ログイン"Zacky, kamu benar-benar yakin tidak ada dokumen lain yang disembunyikan dewan pengawas lagi?" pangkas Thalia mantap, duduk di tepi ranjang sambil mengancingkan kemeja sutra putih yang dipakainya pagi itu.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai indah, memancarkan pesona seorang wanita yang anggun dan berani.Zacky yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya menghentikan langkah. Manik matanya menatap Thalia penuh rasa kagum yang pekat."Nomor tidak dikenal, Zacky..." jawab Thalia tenang. Tanpa ragu sedikitpun, Thalia menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.[Halo?]Hening sejenak di seberang telepon, hanya terdengar suara deru napas berat yang berat dan ganjil.[Thalia... Hahaha... Apakah kamu merasa sudah menang sekarang?] desis suara serak di seberang sana, suara yang sangat dikenal namun penuh nada kegilaan.DEG!Jantung Thalia berdesir pelan, namun ia tidak lagi menjerit atau melempar ponselnya seperti dulu. Perlindungan penuh dari Zacky telah membentuk cangkang keberanian yang kokoh dalam jiwanya.[Arjuna...?] pangkas Thalia dingin dan tegas, suaranya terdengar begitu tenang di ruang tamu.Zacky yang mendengar nama itu seketika mengambil langkah lebar, berdiri rapat di samping Thalia dengan aura mematikan yang membumbung tinggi. Tangannya mencengkeram pinggang Thalia, sementara matanya menatap ponsel it
"Zacky, kamu benar-benar yakin tidak ada dokumen lain yang disembunyikan dewan pengawas lagi?" pangkas Thalia mantap, duduk di tepi ranjang sambil mengancingkan kemeja sutra putih yang dipakainya pagi itu.Rambut panjangnya dibiarkan terurai indah, memancarkan pesona seorang wanita yang anggun dan berani. Zacky yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya menghentikan langkah. Manik matanya menatap Thalia penuh rasa kagum yang pekat."Ivan sudah membekukan seluruh rekening operasional dewan pengawas sejak pukul empat pagi tadi, Thalia," pangkas Zacky kaku dan dingin. "Mereka tidak punya kekuatan hukum lagi untuk menggertak kita.""Bagus," pangkas Thalia mantap, berdiri dari tempat tidur dan melangkah mendekati Zacky. Jarinya yang lentik meraih dasi abu-abu di atas meja rias, lalu memasangkannya di leher tegak calon suaminya dengan cekatan."Aku tidak ingin ada bayang-bayang ketakutan lagi saat a
"Zacky..." cicit Thalia tersentak pelan saat bibir hangat Zacky mulai mendaratkan kecupan-kecupan panas di leher jenjangnya. "Kamu... Kamu belum istirahat sejak tadi siang...""Melihatmu ketakutan seperti tadi membuatku gila, Thalia," pangkas Zacky parau di ceruk leher Thalia, tangannya meremas lembut pinggul wanita itu. Pipi Thalia merona merah. Ketakutan akan dewan pengawas yang tadi menyiksanya mendadak menguap, berganti dengan gelombang gairah hangat yang disalurkan oleh sentuhan Zacky. "Aku butuh memastikan bahwa kamu sepenuhnya milikku... Tubuhmu, jiwamu, dan masa depanmu," bisik Zacky. Thalia memutar tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Zacky dan menatap manik mata hitam pekat calon suaminya."Aku milikmu, Zacky..." goda Thalia berani, menyunggingkan senyum manis. "Buat aku percaya kalau tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita."Zacky terkekeh rendah, suara beratnya bergetar penuh gairah
"Kalian semua pasti berbohong! Kalian hanya tidak ingin aku menikah dengan Zacky, kan?!" jerit Thalia histeris, amarahnya meledak begitu saja. Tangan Thalia mencengkeram lengan Zacky dengan sangat erat. "Zacky... Ku tidak mau! Aku tidak akan pernah menyerahkan anakku pada mereka!" Zacky berdiri secara mendadak, menghentakkan kakinya ke lantai hingga meja kaca di depan mereka bergetar hebat. Tangan Zacky menarik Thalia ke dalam dekapannya, merangkul pinggang wanita itu dengan cengkeraman protektif yang sekeras baja. Manik matanya menatap Nyonya Besar Rosalinda dan para anggota dewan pengawas dengan tajam. "Satu langkah saja kalian mencoba menyentuh Thalia atau calon anakku nanti..." desis Zacky rendah, suaranya begitu kaku dan bergetar penuh ancaman. "...Maka malam itu juga, seluruh anggota dewan pengawas dan kekuasaan Nenek akan kuhancurkan sampai tak bersisa!" Nyonya Besar Rosalinda tersentak mundur d
Di dalam ruangan, Nyonya Besar Rosalinda duduk di kursi utama dengan tongkat berliannya. Di sekelilingnya, lima orang pria paruh baya bersetelan formal, para tetua dewan pengawas Alvarez Group berdiri dengan raut wajah dingin.Sementara itu, Joshua Alvarez dan Tamara duduk tenang di sofa berseberangan, suasana ruangan terasa begitu tertekan."Kurang ajar sekali kamu, Zacky!" pangkas Nyonya Besar Rosalinda menghentakkan tongkatnya ke lantai marmer.TAK!"Kamu membawa wanita rakyat biasa ini ke rumah orang tuamu setelah kamu memenjarakan pamanmu dan mengusir Arjuna?!" bentak wanita tua itu tajam."Zacky, Thalia, duduklah di sini Zacky," pangkas Joshua Alvarez tenang, mengabaikan teriakan ibunya sendiri. Tatapan mata Joshua menunjukkan dukungan penuh pada putra tunggalnya.Zacky membawa Thalia melangkah mantap, merengkuh pinggang ramping gadis itu dan membawanya duduk tepat di sampingnya. Tatapan mata hitam pekat Zacky menyapu seluruh anggota dewan pengawas dengan aura intimidas
"Mmph... Zacky..." desah Thalia pasrah, membiarkan gairah hangat menyapu seluruh kecemasan di dalam dadanya."Sebelum acara pertunangan kita dilaksanakan lima hari lagi," pangkas Zacky parau di depan permukaan bibir Thalia yang membengkak basah, "kita akan menemui orang tuaku."Thalia mendongak, matanya menatap dalam manik mata pekat Zacky. "Orang tuamu? Tuan Joshua dan Nyonya Tamara?""Benar, Thalia," pangkas Zacky kaku, aura dominasi mutlak terpancar kuat dari sorot matanya."Papa dan Mamaku pasti tahu rahasia apa yang disimpan oleh mendiang Kakek dan Mama Nadya. Aku tidak ingin ada satupun celah kekacauan saat aku memasangkan cincin pertunangan di jarimu.""Aku siap mendampingimu menemui orang tuamu, Zacky," cicit Thalia mantap, melingkarkan tangannya di leher tegap Zacky. "Bersamamu, aku tidak takut menghadapi siapapun di keluarga Alvarez."Zacky terkekeh rendah, suara beratnya bergetar penuh gairah kepemilikan. "Kamu sungguh calon istri yang sempurna, Thalia."Namun, tepa







