ログイン“Tentu saja kita akan tidur di kamar yang sama.” Alexis menjawab dengan tenang. “Aku bisa menemanimu tidur malam ini juga jika itu yang kau inginkan.”
“Aku tidak menginginkan itu,” balas Ilyena cepat, menyangkalnya segera. “Aku bertanya karena aku penasaran. Siapa tahu kau seperti orang-orang di dalam novel. Kita akan tidur di kamar terpisah setelah menikah.” Alexis mencatatnya dalam pikirannya. Jika Ilyena ternyata suka membaca genre tersebut. “Aku memikirkannya juga sebelumnya. Tidur di kamar yang sama berarti saling mempercayai. Dan itu caraku menghormati pernikahan. Menjaga kepercayaan.” Ilyena terdiam sejenak. Pria di depannya ini terdengar bijak. Tetapi dia tak ingin kagum terlalu cepat. Toh, dia masih tak tahu banyak tentangnya. Dan dalam beberapa hari ke depan, tersisa lima hari lagi untuknya mengenal pria ini sebelum benar-benar membiarkannya masuk ke kehidupannya. Tidak, sebenarnya pria ini sudah masuk dan menginvasi kehidupannya. “Kau tidak keberatan dengan orang-orang itu, kan? Aku akan memastikan mereka tidak masuk ke kamarmu, dan hanya pelayanmu saja yang akan mengurus kamar tidurmu.” Ilyena hanya mengangguk sebelum mulai memakan sarapannya juga. Hari ini, yang akan dilakukan Ilyena tidak banyak. Dia hanya perlu memilih gaun pengantinnya sendiri. Dia ingin membelinya, dan menyimpannya untuknya sendiri. Ditemani dengan Frederick, Ilyena menatap pria itu dengan tatapan skeptis. Dia ingin pergi dengan teman-temannya dan memberitahu mereka, setidaknya dia membutuhkan dukungan emosional, bukan dukungan keuangan atau bantuan langsung yang nyata lagi. Frederick, yang merupakan asisten Alexis tampak tegang saat duduk di kursi pengemudi. Karena dia bisa melihat Ilyena yang menatapnya dengan tajam. “Aku ingin pergi ke rumah temanku dulu dan mengajaknya. Aku membutuhkannya untuk saran,” jelas Ilyena, dia sedikit memaksa agar diizinkan membawa satu saja temannya. “Tidak bisa, nona,” jawab Frederick. “Tuan Genovese memintamu menjaga kerahasian pernikahannya dulu sebelum pernikahannya benar-benar berlangsung.” “Memangnya dia tidak mengundang siapa pun? Dia sendiri yang bilang bahwa undangan sudah disebar tadi malam. Dan bilang padaku, sebagai alasan tidak bisa mengundur pernikahannya lagi,” gertak Ilyena. “Ayolah! Aku menikah tanpa ballroom yang mewah, dekorasi yang indah, bahkan gaun yang bukan dibuat berdasarkan permintaanku, tanpa bridesmaid, menurutmu sekarang aku tidak perlu saran gaun?” Frederick memejamkan matanya sesaat. Sebenarnya dia sudah menghubungi Alexis dan membiarkan Alexis mendengarkan sendiri ocehan calon istrinya tersebut. “Haha...” Suara tawa yang terdengar mengejek tiba-tiba terdengar dari ponselnya. Ilyena mengerutkan alisnya cepat. “Baiklah, biarkan dia bersama satu temannya,” ujar Alexis. Ilyena menatap Frederick dengan kesal. Para pria itu... yang tiba-tiba masuk ke hidupnya dan mengontrol banyak hal tentang hidupnya membuatnya merasa lebih dari tidak nyaman. Persiapan pernikahan yang sederhana tetap membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Bukan betapa sederhananya, tetapi karena waktu yang begitu singkat. Gaun pernikahannya sudah pasti. Ilyena menyukai sebuah gaun yang baru tiba, masih sangat segar. Ilyena meminta penyesuaian gaun tersebut di tubuhnya dan beberapa koreksi