MasukElena gave her all to her marriage—her time, her heart, her pride. But for Daniel and his family, it was never enough. Mocked for being barren and ignored by the man she loved, she finally walked away, signing the divorce papers with tears in her eyes. What Daniel never knew was that the day she left, Elena carried a secret—their child. Years later, fate throws them back into each other’s lives. Daniel, tormented by regret, realizes the depth of his mistakes. Elena, stronger and determined to protect her baby, faces the man who once broke her. Love, betrayal, and second chances collide as Daniel fights to win back the woman he lost and the child he never knew he had.
Lihat lebih banyak“Aku sudah bilang jangan jemput dengan baju seperti itu,” keluh bocah 6 tahun itu dengan wajah kesal. Dia melempar tas sekolahnya ke kursi di ruang tamu.
“Mama kan sambil antar makanan, Vargan. Terlalu lama kalau pulang dulu ganti baju,” jawab Elara Mahira sambil menatap anak sambungnya dengan lembut.
“Tapi aku malu!” sergah Vargan sambil menendang kesal meja di depannya. “Kenapa sih Papa bisa menikah dengan wanita miskin seperti kamu!”
Elara terpaku mendengar ucapan Vargan. Anak itu selama ini telah dia besarkan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Tapi entah kenapa belakangan jadi menjadi seperti ini.
Namun, Elara tak bisa berbuat banyak. Dia menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. Akhirnya, dia hanya bisa menghela napas dan berkata, “Mama pergi antar makanan lagi ya. Di meja makan udah ada makanan, lebih baik kamu makan dan istirahat.”
“Ah, pasti telur lagi,” gerutu Vargan sambil melangkah kasar ke dalam, meninggalkan Elara di ruang tengah.
Sekali lagi, Elara menghela napas, lalu melangkah keluar untuk kembali bekerja.
Elara kembali melaju dengan sepedanya usai notifikasi aplikasi pengantar makanan di ponselnya berbunyi. Perasaannya kembali bersemangat melihat pesanan besar itu.
“Orderan besar begini, semoga aja bukan penipu. Lumayan uangnya,” gumam Elara di tengah jalan.
Usai mendatangi restoran tepat makanan dipesan, Elara kembali melaju menuju rumah pelanggannya. Saat dia tiba di depan rumah mewah, dia merasa sedikit gugup. Ini adalah salah satu pesanan terbesar hari ini, dan dia tidak ingin membuat kesalahan.
"Kamu harus berani, Elara. Ini demi suami kamu biar bisa berobat dan bisa sembuh." Kata-kata itu merupakan penyemangat dari Elara untuk dirinya sendiri.
Elara mengambil napas dalam-dalam, lalu memasuki rumah mewah itu. Dia langsung disambut oleh suara musik dan tawa orang-orang elit yang sedang berkumpul di sana.
'Senang ya jadi mereka, bisa tertawa lepas tanpa beban seperti itu,' batin Elara.
Rata-rata yang ada di sana sepertinya seumuran dengan Elara. Mereka bisa bersenang-senang, sedangkan Elara harus berjuang agar bisa hidup dan mendapatkan sesuap nasi.
Saat dia mencari tuan rumah, dia melihat seorang pria yang sedang duduk di sofa, dikelilingi oleh beberapa orang wanita cantik.
Elara mengernyit, dalam hatinya rasanya Elara merasa sangat familiar dengan pria itu.
"Kamu benar-benar luar biasa, Darvian. Bisa-bisanya kamu betah menyamar jadi pria lumpuh dan miskin."
"Benar itu, kalau aku mungkin udah cabut dari lama," tambah yang lain.
Elara masih berdiri di belakang, tangan Elara mengepal dengan mata yang terasa mulia panas. Darvian, itu jelas-jelas adalah nama suaminya.
Darvian tersenyum angkuh. "Awalnya sih nggak betah ya. Tapi lama-lama kok betah juga bisa punya boneka hidup yang bisa jadi LC gratis buat tuntasin nafsu. Belum lagi dia dengan bodohnya mau kerja banting tulang dan mau ngerawat anakku yang nakal itu, jadi aku nggak perlu nafkahin dia."
"Kenapa nggak jujur aja sama dia kalau kamu ini sebenarnya anak orang kaya?" Tanya seorang wanita yang duduk paling dekat dengan Darvian.
"Aku nggak mau rugi kalau dia malah numpang hidup sama aku. Lagi pula senang rasanya bisa lihat dia kecapekan tiap hari," tambah Darvian.
Dan semua kata-kata yang terucap dari bibir Darvian terasa begitu menyakitkan bagi Elara.
Elara merasa seperti disambar petir. Darvian yang lumpuh? Darvian yang tidak bisa berjalan? Darvian yang selalu mengatakan bahwa dia tidak bisa bekerja karena sakit?
