Home / Romansa / Piutang Kesayangan / The Fallen Princess

Share

The Fallen Princess

last update publish date: 2026-06-28 16:37:24

Alexis menertawakan reaksinya. Suara tawanya yang berat, terkesan agak dipaksakan membuat beberapa orang di sana terperanjat kaget.

Mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapinya. Nama Alexis terdengar asing. Meski nama Genovese sendiri terdengar tidak begitu asing. Nama keluarga mafia Italia itu seperti sudah lama tidak terdengar oleh mereka.

“Kenapa juga aku harus menikah denganmu? Aku tidak mengenalmu. Jangan berpikir untuk mengambil kesempatan dariku di saat seperti ini,” ancam Ilyena, dia jelas tersinggung.

Alexis menghentikan tawanya, meski dia masih terlihat geli dengan reaksinya Ilyena. Dia jelas bukannya tidak mengharapkan reaksi itu. Bahkan sudah memprediksikannya.

“Kau pasti mengerti apa alasanku untuk menikahinya, kan?* Alexis melirik William, memintanya menjelaskan dengan bahasanya agar bisa dimengerti Ilyena.

William mengangguk singkat, dia tampaknya mulai membaca dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan Alexis saat ini.

“Jika maksudmu membantu adalah dengan menyediakan dana segar untuk melunasi hutang-hutang yang ada... maka dia meminta kepastian yang legal darimu. Untuk itulah kenapa rencana berikutnya adalah menikah. Karena dengan menikah, maka kau akan memberikannya akses untuk terlibat, untuk ikut campur dalam urusan aset dan kewajiban milik keluarga Sanchez,” jelas William sambil menatap Ilyena. “Ini adalah cara yang sangat mungkin.”

Ilyena menarik nafasnya lewat mulut. Sejenak dia sedikit tidak percaya atas tujuan Alexis sebenarnya. Menikah secara tiba-tiba seolah tak ada pilihan lain sangat berisiko.

“Memberikannya akses untuk semuanya bukankah lebih berisiko? Aku tidak mengenalnya. Siapa yang mengenalnya di keluarga ini?” Ilyena menatap Alexis dengan penuh skeptis, jelas tak bisa mempercayainya begitu saja.

Alexis hanya tersenyum tipis seraya menatap ke bawah sebelum menatapnya lagi. Ilyena tidak membual, dia tidak akan menyalahkannya, untuk tidak mempercayai orang asing.

“Aku mengenal ayahmu. Ayahmu mengenalku. Aku meminjamkan uang dalam jumlah besar, dan uangnya berisiko besar tidak kembali. Apa lagi dengan keadaan perusahaan yang kacau dan porak-poranda. Semua pemegang saham menginginkan hak mereka, para petinggi yang panik, sebagian berusaha untuk mengambil alih perusahaan. Menurutmu kau bisa mengatasi semua itu?” Alexis menaruh kedua tangannya di sakunya dengan santai.

Paman dan bibinya menatap Ilyena dengan tegang. Mereka tak tahu siapa Alexis ini. Tetapi jelas Alexis bisa dipercaya tentang perusahaan jika melihat caranya memandang perusahaan dan tahu apa yang sedang terjadi di sana.

“Pikirkan baik-baik. Kau sudah mengulur waktu seminggu. Ini bukan saatnya berkabung lagi untukmu.” Alexis menatapnya dengan tajam sekarang, menekannya. “Kau akan kehilangan semuanya, tanpa ada yang tersisa jika tak mengambil keputusan apa pun. Kau ingin ayahmu melihat perusahaan yang dia bangun lenyap begitu saja, lepas dari tangan putri yang dia tinggalkan?”

Paman dan bibi Ilyena hanya bisa terdiam. Mereka sedikit takut. Alexis mulai mengintimidasi. Sementara Ilyena tidak lagi bergeming. Mereka jelas tahu jika bahkan ayahnya Ilyena tidak akan menekan Ilyena sekeras itu.

