LOGIN"Zacky, apa Paman Gideon benar-benar melarikan diri?!" pangkas Thalia, menatap wajah kaku calon suaminya dengan sorot mata yang menuntut kejelasan.
Jemari Thalia masih mencengkeram erat kemeja hitam Zacky, namun raut wajahnya tidak menunjukkan kepanikan yang berlebihan.”Ya Thalia. Seseorang menjemputnya, pasti sudah terencana," desis Zacky rendah dan sangat mengerikan. Urat di leher pria itu menonjol, rahangnya mengeras menahan amarah yang siap meledak.Zacky m”Zacky, kamu udah bangun?" jari Thalia mengukir pola abstrak di atas dada bidang pria yang masih memejamkan mata di sampingnya.Cahaya matahari pagi sudah menembus celah tirai, menyinari tubuh polos mereka yang masih bersembunyi di balik selimut sutra. Thalia tidak lagi menyembunyikan wajahnya yang merona seperti dulu. Keberaniannya perlahan tumbuh semakin besar seiring dengan rasa aman yang selalu diberikan Zacky.Zacky membuka kelopak matanya perlahan. Manik matanya yang biasanya memancarkan aura dingin dan mematikan itu kini dipenuhi gairah dan kelembutan untuk wanita di pelukannya. Tangan kekar Zacky langsung menarik pinggang Thalia, membuat tubuh mungil itu kembali menabrak dada kerasnya."Aku sudah bangun, Thalia," balas Zacky dengan suara serak yang memabukkan. “Aku pikir kamu masih betah tidur di ranjang ini, sampai aku berpikir mungkin perlu membawa ranjang ini ikut ke pulau pribadi..” goda Thalia sambil tersenyum m
Thalia menyingkirkan kemeja Zacky yang telah terbuka sepenuhnya dari bahu pria itu. Matanya menatap perban putih di pinggang kiri Zacky, memastikan tidak ada rembesan darah merah seperti malam sebelumnya. "Lukamu aman, Zacky," pangkas Thalia berani, menyunggingkan senyum menggoda yang jarang ia perlihatkan. "Tapi sepertinya... Baagian tubuhmu yang lain tidak." Zacky menggeram tertahan, akal sehatnya nyaris putus mendengar godaan dari mulut manis calon istrinya. "Kamu benar-benar sedang bermain api, Thalia." ”Dan kamu selalu bisa membuat aku terbakar, Zacky," ucap Thalia, mengusap rahang kaku Zacky. Zacky menunduk, menyambar bibir merah Thalia dengan ciuman yang sangat menuntut, panas, dan memabukkan. Lidah Zacky langsung menerobos masuk, mengklaim setiap sudut rongga mulut Thalia dengan gairah yang meledak. "Mmph... Zacky..." desah Thalia pasrah saat lumatan Zacky turun ke leher jenjangn
"Zacky, ini masih jam kerja! Apa kata para karyawan kalau melihat CEO mereka kabur di tengah hari begini?" ucap Thalia setengah panik, kakinya berusaha melangkah cepat untuk mengimbangi langkah lebar Zacky.Zacky tidak menjawab, tangannya justru menautkan jemari besarnya di sela-sela jari mungil Thalia, menggenggamnya erat, lalu menarik wanita itu masuk ke dalam lift eksekutif. Begitu pintu lift itu tertutup rapat, Zacky langsung menyudutkan Thalia ke dinding lift yang dingin."Tidak akan ada yang protes, Thalia. Aku bisa saja meliburkan diri kapan saja kalau aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu," desis Zacky rendah, penuh otoriter dan gairah tertahan.Zacky mengunci pergerakan Thalia dengan meletakkan kedua telapak tangannya di dinding lift, tepat di samping kepala Thalia. Tatapan pria itu turun, menelusuri wajah merona Thalia, leher jenjangnya, hingga berhenti pada kilau kalung sapphire warisan yang kini melingkar indah di
"Zacky... Apa maksud dari pertanyaan wartawan tadi?" tanya Thalia ragu saat langkah kakinya masuk kedalam ruang kerja. “Apa masih ada yang tidak suka padaku memegang saham perusahaan keluarga mu?” Pintu ruang kerja itu baru saja tertutup rapat, Thalia masih berdiri di tengah ruangan, tatapan matanya menunjukkan kewaspadaan baru. Zacky melepaskan jas hitamnya, melemparnya sembarangan ke atas sofa. Pria itu melangkah mendekati Thalia, rahang tegasnya masih mengeras menahan emosi sisa konferensi pers. "Kamu tidak perlu memikirkan ucapan jurnalis itu, Thalia," desis Zacky rendah, tangannya terulur merengkuh pinggang ramping Thalia dan menariknya mendekat. "Tapi pertanyaannya sangat masuk akal, Zacky," cicit Thalia, menahan dada bidang pria itu dengan kedua telapak tangannya. "Kalau saham Mama memang sangat berharga, dan sejarah keluargamu selalu dipenuhi persaingan... Bagaimana kalau Paman Gideon dan Arjuna
“Zacky..” lirih Thalia, terkejut. Seluruh kamera serempak memutar arah pandangan mereka ke arah sumber suara. Zacky melangkah masuk dengan aura dingin yang sangat mematikan. Kemeja hitamnya membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Tatapan matanya yang tajam terus memperhatikan seluruh isi ruangan, membuat nyali setiap wartawan di sana seketika ciut.Di belakangnya, Ivan dan belasan pengawal elit lapis satu berjalan mengawal dengan wajah kaku.Pria itu melangkah mantap menaiki panggung mimbar, mengabaikan denyutan nyeri di pinggangnya. Begitu sampai di sisi Thalia, Zacky langsung merengkuh pinggang ramping wanita itu dengan satu tangan kekarnya, menarik Thalia merapat ke dada bidangnya. Sebuah klaim kepemilikan yang sangat nyata di depan ratusan mata."Zacky..." bisik Thalia terkejut, mendongak menatap rahang tegas pria itu."Kamu melakukannya dengan sangat sempurna, sayang. Sekarang biar aku yang mengambil alih,"
"Biarkan mereka memotretku, Pak. Jangan ada yang bertindak kasar pada rekan-rekan media," ucap Thalia pada pengawal yang mengiringinya, suaranya terdengar pelan namun cukup tegas melampaui riuhnya suara kilatan blitz dan teriakan para wartawan.Di depan lobi utama gedung Alvarez Group, ratusan wartawan sudah berdesakan seperti lautan manusia yang kelaparan akan skandal. Puluhan pengawal elit lapis satu berseragam hitam membentuk barikade ketat, membukakan jalan bagi Thalia. Terlihat mencolok melebihi mengiringi langkah Zacky. Thalia melangkah turun dari mobil dengan blazer putih gading yang membuatnya terlihat begitu elegan dan berani. Jari-jarinya memang terasa sedikit dingin, ia berpikir Zacky tidak akan datang mendampinginya karena pria itu sangat menentang keputusannya. Namun, bayangan pelukan posesif Zacky dan perlindungan mutlak pria itu memberinya kekuatan."Nona Thalia! Apakah benar wanita di dalam video yang tersebar pagi







