Share

Invasi

last update publish date: 2026-06-28 16:53:05

Keheningan tercipta cukup lama setelah Ilyena menyebutkan nama itu. Ilyena mengetuk kukunya ke meja dengan tidak sabar. Bibir bawahnya tergigit dengan gelisah.

“Kau tahu aku akan menghubungimu lagi—”

“Jangan kabur sekarang.” Ilyena lirih, nyaris putus asa. “Aku tak tahu lagi siapa yang harus aku tanya tentang ini.”

Keheningan terjadi lagi beberapa saat sebelum gadis di ujung sana menghela nafasnya.

“Dari mana kau tahu nama itu?” tanyanya dengan serius.

“Pria itu datang ke rumah hari ini. Ayahku meminjam uang darinya, dia menagihnya padaku. Dan aku—” Ilyena menghentikan dirinya bicara lebih banyak lanjut. “Ada apa dengannya? Kenapa namanya sangat bersih di pencarian?”

Ilyena harus fokus menggali informasi. Bukan saatnya untuk curhat.

“Itulah kenapa. Dia orang yang sangat berbahaya jika harus menghapus semua tentang dirinya di media. Ayahku pernah mengancam adiknya untuk tidak bermain-main dengan orang itu. Dia seorang yang berbahaya, aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang aku tahu dia adalah pebisnis, bisnisnya adalah bisnis bawah tanah. Aku tidak menyangka ayahmu akan meminjam uang dari orang sepertinya. Kau harus kabur. Aku akan menjemputmu ke sana sekarang, dia sudah pergi dari sana?”

Ilyena menggaruk kepalanya. “Sebaiknya kau tidak.”

Ilyena berjalan mendekati jendela kamar tidurnya, menatap langsung ke halaman depan rumahnya yang luas, yang saat ini diinvasi oleh orang-orang yang tidak dia kenali.

“Dia sudah menjadikan rumahku sebagai rumahnya juga.”

***

Rumah Ilyena yang semula sepi, hanya tersisa 3 pelayan dan satu penjaga gerbang sekarang diserbu oleh puluhan orang bersenjata yang membawa barang-barang Alexis. Sial, rumahnya juga sekarang diinvasi oleh orang-orang milik Alexis yang tak dia kenali.

Ilyena menatapi pelayan rumahnya yang sekarang tampak kebingungan dengan status mereka. Mereka berniat bertahan karena rasa iba pada gadis itu sebelumnya.

“Bagaimana ini?” tanya salah satu pelayan dengan wajah cemas.

Ilyena meliriknya sebentar sebelum akhirnya menatap Alexis yang tiba juga di rumahnya lagi malam itu. Sepertinya dia baru saja pulang dari kantor atau apa pun yang dia sebut pekerjaan.

“Apa yang kau lakukan dengan rumahku?” tanya Ilyena dengan sedikit sinis.

Alexis berhenti sejenak. Dia sedikit mundur untuk berhadapan langsung dengan gadis itu.

“Jarak mansionku ke sini butuh waktu sekitar 2-3 jam. Ada banyak yang harus aku urus bersama William. Dan termasuk mengurusmu. Kau tanggung jawabku sekarang. Jadi aku memindahkan beberapa hal ke sini untuk memudahkan pergerakanku dan akses padamu.”

Ilyena mengerutkan alisnya, tak setuju dengan pernyataannya.

“Kenapa juga kau harus menjadi waliku juga sekarang? Aku sudah dewasa.”

“Kau akan segera menjadi istriku.” Alexis meliriknya dari atas ke bawah. “Itu mengingatkanku akan sesuatu. Beri aku nomor ponselmu. Kau harus memilih gaun pernikahan yang disewakan oleh kenalanku. Dia punya banyak —”

“Sewa?!” Ilyena memekik. “Aku tidak pernah berpikir untuk menyewa gaun pernikahan!”

Alexis menghela nafasnya, dia seharusnya tidak perlu berdebat tentang ini. “Lalu kau mau apa? Membuatnya tepat enam hari sebelum pernikahan agar sesuai dengan mimpi dan keinginanmu, tuan putri?” tanyanya dengan nada mengejek.

Alexis tahu jika Ilyena sebenarnya akan menjadi orang yang sangat sulit. Lihatlah dia. Lihatlah kediamannya. Dia bukan orang sembarangan. Dia jelas orang yang dirawat dengan hati-hati sejak kecil dan merupakan seorang putri yang sedang mengalami kemunduran sesaat.

“Aku ingin membelinya. Aku akan membelinya sendiri,” balas Ilyena. “Kau bahkan tidak mampu memberikan gaun yang setidaknya bagus untukku.”

Alexis mendengus saat Ilyena berbalik darinya begitu saja setelah mengatakan dia akan membeli sendiri gaun pengantinnya. Itu membuatnya merasa naik darah melihat kesombongan di gerak-gerik gadis yang seharusnya berada dalam keruntuhan.

Alexis menarik nafasnya dalam-dalam. Dia harus memaklumi perilakunya tersebut.

