Masuk
“...hanya putrinya yang tersisa?” Alexis mengulang pernyataan asistennya dengan alis mengerut.
“Benar.” Asistennya mengangguk. “Ilyena Borneo Sanchez, dia baru lulus kuliah, sedang menikmati waktu senggang sebelum wisuda. Dia tidak ikut di dalam penerbangan yang sama karena sedang berlibur bersama teman-temannya di luar kota. Sehingga dia terselamatkan dari kecelakaan penerbangan tersebut.” “Sudah lulus kuliah, ya?” Alexis mengangkat alisnya tertarik. “Benar, sekitar 22 tahun. Ilyena—“ “Cukup umur untuk menikah. Siapkan mobilnya. Kita akan menagih hutang ke kediaman Sanchez sekarang.” *** Pria tua berjas abu-abu itu membenarkan kacamatanya sekali lagi. Di balik kacamatanya, dia melirik wajah-wajah lapar yang penuh ketertarikan akan daging segar di depannya. “Mengingat kecelakaan itu merenggut kedua orang tua, bersama dengan kedua kakak laki-lakimu... maka kau adalah satu-satunya ahli waris yang sah berdasarkan hukum yang berlaku saat ini. Kau berhak atas semua aset bergerak dan aset tidak bergerak atas nama keluarga Sanchez.” Pengacara itu bicara dengan tegas seraya menatap meja di depannya. Ilyena menarik nafasnya dengan sedikit gemetar. Dia tahu, dirinya sudah mengulur waktu seminggu penuh dan menenggelamkan dirinya dalam duka setelah kecelakaan yang merenggut orang tua dan kedua kakak laki-lakinya. “Pak pengacara, jika boleh aku tahu, memangnya apa saja yang akan menjadi hak Ilyena?” tanya seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan, seolah tertarik dengan apa yang disisakan untuk keponakannya tersebut. “Memangnya asetnya masih bersih setelah kekacauan yang terjadi di perusahaan selama seminggu ini?” Seorang pria paruh baya lainnya dengan santai menyilangkan kaki. “Aku tidak yakin. Para petinggi jelas sangat panik sejak kabar kecelakaan itu diberitakan.” Ilyena melirik paman dan bibinya yang menunjukkan mata-mata lapar. Ilyena menatap meja di depannya dengan kosong, dia masih larut dalam kesedihan, tetapi ada perusahaan yang harus dipertahankan. Banyak kehidupan lain yang harus dipertahankan. “Itulah yang menjadi masalahnya. Ahli waris tidak hanya mewarisi aset yang ada. Tetapi juga mewarisi semua kewajiban yang berlaku, utang-utang korporasi yang masih berjalan juga perlu dilunasi.” Pamannya langsung melepaskan silangan kakinya dan duduk condong, menunjukkan keseriusannya. “Utang? Seberapa besar?” “Sayangnya cukup besar untuk membuat bank menyita seluruh aset keluarga ini dan menyatakan pailit dalam waktu beberapa hari ke depan.” Belum sempat si pengacara menjawab, suara berat dari arah pintu berhasil menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Alexis Genovese, berdiri di pintu ruangan tersebut dengan tenang. Matanya menyapu seluruh ruangan seolah menilai apakah tempat itu cocok untuk menjadi miliknya atau tidak. Matanya kemudian melahap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Matanya terfokus pada Ilyena, gadis yang tampak murung dengan mata sembab. Dia bisa mengenalinya dengan cepat. Gadis yang dibicarakan asistennya—Asher beberapa saat yang lalu di kantornya. Alasannya ke sini. Kemudian matanya melirik pria berjas abu-abu itu. “Ah, seorang pengacara. Beruntungnya aku datang di waktu yang tepat.” Alexis berjalan mendekati meja yang sekarang diselimuti keheningan. Diikuti