Tapi ternyata dia justru sangat sehat dan sangat kaya, sungguh lucu cara Darvian mempermainkan ketulusan Elara.
Elara merasa seperti telah ditipu. Dia melihat Darvian yang sedang tertawa dan bersenang-senang dengan orang-orang elit itu. Dia melihat wanita lain yang duduk di sebelah Darvian, memegang tangannya dengan mesra.
Bahkan Darvian tak menolak saat wanita itu begitu berani mengecup bibir Darvian.
'Terkutuk kamu Darvian!' Elara memalingkan wajah, Elara tak kuasa melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain.
Elara merasa sakit hati yang luar biasa. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan semua yang ada di sana. Tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa berdiri diam, menatap suaminya yang ternyata telah menipunya selama ini.
Karena tak tahan ada di tempat ini terlalu lama, Elara memutuskan untuk langsung mengantarkan makanan ke mereka.
"Permisi, orderan atas nama Erna." Elara meletakkan makanan itu di tas meja.
"Iya, makasih ya." Tuan rumah yang bernama Erna itu begitu tak ramah.
Darvian melihat Elara, dan untuk sekejap, mereka bertatap mata.
Elara melihat kilatan kejutan di mata Darvian, tapi itu tidak berlangsung lama. Darvian hanya tersenyum, lalu kembali bersenang-senang dengan orang-orang elit itu seolah adanya Elara di sana dan Elara sudah tahu segalanya bukanlah hal perlu dia khawatirkan.
"Darvian, bukannya dia istri kamu?"
Elara masih mendengar teman Darvian bertanya seperti itu.
"Iya kayaknya, dia kan emang pengantar makanan," balas Darvian begitu cuek.
"Kamu nggak takut dia marah atau justru udah tahu segalanya?" tanya yang lain.
Darvian justru tertawa singkat. "Biarin aja, lagi pula dia apa tanpa aku."
Elara yang masih mendengar semua yang mereka bicarakan meneteskan air mata.
"Selamat, Darvian. Kamu akan kehilangan boneka mainanmu ini," gumam Elara dengan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Elara merasa seperti telah kehilangan segalanya. Dia berbalik, lalu pergi dari sana, meninggalkan semua kebohongan dan sakit hati di belakangnya.
Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan besok, atau bagaimana hidupnya setelah ini. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak akan lagi kembali menjadi wanita bodoh yang terus bertahan di samping pria penuh kebohongan itu.
Elara mengayuh sepedanya dengan keras. Angin sore menerpa wajahnya, tapi tidak mampu menghilangkan sesak di dadanya. Jalanan yang biasanya terasa biasa kini tampak buram karena air mata yang terus menggenang di matanya.
Sesampainya di rumah, suasana terasa sunyi.
Elara melangkah masuk perlahan, lalu pandangannya jatuh pada Vargan yang sedang tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi yang masih menyala kecil. Dia kembali mengingat ucapan pahit bocah itu tadi siang.
Elara tertawa pelan, pahit, lalu melangkah ke kamar.
"Aku ini sebenarnya apa selama ini?" bisiknya lirih.
Dia rela bekerja siang malam, kehujanan, kepanasan, hanya demi pria yang ia pikir sedang berjuang bersamanya. Bahkan anak Darvian pun ikut dia urus tanpa pernah mengeluh.
Padahal, Elara sama sekali tidak pernah mempermasalahkan soal uang atau kekayaan. Ia tidak peduli jika harus hidup sederhana, selama semua yang mereka jalani itu tulus.
Tapi ternyata selama ini dirinya hanya diperdaya.
Semua perhatian, semua perjuangan, dan semua cinta yang dia berikan ternyata hanya dijadikan bahan tertawaan di belakangnya. Dirinya hanya dianggap sebagai wanita murahan yang tidak akan bisa hidup tanpa Darvian.
Tangis Elara jatuh lagi. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
"Aku bodoh..." suaranya bergetar. "Aku benar-benar bodoh."
Elara menutup wajahnya sambil menangis pelan. Semua pengorbanan yang selama ini dia banggakan tiba-tiba terasa begitu memalukan.
Beberapa menit kemudian, Elara menghapus air matanya kasar.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
"Cukup!" Elara berdiri, tangannya terkepal. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan di rumah ini, tidak ada cinta, tidak ada kejujuran, hanya kebohongan yang menjijikkan.
Dengan cepat, Elara mengambil tas seadanya, dia tidak peduli pada barang-barang lain, semua itu tidak berarti apa-apa dibanding harga dirinya yang telah diinjak-injak.
Rumah itu sunyi, Darvian tidak ada, dan itu kesempatan besar untuk Elara pergi tanpa gangguan.
