar tadi malam. Dan bilang padaku, sebagai alasan tidak bisa mengundur pernikahannya lagi,” gertak Ilyena. “Ayolah! Aku menikah tanpa ballroom yang mewah, dekorasi yang indah, bahkan gaun yang bukan dibuat berdasarkan permintaanku, tanpa bridesmaid, menurutmu sekarang aku tidak perlu saran gaun?”

Frederick memejamkan matanya sesaat. Sebenarnya dia sudah menghubungi Alexis dan membiarkan Alexis mendengarkan sendiri ocehan calon istrinya tersebut.

“Haha...” Suara tawa yang terdengar mengejek tiba-tiba terdengar dari ponselnya.

Ilyena mengerutkan alisnya cepat.

“Baiklah, biarkan dia bersama satu temannya,” ujar Alexis.

Ilyena menatap Frederick dengan kesal. Para pria itu... yang tiba-tiba masuk ke hidupnya dan mengontrol banyak hal tentang hidupnya membuatnya merasa lebih dari tidak nyaman.

Persiapan pernikahan yang sederhana tetap membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Bukan betapa sederhananya, tetapi karena waktu yang begitu singkat.

Gaun pernikahannya sudah pasti. Ilyena menyukai sebuah gaun yang baru tiba, masih sangat segar. Ilyena meminta penyesuaian gaun tersebut di tubuhnya dan beberapa koreksi kecil yang bisa dilakukan dengan cepat. Untungnya, dia tidak begitu banyak permintaan tentang ini. Sepertinya dia masih berkabung dan merasa bersalah untuk merasakan perayaan pernikahannya sendiri.

Alexis menatapi Ilyena yang tengah mencoba gaun pengantinnya sekali lagi, di hari Jumat. Dua hari sebelum pernikahan mereka. Dia mengangguk singkat, mengapresiasi pilihan Ilyena. Selera gadis itu bukan hanya bagus, dia jelas berhak mendapatkannya.

Di mansion, Alexis dan Ilyena hanya berinteraksi seputar pernikahan. Ilyena tidak sedang tertarik membahas hal lainnya. Dia juga sesekali menghubungi William untuk menanyakan surat pernyataan ahli waris yang ditunggunya. Itu juga selesai hari ini.

Di hari Sabtu, Ilyena baru berani membagikan kartu undangan pada teman-teman terdekatnya. Yang membuat teman-temannya kalang kabut karena Ilyena memberitahu pernikahannya tepat di hari sebelum pernikahannya.

Minggu sore yang indah di musim panas. Ilyena selalu bermimpi untuk menikah di musim gugur. Langit musim panas yang cerah di sore hari membuat suasana hatinya terasa aneh. Mengingatkannya akan masa muda yang ceria, di mana dia biasanya bermain bersama kakak-kakaknya di sore hari saat cuaca tidak begitu panas.

Ilyena menangis tiba-tiba saat make up, karena cuaca yang terlalu cerah juga berhasil menyakiti perasaannya. Orang di sekitarnya bingung. Dia baik-baik saja selama beberapa hari ini. Atau terlalu baik hingga membuatnya tak sadar memendam perasaannya sendiri.

Sepupunya terbang dari Spanyol untuk menghadiri pernikahan itu dan mendampinginya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Ya, Zack.” Ilyena mengangguk singkat sebelum menyeka air matanya lagi.

Pernikahan berlangsung senyap. Seolah orang-orang itu tahu jika pernikahan ini bukan sesuatu yang pantas dirayakan. Terlalu terburu-buru. Terlalu cepat. Mereka bahkan sudah mencium pernikahan ini berbau birokrasi.

Setelah mengucapkan sumpah, setelah bertukar cincin, izin untuk mencium pengantin diberikan. Alexis awalnya tak begitu ragu untuk mencium Ilyena, namun berhenti sejenak begitu mendekat dan mencondongkan wajahnya. Dia menatap mata itu sekali lagi, seolah meminta izin sebentar, memastikan Ilyena tidak akan menghindar.

Ciuman itu berlangsung cukup singkat, sekedar formalitas. Tangan Alexis menyendok wajahnya di bawah telinga Ilyena, memegangnya lembut saat mencium Ilyena.

Ilyena bisa merasakan nafasnya yang masih segar seolah dia baru saja berkumur atau dengan sengaja menyemprotkan mouth-spray. Tetapi Ilyena juga melakukan hal yang sama sebelumnya, jadi dia tidak akan merasa minder tentang itu.

Makan malam yang diselenggarakan di sebuah resto mewah bagi para tamu undangan dan mempertemukan kedua pihak keluarga.