dengan semua orang yang turut bangkit dari duduk-duduk santai mereka. “Maaf, siapa kau?” Pengacara itu mengerutkan dahinya. “Oh, maafkan aku, betapa lancangnya aku tidak memperkenalkan diriku sendiri. Aku Alexis Genovese. Aku di sini untuk menagih sejumlah hutang yang jatuh temponya sudah lewat beberapa hari.” Frederick menyusul di belakangnya, dia langsung menyerahkan dokumen yang dimaksud kepada pengacara keluarga Sanchez tersebut. Untuk menunjukkan bukti kepemilikan hutang keluarga Sanchez pada dirinya. Pengacara itu menerimanya dengan raut bingung. Jelas dia tidak tahu tentang ini meski kemungkinan besar dia yang mengurus segala urusan hukum keluarga Sanchez. Pengacara tersebut membaca dokumennya dengan teliti, berusaha mencari celah hukum. Namun, ekspresi wajahnya yang justru semakin cemas menunjukkan sesuatu yang tidak beres. “Ada apa, Pak William?” tanya Ilyena, dia jelas tak pernah menemukan pengacara keluarganya tampak begitu kebingungan. “Ini... Aku tidak tahu jika ayahmu meminjam uang sebanyak ini kepadanya tanpa sepengatahuanku.” Pak William menatap Ilyena dengan cemas dan ragu bisa menangani ini. Ilyena meneguk ludahnya. Dia tampak semakin kebingungan. Dia tak siap untuk ini semua. Keluarganya yang meninggalkannya seorang diri, bersama dengan aset dan hutang yang tak pernah dia pikirkan dia akan berurusan dengan hal ini sebelumnya. Tatapannya menatap paman dan bibinya dengan pasrah dan diam, secara tak langsung meminta pertolongan pada mereka. Namun yang dia dapatkan adalah wajah yang berpaling. Beberapa saat yang lalu mereka menunjukkan rasa iba dan duka, sekarang mereka berpura-pura tak mengenalnya. “Bagaimana, Pak Pengacara? Aku menunggumu,” ucap Alexis seraya melirik Ilyena sekali lagi, melihat bagaimana tak berdayanya gadis itu saat ini. “Untuk saat ini aset masih dibekukan bank sehingga tak ada yang bisa kita lakukan sebelum mengurus surat keterangan ahli waris. Karena tanpa hal ini, Ilyena tidak mempunyai hak dan kehendak apa pun untuk mengurus semua aset atau hutang,” jelas Pengacara. “Paman, bisakah bantu aku untuk ini?” tanya Ilyena, suaranya pelan, antara tidak enak dan sudah tahu jawaban apa yang akan dilontarkan pamannya selanjutnya. “Eh, kenapa mendadak jadi meminta batuanku? Aku... Aku tidak tahu apa-apa soal ini.” Pamannya menggaruk kepalanya dengan ragu, merasa tidak enak tapi tak ingin dilibatkan untuk sesuatu yang mungkin di luar kendalinya. Ilyena melirik bibinya, yang langsung menunduk dan memfokuskan perhatiannya pada ponsel yang ada di depannya. Membuat Ilyena merasakan kekecewaan berat pada keduanya. Padahal selama ini, mereka sering datang pada ayahnya Ilyena untuk meminta bantuan, dan ayahnya selalu membantu mereka. Namun begitu ayahnya tidak ada, dia tetap tak menerima bantuan dari keluarganya sendiri. Alexis memperhatikan dinamika keluarga tersebut. Bibirnya melengkung sebelah, dia rasanya pernah melihat situasi yang sama dan memahami apa yang sedang dirasakan Ilyena pada saat ini. “Aku turut prihatin atas kecelakaan pesawat tersebut. Aku memberimu waktu beberapa hari ini untuk tidak menagih hutang saat keadaan pasti menjadi tidak stabil untukmu. Tetapi jika aku tidak bisa mendapatkan uangku sekarang, kurasa aku bisa menawarkan sebuah bantuan untukmu.” Alexis menatap