“Tunjukkan saja gaun pengantin yang kau inginkan dan beritahu aku yang mana. Aku akan membayarnya,” ucap Alexis.

Ilyena menoleh sejenak. Dia sedikit terkejut dengan Alexis yang menyetujui rencananya membeli gaun pengantin yang sudah jadi, tetapi masih baru, bukan sewaan, meski bukan dibuat berdasarkan pesanan. Setidaknya Ilyena akan memiliki gaun itu untuk dirinya sendiri.

“Pengantin gila mana yang membayar gaun pengantinnya sendiri,” umpat Alexis, seolah pikiran itu berhasil melukai harga dirinya sebagai pria.

***

Rumah Ilyena yang didominasi oleh Alexis menjadi lebih ramai dari biasanya. Tetapi mereka tidak menyentuh apa pun yang terpajang di dinding seolah menghormati orang yang sebelumnya menguasai mansion tersebut.

Bahkan pelayan yang biasanya memasak untuk Ilyena seorang sejak anggota keluarga berkurang, digantikan oleh chef yang dibawa langsung oleh Alexis.

Pagi itu, pertama kalinya Ilyena akan makan di meja yang sama dengan Alexis. Alexis memutuskan untuk mulai membiasakan diri berada di sekitar gadis itu, atau justru memaksanya terbiasa dengan ini semua.

“Untuk sementara, aku tidak akan mengadakan honeymoon karena saat ini kita harus menyelamatkan perusahaan terlebih dahulu. Untuk itulah, beritahu aku saat kau merasa butuh liburan,” ucap Alexis seraya memakan menu sarapannya dengan tenang.

Ilyena melirik chef yang baru tiba pagi ini di rumahnya. Menggunakan chef pribadi berarti Alexis punya standar makanan yang cukup tinggi. Atau mungkin dia punya alergi makanan.

“Aku sedang tidak ingin bepergian jauh untuk saat ini,” balas Ilyena tenang.

“Baguslah kalau begitu.” Alexis mengangguk. “Ini mungkin tidak akan terasa nyaman awalnya. Tapi kau akan segera terbiasa. Surat keterangan ahli waris akan keluar sebelum pernikahan. Setelah pernikahan nanti, kau akan menandatangani hak kelola bisnis yang diserahkan padaku. Dengan itu aku bisa mengurus urusan birokrasi ke bank, dan perusahaan akan baik-baik saja dalam beberapa waktu ke depan.”

Ilyena menatap Alexis yang menjelaskan ulang semuanya. Dia mengangguk. Bukan pasrah atau patuh. Ini adalah sebuah kesepakatan, di mana di dalamnya dia memberikan kontribusi. Dia dan pria ini bisa dibilang setara. Dia tidak perlu takut padanya.

“Kau akan tinggal di sini setelah kita menikah?” tanya Ilyena.

“Hm, tentu saja. Aku harus mengendalikan Sanchez Holdings sedekat mungkin, untuk efisiensi.” Alexis mengangguk santai.

“Aku mencari namamu, tentangmu. Tetapi tidak satu pun muncul di mesin pencarian?”

Alexis hanya tersenyum ringan dan santai. “Jika kau penasaran tentang aku, tanyakan langsung padaku. Aku tidak akan berusaha menyembunyikan apa pun.”

Ilyena berpikir sejenak. “Kapan kau lahir?”

“17 Desember, umurku 31.”

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku mengelola sebuah perusahaan pendanaan.”

“Kudengar kau mengelola bisnis bawah tanah. Bukankah itu berarti bisnis yang ilegal?”

Alexis tidak mengelak. “Bisnis tetaplah bisnis. Buktinya adalah perusahaan ayahmu bertahan karena adanya bisnis kami.”

Ilyena berpikir sejenak. Apa lagi yang harus dia tanyakan? Pria ini terlalu jujur hingga membuatnya kehilangan kata-kata.

“Apakah kita nanti akan tidur di kamar yang sama?”

Alexis mengangkat alisnya dan menatap Ilyena balik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Piutang Kesayangan    Gadis Tak Dikenal

    Sebelum gadis tidak dikenal itu meraih rambut Ilyena yang sudah ditata sangat rapi untuk acara hari itu, tangan Alexis meraihnya lebih dulu. Bahkan melangkah maju di depan Ilyena seolah hendak melindungi gadis yang kondisinya tidak tahu apa-apa itu. Gadis tidak dikenal itu mendengus kasar sambil menatap Alexis dengan tangan sebelum berusaha menarik lengannya dar genggaman tangan Alexis. “Apa-apaan ini?” Ilyena memekik, dia mulai mencemaskan reputasinya sendiri. Ilyena melirik ke arah para tamu undangan yang sekarang menatap ke arah mereka juga. Dia mulai merasa kehilangan wajah di depan teman-temannya, dan keluarganya tentunya. Dia tidak peduli dengan orang-orang dari pihak Alexis. Tetapi ini jelas sesuatu yang memalukan. “Kenapa kau datang ke sini? Bukankah sudah kubilang jika kau tidak boleh mencampuri segala jenis urusan bisnisku?” Alexis menatap tajam balik gadis yang lengannya dia cengkeram cukup erat, menunjukkan jika ini bukan masalah yang sepele. “Ini urusan bisnis k