Alexis masih mempunyai seorang ayah, pria tua beruban yang tampak menikmati jamuan makan malam itu bersama rekan-rekannya. Alexis punya seorang kakak laki-laki yang sudah menikah. Mereka menyapa Ilyena dengan santai, cukup ramah, namun mereka terkesan cuek dan tidak peduli.

“Semuanya berjalan lancar, ya?” gumam Fransesco, seolah dia malah menunggu sesuatu yang buruk terjadi saat ini.

Alexis menatap kakaknya dengan dingin. Dia tidak begitu tertarik dengan apa yang akan kakaknya lakukan lagi. Sebenarnya dia suka membuat suatu acara terdengar lebih menarik.

“Apa lagi yang kau rencanakan kali ini?” istrinya, Valentine menatapnya tajam.

Fransesco hanya terkekeh seraya menunjuk ke pintu ruangan tersebut.

Ilyena yang berada di dekat Alexis merasa tak nyaman, dia menoleh ke arah pintu. Di mana seorang gadis sekarang memasuki ruangan dengan berjalan cepat. Ada ekspresi marah di wajahnya saat dia menatap tajam ke arah Alexis.

Sementara rahang Alexis menegang begitu melihat gadis tersebut. Seolah dia sedang tertangkap basah. Karena ada hint malu dan cemas di wajahnya saat itu.

“Kau sulit dihubungi seminggu ini. Kupikir kau ada urusan bisnis yang penting. Ternyata sekarang kau menikah dengan orang lain?!” Gadis itu menoleh ke arah Ilyena, menatap Ilyena tajam sebelum bergerak ke arahnya dengan agresif.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Piutang Kesayangan    Dalam Pelarian

    Tetapi proses mereka keluar dari sana tetap tidak mudah. Meski sudah berada di dalam mobil, Ilyena membetulkan posisi duduknya sambil menoleh ke belakang di mana para tentara itu mulai berlarian ke arah mereka sambil menodongkan senjata. Ilyena memekik kala mereka berusaha menembaki kaca belakang. Alexis yang duduk tenang di sampingnya meluruskan pandangan Ilyena ke depan untuk tidak melihat apa yang terjadi, setidaknya agar dia tidak panik. Karena panik bisa membuat seseorang hilang akal. “Ayo kita jalan!” ujar Marco. “Bagaimana dengan Violet?” tanya Chris. “Dia akan tetap di sana.” Tanpa membalas lagi, Chris mulai melajukan mobilnya. Ilyena memekik lagi karena suara tembakan yang cukup dekat dengannya, itu membuat telinganya sakit. Dia menatapi kaca mobil anti peluru tersebut. Itu melindungi mereka. “Tetapi dia mengorbankan dirinya sendiri?” tanya Chris lagi. “Ya, kurang lebih begitu. Kita akan membebaskannya jika mereka berusaha men

  • Piutang Kesayangan    Pengejaran

    Sudah ada tentara yang akan mendesak masuk ke ruangan mereka saat ini. Ilyena berjalan cepat ke jendela untuk melihat langsung ke luar, untuk melihat langsung bagaimana sebuah truk tentara sudah digerakkan untuk menangkap mereka saat ini juga. “Jadi, mereka memutuskan untuk mengeluarkan pemberitaan ini?” Alexis menghela nafasnya. “Kita harus segera pergi, Ilyena. Untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan.” Ilyena segera menghampiri Alexis lagi. Dia siap untuk pergi. Marco dan Chris sudah di sana, mereka saling memandang untuk beberapa saat, menunggu langkah selanjutnya. “Kau tahu cara terbaik keluar dari tempat ini sebelum kita ditahan?” tanya Alexis. “Aku tahu, kurasa. Aku punya kenalan yang merupakan staf hotel ini, dia pasti tahu sesuatu tentang jalan keluar yang tersembunyi,” jawab Marco cepat. “Kalian harus segera keluar dari sini. Kebetulan temanku sedang menuju ke sini. Sehingga aku bisa menggunakan alibi kalau yang berada di sini adalah aku dan temanku,” tambah