Ilyena intens, ingin melihat bagaimana reaksinya. Ilyena menatapnya balik, dia tentu akan melakukan apa saja yang disarankan. Toh, di sana masih ada pengacaranya, yang setidaknya masih akan mengurus urusan hukum keluarganya. “Karena pertama yang harus dilakukan adalah seperti kata Pak Pengacara, harus mengurus dulu surat keterangan ahli waris... maka selanjutnya adalah pernikahan. Kau akan menikahiku,” lanjut Alexis. Ilyena langsung mengerutkan alisnya. Jelas dia tersinggung dengan lamaran yang tiba-tiba, ajakan menikah yang seolah itu adalah hal kecil dan main-main bagi Alexis. “Apakah kau gila?!” Ilyena membentak kaget. Namun yang dia dapatkan selanjutnya adalah tertawa mengecek Alexis.Tetapi proses mereka keluar dari sana tetap tidak mudah. Meski sudah berada di dalam mobil, Ilyena membetulkan posisi duduknya sambil menoleh ke belakang di mana para tentara itu mulai berlarian ke arah mereka sambil menodongkan senjata. Ilyena memekik kala mereka berusaha menembaki kaca belakang. Alexis yang duduk tenang di sampingnya meluruskan pandangan Ilyena ke depan untuk tidak melihat apa yang terjadi, setidaknya agar dia tidak panik. Karena panik bisa membuat seseorang hilang akal. “Ayo kita jalan!” ujar Marco. “Bagaimana dengan Violet?” tanya Chris. “Dia akan tetap di sana.” Tanpa membalas lagi, Chris mulai melajukan mobilnya. Ilyena memekik lagi karena suara tembakan yang cukup dekat dengannya, itu membuat telinganya sakit. Dia menatapi kaca mobil anti peluru tersebut. Itu melindungi mereka. “Tetapi dia mengorbankan dirinya sendiri?” tanya Chris lagi. “Ya, kurang lebih begitu. Kita akan membebaskannya jika mereka berusaha men
Sudah ada tentara yang akan mendesak masuk ke ruangan mereka saat ini. Ilyena berjalan cepat ke jendela untuk melihat langsung ke luar, untuk melihat langsung bagaimana sebuah truk tentara sudah digerakkan untuk menangkap mereka saat ini juga. “Jadi, mereka memutuskan untuk mengeluarkan pemberitaan ini?” Alexis menghela nafasnya. “Kita harus segera pergi, Ilyena. Untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan.” Ilyena segera menghampiri Alexis lagi. Dia siap untuk pergi. Marco dan Chris sudah di sana, mereka saling memandang untuk beberapa saat, menunggu langkah selanjutnya. “Kau tahu cara terbaik keluar dari tempat ini sebelum kita ditahan?” tanya Alexis. “Aku tahu, kurasa. Aku punya kenalan yang merupakan staf hotel ini, dia pasti tahu sesuatu tentang jalan keluar yang tersembunyi,” jawab Marco cepat. “Kalian harus segera keluar dari sini. Kebetulan temanku sedang menuju ke sini. Sehingga aku bisa menggunakan alibi kalau yang berada di sini adalah aku dan temanku,” tambah
Tanpa pikir panjang, Alexis mendaratkan kecupan di sisi kepala Ilyena, di rambutnya. Tanpa memikirkan Violet yang akan menjatuhkan ponselnya dari tempatnya duduk di ujung ruangan. Dan suara barang jatuh berhasil membuat Alexis dan Ilyena menoleh. “Aku akan keluar.” Violet buru-buru mengambil ponselnya untuk keluar dari ruang tersebut untuk memberikan keduanya ruang. Namun, Ilyena juga langsung bangkit dari duduknya untuk kembali ke kasurnya. Alexis tidak mencegahnya, dia tahu caranya memberikan ruang untuk Ilyena saat ini. Ilyena duduk dan langsung meraih ponselnya, dia memikirkan sesuatu tentang lukanya, dia harus menutupi itu. Ilyena kemudian menelepon Cathlyn untuk meminta bantuannya. “Hey, Cath. Aku ingin tahu apakah aku bisa booking salon di tempatmu pagi-pagi sekali? Ya, sebelum aku ke kantor. Aku butuh potongan rambut yang baru untuk menutup keningku.” Alexis menoleh padanya, dia memperhatikan wajahnya Ilyena lagi. Dia bisa menebak jika dia berus
