MasukKeheningan tercipta cukup lama setelah Ilyena menyebutkan nama itu. Ilyena mengetuk kukunya ke meja dengan tidak sabar. Bibir bawahnya tergigit dengan gelisah.
“Kau tahu aku akan menghubungimu lagi—” “Jangan kabur sekarang.” Ilyena lirih, nyaris putus asa. “Aku tak tahu lagi siapa yang harus aku tanya tentang ini.” Keheningan terjadi lagi beberapa saat sebelum gadis di ujung sana menghela nafasnya. “Dari mana kau tahu nama itu?” tanyanya dengan serius. “Pria itu datang ke rumah hari ini. Ayahku meminjam uang darinya, dia menagihnya padaku. Dan aku—” Ilyena menghentikan dirinya bicara lebih banyak lanjut. “Ada apa dengannya? Kenapa namanya sangat bersih di pencarian?” Ilyena harus fokus menggali informasi. Bukan saatnya untuk curhat. “Itulah kenapa. Dia orang yang sangat berbahaya jika harus menghapus semua tentang dirinya di media. Ayahku pernah mengancam adiknya untuk tidak bermain-main dengan orang itu. Dia seorang yang berbahaya, aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang aku tahu dia adalah pebisnis, bisnisnya adalah bisnis bawah tanah. Aku tidak menyangka ayahmu akan meminjam uang dari orang sepertinya. Kau harus kabur. Aku akan menjemputmu ke sana sekarang, dia sudah pergi dari sana?” Ilyena menggaruk kepalanya. “Sebaiknya kau tidak.” Ilyena berjalan mendekati jendela kamar tidurnya, menatap langsung ke halaman depan rumahnya yang luas, yang saat ini diinvasi oleh orang-orang yang tidak dia kenali. “Dia sudah menjadikan rumahku sebagai rumahnya juga.” *** Rumah Ilyena yang semula sepi, hanya tersisa 3 pelayan dan satu penjaga gerbang sekarang diserbu oleh puluhan orang bersenjata yang membawa barang-barang Alexis. Sial, rumahnya juga sekarang diinvasi oleh orang-orang milik Alexis yang tak dia kenali. Ilyena menatapi pelayan rumahnya yang sekarang tampak kebingungan dengan status mereka. Mereka berniat bertahan karena rasa iba pada gadis itu sebelumnya. “Bagaimana ini?” tanya salah satu pelayan dengan wajah cemas. Ilyena meliriknya sebentar sebelum akhirnya menatap Alexis yang tiba juga di rumahnya lagi malam itu. Sepertinya dia baru saja pulang dari kantor atau apa pun yang dia sebut pekerjaan. “Apa yang kau lakukan dengan rumahku?” tanya Ilyena dengan sedikit sinis. Alexis berhenti sejenak. Dia sedikit mundur untuk berhadapan langsung dengan gadis itu. “Jarak mansionku ke sini butuh waktu sekitar 2-3 jam. Ada banyak yang harus aku urus bersama William. Dan termasuk mengurusmu. Kau tanggung jawabku sekarang. Jadi aku memindahkan beberapa hal ke sini untuk memudahkan pergerakanku dan akses padamu.” Ilyena mengerutkan alisnya, tak setuju dengan pernyataannya. “Kenapa juga kau harus menjadi waliku juga sekarang? Aku sudah dewasa.” “Kau akan segera menjadi istriku.” Alexis meliriknya dari atas ke bawah. “Itu mengingatkanku akan sesuatu. Beri aku nomor ponselmu. Kau harus memilih gaun pernikahan yang disewakan oleh kenalanku. Dia punya banyak —” “Sewa?!” Ilyena memekik. “Aku tidak pernah berpikir untuk menyewa gaun pernikahan!” Alexis menghela nafasnya, dia seharusnya tidak perlu berdebat tentang ini. “Lalu kau mau apa? Membuatnya tepat enam hari sebelum pernikahan agar sesuai dengan mimpi dan keinginanmu, tuan putri?” tanyanya dengan nada mengejek. Alexis tahu jika