LOGINAlexis menertawakan reaksinya. Suara tawanya yang berat, terkesan agak dipaksakan membuat beberapa orang di sana terperanjat kaget.
Mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapinya. Nama Alexis terdengar asing. Meski nama Genovese sendiri terdengar tidak begitu asing. Nama keluarga mafia Italia itu seperti sudah lama tidak terdengar oleh mereka. “Kenapa juga aku harus menikah denganmu? Aku tidak mengenalmu. Jangan berpikir untuk mengambil kesempatan dariku di saat seperti ini,” ancam Ilyena, dia jelas tersinggung. Alexis menghentikan tawanya, meski dia masih terlihat geli dengan reaksinya Ilyena. Dia jelas bukannya tidak mengharapkan reaksi itu. Bahkan sudah memprediksikannya. “Kau pasti mengerti apa alasanku untuk menikahinya, kan?* Alexis melirik William, memintanya menjelaskan dengan bahasanya agar bisa dimengerti Ilyena. William mengangguk singkat, dia tampaknya mulai membaca dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan Alexis saat ini. “Jika maksudmu membantu adalah dengan menyediakan dana segar untuk melunasi hutang-hutang yang ada... maka dia meminta kepastian yang legal darimu. Untuk itulah kenapa rencana berikutnya adalah menikah. Karena dengan menikah, maka kau akan memberikannya akses untuk terlibat, untuk ikut campur dalam urusan aset dan kewajiban milik keluarga Sanchez,” jelas William sambil menatap Ilyena. “Ini adalah cara yang sangat mungkin.” Ilyena menarik nafasnya lewat mulut. Sejenak dia sedikit tidak percaya atas tujuan Alexis sebenarnya. Menikah secara tiba-tiba seolah tak ada pilihan lain sangat berisiko. “Memberikannya akses untuk semuanya bukankah lebih berisiko? Aku tidak mengenalnya. Siapa yang mengenalnya di keluarga ini?” Ilyena menatap Alexis dengan penuh skeptis, jelas tak bisa mempercayainya begitu saja. Alexis hanya tersenyum tipis seraya menatap ke bawah sebelum menatapnya lagi. Ilyena tidak membual, dia tidak akan menyalahkannya, untuk tidak mempercayai orang asing. “Aku mengenal ayahmu. Ayahmu mengenalku. Aku meminjamkan uang dalam jumlah besar, dan uangnya berisiko besar tidak kembali. Apa lagi dengan keadaan perusahaan yang kacau dan porak-poranda. Semua pemegang saham menginginkan hak mereka, para petinggi yang panik, sebagian berusaha untuk mengambil alih perusahaan. Menurutmu kau bisa mengatasi semua itu?” Alexis menaruh kedua tangannya di sakunya dengan santai. Paman dan bibinya menatap Ilyena dengan tegang. Mereka tak tahu siapa Alexis ini. Tetapi jelas Alexis bisa dipercaya tentang perusahaan jika melihat caranya memandang perusahaan dan tahu apa yang sedang terjadi di sana. “Pikirkan baik-baik. Kau sudah mengulur waktu seminggu. Ini bukan saatnya berkabung lagi untukmu.” Alexis menatapnya dengan tajam sekarang, menekannya. “Kau akan kehilangan semuanya, tanpa ada yang tersisa jika tak mengambil keputusan apa pun. Kau ingin ayahmu melihat perusahaan yang dia bangun lenyap begitu saja, lepas dari tangan putri yang dia tinggalkan?” Paman dan bibi Ilyena hanya bisa terdiam. Mereka sedikit takut. Alexis mulai mengintimidasi. Sementara Ilyena tidak lagi bergeming. Mereka jelas tahu jika bahkan ayahnya Ilyena tidak akan menekan Ilyena sekeras itu. Tapi mereka sudah tidak ada. Ayahnya yang penyayang, ibunya yang lemah lembut, kakak-kakaknya yang usil padanya tapi protektif di saat yang sama. Gadis itu sekarang berdiri di atas kakinya sendiri. Harus mengambil keputusan secepat mungkin. Tangannya agak gemetar. Bukan takut, entah kenapa kalimat Alexis tentang perusahaan yang dibangun ayahnya membuatnya gemetar. “Aku sendiri merasa kau sebaiknya tidak melewatkan kesempatan ini, Ilyena. Tetapi, kau harus berada dalam posisi yang aman di perusahaan. Ilyena jelas harus memiliki posisi yang kuat,” pinta William, karena bagaimana pun, dia juga dipertaruhkan di sana. “Itu bukan hal yang sulit untukku.” Alexis menjawab dengan tenang. Alexis duduk di sofa dengan tenangnya, menatapi orang-orang yang berdiri dengan tegang di depannya. Dia melirik Ilyena lagi yang tampak masih tak bergeming. “Aku akan menaruhmu di posisi