Elara melangkah keluar kamar tanpa ragu, ia melewati ruang tengah, lalu sekilas melirik ke arah Vargan yang masih tertidur lelap, tanpa rasa kasihan Elara pergi dan tak peduli meskipun Vargan akan sendirian di rumah.
Toh anak itu adalah anak Darvian, bukan anak Elara.
Chapter 75 — A Dangerous SecretVanessa's POVThe moment I heard Ben's footsteps heading toward Elena's bedroom door, my heart skipped a beat.I quickly moved away from the door and started walking down the hallway, trying to look as normal as possible.I didn't want them to know I had been standing there.Listening.If Ben opened the door and saw me lingering outside, it would be obvious that I had been eavesdropping on their conversation.And that would ruin everything.So I walked a little farther down the hallway just in time.The door opened behind me.I continued walking calmly without turning around, as though I had simply been passing through the corridor.It wasn't until I turned the corner that I finally stopped.The calm expression on my face slowly disappeared.Leaning against the wall, I let out a long breath.My eyes narrowed."So... Elena is pregnant?" I murmured softly.The words felt strange on my tongue.Pregnant.For a moment, I stood there, thinking about everythin
Chapter — A Silent PromiseElena’s POVThe bedroom remained quiet after my call with Eli and Ela.I sat on the bed, loosely holding my phone in one hand. My thoughts were all over the place. Even though hearing my children's voices had made me happy, it had also left my heart feeling heavy.Slowly, I placed my phone beside me and leaned back against the pillows, staring up at the ceiling.Eli and Ela had said they managed to record Daniel.Solid evidence.Their lawyer believed they had a very good chance of winning the case.That news should have completely relieved me.And part of me truly did feel relieved.But another part of me was still worried.Winning a case against someone like Daniel would never be easy.Daniel was manipulative.Dangerous.He knew how to twist situations to his advantage.Slowly, I sat upright and rubbed my forehead.Maybe... what we really needed was a very good lawyer.Someone experienced.Someone who knew how to deal with people like Daniel.Suddenly, an i
Chapter 73 — A Broken HeartElena’s POVI walked quickly toward the bed, my legs trembling under the weight of everything I was feeling. The moment I reached the edge of the bed, I collapsed onto it heavily, as if all the strength in my body had suddenly disappeared.Tears were already streaming down my cheeks.I gripped the bedsheet tightly in my hands as my chest rose and fell painfully.Why…Why is my life always like this?I closed my eyes and let out a silent sob.“Is this really my destiny?” I whispered weakly.My voice trembled.“Can’t I have just one moment of peace?”Everything in my life felt complicated.Everything felt painful.Every time I thought things might finally get better… something happened and destroyed everything.Slowly, I placed my hand on my stomach.My baby.The only thing giving me strength now.But even this innocent little life was already surrounded by problems.“Why does everything have to be so frustrating…” I whispered through my tears.At that momen
Chapter 72 — A Mother’s JudgmentElena’s Point of ViewI was still standing in the middle of the living room when the front door opened again.My heart was already heavy from everything that had just happened. Vanessa was still leaning weakly against the elegant woman, pretending to be injured, while the woman continued staring at me as if I was the worst person she had ever seen.Footsteps entered the house.Strong. Familiar.Ben.The moment he walked into the living room, the woman’s expression changed immediately. The cold anger on her face disappeared, replaced by a bright smile.“Ben!” she called warmly.Ben looked surprised for a second, then his face immediately lit up.“Mom?”He quickly walked toward her.They hugged each other as if they had not seen one another in a long time.I remained standing there silently, watching them, feeling like I did not belong in that room.For a moment, everything between them seemed normal.Then his mother slowly pulled away from the embrace.
Chapter 16 : The Unexpected EncounterElena’s POVThe morning was soft… one of those peaceful mornings that made everything feel almost safe.Sunlight slipped gently through the curtains, and the sound of my children’s laughter filled the house.Eli and Ella were already getting ready for school, p
Chapter Five – Her DecisionElena’s POVI sat in the hospital room for a long time after hearing the news, the word pregnant repeating itself in my mind in a way that refused to fade no matter how many times I tried to silence it.At first, I could not believe it, and my hands moved slowly, almost
Chapter Four – The GoodbyeElena’s POVWhen I returned to the table, I tried my best to keep my head high and sit as though nothing had happened, even though my composure felt like it was quietly cracking from the inside and my eyes still burned from the tears I had refused to let fall in front of
Chapter Three – The CornerElena’s POVThe moment Daniel dragged me into the corner, my heart began pounding so loudly that I was certain anyone nearby could hear it, the sound echoing in my chest as his grip tightened around my arm with a force that made me wince, though I said nothing, because th
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.