Ilyena sebenarnya akan menjadi orang yang sangat sulit. Lihatlah dia. Lihatlah kediamannya. Dia bukan orang sembarangan. Dia jelas orang yang dirawat dengan hati-hati sejak kecil dan merupakan seorang putri yang sedang mengalami kemunduran sesaat. “Aku ingin membelinya. Aku akan membelinya sendiri,” balas Ilyena. “Kau bahkan tidak mampu memberikan gaun yang setidaknya bagus untukku.” Alexis mendengus saat Ilyena berbalik darinya begitu saja setelah mengatakan dia akan membeli sendiri gaun pengantinnya. Itu membuatnya merasa naik darah melihat kesombongan di gerak-gerik gadis yang seharusnya berada dalam keruntuhan. Alexis menarik nafasnya dalam-dalam. Dia harus memaklumi perilakunya tersebut. “Tunjukkan saja gaun pengantin yang kau inginkan dan beritahu aku yang mana. Aku akan membayarnya,” ucap Alexis. Ilyena menoleh sejenak. Dia sedikit terkejut dengan Alexis yang menyetujui rencananya membeli gaun pengantin yang sudah jadi, tetapi masih baru, bukan sewaan, meski bukan dibuat berdasarkan pesanan. Setidaknya Ilyena akan memiliki gaun itu untuk dirinya sendiri. “Pengantin gila mana yang membayar gaun pengantinnya sendiri,” umpat Alexis, seolah pikiran itu berhasil melukai harga dirinya sebagai pria. *** Rumah Ilyena yang didominasi oleh Alexis menjadi lebih ramai dari biasanya. Tetapi mereka tidak menyentuh apa pun yang terpajang di dinding seolah menghormati orang yang sebelumnya menguasai mansion tersebut. Bahkan pelayan yang biasanya memasak untuk Ilyena seorang sejak anggota keluarga berkurang, digantikan oleh chef yang dibawa langsung oleh Alexis. Pagi itu, pertama kalinya Ilyena akan makan di meja yang sama dengan Alexis. Alexis memutuskan untuk mulai membiasakan diri berada di sekitar gadis itu, atau justru memaksanya terbiasa dengan ini semua. “Untuk sementara, aku tidak akan mengadakan honeymoon karena saat ini kita harus menyelamatkan perusahaan terlebih dahulu. Untuk itulah, beritahu aku saat kau merasa butuh liburan,” ucap Alexis seraya memakan menu sarapannya dengan tenang. Ilyena melirik chef yang baru tiba pagi ini di rumahnya. Menggunakan chef pribadi berarti Alexis punya standar makanan yang cukup tinggi. Atau mungkin dia punya alergi makanan. “Aku sedang tidak ingin bepergian jauh untuk saat ini,” balas Ilyena tenang. “Baguslah kalau begitu.” Alexis mengangguk. “Ini mungkin tidak akan terasa nyaman awalnya. Tapi kau akan segera terbiasa. Surat keterangan ahli waris akan keluar sebelum pernikahan. Setelah pernikahan nanti, kau akan menandatangani hak kelola bisnis yang diserahkan padaku. Dengan itu aku bisa mengurus urusan birokrasi ke bank, dan perusahaan akan baik-baik saja dalam beberapa waktu ke depan.” Ilyena menatap Alexis yang menjelaskan ulang semuanya. Dia mengangguk. Bukan pasrah atau patuh. Ini adalah sebuah kesepakatan, di mana di dalamnya dia memberikan kontribusi. Dia dan pria ini bisa dibilang setara. Dia tidak perlu takut padanya. “Kau akan tinggal di sini setelah kita menikah?” tanya Ilyena. “Hm, tentu saja. Aku harus mengendalikan Sanchez Holdings sedekat mungkin, untuk efisiensi.” Alexis mengangguk santai. “Aku mencari namamu, tentangmu. Tetapi tidak satu pun muncul di mesin pencarian?” Alexis hanya tersenyum ringan dan santai. “Jika kau penasaran tentang