MasukPerlahan Thalia membuka matanya, merasakan kehangatan lengan kokoh yang melingkar erat di pinggangnya.
Saat menoleh, wajah tampan Zacky yang masih tertidur pulas hanya berjarak satu inci dari wajahnya. Helaan napas teratur dari pria itu menerpa lembut dahi Thalia.'Astaga... Semalam beneran bukan mimpi ya?' batin Thalia tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap pelan rahang tegas Zacky secara diam-diam.'Ternyata dibalik sifat dinginnya yang kayak es balok, diaJemari lentik Thalia menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, sedikit menarik rambut pria itu saat bibir Zacky turun menyusuri dadanya. Tidak ada paksaan, tidak ada teror. Hanya ada penyatuan dua jiwa yang saling menginginkan. Setiap sentuhan Zacky penuh dengan cinta. Tangan pria itu mengusap lembut perut Thalia, memberikan pijatan melingkar yang menenangkan, sebelum akhirnya jari-jari panjangnya menelusup turun mencari pusat gairah istrinya. "Sshh... Zacky... ahh!" Thalia mengerang keras saat sentuhan ahli suaminya mulai memanjakannya di bawah sana. Tubuh Thalia bergetar hebat. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya atau menahan desahannya. Ia membiarkan suaminya mendengar betapa besar reaksi yang ditimbulkan dari sentuhan itu. "Sebut namaku, Thalia. Biarkan aku mendengarmu," perintah Zacky dengan suara serak yang mematikan, mempercepat tempo jarinya sementara bibirnya tak henti melumat bibir istrinya.
"Sangat sederhana," balas Thalia tanpa ragu, menatap lurus ke manik mata hitam suaminya. "Sebelum mereka menginjakkan kaki disini minggu depan... Kita beli seluruh obligasi jatuh tempo mereka di pasar saham Landon secara rahasia, Zacky." "Kita beli hutang mereka..." ulang Zacky, menyeringai sinis membayangkan kehancuran musuhnya. "Ya. Kalau Alvarez Group yang memegang surat hutang mereka, maka posisi tawar akan berbalik seratus delapan puluh derajat," jelas Thalia logis. "Mereka tidak akan datang sebagai penakluk yang menuntut sahamku. Mereka akan datang sebagai pengemis yang memohon perpanjangan waktu padamu, Tuan Alvarez." Hening sejenak. Zacky menelan ludah dengan susah payah. Kecerdasan dan kelihaian taktik yang baru saja ditunjukkan oleh Thalia benar-benar di luar ekspektasinya. Istrinya tidak hanya cantik dan patuh, tapi mem
"Mereka pikir mereka bisa datang ke sini, ke markas suamiku, dan mendikte kita begitu saja minggu depan, Zacky?" pangkas Thalia, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh kilat ketegasan. Wanita itu sama sekali tidak beranjak dari pangkuan suaminya. Bukannya gemetar atau panik, jari tangannya justru terulur merapikan kerah kemeja Zacky yang sedikit berantakan akibat pergumulan kecil mereka barusan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat sang CEO tanpa keraguan sedikitpun. Zacky menatap istrinya lekat-lekat. Sisa-sisa amarah akibat ancaman Faksi Bayangan yang sempat membuat darahnya mendidih, kini seakan menguap begitu saja melihat ketenangan di wajah Thalia. "Mereka hanya sekumpulan serigala tua yang serakah, Thalia," desis Zacky dengan suara serak, sebelah tangannya mengusap punggung istrinya dengan gerakan posesif. "Mereka mencoba menggertakku karena mereka tahu aku akan melakukan ap
"Lalat tidak akan membuat asisten pribadimu tergagap saat ku telepon, Zacky," balas Thalia tak mau kalah. Thalia tidak melepaskan pelukannya, ia justru meraih tangan suaminya dan menuntun pria tegap itu menuju sofa beludru di tengah ruangan. "Duduklah, Zacky. Kamu terlihat sangat tegang," perintah Thalia lembut namun tegas. Zacky menurut tanpa bantahan. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menyandarkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata. Thalia tidak duduk di seberangnya. Wanita itu justru mendekat, berlutut dengan satu kaki di atas bantalan sofa di samping Zacky, lalu mengulurkan kedua tangannya. Jemari lentik Thalia mulai menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky yang sedikit berantakan. Ia menyisir rambut suaminya dengan usapan yang sangat lembut, teratur, dan menenangkan. "Mmph..." Zacky mengerang pelan, napas kasarnya perlahan berubah menjadi helaan yang lebih rileks
[Pak Ivan, dimana Zacky? Kenapa bum pulang dan ponselnya tidak menjawab telepon ku?] suara Thalia terdengar cemas. [P-Pak Zacky, masih ada meeting, Nona..] jawab Ivan dengan suara berusaha tetap tenang. [Jangan bohong, Pak Ivan.. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku dari nada bicaramu, Pak Ivan,] pangkas Thalia tegas, suaranya terdengar tenang namun penuh otoritas. Wanita itu berdiri di depan jendela kaca penthouse, menatap pemandangan kota dari ketinggian. Jarinya memegang ponsel yang terhubung langsung dengan asisten pribadi suaminya. [N-Nona Thalia... S-Saya tidak menyembunyikan apa pun. Pak Zacky hanya sedang menangani sedikit urusan administratif di ruang kerjanya,] sahut Ivan dari seberang telepon, suaranya terdengar sangat berhati-hati, seolah takut salah bicara. [Sedikit urusan administratif tidak akan membuat jadwal kepulangan suamiku tertunda hingga satu jam, dan tidak akan memb
“Tapi… jagoan kecilmu di dalam sini sedang kelaparan." Zacky menghela napas lega yang sangat panjang, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Hanya lapar? Baiklah. Aku akan menyuruh Ivan membangunkan chef bintang lima yang bersiaga di dapur bawah. Kamu ingin makan apa, sayang? Wagyu? Sup abalon?" pangkas Zacky, meraih ponsel satelitnya. "Tidak mau," cegah Thalia cepat, menahan tangan Zacky. Bibir Thalia kembali mengerucut manja, matanya menatap suaminya dengan penuh tuntutan. "Aku tidak mau makanan restoran. Aku ingin makan pasta aglio e olio yang pedas." "Baik. Aku akan menyuruh chef membuatnya sekarang juga," balas Zacky datar. "Tidak, Zacky! Kamu tidak mengerti," rengek Thalia, menyandarkan kepalanya di bahu Zacky. "Aku mau kamu yang memasaknya. Aku hanya ingin makan pasta buatan suamiku malam ini." Tangan Zacky yang memegang