kecil yang bisa dilakukan dengan cepat. Untungnya, dia tidak begitu banyak permintaan tentang ini. Sepertinya dia masih berkabung dan merasa bersalah untuk merasakan perayaan pernikahannya sendiri. Alexis menatapi Ilyena yang tengah mencoba gaun pengantinnya sekali lagi, di hari Jumat. Dua hari sebelum pernikahan mereka. Dia mengangguk singkat, mengapresiasi pilihan Ilyena. Selera gadis itu bukan hanya bagus, dia jelas berhak mendapatkannya. Di mansion, Alexis dan Ilyena hanya berinteraksi seputar pernikahan. Ilyena tidak sedang tertarik membahas hal lainnya. Dia juga sesekali menghubungi William untuk menanyakan surat pernyataan ahli waris yang ditunggunya. Itu juga selesai hari ini. Di hari Sabtu, Ilyena baru berani membagikan kartu undangan pada teman-teman terdekatnya. Yang membuat teman-temannya kalang kabut karena Ilyena memberitahu pernikahannya tepat di hari sebelum pernikahannya. Minggu sore yang indah di musim panas. Ilyena selalu bermimpi untuk menikah di musim gugur. Langit musim panas yang cerah di sore hari membuat suasana hatinya terasa aneh. Mengingatkannya akan masa muda yang ceria, di mana dia biasanya bermain bersama kakak-kakaknya di sore hari saat cuaca tidak begitu panas. Ilyena menangis tiba-tiba saat make up, karena cuaca yang terlalu cerah juga berhasil menyakiti perasaannya. Orang di sekitarnya bingung. Dia baik-baik saja selama beberapa hari ini. Atau terlalu baik hingga membuatnya tak sadar memendam perasaannya sendiri. Sepupunya terbang dari Spanyol untuk menghadiri pernikahan itu dan mendampinginya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Ya, Zack.” Ilyena mengangguk singkat sebelum menyeka air matanya lagi. Pernikahan berlangsung senyap. Seolah orang-orang itu tahu jika pernikahan ini bukan sesuatu yang pantas dirayakan. Terlalu terburu-buru. Terlalu cepat. Mereka bahkan sudah mencium pernikahan ini berbau birokrasi. Setelah mengucapkan sumpah, setelah bertukar cincin, izin untuk mencium pengantin diberikan. Alexis awalnya tak begitu ragu untuk mencium Ilyena, namun berhenti sejenak begitu mendekat dan mencondongkan wajahnya. Dia menatap mata itu sekali lagi, seolah meminta izin sebentar, memastikan Ilyena tidak akan menghindar. Ciuman itu berlangsung cukup singkat, sekedar formalitas. Tangan Alexis menyendok wajahnya di bawah telinga Ilyena, memegangnya lembut saat mencium Ilyena. Ilyena bisa merasakan nafasnya yang masih segar seolah dia baru saja berkumur atau dengan sengaja menyemprotkan mouth-spray. Tetapi Ilyena juga melakukan hal yang sama sebelumnya, jadi dia tidak akan merasa minder tentang itu. Makan malam yang diselenggarakan di sebuah resto mewah bagi para tamu undangan dan mempertemukan kedua pihak keluarga. Alexis masih mempunyai seorang ayah, pria tua beruban yang tampak menikmati jamuan makan malam itu bersama rekan-rekannya. Alexis punya seorang kakak laki-laki yang sudah menikah. Mereka menyapa Ilyena dengan santai, cukup ramah, namun mereka terkesan cuek dan tidak peduli. “Semuanya berjalan lancar, ya?” gumam Fransesco, seolah dia malah menunggu sesuatu yang buruk terjadi saat ini. Alexis menatap kakaknya dengan dingin. Dia tidak begitu tertarik dengan apa yang akan kakaknya lakukan lagi. Sebenarnya dia suka membuat suatu acara terdengar lebih menarik. “Apa