aku, tanyakan langsung padaku. Aku tidak akan berusaha menyembunyikan apa pun.” Ilyena berpikir sejenak. “Kapan kau lahir?” “17 Desember, umurku 31.” “Apa pekerjaanmu?” “Aku mengelola sebuah perusahaan pendanaan.” “Kudengar kau mengelola bisnis bawah tanah. Bukankah itu berarti bisnis yang ilegal?” Alexis tidak mengelak. “Bisnis tetaplah bisnis. Buktinya adalah perusahaan ayahmu bertahan karena adanya bisnis kami.” Ilyena berpikir sejenak. Apa lagi yang harus dia tanyakan? Pria ini terlalu jujur hingga membuatnya kehilangan kata-kata. “Apakah kita nanti akan tidur di kamar yang sama?” Alexis mengangkat alisnya dan menatap Ilyena balik.Tetapi proses mereka keluar dari sana tetap tidak mudah. Meski sudah berada di dalam mobil, Ilyena membetulkan posisi duduknya sambil menoleh ke belakang di mana para tentara itu mulai berlarian ke arah mereka sambil menodongkan senjata. Ilyena memekik kala mereka berusaha menembaki kaca belakang. Alexis yang duduk tenang di sampingnya meluruskan pandangan Ilyena ke depan untuk tidak melihat apa yang terjadi, setidaknya agar dia tidak panik. Karena panik bisa membuat seseorang hilang akal. “Ayo kita jalan!” ujar Marco. “Bagaimana dengan Violet?” tanya Chris. “Dia akan tetap di sana.” Tanpa membalas lagi, Chris mulai melajukan mobilnya. Ilyena memekik lagi karena suara tembakan yang cukup dekat dengannya, itu membuat telinganya sakit. Dia menatapi kaca mobil anti peluru tersebut. Itu melindungi mereka. “Tetapi dia mengorbankan dirinya sendiri?” tanya Chris lagi. “Ya, kurang lebih begitu. Kita akan membebaskannya jika mereka berusaha men
Sudah ada tentara yang akan mendesak masuk ke ruangan mereka saat ini. Ilyena berjalan cepat ke jendela untuk melihat langsung ke luar, untuk melihat langsung bagaimana sebuah truk tentara sudah digerakkan untuk menangkap mereka saat ini juga. “Jadi, mereka memutuskan untuk mengeluarkan pemberitaan ini?” Alexis menghela nafasnya. “Kita harus segera pergi, Ilyena. Untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan.” Ilyena segera menghampiri Alexis lagi. Dia siap untuk pergi. Marco dan Chris sudah di sana, mereka saling memandang untuk beberapa saat, menunggu langkah selanjutnya. “Kau tahu cara terbaik keluar dari tempat ini sebelum kita ditahan?” tanya Alexis. “Aku tahu, kurasa. Aku punya kenalan yang merupakan staf hotel ini, dia pasti tahu sesuatu tentang jalan keluar yang tersembunyi,” jawab Marco cepat. “Kalian harus segera keluar dari sini. Kebetulan temanku sedang menuju ke sini. Sehingga aku bisa menggunakan alibi kalau yang berada di sini adalah aku dan temanku,” tambah
Tanpa pikir panjang, Alexis mendaratkan kecupan di sisi kepala Ilyena, di rambutnya. Tanpa memikirkan Violet yang akan menjatuhkan ponselnya dari tempatnya duduk di ujung ruangan. Dan suara barang jatuh berhasil membuat Alexis dan Ilyena menoleh. “Aku akan keluar.” Violet buru-buru mengambil ponselnya untuk keluar dari ruang tersebut untuk memberikan keduanya ruang. Namun, Ilyena juga langsung bangkit dari duduknya untuk kembali ke kasurnya. Alexis tidak mencegahnya, dia tahu caranya memberikan ruang untuk Ilyena saat ini. Ilyena duduk dan langsung meraih ponselnya, dia memikirkan sesuatu tentang lukanya, dia harus menutupi itu. Ilyena kemudian menelepon Cathlyn untuk meminta bantuannya. “Hey, Cath. Aku ingin tahu apakah aku bisa booking salon di tempatmu pagi-pagi sekali? Ya, sebelum aku ke kantor. Aku butuh potongan rambut yang baru untuk menutup keningku.” Alexis menoleh padanya, dia memperhatikan wajahnya Ilyena lagi. Dia bisa menebak jika dia berus