Bahkan ilyena tidak berselera untuk mengomelinya, dia hanya memutar bola matanya karena Alexis yang sekarang jelas berbeda dengan yang dia lihat tadi malam saat dia sekarat. “Aku mencemaskanmu.” Alexis duduk di sisi ranjangnya Ilyena sambil menatapnya. Ilyena menatapnya dan menghela nafasnya berat. “Beristirahatlah di tempatmu!” Alexis menatapnya beberapa saat. Saat ini Ilyena sama sekali tidak berselera pada lelucon apa pun itu. Hal yang dilaluinya semalam pasti sangat berat untuknya. Dan pria itu tidak memaksa, memberikannya ruang dengan kembali ke ranjangnya sendiri. Sepertinya untuk saat ini berada di ruangan yang sama bukanlah ide yang bagus. Tetapi Alexis tetap ingin melihatnya, tetap bisa mengawasinya dari dekat, untuk menjaganya. Ilyena lebih banyak tidur hari ini. Satu-satunya yang dia lakukan tidur karena denyut di telinganya sangat mengganggunya. Dan Alexis memanfaatkan saat-saat ilyena tidur untuk membuka laptopnya, dia bertukar pesan dengan
“Kau mendapatkan jahitan di keningnya? Berapa jahitan?” tanya Cathlyn. “Oh, Cathlyn!” Angel memelototinya lagi. “Aku senang kau baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir saat mengetahui ada penembakan di restoran kakekku, dan aku lebih kaget lagi ketika mendengar kau juga ada di sana di saat yang sama.” Ilyena hanya tersenyum simpul, dia tidak bisa banyak berekspresi saat ini. Dan seorang pria paruh baya, dengan rambut yang mulai beruban berjalan cepat ke arah Ilyena sambil memakai jas putihnya, menghampiri ilyena yang sudah menunggunya di depan ruangannya. “Nyonya Genovese?” Dokter tersebut kemudian tersenyum menyapanya. “Silahkan!” Dokter tersebut membukakan pintu untuk ilyena dan mempersilahkannya masuk lebih dulu. Dan Ilyena lantas masuk ke ruangan tersebut sambil memegang telinga kirinya lagi. “Apakah dia tertembak? Kudengar ada wanita yang ditembak. Aku berusaha memastikan kalau itu bukan Ilyena, tidak ada luka tembak di tubuhnya.” Angel terdengar
“Ambulansnya sudah datang,” ucap Hanbin. Hanbin masih menggenggam erat ponselnya, dia menatapi keadaan yang kacau tersebut. Dua orang VVIP, Tuan dan Nyonya Genovese sekarang tergeletak di lantai. Violet menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Ilyena, jari jemarinya dengan tekun menyingkirkan rambut agar tidak menyentuh luka Ilyena, sesekali dia juga menyeka darah di wajah Ilyena dengan sebuah scarf miliknya sendiri. Wajah Ilyena yang dipenuhi darah sebelumnya sekarang terlihat lebih baik, meski masih ada jejak darah di sisi wajahnya. Hanya ada dua yang ambulans yang dikerahkan ke sana, karena hanya itu yang tersedia saat ini. Alexis dievakuasi paling awal, paramedis segera memberikannya pertolongan tambahan yang bisa mereka lakukan seperti memberikannya tabung oksigen. “Istriku,” bisiknya pelan saat paramedis hendak menaikkan tandunya. “Ya, Tuan?” Marco dan Chris segera membungkuk ke arahnya secara bersamaan. “Apa yang terjadi pada Ilyena?”







