LOGINThalia menatap layar monitor itu dengan pandangan dingin. "Paman Gideon benar-benar tidak punya rasa malu. Setelah semua bukti terpampang jelas, dia masih mencoba berkelit."
"Orang-orang serakah seperti dia tidak pernah belajar dari kesalahan, Thalia," pangkas Zacky sambil mematikan layar monitor tersebut dengan satu tekanan pada remote di tangannya."Kehancuran reputasinya hukuman yang paling menyakitkan bagi pria yang haus kekuasaan. Tapi malam ini, aku tidak ingin membThalia menatap layar monitor itu dengan pandangan dingin. "Paman Gideon benar-benar tidak punya rasa malu. Setelah semua bukti terpampang jelas, dia masih mencoba berkelit.""Orang-orang serakah seperti dia tidak pernah belajar dari kesalahan, Thalia," pangkas Zacky sambil mematikan layar monitor tersebut dengan satu tekanan pada remote di tangannya. "Kehancuran reputasinya hukuman yang paling menyakitkan bagi pria yang haus kekuasaan. Tapi malam ini, aku tidak ingin membuang waktu memikirkan Gideon atau Arjuna."Zacky melempar ponsel dan remotenya ke atas meja, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Thalia. Pandangan mata pria itu seketika berubah pekat, dipenuhi oleh hasrat yang sejak tadi ia tahan di tengah baku tembak."Zacky... Kenapa menatapku seperti itu?" cicit Thalia halus, pipinya merona merah."Karena aku ingin memastikan bahwa wanita tercantik malam ini benar-benar hanya milikku," pangkas Zacky rendah.
"Zacky, tenang dulu. Semuanya sudah aman, Arjuna sudah pergi," pangkas Thalia lembut namun penuh ketegasan.Di dalam ruang tersembunyi yang terletak di balik panel rahasia lantai VIP hotel, Thalia berdiri berjinjit, menangkup kedua rahang kaku Zacky dengan telapak tangannya yang hangat. Napas Zacky masih memburu, dada bidangnya kini naik turun dengan ritme cepat. Kemarahan di wajahnya masih terlihat jelas di tatapan pria itu."Dia hampir melukai Mama, dan sekarang pria gila itu berhasil kabur lagi di depan mataku, Thalia," desis Zacky rendah, suaranya bergetar penuh amarah.Aura mengerikan dari tubuh Zacky membuat suhu ruangan terasa dingin, namun Thalia tidak mundur satu inci pun. Ia justru melangkah maju, merapatkan tubuh rampingnya hingga menempel tanpa celah pada dada keras calon suaminya."Tapi Mama selamat karena kesigapan Ivan, dan aku ada di sini, aman di dalam pelukanmu, Zacky," pangkas Thalia mencoba menenangkan.
"Zacky, pria berseragam katering di dekat pilar sana! Dia mengarahkan sesuatu pada Mama!" pangkas Thalia sedikit cemas. Jemarinya mencengkram erat jas hitam Zacky, matanya menatap tajam menembus kerumangan ballroom tanpa ada sedikitpun getaran panik di suaranya. Zacky seketika menoleh. Rahang tegas pria itu mengeras hingga urat lehernya menonjol saat manik mata hitamnya menangkap sosok Arjuna. Pria gila itu menyeringai mengerikan dengan pistol berperedam suara yang terkunci tepat ke punggung Tamara. "Ivan! Sektor tiga!" desis Zacky rendah, suaranya menggelegar bagaikan auman mematikan yang memecah ketegangan. SYUT! Peluru tajam melesat dari moncong pistol Arjuna, membelah udara ballroom yang remang. Namun, sepersekian detik sebelum peluru mematikan itu menyentuh Nyonya Tamara, sesosok bayangan hitam melompat menerjang dengan kecepatan luar biasa. "Nyonya, awas!" pangkas I
"Zacky, aku tidak apa-apa," pangkas Thalia di dalam cengkraman erat lengan tegap calon suaminya.Meskipun suasana gelap sempat terasa mencekam di dalam ballroom dan jeritan kepanikan tamu memekakkan telinga, Thalia tidak lagi menjadi gadis ringkih yang gemetar ketakutan. Tubuh rampingnya menyatu tanpa jarak pada dada bidang Zacky. Jemari lentiknya mencengkeram jas hitam Italia pria itu, mencari kehangatan."Tetap di belakangku, Thalia," bisik Zacky rendah dan kaku.Tangan kekarnya merengkuh pinggang Thalia protektif, sementara manik mata hitamnya terus memperhatikan seluruh sudut panggung utama yang gelap.KLEK!Hanya dalam hitungan detik, lampu darurat menyala redup, menyinari sebagian panggung dan kerumunan tamu yang berdiri tegang.Tiba-tiba, layar proyektor raksasa di belakang panggung utama yang seharusnya menampilkan visual romantis inisial nama 'Z & T' mendadak menyala otomatis dengan kilatan sinyal siber.
Thalia dan Zacky menoleh ke arah suara seseorang yang terbatas tak jauh dari mereka berdiri, lalu saling berpandangan. “Pa, kamu kenapa?” suara Tamara terdengar sangat khawatir melihat Joshua tiba-tiba termasuk sampai wajahnya merah. . “Aku.. Tidak apa-apa..” jawab Joshua sambil berdehem pelan. Thalia menoleh ke arah calon Papa mertuanya dengan tatapan sulit diartikan. ‘Ada apa dengan Papa Joshua? Kenapa wajahnya terlihat aneh..’ batin Thalia sedikit merasa ada yang salah. Sementara itu, di belakang layar kemewahan ballroom yang dipenuhi tawa para tamu VIP...Di area lorong servis katering dan dapur VIP yang terletak di lantai dasar hotel, suasana berjalan sangat tegang. Ivan bersama enam orang tim pengawal siber bersenjata lengkap dan petugas khusus berpakaian preman melangkah cepat menyisir lorong-lorong sepi. Earphone nirkabel di telinga Ivan terus menyuarakan petunjuk dari ruang pemantau siber.[Pa
Pintu ganda Grand Ballroom Hotel Alvarez dibuka lebar oleh tim, suasana megah di dalam ruangan seketika menyambut keberadaan mereka.Thalia menyunggingkan senyum anggun dan ramah, menyusuri karpet merah dengan langkah yang begitu tenang dan percaya diri. ‘Hari ini, akhirnya aku bertunangan dengan Zacky,’ ia menoleh ke arah samping. Zacky berjalan tegak dengan rahang kaku dan tatapan mata tajam, memegang jemari Thalia dengan cengkeraman posesif yang tak terlepas.Ribuan lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang berkilau, memantul di atas lantai marmer yang dilapisi karpet merah tebal. Karangan bunga white lily dan rose gold yang segar menyebarkan aroma harum yang sangat mewah di udara.Ruangan raksasa itu telah dipadati oleh ratusan tamu VIP papan atas. Para pejabat tinggi negara, pengusaha konglomerat internasional, kolega bisnis terkemuka, hingga puluhan awak media massa nasional dan luar negeri berd