  • Piutang Kesayangan    Pernikahan Kilat

    “Tentu saja kita akan tidur di kamar yang sama.” Alexis menjawab dengan tenang. “Aku bisa menemanimu tidur malam ini juga jika itu yang kau inginkan.” “Aku tidak menginginkan itu,” balas Ilyena cepat, menyangkalnya segera. “Aku bertanya karena aku penasaran. Siapa tahu kau seperti orang-orang di dalam novel. Kita akan tidur di kamar terpisah setelah menikah.” Alexis mencatatnya dalam pikirannya. Jika Ilyena ternyata suka membaca genre tersebut. “Aku memikirkannya juga sebelumnya. Tidur di kamar yang sama berarti saling mempercayai. Dan itu caraku menghormati pernikahan. Menjaga kepercayaan.” Ilyena terdiam sejenak. Pria di depannya ini terdengar bijak. Tetapi dia tak ingin kagum terlalu cepat. Toh, dia masih tak tahu banyak tentangnya. Dan dalam beberapa hari ke depan, tersisa lima hari lagi untuknya mengenal pria ini sebelum benar-benar membiarkannya masuk ke kehidupannya. Tidak, sebenarnya pria ini sudah masuk dan menginvasi kehidupannya. “Kau tidak keberatan dengan oran

  • Piutang Kesayangan    Invasi

    Keheningan tercipta cukup lama setelah Ilyena menyebutkan nama itu. Ilyena mengetuk kukunya ke meja dengan tidak sabar. Bibir bawahnya tergigit dengan gelisah. “Kau tahu aku akan menghubungimu lagi—” “Jangan kabur sekarang.” Ilyena lirih, nyaris putus asa. “Aku tak tahu lagi siapa yang harus aku tanya tentang ini.” Keheningan terjadi lagi beberapa saat sebelum gadis di ujung sana menghela nafasnya. “Dari mana kau tahu nama itu?” tanyanya dengan serius. “Pria itu datang ke rumah hari ini. Ayahku meminjam uang darinya, dia menagihnya padaku. Dan aku—” Ilyena menghentikan dirinya bicara lebih banyak lanjut. “Ada apa dengannya? Kenapa namanya sangat bersih di pencarian?” Ilyena harus fokus menggali informasi. Bukan saatnya untuk curhat. “Itulah kenapa. Dia orang yang sangat berbahaya jika harus menghapus semua tentang dirinya di media. Ayahku pernah mengancam adiknya untuk tidak bermain-main dengan orang itu. Dia seorang yang berbahaya, aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang

  • Piutang Kesayangan    The Fallen Princess

    Alexis menertawakan reaksinya. Suara tawanya yang berat, terkesan agak dipaksakan membuat beberapa orang di sana terperanjat kaget. Mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapinya. Nama Alexis terdengar asing. Meski nama Genovese sendiri terdengar tidak begitu asing. Nama keluarga mafia Italia itu seperti sudah lama tidak terdengar oleh mereka. “Kenapa juga aku harus menikah denganmu? Aku tidak mengenalmu. Jangan berpikir untuk mengambil kesempatan dariku di saat seperti ini,” ancam Ilyena, dia jelas tersinggung. Alexis menghentikan tawanya, meski dia masih terlihat geli dengan reaksinya Ilyena. Dia jelas bukannya tidak mengharapkan reaksi itu. Bahkan sudah memprediksikannya. “Kau pasti mengerti apa alasanku untuk menikahinya, kan?* Alexis melirik William, memintanya menjelaskan dengan bahasanya agar bisa dimengerti Ilyena. William mengangguk singkat, dia tampaknya mulai membaca dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan Alexis saat ini. “Jika maksudmu membantu adalah denga

  • Piutang Kesayangan    Ahli Waris

    “...hanya putrinya yang tersisa?” Alexis mengulang pernyataan asistennya dengan alis mengerut.“Benar.” Asistennya mengangguk. “Ilyena Borneo Sanchez, dia baru lulus kuliah, sedang menikmati waktu senggang sebelum wisuda. Dia tidak ikut di dalam penerbangan yang sama karena sedang berlibur bersama teman-temannya di luar kota. Sehingga dia terselamatkan dari kecelakaan penerbangan tersebut.”“Sudah lulus kuliah, ya?” Alexis mengangkat alisnya tertarik. “Benar, sekitar 22 tahun. Ilyena—““Cukup umur untuk menikah. Siapkan mobilnya. Kita akan menagih hutang ke kediaman Sanchez sekarang.”*** Pria tua berjas abu-abu itu membenarkan kacamatanya sekali lagi. Di balik kacamatanya, dia melirik wajah-wajah lapar yang penuh ketertarikan akan daging segar di depannya. “Mengingat kecelakaan itu merenggut kedua orang tua, bersama dengan kedua kakak laki-lakimu... maka kau adalah satu-satunya ahli waris yang sah berdasarkan hukum yang berlaku saat ini. Kau berhak atas semua aset bergerak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status