Masuk'Kenapa Mamanya Pak Zacky bisa sebaik ini sama aku, padahal Papanya itu kalau liat aku kayak mau menelan aku hidup-hidup?!' batin Thalia panik.
Gadis itu tersenyum lembut menatap Tamara Adelaide yang menepuk lengannya."E-eh... T-terima kasih banyak, Bu Tamara ..." cicit Thalia gagap, wajahnya merona merah hingga ke belakang telinga."S-saya tadi hanya kebetulan lewat dan mendengar suara dari dalam toilet. Sudah kewajiban saya untuk membantu.""Aduh, paThalia tertegun sejenak. Mendengar kalimat 'keluarga ku', ia teringat tentang Clarissa dan rencana perjodohan mereka kembali terlintas di pikirannya.[Z-Zacky…] cicit Thalia ragu-ragu.[Ada apa?] suara Zacky terdengar memendam perhatian.[Itu... Soal Nona Clarissa kemarin…] ucap Thalia dengan ragu, jarinya meremas kain pakaian yang dipakainya. [Gara-gara kejadian kemarin... Orang tua kamu nggak marah kan sama kamu? Aku... Aku takut kalau kehadiran ku akan merusak hubungan kamu sama keluarga…]Di seberang sana, terdengar hela napas halus dari Zacky. [Sudah aku katakan, jangan memikirkan hal yang tidak penting, Thalia.][Tapi kan Nona Clarissa itu cantik, berpendidikan, keluarga pemilik saham lagi…] bisik Thalia makin pelan, merasa rendah diri.[Sedangkan aku... Aku cuma gadis biasa yang banyak masalah…][Nathalia,] potong Zacky dengan nada dingin dan penuh otoritas yang seketika membungkam kata
"Nnggh... Z-Zacky, udah... Nanti kamu terlambat ke kantor..." bisik Thalia lirih di sela-sela ciuman singkat itu.”Aku bebas datang jam berapa, Thalia," sahut Zacky santai, lalu kembali melumat bibir manis Thalia tanpa terburu-buru."Z-Zacky... Cukup, nanti kamu beneran kesiangan!" seru Thalia pelan, mencoba mendorong dada bidang Zacky yang bergeming begitu saja.Zacky akhirnya melepaskan pagutan bibirnya dengan hembusan napas berat. Pria itu menyingkap selimutnya tanpa ragu, memperlihatkan tubuh kekarnya yang membuat Thalia cepat-cepat memalingkan wajah dan menutup matanya rapat-rapat."K-kamu kalau mau bangun pakai handuk dulu donk, Zacky!" protes Thalia dengan mata tertutup rapat.Zacky berdehem pelan mendengarkan kepolosan Thalia. Pria itu melangkah ke kamar mandi membuat Thalia menghela nafas panjang, namun matanya masih terpejam karena masih merasa ngantuk. Sampai beberapa menit kemudian pintu kamar mandi kembali ter
"NNGGHH! AAHH... ZACKY!" Thalia kembali mendesah sensual, cengkraman tangannya berpindah cepat meremas otot bahu bidang Zacky yang bertelanjang dada."Ssshh... Thalia... Kamu sangat ketat... Ahh," desah Zacky penuh kepuasan, rahangnya mengeras merasakan jepitan erat dari dinding goa Thalia.Desahan demi desahan bersahutan di dalam kamar, mengiringi hentakan mantap yang Zacky lakukan semakin dalam dan intens. Thalia yang awalnya merasa kewalahan perlahan mulai mengikuti ritme permainan pria itu. Rasa hangat dan nikmat yang meluap membius seluruh ketakutannya.Zacky membalikkan posisi bercinta mereka, mengganti beberapa variasi gerakan untuk memberikan kepuasan maksimal pada gadis dibawah kungkungannya. Hentakan demi hentakan yang semakin intens membawa mereka kembali ke puncak kenikmatano."Z-Zacky! Aku... Aku mau lagi... Ngghh! Zacky!" pekik Thalia pasrah sepenuhnya tubuhnya merasakan sensasi liar yang menggetarkan tubuhny
"Zacky..." panggil Thalia lembut, tangannya terulur mengusap pipi tegas pria di atasnya. "Terima kasih.. Kamu udah selalu ada untuk melindungi aku.. Tapi.. Tapi, jangan seperti ini.. Aku.. Aku.." Thalia gugup setengah mati karena Zacky menatap manik matanya mendalam. Pria itu melihat kesungguhan dan binar cinta di manik mata gadis itu. Zacky menunduk, mendaratkan ciuman hangat di pelipis Thalia, berpindah ke kedua matanya, lalu kembali membungkam bibir ranum gadis itu dalam ciuman yang lebih panas dari sebelumnya..Pakaian Thalia perlahan tersibak ke samping, membiarkan keindahan bentuk tubuh mungilnya terekspos sempurna di bawah kungkungan tubuh kekar Zacky.Sentuhan jari hangat Zacky perlahan merayap lembut di setiap inci lekukan tubuh indah Thalia. Dari perut merambat ke pinggang, hingga paha dalam Thalia, memicu gelombang kenikmatan dan sensasi meremang yang dahsyat di seluruh tubuh gadis itu."Nnggh... Ahh..
Thalia segera mengalihkan pandangannya dari tubuh kekar Zacky yang memperlihatkan dada bidang pria itu Ia sempat melihat beberapa goresan lembut di disana, jejak cakaran halus. ‘Apa cakaran itu ulahku?! Bahu dan panggungnya juga pasti ada.. Aduh inikan masih pagi, kenapa Zacky menggoda ku sepagi ini sih?!’ cicitnya dengan wajah merona. Gadis itu berjalan ke arah dapur tanpa menoleh ke arah Zacky, jantungnya berdebar sangat gugup. Sementara Zacky justru menatap Thalia dari atas ke bawah, memperhatikan piyama yang membungkus tubuh mungil gadis itu Manik mata pria itu memperlihatkan leher jenjang yang tampak mulus, serta lekukan tubuhnya yang mempesona di bawah sinar lampu. Perlahan Zacky mengikuti langkah kaki Thalia di belakang gadis itu, matanya seketika menggelap tajam, dipenuhi gairah posesif yang intens. "Ini rumah saya, Thalia. Aku bebas tidak memakai pakaian," ucap Zacky
Thalia menelan salivanya susah payah, lidahnya seketika kaku tak bisa membalas godaan tajam pria itu. Ia buru-buru membalikkan badannya menghadap kompor, pura-pura sibuk memotong bawang agar Zacky tidak melihat wajahnya yang semakin merah bagaikan tomat matang.'Duh, kenapa sih setiap omongan Pak Zacky itu selalu bikin serangan jantung?! Ini aku yang terlalu baper atau dia yang makin pinter menggoda sih?!' jerit Thalia dalam hati seraya mengolah bahan makanan dengan tangan gemetar.Suara minyak panas dan aroma harum tumisan bumbu dapur memenuhi seluruh area dapur penthouse yang nyaris jarang dipakai memasak. Thalia dengan cekatan mengaduk potongan daging sapi dan sayuran segar di atas wajan, sementara Zacky berdiri tenang di sampingnya seraya merapikan bahan-bahan makanan yang telah selesai digunakan."Wangi banget kan, Zacky?" celetuk Thalia bangga, menoleh ke arah pria di sisinya seraya tersenyum lebar. "Ini resep rahasi







