ANMELDEN“Apa maksudnya, Pak Ivan?” tanya Thalia penasaran mendengar kata-kata Ican yang terakhir.
“Ehm.. Itu, nanti anda juga akan tahu nona Thalia.. Suatu saat Pak Zacky akan memberitahu anda..” ucap Ivan, ia sepertinya keceplosan mengungkapkan sesuatu pada Thalia. "Baiklah.. Terima kasih banyak, Pak Ivan..." bisik Thalia tulus. "Terima kasih sudah selalu membantu masalah saya.." "Sudah menjadi tugas saya, Nona Thalia. Kalau begitu sThalia nyaris tidak percaya kalau Zacky sudah memesan makan siang untuk mereka berdua dengan menu kesukaannya. “Zacky sebenarnya gak perlu kayak gitu..” cicit Thalia. Tok! Tok! Belum sempat Zacky menjawab, pintu ruangan diketuk pelan, tak lama pintu terbuka pelan, sebelumnya Zacky telah membuka kunci otomatis pintu itu. Ivan melangkah masuk dengan di ikuti pelayan yang membawa sebuah troli makanan kecil yang ditutupi tudung saji stainless steel. "Permisi, Pak Zacky, Nona Thalia. Ini pesanan makan siang Anda berdua," sapa Ivan profesional, mempertahankan wajah datarnya agar Thalia tidak merasa canggung. Pelayan perwakilan restoran menata beberapa piring hidangan di atas meja di hadapan Thalia dan Zacky. Begitu tudung saji dibuka, aroma harum hidangan tumis ayam mete, sup iga bening yang gurih, serta capcay seafood segar langsung mem
“Tapi Pak Zacky.. Mmpphhh..!” protes Thalia terkunci ciuman Zacky. Zacky membungkuk lebih dalam, melumat lembut bibir ranum Thalia yang gemetaran, menyalurkan seluruh rasa cinta, posesif, dan janji perlindungan yang mendalam. Thalia memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya terulur meremas bahu lebar Zacky, pasrah dan larut dalam sentuhan pria itu meskipun jurang takdir di depan mereka masih dipenuhi misteri. "Z-Zacky... Nanti ada orang yang masuk..." bisik Thalia terbata-bata dengan napas memburu begitu Zacky perlahan melepaskan tautan bibirnya. Ibu jari tegap Zacky terulur mengusap lembut bibir ranum Thalia yang tampak sedikit bengkak dan basah. Tatapan matanya begitu hangat, menyapu setiap sudut wajah Thalia yang masih merona dengan sisa-sisa jejak air mata. "Tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku, Thalia," sahut Zacky dengan suara bass yang berat dan tenang. "Apalagi saat pint
Thalia memaksa dirinya bangkit, membasuh wajahnya di kamar mandi sebelum akhirnya kembali duduk di kursi kerjanya untuk melanjutkan memeriksa laporan, mencoba mengabaikan rasa sakit yang membakar jiwanya. Bip... Cklek! Pintu sensor otomatis ruangan CEO mendadak terbuka lebar. Langkah kaki tegap yang sangat cepat dan terburu-buru bergema di atas lantai marmer. Sosok tegap Zacky melangkah masuk dengan jas yang sudah dilepas, lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, dan dasinya tampak sedikit longgar. Wajah tampan pria itu dipenuhi rasa cemas dan amarah yang belum padam. Manik mata hitamnya yang tajam langsung menyapu ke sudut kiri ruangan, terkunci penuh pada sosok Thalia yang duduk kaku di depan laptopnya. "Thalia!" panggil Zacky dengan suara bass-nya yang berat dan terengah-engah. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zacky melangkah lebar mengikis ja
“Apa maksudnya, Pak Ivan?” tanya Thalia penasaran mendengar kata-kata Ican yang terakhir. “Ehm.. Itu, nanti anda juga akan tahu nona Thalia.. Suatu saat Pak Zacky akan memberitahu anda..” ucap Ivan, ia sepertinya keceplosan mengungkapkan sesuatu pada Thalia. "Baiklah.. Terima kasih banyak, Pak Ivan..." bisik Thalia tulus. "Terima kasih sudah selalu membantu masalah saya.." "Sudah menjadi tugas saya, Nona Thalia. Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya," pamit Ivan membungkuk hormat sebelum melangkah keluar dari ruangan. Setelah Ivan kembali ke ruangannya, suasana didalam ruangan terasa hening. Thalia mencoba fokus pada tumpukan berkas dokumen, memeriksa laporan keuangan bulanan di layar komputer. Namun, baru saja jari tangannya menyentuh keyboard, suara dering telepon kabel di atas meja kerja Zacky mendadak berbunyi nyaring Tiiit! Tiiit!
Thalia membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Tamara, lalu pada Joshua yang masih menatapnya kaku tanpa ekspresi.Saat Thalia berbalik dan hendak melangkah melewati ambang pintu, sebuah cengkram jemari besar yang panas menyambar pergelangan tangannya dengan sangat erat."Thalia, tunggu! Jangan pergi!" cegah Zacky dengan nada perintah yang panik dan terdesak."Kak Zacky! Mau ke mana?!" pekik Sabrina cepat.Sebelum Zacky sempat menarik Thalia ke dalam pelukannya, Sabrina sudah melompat dan merengkuh pinggang tegap pria itu dari samping, memeluk tubuhnya dengan sangat erat sampai langkah Zacky terhambat."Jangan kejar cewek itu, Kak Zacky! Biarkan saja dia pergi! Kak Zacky kan harus makan siang bareng aku, Mama dan Papa!" jerit Sabrina manja, tangannya semakin memperketat pelukannya di pinggang Zacky."Lepaskan aku, Sabrina!" bentak Zacky murka, mencoba menghempaskan pelukan Sabrina.Thalia sempat menolehkan ke
"T-Tante Tamara... Sa-saya..." cicit Thalia terbata-bata dengan wajah pucat pasi. Tubuh gadis itu seketika menegang kaku di atas kursi saat menyaksikan Zacky dan Sabrina berdiri di ambang pintu ruangan VIP. Suasana hangat yang sebelumnya terasa dimeja makan itu seketika menguap, mendadak berganti menjadi sangat dingin dan mencekam. "Jaga ucapan kamu, Sabrina!" ucap Tamara dengan suara tegas yang membentak keras, berdiri dari kursinya dengan raut wajah penuh amarah yang jarang sekali ia perlihatkan. "Siapa yang mengajarimu berbicara kasar dan tidak beretika seperti itu?! Mama yang mengundangnya datang makan siang disini! Dia tamu kehormatan Mama.." "Tamu kehormatan?!" pekik Sabrina semakin tinggi, matanya menatap Thalia dengan kilatan benci yang luar biasa. "Ma, Mama sadar nggak sih siapa cewek ini?! Dia itu cuma asisten pribadi biasa di kantor Kak Zacky yang sukanya menggoda dan cari perh