lagi yang kau rencanakan kali ini?” istrinya, Valentine menatapnya tajam. Fransesco hanya terkekeh seraya menunjuk ke pintu ruangan tersebut. Ilyena yang berada di dekat Alexis merasa tak nyaman, dia menoleh ke arah pintu. Di mana seorang gadis sekarang memasuki ruangan dengan berjalan cepat. Ada ekspresi marah di wajahnya saat dia menatap tajam ke arah Alexis. Sementara rahang Alexis menegang begitu melihat gadis tersebut. Seolah dia sedang tertangkap basah. Karena ada hint malu dan cemas di wajahnya saat itu. “Kau sulit dihubungi seminggu ini. Kupikir kau ada urusan bisnis yang penting. Ternyata sekarang kau menikah dengan orang lain?!” Gadis itu menoleh ke arah Ilyena, menatap Ilyena tajam sebelum bergerak ke arahnya dengan agresif.“Tidak apa-apa.” Alexis langsung menghentikan Frederick. “Biarkan dia melihat-lihat ruanganku. Sepertinya dia begitu penasaran dengan apa yang aku punya di sini.” Ivan tertawa seraya menunjuk Alexis seolah sedang membenarkannya tentang betapa dia ingin tahunya mengenai ruangan tersebut. Dia kemudian menaruh tangannya di saku. “Aku senang kau akhirnya kembali dari Italia. Sepertinya kondisi di sana sangat kacau, ya?” Ivan terkekeh. “Kau tahu, jika terjadi sesuatu, kau bisa mengandalkan aku dari sini. Aku keluarga istrimu, ingat? Dan sebagai paman istrimu, aku benar-benar berharap bisa membantu kalian berdua setiap kali kalian membutuhkan bantuan.” Alexis tersenyum dan mengangguk. “Aku akan meminta bantuanmu jika terjadi sesuatu suatu hari nanti, senang mendengar kalau aku bisa mengandalkan seseorang.” Alexis menanggapinya dengan santai, sesantai dia memintanya. Namun Ivan tampak tak senang, karena dia bisa melihat bagaimana Alexis mengimbangi cara bermainnya.
“Di mana Teressa? Kau meninggalkannya begitu saja?” tanya Christina sambil melangkah mendekati Alexis dengan berani, menatap langsung matanya. Saat itulah Baron baru mengambil tindakan, dia langsung menahan lengan Christina. “Cukup! Jangan berusaha memprovokasi keadaan!” ujar Baron. Christina hanya menepis tangannya Baron, sebelum memutar bola matanya dan melangkah pergi dari sana begitu saja. Dan Baron sama sekali tidak mengikutinya “Ayolah, kita di sini untuk bersenang-senang, ingat?” Nicole mendengus. “Aku benar-benar minta maaf soal Christina, Ilyena. Dia memang sangat dekat dengan Teressa. Tetapi seperti kataku tadi, aku sangat menerima orang baru.” Genie tersenyum padanya. Ilyena tersenyum dan mengangguk, dia tidak terganggu dengan hal tersebut.Berikutnya, mereka bermain seperti biasanya, bercanda dan tertawa sambil meminum minuman dingin mereka di bawah terik matahari. Betapa indahnya hidup saat ada matahari yang bersinar terang bende
Bohong jika itu tidak menyinggungnya. Alexis yakin dirinya tidak seperti yang dikatakan istrinya tersebut. Dia bahkan memastikan dirinya tidak menyentuh Teressa sejak menikah. “Aku tidak pernah merasa tidak dihormati seperti ini oleh siapa pun. Apa lagi seseorang yang jauh lebih muda dari pada aku.” Alexis menatapnya dengan tajam. “Kalau begitu kau juga mungkin harus mulai belajar untuk menghormati siapa pun itu, terutama perempuan. Tidak peduli seberapa rendah wanita itu merendahkan dirinya sendiri.” Alexis mengangkat sedikit alisnya, dia semakin tidak suka cara Ilyena bicara padanya saat ini, mengingatkannya Ilyena yang tidak mempercayai dirinya sebelumnya. “Apakah kau tahu betapa aku menghormatimu? Aku sama sekali tidak berusaha merendahkan Teressa. Aku justru berusaha menghormatimu sebagai istriku. Aku tidak pernah menyentuh Teressa lagi sejak kau menjadi istriku,” ucap Alexis. Alexis mendesah pelan, dia tidak percaya harus mengatakan hal yang bersi
