INICIAR SESIÓN"Zacky—" cicit Thalia ragu saat memperhatikan tatapan mata Zacky.
"Aku bilang tidak, Thalia!" ucap Zacky kaku, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Thalia mengerat. "Ivan, tinggalkan kami!"Ivan yang sedari tadi menahan napas langsung menunduk hormat dan setengah berlari keluar dari kamar penthouse, menutup pintu itu rapat-rapat.Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar yang luas itu. Sisa-sisa gairah yang sempat memanas beberapa menit lalu kini b"Zacky—" cicit Thalia ragu saat memperhatikan tatapan mata Zacky. "Aku bilang tidak, Thalia!" ucap Zacky kaku, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Thalia mengerat. "Ivan, tinggalkan kami!"Ivan yang sedari tadi menahan napas langsung menunduk hormat dan setengah berlari keluar dari kamar penthouse, menutup pintu itu rapat-rapat.Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar yang luas itu. Sisa-sisa gairah yang sempat memanas beberapa menit lalu kini berganti dengan ketegangan adu argumen yang sangat pekat."Kamu tidak mengerti, Thalia," pangkas Zacky parau. Tatapan matanya menunjukkan sisi protektif yang nyaris tak masuk akal. "Publik itu kejam. Mereka tidak peduli dengan kebenaran mu. Mereka hanya butuh skandal untuk dihancurkan. Berdiri di depan puluhan kamera dan menceritakan trauma terbesarmu sama saja dengan mengiris nadimu sendiri di depan serigala kelaparan!""Aku tidak peduli dengan apa yang di
"Video itu... Muncul lagi?" pangkas Thalia, suaranya sempat tercekat di tenggorokan, namun ia segera menarik napas panjang, memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak di samping ranjang.Tidak ada lagi air mata ketakutan yang menetes. Tidak ada lagi tubuh yang bergetar hebat hingga membuatnya ingin bersembunyi di sudut ruangan. Keberanian yang telah tumbuh karena perlindungan Zacky kini mengambil alih seluruh saraf di tubuhnya."Benar, Nona Thalia," jawab Ivan dengan nada penuh penyesalan. "Beberapa portal berita gosip anonim tiba-tiba menyebarkan potongan video itu sejak pagi tadi. Mereka mempertanyakan kredibilitas Anda sebagai calon istri dari seorang CEO Alvarez Group.""Hancurkan portal berita itu!" raung Zacky, suaranya menggelegar memecah keheningan penthouse.Aura mengerikan seketika menguar tatapan Zacky. Pria itu mengabaikan rasa sakit di bawah sana, menatap Ivan dengan sorot mata tajam. "Kerahkan seluruh
Thalia memperhatikan tatapan penuh permohonan dari Zacky, seakan meruntuhkan seluruh sisa pertahanan Thalia. Rasa cintanya pada pria yang telah mengorbankan nyawa untuk melindunginya itu membuat Thalia membuang jauh-jauh rasa malunya. "Kamu benar-benar pria yang suka menuntut, Zacky," pangkas Thalia, menyunggingkan senyum sensual yang membuat kewarasan Zacky semakin menipis. Bukannya menarik tangannya, jemari Thalia kini bergerak. Di bawah kehangatan selimut tebal itu, Thalia mulai menggenggam lembut milik Zacky yang berdenyut dan hangat. Sentuhan awal yang terasa lambat penuh keraguan dan kelembutan, memberikan usapan halus yang membuat dada Zacky naik turun tak beraturan. "Sshhh.. Akh... Thalia..." erang Zacky rendah, kepalanya bersandar ke belakang dengan mata terpejam rapat. Rahang tegasnya mengeras menahan nikmat yang luar biasa. Mendengar desahan parau dari pria yang selalu dominan y
"Zacky, lepaskan aku sebentar saja. Kamu harus minum obat setelah sarapan agar luka mu cepat kering," pangkas Thalia lembut, jarinya mengusap punggung tangan kekar Zacky yang mengunci rapat pinggangnya dari belakang.Tubuh ramping Thalia masih terperangkap dalam dekapan posesif calon suaminya. Sementara matahari sudah menyusup masuk ke dalam penthouse, namun Zacky sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya."Aku tidak butuh obat dan sarapan, Thalia. Aku hanya butuh kamu tetap di sini, di ranjang ini bersamaku," desis Zacky parau.Pria itu justru menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Thalia. Hidungnya mengendus kulit mulus Thalia, menghirup aroma khas dari tubuh calon istrinya."Kamu mulai bersikap tidak masuk akal, Zacky," goda Thalia sambil terkekeh pelan. Ia memutar tubuhnya di dalam pelukan Zacky hingga kini mereka saling berhadapan. "Mana Zacky Farelio Alvarez yang selalu disiplin, dingin, dan gila kerja itu, hmm?"
"Zacky, lukamu masih belum kering sepenuhnya. Kamu harus banyak beristirahat," pangkas Thalia lembut, melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang.Zacky menatap Thalia dengan pandangan pekat yang berkabut gairah. Pria itu meraih pinggang Thalia, menarik wanita itu hingga tubuh mereka nyaris tak berjarak di atas ranjang."Aku akan beristirahat, Thalia," bisik Zacky parau, napas hangatnya menerpa wajah cantik Thalia. "Tapi lukaku akan lebih cepat sembuh kalau kamu memberikan hadiah pertunangan kita yang tertunda semalam.""Zacky... Kamu sedang sakit," goda Thalia halus, pipinya merona merah merona namun ia sama sekali tidak menjauh sedikit pun. Tangannya merayap ke dada bidang pria itu, mengusap otot-otot yang tegang."Rasa sakitku seketika hilang saat melihatmu di depanku seperti ini, Thalia," pangkas Zacky kaku dan rendah.Tangan Zacky menyusup ke tengkuk Thalia, menarik wajah wanita itu mendekat perlahan. “Aku ingin mala
"Zacky, kamu baru saja sadar! Jangan memikirkan pekerjaan dulu," protes Thalia lembut namun tegas."Biarkan aku mendengarnya sebentar, Thalia. Agar aku bisa tenang," balas Zacky sensual, mengusap pipi merona Thalia."Semuanya sudah selesai, Pak Zacky," lapor Ivan dengan senyum puas. "Media massa pagi ini meledak dengan berita kebenaran. Nama baik Alvarez Group sepenuhnya bersih di mata publik. Publik kini tahu bahwa Paman Gideon dan Arjuna adalah dalang di balik semua penggelapan dana dan kekacauan ini.""Di mana mereka sekarang?" desis Zacky mematikan."Mereka berdua sudah di dalam penjara keamanan tingkat tinggi, Pak. Tanpa ada celah remisi, dan tanpa akses ke dunia luar. Pengacara terbaik kita memastikan mereka membusuk di sana selamanya," jawab Ivan tegas.Thalia tersenyum, menghela napas sangat lega. "Syukurlah... Masa lalu yang kelam itu benar-benar sudah berakhir.""Ini baru permulaan, Ivan," pan