komisaris utama, atau pemilik saham mayoritas pengawas perusahaan. Aku sendiri yang akan menempati posisi direktur utama. Karena mungkin para petinggi dan pemegang saham akan cemas jika kau langsung menempati posisi itu. Dengan begitu mereka tidak akan skeptis dan merasa aman.” Ilyena menatap Alexis, kepercayaan sama sekali belum tumbuh di tatapannya. Meski begitu, mendengar dia akan mendapatkan posisi yang aman di perusahaan, dan bantuan dengan uang segar untuk mencairkan aset yang dibekukan bank, maka ini adalah pilihan yang sangat masuk akal. Pernikahan hanyalah cara Alexis meyakinkan posisinya juga. “Semudah itu?” Paman Ilyena mengernyitkan dahi. “Kalau begitu, aku harus mendapatkan posisi juga. Aku pamannya Ilyena. Aku adik ibunya.” Dengan bangga pria paruh baya itu menepuk dadanya dengan gagah. “Aku juga adik ibunya. Aku sering mengambil raport nilainya Ilyena dulu. Aku adalah walinya.” Bibinya Ilyena juga mengacungkan tangannya, meminta bagian hak. Alexis mengangkat alisnya. “Kenapa aku harus memberikan kalian posisi juga?” “Ah, tidak mungkin jika Ilyena akan mendapatkan semua warisannya begitu saja, kan? Lagi pula kami masih keluarganya. Bukan begitu, Ilyena?” Pamannya menatapnya penuh harap. “Keluarga apanya. Kalian berpura-pura tidak tahu saat disebutkan hutang namun mata kalian bersinar seperti bintang begitu mendengar kata aset.” Ilyena mendengus kesal. Alexis hanya tersenyum mendengar balasannya Ilyena. Setidaknya Ilyena sadar apa niat paman dan bibinya saat ini. “Pernikahan akan berlangsung akhir pekan ini. Tidak perlu acara yang mewah. Kita akan menikah di gereja di sore hari, mungkin sebuah makan malam bersama setelahnya.” Ilyena langsung menoleh pada Alexis kecewa. Jelas, itu bukan impiannya sama sekali. “Sangat tiba-tiba sekali? Teman-temanku akan berpikir aku hamil jika aku menikah secepat itu.” Ilyena mengerutkan dahinya kesal, jelas tak setuju dengan itu. Sementara paman dan bibinya Ilyena sekarang hanya diam. Pernikahan yang dilakukan dengan buru-buru jelas tidak begitu baik. “Aku butuh kepastian hukum tentang hubungan kita sebelum mengeluarkan sejumlah uang lagi. Huft, jika kau tidak mau, kau bisa mundur dari sekarang,” balas Alexis, terkesan memaksa dan mengancam. Ilyena mendengus. Dia tak suka cara Alexis mengontrol hidupnya. Sementara William sebagai pengacara yang sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga Sanchez, bahkan sejak ayahnya Ilyena masih seorang bujang, jelas merasa menyayangkan nasib Ilyena yang akan jatuh pada pria ini. *** “Siapa sebenarnya pria bernama Alexis ini.” Ilyena segera duduk di depan laptopnya, dengan cepat mengetikkan nama Alexis. Tak ada apa pun tentangnya. Tidak ada pencarian tentang Alexis Genovese. Sangat bersih. Terlalu bersih. Untuk seseorang yang memiliki banyak uang seperti itu. Ilyena segera menghubungi salah satu temannya untuk mengetahui lebih banyak hal tentang Alexis. Dia tahu dari mana dia bisa mendapatkan informasi. “Oh, Ilyena, kupikir kau tidak akan—“ “Tidak ada waktu untuk itu. Apakah kau pernah mendengar Alexis Genovese? Aku butuh informasi tentangnya sekarang juga."Sebelum gadis tidak dikenal itu meraih rambut Ilyena yang sudah ditata sangat rapi untuk acara hari itu, tangan Alexis meraihnya lebih dulu. Bahkan melangkah maju di depan Ilyena seolah hendak melindungi gadis yang kondisinya tidak tahu apa-apa itu. Gadis tidak dikenal itu mendengus kasar sambil menatap Alexis dengan tangan sebelum berusaha menarik lengannya dar genggaman tangan Alexis. “Apa-apaan ini?” Ilyena memekik, dia mulai mencemaskan reputasinya sendiri. Ilyena melirik ke arah para tamu undangan yang sekarang menatap ke arah mereka juga. Dia mulai merasa kehilangan wajah di depan teman-temannya, dan keluarganya tentunya. Dia tidak peduli dengan orang-orang dari pihak Alexis. Tetapi ini jelas sesuatu yang memalukan. “Kenapa kau datang ke sini? Bukankah sudah kubilang jika kau tidak boleh mencampuri segala jenis urusan bisnisku?” Alexis menatap tajam balik gadis yang lengannya dia cengkeram cukup erat, menunjukkan jika ini bukan masalah yang sepele. “Ini urusan bisnis k
