Mag-log inThalia memejamkan matanya, membalas ciuman lembut pria itu dengan mengalungkan tangannya di leher Zacky.
Rasa takut dan trauma yang sempat menyiksanya perlahan menguap, berganti rasa hangat dan kepuasan yang menyelimuti hatinya. Zacky melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan, ibu jarinya mengusap bibir Thalia yang merona basah. “Thalia, aku siapkan air hangat dulu ya.. Berendamlah agar tubuhmu sedikit lebih rileks..” tanganya mengusap lemb"Aku ingin tetap di sini, Zacky," ucap Thalia yakin, mengulurkan kedua tangannya melingkari leher tegap pria yang kini berlutut di hadapannya. Senyuman manis yang penuh keberanian merekah di bibir Thalia. Tidak ada lagi keraguan atau getaran ketakutan di matanya. Thalia menatap dalam manik mata hitam pekat milik Zacky, memberikan tatapan menantang yang membuat dada pria dominan itu bergemuruh hebat. "Kita sudah merencanakan bulan madu ini sejak jauh-jauh hari, Zacky. Aku tidak ingin membiarkan kepanikan Mama merusak waktu kita berdua. Aku ingin menghabiskan sisa minggu ini bersamamu di Itala, persis seperti rencana awal kita," ucap Thalia. Jari tangannya mulai menyusup ke sela-sela rambut tebal suaminya, memberikan usapan lembut yang sangat memabukkan. Mendengar keputusan dari bibir istrinya, rahang Zacky yang tadinya sempat menegang seketika mengendur. Sorot matanya yang selalu memancar
Thalia menoleh ke arah Zacky saya melihat wajah Tamara sebelum mertuanya itu me [Zacky Farelio Alvarez! Akhirnya kamu ingat kalau kamu punya seorang ibu!] semprot Tamara dari seberang panggilan, suaranya sedikit meninggi. [Mama hampir menyuruh tim Alpha menyisir seluruh benua Eropa karena kamu membawa lari pengantinmu dari pesta dan mematikan semua pelacak!] [Ma, kecilkan suaramu. Kamu bisa membuat istriku terkejut,] balas Zacky datar dan sangat kaku, sama sekali tidak merasa bersalah. Ia menggeser posisi ponselnya hingga wajah Thalia yang sedang tersenyum canggung ikut masuk ke dalam bingkai kamera. [S-Selamat pagi, Mama,] sapa Thalia dengan suara lembut, melambaikan tangan kecilnya. [Maafkan kami membuat Mama khawatir.] Melihat wajah menantunya yang cantik dan berseri-seri, raut wajah Tamara seketika berubah melembut seratus delapan puluh derajat. [Oh, sel
l"Z-Zacky... udaranya dingin..." cicit Thalia, tubuhnya menggelinjang halus merasakan udara malam Danau Comoro menyapu kulit perutnya. "Aku akan menghangatkannya," bisik Zacky sensual. Zacky menempelkan bibir hangatnya tepat di tengah-tengah perut Thalia. Ia memberikan kecupan basah yang panjang, lalu mengusapkan ujung hidungnya di sana dengan gerakan penuh pemujaan. Napas hangat Zacky berhembus teratur, membuat bulu kuduk Thalia meremang hebat. "Halo, jagoan... atau bidadari kecil papa," bisik Zacky tepat di depan perut istrinya, suaranya terdengar sangat parau dan menggetarkan hati. "Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana. Papa sudah menyiapkan seluruh dunia ini untukmu. Papa mencintaimu dan mamamu lebih dari nyawa papa sendiri." "Aah... Zacky... geli..." Thalia mendesah pelan, jari tangannya meremas rambut tebal suaminya. Sensasi
"H-Hamil...?" cicit Thalia terbata-bata, suaranya nyaris terdengar seperti hembusan angin. Tangannya perlahan terulur, menumpuk di atas punggung tangan Zacky yang masih bertengger di perutnya. "Di dalam perutku... ada bayi kita?" "Iya, Sayang. Buah hati kita," pangkas Zacky mutlak. Pria itu membenamkan wajahnya di perut datar Thalia. Ia menciumi perut istrinya dari balik balutan gaun tidur tipis, memberikan kecupan-kecupan panjang yang diiringi isakan tertahan. Pertahanannya sebagai pria dingin dan tanpa belas kasih melebur malam itu, digantikan oleh naluri seorang ayah dan suami yang jiwanya baru saja diselamatkan oleh wanita yang sangat dicintainya. Air mata Thalia akhirnya tumpah dengan deras. Ia menunduk, memeluk kepala Zacky yang masih bersandar di perutnya, mengusap rambut tebal suaminya dengan penuh kasih sayang. Isak tangis bahagia meledak dari bibir Thalia, menghancurkan seluruh
"Zacky? Ada apa di layar ponselmu sampai membuatmu menegang seperti itu?" cicit Thalia, memecah sunyi dalam kamar yang hanya diisi suara hembusan angin Danau Comoro di luar jendela.Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya temaram lampu tidur. Posisi tidurnya sedikit bergeser saat ia menyadari kehangatan di sisinya telah menghilang. Thalia menopang tubuhnya dengan satu siku, menatap punggung tegap suaminya yang duduk kaku di tepi ranjang.Zacky sama sekali tidak menjawab. Pria itu terpaku menatap layar ponsel satelitnya seolah benda canggih itu baru saja menampilkan rahasia terbesar di alam semesta. Napas Zacky tertahan, rahangnya yang selalu mengeras kini tampak sedikit bergetar.Melihat reaksi yang sangat tidak biasa dari suaminya, rasa cemas perlahan menyusup ke dada Thalia. Keberanian yang telah tumbuh dalam dirinya membuat Thalia tidak lagi bersembunyi di balik selimut. Ia
Thalia mengusap rahang tegas Zacky dengan tangannya yang bebas dari bekas suntikan. "Aku sungguh tidak merasa sakit tadi sore, Zacky. Aku sangat bahagia menikmati pemandangan danau bersamamu. Rasa mual itu benar-benar datang secara mendadak saat mencium bau makanan laut tadi."Zacky memejamkan matanya sejenak, menikmati usapan lembut jemari Thalia di pipinya. Pria itu menarik tangan istrinya, mencium telapak tangan itu dengan penuh kehangatan."Kamu membuat duniaku hampir berhenti berdetak saat kamu hampir pingsan di dekapanku tadi, Thalia," desis Zacky rendah.Thalia tersenyum manja, rasa percaya dirinya yang tumbuh di balik perlindungan pria itu membuatnya memberanikan diri menggoda suaminya. "Mana Pak Zacky yang selalu bersikap dingin, tidak tersentuh, dan kaku itu, hmm? Kenapa sekarang terlihat sangat panik?"Zacky membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Thalia dengan kilat dominan yang amat memikat. "Pria d