Tapi mereka sudah tidak ada. Ayahnya yang penyayang, ibunya yang lemah lembut, kakak-kakaknya yang usil padanya tapi protektif di saat yang sama.

Gadis itu sekarang berdiri di atas kakinya sendiri. Harus mengambil keputusan secepat mungkin. Tangannya agak gemetar. Bukan takut, entah kenapa kalimat Alexis tentang perusahaan yang dibangun ayahnya membuatnya gemetar.

“Aku sendiri merasa kau sebaiknya tidak melewatkan kesempatan ini, Ilyena. Tetapi, kau harus berada dalam posisi yang aman di perusahaan. Ilyena jelas harus memiliki posisi yang kuat,” pinta William, karena bagaimana pun, dia juga dipertaruhkan di sana.

“Itu bukan hal yang sulit untukku.” Alexis menjawab dengan tenang.

Alexis duduk di sofa dengan tenangnya, menatapi orang-orang yang berdiri dengan tegang di depannya. Dia melirik Ilyena lagi yang tampak masih tak bergeming.

“Aku akan menaruhmu di posisi komisaris utama, atau pemilik saham mayoritas pengawas perusahaan. Aku sendiri yang akan menempati posisi direktur utama. Karena mungkin para petinggi dan pemegang saham akan cemas jika kau langsung menempati posisi itu. Dengan begitu mereka tidak akan skeptis dan merasa aman.”

Ilyena menatap Alexis, kepercayaan sama sekali belum tumbuh di tatapannya. Meski begitu, mendengar dia akan mendapatkan posisi yang aman di perusahaan, dan bantuan dengan uang segar untuk mencairkan aset yang dibekukan bank, maka ini adalah pilihan yang sangat masuk akal. Pernikahan hanyalah cara Alexis meyakinkan posisinya juga.

“Semudah itu?” Paman Ilyena mengernyitkan dahi. “Kalau begitu, aku harus mendapatkan posisi juga. Aku pamannya Ilyena. Aku adik ibunya.”

Dengan bangga pria paruh baya itu menepuk dadanya dengan gagah.

“Aku juga adik ibunya. Aku sering mengambil raport nilainya Ilyena dulu. Aku adalah walinya.” Bibinya Ilyena juga mengacungkan tangannya, meminta bagian hak.

Alexis mengangkat alisnya. “Kenapa aku harus memberikan kalian posisi juga?”

“Ah, tidak mungkin jika Ilyena akan mendapatkan semua warisannya begitu saja, kan? Lagi pula kami masih keluarganya. Bukan begitu, Ilyena?” Pamannya menatapnya penuh harap.

“Keluarga apanya. Kalian berpura-pura tidak tahu saat disebutkan hutang namun mata kalian bersinar seperti bintang begitu mendengar kata aset.” Ilyena mendengus kesal.

Alexis hanya tersenyum mendengar balasannya Ilyena. Setidaknya Ilyena sadar apa niat paman dan bibinya saat ini.

“Pernikahan akan berlangsung akhir pekan ini. Tidak perlu acara yang mewah. Kita akan menikah di gereja di sore hari, mungkin sebuah makan malam bersama setelahnya.”

Ilyena langsung menoleh pada Alexis kecewa. Jelas, itu bukan impiannya sama sekali.

“Sangat tiba-tiba sekali? Teman-temanku akan berpikir aku hamil jika aku menikah secepat itu.” Ilyena mengerutkan dahinya kesal, jelas tak setuju dengan itu.

Sementara paman dan bibinya Ilyena sekarang hanya diam. Pernikahan yang dilakukan dengan buru-buru jelas tidak begitu baik.

“Aku butuh kepastian hukum tentang hubungan kita sebelum mengeluarkan sejumlah uang lagi. Huft, jika kau tidak mau, kau bisa mundur dari sekarang,” balas Alexis, terkesan memaksa dan mengancam.

Ilyena mendengus. Dia tak suka cara Alexis mengontrol hidupnya.

Sementara William sebagai pengacara yang sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga Sanchez, bahkan sejak ayahnya Ilyena masih seorang bujang, jelas merasa menyayangkan nasib Ilyena yang akan jatuh pada pria ini.