“Teressa pergi?” Ilyena melirik ke arah Alexis sebentar sebelum menatap Frederick lagi. Frederick menganggukkan kepalanya. “Dia membawa sebuah koper. Aku yakin dia tidak diperintahkan untuk ke mana pun sampai pemberitahuan lebih lanjut darimu.” Alexis terdiam beberapa saat, sedang mencerna apa yang sedang terjadi. Namun, dia kemudian menganggukkan kepalanya, menerima informasi baru tersebut.“Tidak perlu mencarinya, hanya saja pastikan dia menemui Darios saat dia kembali dari Afrika,” ujar Alexis. “Kurasa dia hanya butuh waktu untuk menerima hal ini.” Frederick tentu tahu rencana Alexis dan apa niatnya selanjutnya kepada Teressa. Rencana awalnya adalah membiarkan Teressa bersama orang yang dia percaya, Darios. Membiarkan Teressa tinggal beberapa hari lagi di sana. Namun Teressa yang memutuskan pergi lebih dulu, sepertinya memang sengaja membuat jadwal yang disusun Alexis berantakan. Frederick tidak bertanya lebih lanjut, hanya menganggukkan kepalanya. Di
“Kau yakin dengan itu?” tanya Ilyena, merasa tidak pasti. “Apakah dia bisa menerimanya? Aku tidak yakin dia bisa menerimanya begitu saja.” “Kau memang benar.” Alexis menganggukkan kepalanya. “Tetapi dia sudah tahu aturannya sejak awal. Dan aku tidak menyuruhnya pergi begitu saja. Dia sudah memiliki orang lain di hidupnya, dan aku sangat mendukungnya untuk bersama orang tersebut.” Ilyena mengernyitkan dahinya, dia kemudian teringat dengan kejadian di mall waktu itu, saat dia melihat Teressa bersama dengan pria asing berbadan gagah juga, memeluk lengannya dengan mesra dan bersandar ke lengannya. Dia yakin jika itu adalah pria yang dimaksud Alexis. “Jadi, kau sudah tahu jika dia bersama orang lain selama ini? Aku lupa ingin memberitahu tentang ini, bahwa aku pernah melihatnya di mall bersama pria lain, dan mereka tampak mesra.” Alexis berpikir sejenak, dia kemudian menganggukkan kepalanya. “Itu pasti Darios.” “Kau mengenal pria ter
“Apa yang sebenarnya kau bicarakan?” tanya Teressa canggung. “Kau sendiri yang memintaku ke sana untuk mengawasi langsung Tim Delta, bukan?” “Ya, aku memintamu datang ke sana untuk mengawasi, bukan untuk berkencan dengan Darios.” Alexis mengangguk setuju namun nada bicara selanjutnya terdengar lebih serius.“Aku tidak berkencan dengannya,” sangkal Teressa. Teressa berpikir beberapa saat, memikirkan kembali ucapannya. Apa lagi saat ini Alexis tidak langsung mengonfrontasinya lagi, dia hanya terdiam seolah menunggunya mengungkap hal lain. Karena begitulah, atmosfer yang terlalu tenang justru membuatnya panik dan mengungkap sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dia ungkapkan. “Baiklah, aku hanya tidur beberapa kali dengannya saat aku di sana. Tetapi aku tidak pernah melakukannya saat kau berada di dekatku. Aku membutuhkanmu, tetapi kau tidak memberikan apa yang aku butuhkan. Kau pikir aku akan diam saja? Aku tentu akan mencari seseorang yang bisa memberikan apa yan