“Tentu saja kita akan tidur di kamar yang sama.” Alexis menjawab dengan tenang. “Aku bisa menemanimu tidur malam ini juga jika itu yang kau inginkan.” “Aku tidak menginginkan itu,” balas Ilyena cepat, menyangkalnya segera. “Aku bertanya karena aku penasaran. Siapa tahu kau seperti orang-orang di dalam novel. Kita akan tidur di kamar terpisah setelah menikah.” Alexis mencatatnya dalam pikirannya. Jika Ilyena ternyata suka membaca genre tersebut. “Aku memikirkannya juga sebelumnya. Tidur di kamar yang sama berarti saling mempercayai. Dan itu caraku menghormati pernikahan. Menjaga kepercayaan.” Ilyena terdiam sejenak. Pria di depannya ini terdengar bijak. Tetapi dia tak ingin kagum terlalu cepat. Toh, dia masih tak tahu banyak tentangnya. Dan dalam beberapa hari ke depan, tersisa lima hari lagi untuknya mengenal pria ini sebelum benar-benar membiarkannya masuk ke kehidupannya. Tidak, sebenarnya pria ini sudah masuk dan menginvasi kehidupannya. “Kau tidak keberatan dengan oran
Keheningan tercipta cukup lama setelah Ilyena menyebutkan nama itu. Ilyena mengetuk kukunya ke meja dengan tidak sabar. Bibir bawahnya tergigit dengan gelisah. “Kau tahu aku akan menghubungimu lagi—” “Jangan kabur sekarang.” Ilyena lirih, nyaris putus asa. “Aku tak tahu lagi siapa yang harus aku tanya tentang ini.” Keheningan terjadi lagi beberapa saat sebelum gadis di ujung sana menghela nafasnya. “Dari mana kau tahu nama itu?” tanyanya dengan serius. “Pria itu datang ke rumah hari ini. Ayahku meminjam uang darinya, dia menagihnya padaku. Dan aku—” Ilyena menghentikan dirinya bicara lebih banyak lanjut. “Ada apa dengannya? Kenapa namanya sangat bersih di pencarian?” Ilyena harus fokus menggali informasi. Bukan saatnya untuk curhat. “Itulah kenapa. Dia orang yang sangat berbahaya jika harus menghapus semua tentang dirinya di media. Ayahku pernah mengancam adiknya untuk tidak bermain-main dengan orang itu. Dia seorang yang berbahaya, aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang
Alexis menertawakan reaksinya. Suara tawanya yang berat, terkesan agak dipaksakan membuat beberapa orang di sana terperanjat kaget. Mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapinya. Nama Alexis terdengar asing. Meski nama Genovese sendiri terdengar tidak begitu asing. Nama keluarga mafia Italia itu seperti sudah lama tidak terdengar oleh mereka. “Kenapa juga aku harus menikah denganmu? Aku tidak mengenalmu. Jangan berpikir untuk mengambil kesempatan dariku di saat seperti ini,” ancam Ilyena, dia jelas tersinggung. Alexis menghentikan tawanya, meski dia masih terlihat geli dengan reaksinya Ilyena. Dia jelas bukannya tidak mengharapkan reaksi itu. Bahkan sudah memprediksikannya. “Kau pasti mengerti apa alasanku untuk menikahinya, kan?* Alexis melirik William, memintanya menjelaskan dengan bahasanya agar bisa dimengerti Ilyena. William mengangguk singkat, dia tampaknya mulai membaca dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan Alexis saat ini. “Jika maksudmu membantu adalah denga
“...hanya putrinya yang tersisa?” Alexis mengulang pernyataan asistennya dengan alis mengerut.“Benar.” Asistennya mengangguk. “Ilyena Borneo Sanchez, dia baru lulus kuliah, sedang menikmati waktu senggang sebelum wisuda. Dia tidak ikut di dalam penerbangan yang sama karena sedang berlibur bersama teman-temannya di luar kota. Sehingga dia terselamatkan dari kecelakaan penerbangan tersebut.”“Sudah lulus kuliah, ya?” Alexis mengangkat alisnya tertarik. “Benar, sekitar 22 tahun. Ilyena—““Cukup umur untuk menikah. Siapkan mobilnya. Kita akan menagih hutang ke kediaman Sanchez sekarang.”*** Pria tua berjas abu-abu itu membenarkan kacamatanya sekali lagi. Di balik kacamatanya, dia melirik wajah-wajah lapar yang penuh ketertarikan akan daging segar di depannya. “Mengingat kecelakaan itu merenggut kedua orang tua, bersama dengan kedua kakak laki-lakimu... maka kau adalah satu-satunya ahli waris yang sah berdasarkan hukum yang berlaku saat ini. Kau berhak atas semua aset bergerak