***

“Siapa sebenarnya pria bernama Alexis ini.” Ilyena segera duduk di depan laptopnya, dengan cepat mengetikkan nama Alexis.

Tak ada apa pun tentangnya.

Tidak ada pencarian tentang Alexis Genovese.

Sangat bersih. Terlalu bersih. Untuk seseorang yang memiliki banyak uang seperti itu.

Ilyena segera menghubungi salah satu temannya untuk mengetahui lebih banyak hal tentang Alexis. Dia tahu dari mana dia bisa mendapatkan informasi.

“Oh, Ilyena, kupikir kau tidak akan—“

“Tidak ada waktu untuk itu. Apakah kau pernah mendengar Alexis Genovese? Aku butuh informasi tentangnya sekarang juga."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Piutang Kesayangan    Informasi Sensitif

    “Bagaimana jika itu adalah salah satu informasi yang sangat sensitif?” tanya Frederick. “Maka dari itu, kita harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.” Reaksi Alexis yang tenang dan sama sekali tidak gelisah membuat mereka lebih khawatir, beban gelisah tetap dilimpahkan kepada mereka. Meski begitu, jika Alexis berkata demikian, maka mereka hanya harus siaga dan waspada, tetapi itu seperti menunggu bom meledak. Setelah dari rapat di Nimbus Vault tersebut, Alexis kembali ke rumah, dan menemukan istrinya yang sudah tertidur di kamar yang mereka berdua bagi belakangan ini. Sejak rumah Ilyena menjadi lebih terbuka untuknya, tidak ada yang ditutupi oleh Ilyena, membuat Alexis merasakan sedikit beban tanggung jawab yang lebih banyak. Karena itu berarti kepercayaan. Ilyena sudah menaruh beban itu ke pundaknya. ***Ivan bekerja seperti biasanya, kadang hanya duduk di depan komputer seolah dia sungguh bekerja, kadang berkeliaran menyapa hampir setiap

  • Piutang Kesayangan    Rencana

    “Membunuh Alexis? Apakah kau lupa jika orang-orang di sekitarnya adalah tim Alpha?” Teressa mengerutkan keningnya, itu jelas ide yang buruk untuk mendekati Alexis secara langsung, mereka bisa terbunuh bahkan sebelum mereka mendekati Alexis. “Aku tahu. Tim alpha adalah orang-orang dengan pertahanan yang sangat tinggi, mereka jelas tidak akan membiarkan diri mereka melepaskan pengawasan pada VVIP sepertinya.” John menghela nafasnya. Berada di antara tim lainnya membuatnya mengetahui tentang hierarki, membuatnya sadar bagaimana rumitnya sistem jaringan yang dibentuk oleh Vance. Belum lagi, sekarang mereka menyatukannya dengan SMC, merekrut orang-orang Amerika lebih banyak, sehingga mereka tidak tahu mana saja yang merupakan mata-mata Alexis. “Untuk itulah sedari awal, kau sudah mencuri benda itu juga, kan?” tanya John.Teressa meneguk ludahnya, sebelum mengangguk dengan ragu. “Kau bilang mereka jarang mengecek benda itu lagi setelahnya, tetapi menang

  • Piutang Kesayangan    Umpan

    “Alexiso, matikan komputernya!” bentak Ilyena.Ilyena kemudian segera bergegas membersihkan wine yang tumpah di meja dengan tisu, kemudian menegakkan kembali gelasnya, sebelum mengisinya lagi dengan wine. Kemudian bersandar sealami mungkin ke mejanya sambil meneguk wine, hal yang dia ingin Alexis lihat. Alexis masuk dengan mengetuk pintu dua kali, dia membuka lebar pintu, untuk mendapati istrinya yang sedang meminum wine sambil bersandar ke mejanya. “Kau minum wine di ruang belajar?” tanya Alexis, tidak menuduh. “Padahal kau bisa melakukannya di ruangan lain, selain ruang belajar. Itu bisa mengenai alat elektronik atau buku.” Ilyena berdeham dan menggeleng pelan. “Aku sedang beristirahat dari pekerjaanku.” “Kau baru saja bekerja atau kau baru saja sedang mencari tahu tentang aku?” Dengan ujung bibirnya yang terangkat, kali ini Alexis menggodanya. Ilyena mengerjapkan matanya. “Alexiso memberitahumu?”“Secara tidak langsung, iya. Semua riwayat p

