LOGIN"Z-Zacky... B-beneran harus melakukan ini...?" cicit Thalia lirih dengan suara gemetar, matanya mendongak menatap sosok tegap Zacky yang duduk mematung di hadapannya.
Wajah Thalia memerah sempurna hingga ke pangkal lehernya. Posisinya yang masih terduduk canggung di atas karpet tebal tepat di depan celana kain Zacky membuat napasnya terasa semakin sesak. Aroma maskulin yang bercampur gairah panas yang menguar dari tubuh Zacky seolah mengunci se"Ini bukan imbas inflasi atau blokade. Ini manipulasi lapis ganda yang sangat rapi. Lihat rincian vendor kapal yang mereka gunakan." Thalia kembali menunjuk sebuah nama perusahaan di layar. "Vendor logistik ini baru saja diakuisisi sebulan yang lalu oleh sebuah perusahaan cangkang di negara bebas pajak," jelas Thalia. Rahang Zacky mulai mengeras. Matanya mengikuti arah telunjuk istrinya. "Mereka memanipulasi biaya logistik dengan memalsukan invoice," lanjut Thalia dengan napas sedikit memburu karena antusias. "Uang ratusan miliar yang mereka minta besok pagi tidak akan digunakan untuk bahan bakar atau menyewa kapal. Dana itu akan langsung ditransfer ke rekening perusahaan cangkang ini, lalu dicuci kembali. Kalau kamu menyetujui pencairan dana darurat besok, Alvarez Group akan kehilangan ratusan miliar yang masuk tepat ke kantong para penyabotase," ucap Thalia tegas, penuh keyakinan. Zacky terdiam. Otak jeniusnya langsung menghubungkan setiap datang yang ditemukan istr
"Berikan tablet itu padaku, Pak Ivan," pinta Thalia dengan tenang, menunjukkan otoritas mutlak yang membuat Ivan seketika membeku di ambang pintu. Zacky langsung menoleh, rahangnya mengeras kaku. Kilat matanya yang tadi penuh amarah seketika berubah menjadi tatapan peringatan yang protektif. "Thalia, kembali ke ranjang. Ini masalah internal perusahaan, skala sabotase ini terlalu rumit. Aku tidak mau kamu kelelahan memikirkan angka dan membuat perut mu kembali mual," perintah Zacky dingin, melangkah maju ingin menghalangi pandangan istrinya dari tablet. Namun, Thalia sama sekali tidak mundur. Thalia menyingkirkan lengan Zacky dengan sentuhan lembut, lalu mendongak menatap manik mata hitam suaminya. "Aku istrimu, Zacky. Dan berdasarkan kesepakatan negosiasi kita sepuluh menit yang lalu di atas ranjang, aku masih asisten pribadimu yang bekerja dari penthouse ini, bukan?" ucap Thalia penuh keberanian. Senyum manis tersungging di bibirnya membuat dada Zacky bergemuruh. "Lagipul
"Zacky! Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" pekik Thalia terkejut, refleks mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh suaminya demi menjaga keseimbangan. "Ma, nikmati tehmu. Aku dan istriku ada 'negosiasi' penting yang harus diselesaikan di dalam kamar," pangkas Zacky tanpa menoleh pada ibunya, melangkah lebar dan tegap menuju kamar utama. Tamara hanya terkekeh pelan sambil menyesap tehnya, sama sekali tidak berniat menghentikan kelakuan putranya. "Hati-hati dengan cucu Mama, Zacky!" serunya dari ruang tamu. Begitu pintu kamar utama tertutup dan terkunci rapat melalui sensor otomatis, Zacky berjalan mendekati ranjang raksasa di tengah ruangan. Pria itu menurunkan tubuh Thalia dengan sangat perlahan dan hati-hati, memastikan punggung istrinya bersandar nyaman di atas tumpukan bantal sutra. Zacky tidak langsung menyingkir. Pria dominan itu justru menindih separuh tubuh Thalia dengan membagi berat badannya pada kedua siku kekarnya. Wajahnya menunduk hingga hidung merek
Thalia menahan senyum, kepalanya langsung menoleh ke arah Zacky yang tampak memejamkan matanya sejenak. Pria itu menghela napas dengan sangat kasar hingga dadanya yang bidang naik turun. Rahangnya berkeletuk kaku mendengar alasan yang terdengar konyol namun mematikan itu. "Alasan macam apa itu, Ma? Mengawasi hormonku?" desis Zacky dengan nada dingin andalannya. "Aku hanya sedang memastikan istri dan anakku aman dari dunia luar. Tidak ada yang salah dengan insting melindungiku." "Melindungi dan memenjara itu beda tipis, Zacky Farelio," tegur Tamara santai, lalu duduk di atas sofa tunggal. "Mama tidak akan membiarkan cucu Mama lahir dari ibu yang stres karena dilarang menghirup udara luar dengan bebas." Zacky menggeram pelan. Ia tahu betul, berdebat dengan Nyonya Tamara Alvarez adalah hal yang paling sia-sia di muka bumi ini. Sisi keras kepala ibunya tidak akan pernah bisa ditundukkan. Pria itu memutar bola matanya sedikit, menyerah pada situasi. "Terserah Mama. Kalau
Thalia melangkah maju mendekati Zacky tanpa ragu sedikitpun. "Sejak semalam, sejak ketukan Pak Ivan di pintu, kamu berubah, Zacky. Kamu tidak sedang mengkhawatirkan kesehatanku. Kamu sedang mewaspadai sebuah ancaman." Ivan yang menyadari perdebatan itu segera menunduk hormat dan mundur, meninggalkan pasangan itu di ruang tamu utama. Zacky menatap Thalia dengan napas yang menderu kasar. Ia membenci kenyataan bahwa istrinya kini terlalu pintar dan berani untuk dibodohi dengan alasan kesehatan. "Aku bilang duduk, Thalia," desis Zacky melangkah maju, memangkas jarak mereka. "Aku bukan lagi wanita penakut yang bisa kamu kurung di dalam sangkar emas tanpa penjelasan, Zacky," bantah Thalia tegas, Ia mendongak membalas tatapan tajam pria itu. "Aku istrimu. Aku ibu dari anakmu. Kalau ada sesuatu di luar sana yang mengancam kita, aku berhak tahu." Melihat keberanian yang berkobar di manik mata Thalia, dada Zacky bergemuruh liar. Rasa bangga, cinta, dan gairah seketika bercampur
"Zacky, kenapa kita harus berkemas secepat ini? Langit bahkan belum sepenuhnya terang," pangkas Thalia. Tangannya menahan lengan kokoh suaminya yang sedang mengancingkan kemeja hitam dengan gerakan kaku dan terburu-buru. Thalia duduk di tepi ranjang dengan kening berkerut dalam. Baru beberapa jam yang lalu mereka tertidur dalam kehangatan, dan kini suasana kamar utama resort di Danau Comoro itu dipenuhi ketegangan yang sangat pekat. Beberapa pengawal wanita dengan cekatan membereskan seluruh barang bawaan Thalia, sementara Ivan berdiri bersiaga di ambang pintu dengan wajah sepucat kertas. "Udara danau di pagi hari terlalu dingin, Thalia. Kelembabannya tidak baik untuk trimester pertama mu," balas Zacky datar. Pria itu tidak menatap mata istrinya, tangannya justru sibuk meraih mantel tebal berbahan wol dan langsung menyampirkannya ke bahu Thalia. "Tapi Mama baru saja tiba semalam. Kita bahkan belum sarapan bersamanya, Zacky. Lagipula, suhu pemanas di kamar ini sangat







