로그인"NNGGHH! AAHH... ZACKY!" Thalia kembali mendesah sensual, cengkraman tangannya berpindah cepat meremas otot bahu bidang Zacky yang bertelanjang dada.
"Ssshh... Thalia... Kamu sangat ketat... Ahh," desah Zacky penuh kepuasan, rahangnya mengeras merasakan jepitan erat dari dinding goa Thalia.Desahan demi desahan bersahutan di dalam kamar, mengiringi hentakan mantap yang Zacky lakukan semakin dalam dan intens.Thalia yang awalnya merasa kewalahan perlahan mulai me"Makasih banyak banyak, Zacky..." cicit Thalia dengan senyuman tulus yang terpancar di wajah cantiknya. Tidak butuh waktu lama, mobil itu akhirnya memasuki area parkir khusus eksekutif di gedung AR Corp. Sebelum turun dari mobil, Thalia buru-buru merapikan pakaian kerjanya dan bersiap kembali ke mode profesional sebagai asisten pribadi. "Zacky, aku turun duluan ya... Nggak enak kalau karyawan lain lihat kita datang barengan," pinta Thalia cemas. Zacky menatap Thalia dengan pandangan tidak suka. "Kenapa harus ragu? Semua orang di kantor ini cepat atau lambat harus tahu kamu milik siapa." "Tapi kan sekarang belum saatnya, Zacky..." cicit Thalia memohon dengan wajah polosnya. "Tolong ya? Aku nggak mau ada gosip aneh-aneh yang bisa ganggu kinerja kantor." Zacky menghela napas halus, tidak bisa menolak permintaan dari gadis itu. "Baik. Tapi begitu sampai di lantai atas, langsu
Thalia mengangkat lengan kokoh Zacky dari pinggangnya dengan perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkan pria itu. Ia menarik selimut menutupi tubuh polosnya, lalu bergeser ke tepi ranjang. "Aww..." cicit Thalia merintih pelan saat kakinya menyentuh lantai dingin. Rasa nyeri di goa miliknya membuatnya harus bersandar sebentar. Setelah berhasil menguasai dirinya, Thalia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia melangkah pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap membuat sarapan. Tiga puluh menit kemudian, Thalia sudah rapi dengan pakaian santai. Ia melangkah menuju dapur penthouse dengan semangat baru. Suasana hatinya terasa jauh lebih ringan dan bahagia. "Hari ini aku mau bikin nasi goreng seafood sama teh hangat buat Zacky deh," gumam Thalia riang seraya memotong bumbu-bumbu di atas meja dapur. Sambil mengaduk masakan di atas kompor, pikiran
Thalia menggeleng pelan mendengar pertanyaan Zacky yang meresahkan. "N-nggak kok, Zacky... Aku nggak kesakitan sama sekali," cicit Thalia lirih dengan pipi merona merah.Tangannya meremas pinggiran selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung manik mata Zacky yang begitu dalam memperhatikannya. Pria itu memiringkan posisinya, menopang kepalanya dengan satu tangan seraya menatap wajah Thalia yang tampak serba salah. Dahi pria itu berkerut tipis melihat raut wajah ketakutan dan kegelisahan yang mendadak menyelimuti gadis di depannya."Lalu kenapa wajahmu berubah keruh begitu?" tanya Zacky dengan nada datar, menyimpan kecemasan yang samar. "Ada yang mengganggu pikiranmu, Thalia?"Thalia mengigit bibir bawahnya ragu. Perang batin di dalam hatinya berkecamuk begitu hebat. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur dan bahagia karena Zacky selalu ada untu
Thalia mulai menggerakkan jemari tangannya, mengelus dan meremas pelan batang naga milik Zacky yang terasa amat hangat dan tegang sempurna."Ssshh... Ahh... Bagus, Thalia... Seperti itu..." desah Zacky rendah, kepalanya mendongak sedikit saat merasakan sentuhan lembut dan polos dari jemari Thalia.Mendengar desahan puas dari bibir Zacky, rasa percaya diri Thalia perlahan tumbuh. Gadis itu mencoba melepaskan cengkraman tangan Zacky pada pergelangan tangannya, membiarkan jemari mungilnya sendiri yang bekerja meremas dan bergerak naik turun dibatang naga Zacky dengan ritme lebih teratur."S-seperti ini, Zacky...? Kamu... Kamu suka...?" tanya Thalia lirih, matanya menatap Zacky dengan tatapan polos yang terlihat begitu sensual."Aarrghh... Pintar, Thalia... Lakukan lagi..." desih Zacky serak.Zacky memejamkan matanya menikmati gerakan tangan Thalia yang membelai miliknya. Sentuhan gadis itu memberikan kepuasan emosion
"Nnggh! Za-Zacky! D-di situ geli banget... Aah!" jerit Thalia tertahan.Pinggulnya bergerak gelisah saat bibir hangat Zacky memberikan kecupan basah di paha dalamnya menggantikan jari tangannya. Zacky menegakkan tubuhnya kembali, memposisikan dirinya tepat di atas squishy Thalia. Tangannya terulur, meraih dua gundulan indah, meremas squishy milik Thalia bersamaan dengan kelembutan, menikmati sensasi kenyal dan padat dalam genggamannya."Nnggh... Aah... Zacky... Pelan-pelan..." lenguh Thalia, matanya terpejam erat dengan napas yang terengah-engah.Zacky membenamkan wajahnya, melumat salah satu squishy Thalia dengan lidahnya yang hangat, mengulum choco chips yang sudah mengeras sempurna secara bergantian. Sementara tangan satunya terus remasan penuh gairah pada sisi lainnya.”Eumm... Thalia... Kamu luar biasa..." desis Zacky serak di sela-sela lumatannya."Aah! Zacky! Nnggh... S-sakit jangan digigit... Oo
"AAHHH! Nngghh... Za-Zacky... sssthh..." desah Thalia melengking halus, kepalanya mendongak pasrah saat gigitan kecil dan hisapan lembut Zacky di lehernya membuat tubuh gadis itu terasa meremang seketika.Zacky menggendong Thalia dengan posisi rapat di depannya, sementara kedua kaki Thalia tetap melingkar kokoh di pinggangnya. Dengan langkah tegas dan tenang, Zacky membawa tubuh gadisnya berjalan masuk ke dalam kamar lalu..Kakinya mendorong pintu dengan pelan, menutup rapat pintu kaca balkon untuk menghentikan hembusan angin malam dari luar. KLIK!Tanpa melepaskan ciumannya di leher Thalia, pria itu melangkah lebar menuju kamar utama.Thalia hanya bisa meremas kuat bahu tegap Zacky, membiarkan tubuhnya dibawa sepenuhnya oleh pria yang amat ia percaya itu.Begitu sampai di samping ranjang king size, Zacky merebahkan tubuh mungil Thalia secara perlahan dan hati-hati di, lalu dengan cepat merangkak naik mengurung posisi Thalia tepat di bawah kungkungan tubuh tegapnya."Z-Zacky..