  • Piutang Kesayangan    Kelicikan Ivan

    Tanpa pikir panjang, Alexis mendaratkan kecupan di sisi kepala Ilyena, di rambutnya. Tanpa memikirkan Violet yang akan menjatuhkan ponselnya dari tempatnya duduk di ujung ruangan. Dan suara barang jatuh berhasil membuat Alexis dan Ilyena menoleh. “Aku akan keluar.” Violet buru-buru mengambil ponselnya untuk keluar dari ruang tersebut untuk memberikan keduanya ruang. Namun, Ilyena juga langsung bangkit dari duduknya untuk kembali ke kasurnya. Alexis tidak mencegahnya, dia tahu caranya memberikan ruang untuk Ilyena saat ini. Ilyena duduk dan langsung meraih ponselnya, dia memikirkan sesuatu tentang lukanya, dia harus menutupi itu. Ilyena kemudian menelepon Cathlyn untuk meminta bantuannya. “Hey, Cath. Aku ingin tahu apakah aku bisa booking salon di tempatmu pagi-pagi sekali? Ya, sebelum aku ke kantor. Aku butuh potongan rambut yang baru untuk menutup keningku.” Alexis menoleh padanya, dia memperhatikan wajahnya Ilyena lagi. Dia bisa menebak jika dia berus

  • Piutang Kesayangan    Obrolan Pria

    Bahkan ilyena tidak berselera untuk mengomelinya, dia hanya memutar bola matanya karena Alexis yang sekarang jelas berbeda dengan yang dia lihat tadi malam saat dia sekarat. “Aku mencemaskanmu.” Alexis duduk di sisi ranjangnya Ilyena sambil menatapnya. Ilyena menatapnya dan menghela nafasnya berat. “Beristirahatlah di tempatmu!” Alexis menatapnya beberapa saat. Saat ini Ilyena sama sekali tidak berselera pada lelucon apa pun itu. Hal yang dilaluinya semalam pasti sangat berat untuknya. Dan pria itu tidak memaksa, memberikannya ruang dengan kembali ke ranjangnya sendiri. Sepertinya untuk saat ini berada di ruangan yang sama bukanlah ide yang bagus. Tetapi Alexis tetap ingin melihatnya, tetap bisa mengawasinya dari dekat, untuk menjaganya. Ilyena lebih banyak tidur hari ini. Satu-satunya yang dia lakukan tidur karena denyut di telinganya sangat mengganggunya. Dan Alexis memanfaatkan saat-saat ilyena tidur untuk membuka laptopnya, dia bertukar pesan dengan

  • Piutang Kesayangan    Post Traumatic Event

    “Kau mendapatkan jahitan di keningnya? Berapa jahitan?” tanya Cathlyn. “Oh, Cathlyn!” Angel memelototinya lagi. “Aku senang kau baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir saat mengetahui ada penembakan di restoran kakekku, dan aku lebih kaget lagi ketika mendengar kau juga ada di sana di saat yang sama.” Ilyena hanya tersenyum simpul, dia tidak bisa banyak berekspresi saat ini. Dan seorang pria paruh baya, dengan rambut yang mulai beruban berjalan cepat ke arah Ilyena sambil memakai jas putihnya, menghampiri ilyena yang sudah menunggunya di depan ruangannya. “Nyonya Genovese?” Dokter tersebut kemudian tersenyum menyapanya. “Silahkan!” Dokter tersebut membukakan pintu untuk ilyena dan mempersilahkannya masuk lebih dulu. Dan Ilyena lantas masuk ke ruangan tersebut sambil memegang telinga kirinya lagi. “Apakah dia tertembak? Kudengar ada wanita yang ditembak. Aku berusaha memastikan kalau itu bukan Ilyena, tidak ada luka tembak di tubuhnya.” Angel terdengar

  • Piutang Kesayangan    Penanganan Medis

    “Ambulansnya sudah datang,” ucap Hanbin. Hanbin masih menggenggam erat ponselnya, dia menatapi keadaan yang kacau tersebut. Dua orang VVIP, Tuan dan Nyonya Genovese sekarang tergeletak di lantai. Violet menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Ilyena, jari jemarinya dengan tekun menyingkirkan rambut agar tidak menyentuh luka Ilyena, sesekali dia juga menyeka darah di wajah Ilyena dengan sebuah scarf miliknya sendiri. Wajah Ilyena yang dipenuhi darah sebelumnya sekarang terlihat lebih baik, meski masih ada jejak darah di sisi wajahnya. Hanya ada dua yang ambulans yang dikerahkan ke sana, karena hanya itu yang tersedia saat ini. Alexis dievakuasi paling awal, paramedis segera memberikannya pertolongan tambahan yang bisa mereka lakukan seperti memberikannya tabung oksigen. “Istriku,” bisiknya pelan saat paramedis hendak menaikkan tandunya. “Ya, Tuan?” Marco dan Chris segera membungkuk ke arahnya secara bersamaan. “Apa yang terjadi pada Ilyena?”

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status