Bahkan ilyena tidak berselera untuk mengomelinya, dia hanya memutar bola matanya karena Alexis yang sekarang jelas berbeda dengan yang dia lihat tadi malam saat dia sekarat. “Aku mencemaskanmu.” Alexis duduk di sisi ranjangnya Ilyena sambil menatapnya. Ilyena menatapnya dan menghela nafasnya berat. “Beristirahatlah di tempatmu!” Alexis menatapnya beberapa saat. Saat ini Ilyena sama sekali tidak berselera pada lelucon apa pun itu. Hal yang dilaluinya semalam pasti sangat berat untuknya. Dan pria itu tidak memaksa, memberikannya ruang dengan kembali ke ranjangnya sendiri. Sepertinya untuk saat ini berada di ruangan yang sama bukanlah ide yang bagus. Tetapi Alexis tetap ingin melihatnya, tetap bisa mengawasinya dari dekat, untuk menjaganya. Ilyena lebih banyak tidur hari ini. Satu-satunya yang dia lakukan tidur karena denyut di telinganya sangat mengganggunya. Dan Alexis memanfaatkan saat-saat ilyena tidur untuk membuka laptopnya, dia bertukar pesan dengan
“Kau mendapatkan jahitan di keningnya? Berapa jahitan?” tanya Cathlyn. “Oh, Cathlyn!” Angel memelototinya lagi. “Aku senang kau baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir saat mengetahui ada penembakan di restoran kakekku, dan aku lebih kaget lagi ketika mendengar kau juga ada di sana di saat yang sama.” Ilyena hanya tersenyum simpul, dia tidak bisa banyak berekspresi saat ini. Dan seorang pria paruh baya, dengan rambut yang mulai beruban berjalan cepat ke arah Ilyena sambil memakai jas putihnya, menghampiri ilyena yang sudah menunggunya di depan ruangannya. “Nyonya Genovese?” Dokter tersebut kemudian tersenyum menyapanya. “Silahkan!” Dokter tersebut membukakan pintu untuk ilyena dan mempersilahkannya masuk lebih dulu. Dan Ilyena lantas masuk ke ruangan tersebut sambil memegang telinga kirinya lagi. “Apakah dia tertembak? Kudengar ada wanita yang ditembak. Aku berusaha memastikan kalau itu bukan Ilyena, tidak ada luka tembak di tubuhnya.” Angel terdengar
“Ambulansnya sudah datang,” ucap Hanbin. Hanbin masih menggenggam erat ponselnya, dia menatapi keadaan yang kacau tersebut. Dua orang VVIP, Tuan dan Nyonya Genovese sekarang tergeletak di lantai. Violet menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Ilyena, jari jemarinya dengan tekun menyingkirkan rambut agar tidak menyentuh luka Ilyena, sesekali dia juga menyeka darah di wajah Ilyena dengan sebuah scarf miliknya sendiri. Wajah Ilyena yang dipenuhi darah sebelumnya sekarang terlihat lebih baik, meski masih ada jejak darah di sisi wajahnya. Hanya ada dua yang ambulans yang dikerahkan ke sana, karena hanya itu yang tersedia saat ini. Alexis dievakuasi paling awal, paramedis segera memberikannya pertolongan tambahan yang bisa mereka lakukan seperti memberikannya tabung oksigen. “Istriku,” bisiknya pelan saat paramedis hendak menaikkan tandunya. “Ya, Tuan?” Marco dan Chris segera membungkuk ke arahnya secara bersamaan. “Apa yang terjadi pada Ilyena?”







