Mag-log in"Z-Zacky, aa yang kamu lakukan? Ruangan mobil ini cukup luas. Aku bisa duduk di kursi sebelahmu," cicit Thalia dengan pipi merona merah.
"Aku ingin memeluk istriku. Diam dan nikmati saja posisimu, Nyonya Alvarez," geram Zacky rendah, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Thalia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.Thalia terkekeh pelan, jari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, memberikan usapan lembut yang membuat pria itu memejamkan m"Zacky, jangan kotori tanganmu dengan darah kotor mereka hanya demi aku," pangkas Thalia lembut, menangkup kedua sisi rahang kaku suaminya dengan telapak tangannya yang hangat.Wanita itu berlutut di atas sofa, menyejajarkan wajahnya dengan Zacky yang masih dipenuhi aura mengerikan. Mata Thalia menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat suaminya tanpa ada keraguan sedikitpun."Mereka tidak pantas membuat tangan suamiku berdarah," lanjut Thalia, ibu jarinya mengusap lembut urat-urat tegang di leher Zacky. "Buat mereka hancur tanpa sisa melalui kekuasaanmu yang sesungguhnya. Bungkam mereka hingga tidak ada satupun media di dunia ini yang berani menyebut nama mereka, Zacky. Itu jauh lebih menyiksa daripada sebuah peluru."Mendengar kalimat tegas dan penuh perhitungan dari bibir istrinya, napas Zacky yang menderu kasar perlahan mulai teratur. Kilat kegelapan di matanya seketika memudar, digantikan rasa kagum dan gairah yang meledak l
Thalia melihat amarah yang meluap dari sorot mata Zacky mencoba menenangkannya. “Zacky tenanglah,” tangannya mengusap lembut lengan Zacky. “Biarkan aku selesaikan semua ini Thalia! Mereka tidak bisa seenaknya saja membentakmu!” geram Zacky tanpa menoleh ke arah Thalia, pandangannya beralih bergantian pada tiga tamu di depannya. Pengacara itu menelan ludah. "T-Tuan Alvarez, kami punya bukti genetik keturunan—""Bukti itu tidak berguna," potong Zacky dingin.Zacky menjentikkan jarinya ke udara. Ivan segera melangkah maju, meletakkan sebuah map merah di atas meja."Buka itu," perintah Zacky kaku.Pengacara itu dengan tangan gemetar membuka map merah tersebut. Matanya membelalak lebar saat membaca dokumen yang tertera di sana."Sesuai dengan hukum perdata internasional yang berlaku sah," ucap Zacky, mengitari meja dengan langkah pelan namun mengancam, bagaikan predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Zacky? Membiarkan mereka masuk?" tanya Thalia, sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan rasa penasaran dan tekad yang kuat."Kita akan menyambut mereka dengan karpet merah, Sayang," balas Zacky, menyeringai sinis. [Ivan, ubah rute. Kita menuju kantor sekarang juga. Siapkan ruang pertemuan VIP.]"Zacky, kamu bilang aku tidak boleh ke kantor karena kondisiku!" protes Thalia pelan, memukul dada bidang suaminya."Ini pengecualian, Thalia. Aku butuh kamu duduk di sampingku saat aku menghancurkan mereka. Aku ingin mereka melihat dengan jelas siapa pemilik sah dari aset tersebut," geram Zacky posesif.Satu jam kemudian, di dalam ruang pertemuan VIP yang super mewah di lantai teratas Alvarez Tower.Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat canggung dan tegang. Tiga orang yang mengklaim sebagai kerabat jauh Valerian duduk dengan dagu terangkat sombong di satu sisi meja oval raksasa.
"Z-Zacky, aa yang kamu lakukan? Ruangan mobil ini cukup luas. Aku bisa duduk di kursi sebelahmu," cicit Thalia dengan pipi merona merah."Aku ingin memeluk istriku. Diam dan nikmati saja posisimu, Nyonya Alvarez," geram Zacky rendah, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Thalia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.Thalia terkekeh pelan, jari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, memberikan usapan lembut yang membuat pria itu memejamkan mata menikmatinya. Keberanian Thalia benar-benar telah terbentuk sempurna, ia tidak lagi merasa canggung bermanja dengan pria paling dominan ini.[Ivan,] pangkas Zacky tanpa mengangkat wajahnya dari leher Thalia, suaranya seketika berubah menjadi sangat dingin dan profesional.[Ya, Pak Zacky,] sahut Ivan dari kursi depan melalui interkom.[Bagaimana hasil penelusuran dokumen warisan lahan tua yang ada di dalam kotak kayu itu? Apakah segel Valerian itu masih
"Papa, kenapa Papa selama ini menyembunyikan kebenaran tentang Mama dariku?" pangkas Thalia, suaranya terdengar lembut namun menuntut sebuah penjelasan.Wanita itu melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap VVIP tempat papanya dirawat. Hari ini, Felix Effendy, papa Thalia, tampak jauh lebih sehat. Selang-selang infus yang selama beberapa minggu terakhir menempel di tubuhnya telah dilepas, pria paruh baya itu sedang merapikan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas karena dokter sudah mengizinkannya pulang hari ini.Felix menghentikan gerakannya. Wajahnya kembali memuat mendengar pertanyaan putrinya. Ia menatap Thalia yang berdiri anggun dengan balutan gaun sutra krem, lalu pandangannya beralih pada sosok pria yang berdiri di belakang Thalia. Zacky Farelio Alvarez. Pria itu langsung melangkah maju, meletakkan sebelah tangannya di pinggang Thalia, memberikan dukungan posesif yang tak terbantahkan."Thalia... kamu..
"Zacky... orang-orang bisa melihat kita dengan posisi seperti ini," cicit Thalia dengan pipi merona merah padam, merasakan paha suaminya yang keras bergesekan dengan pahanya dari balik gaun sutranya."Aku ini suamimu. Biarkan mereka melihat bahwa istriku sedang dilindungi suaminya," balas Zacky serak sensual, tidak mempedulikan protes halus istrinya.Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Thalia. Hidungnya menggesek lembut kulit mulus istrinya, menghirup aroma manis yang selalu menjadi candu penenang bagi akal sehatnya yang nyaris meledak karena amarah.Zacky mendaratkan kecupan-kecupan basah dan dalam di sepanjang leher jenjang Thalia. Gigitan kecil yang menggoda ia berikan tepat di atas tulang selangka istrinya, membuat Thalia mendesah tertahan."Mmph... Zacky... Tahan dirimu," desah Thalia, jemarinya meremas bahu tegap suaminya, meresapi desiran hangat yang seketika menyengat pusat sarafnya."Kamu membuat kewarasanku ber