  • Piutang Kesayangan    Alexiso

    “Katakan, apakah Teressa bertanya padanmu tentang sesuatu yang penting? Atau, kau mungkin memberitahunya tentang sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui. Aku akan menjadikanmu member Nimbus jika informasi yang kau berikan berguna,” ujar Alexis. Alexis tetap berada di dalam ruangan kaca tersebut, menatap ke luar ruangan kaca di mana Darios berlutut kepadanya. Melihat orang lain berlutut untuknya adalah sebuah hal yang normal di hidupnya. Dia bisa menghancurkan kehidupan siapa dalam sekali perintah. Darios meneguk ludahnya, untuk beberapa saat dia tidak menjawab, dia sedang memikirkan baik-baik jawabannya. Otaknya bekerja keras mencari setiap memori percakapannya dengan Teressa. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dia katakan pada Teressa atau Teressa bertanya dengan lugu seolah dia memang sudah tahu. “Apakah Teressa termasuk orang yang mengetahui proyek rahasia Red-Opal?” tanya Darios, menandakan dia sama sekali tidak yakin dengan jawabanny

  • Piutang Kesayangan    Dendam

    “Mereka tampan sekali. Semakin banyak pria tampan di rumah ini.” Ilyena melirik ke arah pelayan muda tersebut yang tampak tersipu dengan pria di luar sana yang mengobrol dengan santai. Ilyena sadar jika Alexis sedang memperketat penjagaan.“Nyonya!” Darmi baru menyadari kehadirannya, menoleh cepat ke arahnya. “Apakah kau akan sarapan? Chef Rion sudah menyiapkan makanan untukmu.” Ilyena menggeleng santai. “Aku akan sarapan di kantor, tolong bungkuskan untukku, ya! Oh, mungkin untuk Alexis juga.” Kedua pelayan muda tadi disenggol Darmi untuk segera kembali bekerja dan tidak mengintip para pria itu. Sementara Ilyena hanya tersenyum, dia tidak masalah dengan itu. Toh, sangat normal bagi pelayan muda tertarik pada orang-orang itu. Setelah mendapatkan bekal makanannya, dua kotak nasi, Ilyena pergi ditemani Marco. Dia tidak diizinkan pergi sendirian lagi sekarang setelah penculikan, dan juga penyerangan. Ilyena menatap Marco dari belakang dengan ragu. “Ap

  • Piutang Kesayangan    Rapat Mendadak

    Ilyena menatapi Alexis yang keluar dari kamar mandi dengan sedikit tergesa-gesa setelah mendapatkan informasi kalau pria yang bersama dengan Teressa, yang dilihat Ilyena memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan sosok Darios yang selama ini dimaksud Alexis. “Ya... Dia berambut pirang. Aku tidak ingat memperkerjakan pria berambut pirang di tim Delta. Seingatku ada yang berambut pirang di tim Gamma di Italia.” Ilyena mendengar percakapan Alexis di telepon, sepertinya dengan Frederick. Dia menguping sambil tetap berendam di sana. Dan setelah Alexis mengakhiri panggilannya, Alexis kembali lagi ke kamar mandi, kelihatannya ada yang membuatnya merasa terganggu. “Apa yang terjadi?” tanya Ilyena. “Itu mengingatkanku kalau salah seorang tim Gamma sempat mengunjungi Amerika beberapa Minggu lalu. Kelihatannya dia yang kau lihat bersama Teressa waktu itu. Itu menandakan kalau Teressa bukan hanya pernah memiliki hubungan dengan Darios saja.” Al

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status