LOGINPintu kamar VIP kembali tertutup rapat. Suara jeritan histeris Sabrina perlahan menghilang di kejauhan koridor, menyisakan suasana hening yang berat di dalam ruangan. Nyonya Tamara terduduk lemas di sofa ruang tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak pelan. Rasa syok dan kekecewaan yang mendalam terpancar jelas dari bahunya yang gemetaran. Thalia menghembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sempat mengepung dadanya. Ia melangkah mendekati Nyonya Tamara, lalu berlutut perlahan di samping sofa wanita paruh baya tersebut. "Mama..." panggil Thalia lembut, mengulurkan tangannya dan mengusap jemari Nyonya Tamara dengan penuh rasa iba. "Mama yang sabar ya..." Nyonya Tamara menurunkan tangannya, menatap wajah cantik Thalia dengan mata yang sembab oleh air mata. Rasa bersalah seketika memenuhi hati Nyonya Tamara saat mengingat bagaimana ia dulu sempat meragukan Thalia dan membela S
”Zacky... Tunggu! Kamu modus aja nih!” protes Thalia sambil mendorong tubuh Zacky. “Lagian, aku kan kesana buat bantu kamu..." bisik Thalia lirih, mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkannya di leher tegap pria itu. “Tetap saja tidak patuh! Jadi hukuman setiap hari berlalu..” Tangan Zacky menarik tubuh Thalia merapat ke tubuhnya. Rasa bahagia dan cinta terlihat tulus dari mata coklatnya. "Baiklah... Kalau Pak CEO mau kasih hukuman... Aku gak bakal lari kok." Zacky menyunggingkan senyum sensual yang sangat memikat. Tanpa memberikan celah sedikitpun, pria itu menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman yang sangat dalam, panas, dan memabukkan di atas bibir Thalia. "Mmphh... Zacky..." desah Thalia halus, membalas tautan bibir pria itu dengan penuh rasa cinta mendalam. Zacky mengangkat tubuh ramping Thalia ke dalam gendongannya tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Langkah tegap pria itu mem
Thalia duduk di kursi belakang, meremas flashdisk hitam di tangannya sementara Ivan fokus mengemudi di balik kemudi menuju Rumah Sakit Medika Alvarez tempat Sabrina dirawat. "Pak Ivan, tolong hubungi Pak Zacky," pangkas Thalia dengan nada suara sangat yakin. "Minta Pak Zacky datang langsung ke kamar VIP Sabrina sekarang juga. Kita bongkar semuanya hari ini di depan Nyonya Tamara."Ivan melirik melalui kaca spion dalam, menyunggingkan senyum tipis kagum. "Sudah dilaksanakan, Nona Thalia. Pak Zacky sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama tim pengaman utama.""Bagus," pangkas Thalia dingin.Beberapa menit kemudian, kendaraan mereka tiba di pelataran VIP Rumah Sakit Medika Alvarez. Thalia melangkah turun dengan penuh percaya diri. Blazer abu-abunya terpasang rapi, dan matanya memancarkan keberanian yang nyata.Di koridor khusus lantai teratas, Zacky sudah berdiri tegap bersama dua pengawal pribadi. Begitu melihat Thalia melangkah mendekat, pandangan mata pekat Zacky sek
Thalia mengangkat kepalanya mantap. "Aku akan pergi menemui Maya sekarang, Pak Ivan."Zacky seketika berdiri dari kursinya. "Tidak, Thalia. Itu terlalu berbahaya. Kita tidak tahu apakah ini jebakan baru lagi.""Zacky, dengarkan aku," potong Thalia cepat, melangkah mendekati meja kerja Zacky tanpa rasa ragu.Thalia menatap lurus manik mata hitam Zacky dengan keberanian yang sangat nyata. "Maya minta ketemu aku karena dia merasa bersalah sama aku. Kalau kamu atau Pak Ivan yang datang dengan pengawalan ketat, Maya pasti bakal takut dan tutup mulut lagi. Biarkan aku yang bicara sama dia.""Thalia—""Aku gak bakal sendirian, Zacky," tegaskan Thalia dengan senyuman percaya diri. "Pak Ivan bisa ikut dan berdiri di luar kamar. Aku cuma butuh lima belas menit untuk dengar pengakuan Maya."Zacky menatap Thalia cukup lama. Rasa khawatir yang luar biasa berkecamuk dalam hatinya, namun melihat keteguhan dan keberanian yang jelas dari mata cokelat gadisnya, Zacky akhirnya menghembuskan napa
Thalia tersenyum tipis. Ia melangkah mendekati meja kerja Zacky, meletakkan map berkas di atas meja. "Ini berkas yang kamu minta, Zacky," goda Thalia dengan mengedipkan matanya manis.Zacky meraih pergelangan tangan Thalia, menarik gadis itu pelan hingga berdiri tepat di samping kursinya. Tangannya merayap ke pinggang ramping Thalia, merengkuhnya posesif."Jangan menggoda ku di jam kerja, Thalia," pangkas Zacky kaku, meski sudut bibirnya terangkat tipis. "Kamu tahu persis sanksinya.""Aku kan cuma menjalankan peran sebagai asisten yang baik, Zacky," bisik Thalia terkekeh pelan. Ia mengulurkan tangannya, merapikan letak dasi hitam yang dipakai Zacky. "Gimana perkembangan laporan Pak Ivan soal Maya dan Sabrina tadi pagi?"Raut wajah Zacky kembali serius. Tangan besarnya mengusap punggung Thalia melalui kain blazer."Ivan sudah memeriksa rekaman CCTV lantai basement dua dari sudut lain," lapor Zacky datar. "Maya memang dipukul sampai pingsan oleh seseorang yang mengenakan pakai
Hentakan demi hentakan yang semakin memuncak membawa mereka berdua ke ambang batas kenikmatan. Dalam satu hentakan paling dalam dan bertenaga dari Zacky disambut jepitan kencang dari tubuh Thalia, keduanya mencapai puncak klimaks bersamaan dengan erangan nikmat yang bergema memenuhi seluruh sudut kamar utama penthouse."Aarrgghhh!"Tubuh Thalia terkulai lemas di dada bidang Zacky. Napas keduanya memburu hebat, bersahutan di tengah keheningan malam yang hangat.Zacky merengkuh tubuh ramping Thalia erat-erat, mendaratkan ciuman-ciuman halus yang sangat protektif di pucuk kepala, dahi, hingga kelopak mata gadisnya yang terpejam kelelahan namun menunjukkan kebahagiaan.“Istirahat sebentar sebelum mandi agar kaki kamu gak lemas karena terlalu bersemangat malam ini..” bisik Zacky sensual di telinga Thalia. “Zacky, ish.. Malu tau!” cicit Thalia, wajahnya yang merona bersembunyi di ceruk leher Zacky. Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari penthouse mewah milik Zacky. Suasana







