로그인"Za-Zacky, cukup!" seru Thalia sambil menangis.
Tapi Zacky terus menendang Arjuna seakan meluapkan semua amarahnya yang tertahan selama ini. “Pak Zacky, cukup! Kalau anda terus memukulnya, dia bisa mati!” seru Ivan yang baru saja masuk bersama tim pengawal. Asisten pribadinya itu segera menahan lengan Zacky sebelum pria itu menghabisi nyawa Arjuna sepenuhnya. Napas Zacky terengah-engah penuh amarah yang membuncah. Manik matanya mThalia memejamkan matanya, membalas ciuman lembut pria itu dengan mengalungkan tangannya di leher Zacky. Rasa takut dan trauma yang sempat menyiksanya perlahan menguap, berganti rasa hangat dan kepuasan yang menyelimuti hatinya. Zacky melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan, ibu jarinya mengusap bibir Thalia yang merona basah. “Thalia, aku siapkan air hangat dulu ya.. Berendamlah agar tubuhmu sedikit lebih rileks..” tanganya mengusap lembut kepala gadis itu penuh perhatian. Thalia hanya mengangguk pasrah, tersenyum melihat perhatian dan kelembutan Zacky padanya. Berbeda jauh dengan perlakuan kasar Arjuna selama ini. Zacky berjalan ke kamar mandi menyalakan air hangat dan menyiapkan keperluan mandi untuk Thalia. Selama ini, dia tidak pernah menyiapkan apapun sendiri, tapi demi gadis itu, Zacky rela melakukan segalanya. “Airnya sudah siap, mau aku bantu mandikan?!” tanya Zacky sambi
"Za-Zacky, cukup!" seru Thalia sambil menangis. Tapi Zacky terus menendang Arjuna seakan meluapkan semua amarahnya yang tertahan selama ini. “Pak Zacky, cukup! Kalau anda terus memukulnya, dia bisa mati!” seru Ivan yang baru saja masuk bersama tim pengawal. Asisten pribadinya itu segera menahan lengan Zacky sebelum pria itu menghabisi nyawa Arjuna sepenuhnya. Napas Zacky terengah-engah penuh amarah yang membuncah. Manik matanya menatap dingin ke arah tubuh Arjuna yang terkulai tak berdaya bersimbah darah. "Bawa pria ini ke markas pusat," perintah Zacky dingin pada para pengawalnya. "Pastikan dia merasakan hukuman paling menyakitkan sebelum kalian menyerahkannya kembali ke pihak kepolisian." "Baik, Pak Zacky!" jawab para pengawal sigap sambil menyeret tubuh Arjuna keluar dari bangunan tua itu. Setelah ruangan itu kembali sepi, Zacky perlahan membalik tubuhnya
”AAWW..." ringisan Thalia tertahan di balik sumbatan kain di mulutnya. Arjuna berlutut di hadapan Thalia, melonggarkan ikatan tali di kaki gadis itu namun tetap membiarkan pergelangan tangannya terikat rapat di belakang punggung. Pria itu kemudian melepas kain sumbatan di mulut Thalia secara kasar. "Hahhh... Hahhh..." Thalia meraup udara segar sambil terbatuk-batuk kecil. "A-Arjuna... Aku mohon... Lepaskan aku..." cicitnya memelas dengan tatapan mata yang penuh air mata. "Lepaskan?" kekeh Arjuna tertawa hambar, jemarinya mengusap pipi Thalia yang lebam akibat tamparannya tadi. "Setelah semua usahaku membawamu kesini, kamu minta dilepaskan? Jangan mimpi, Thalia." "Papa kamu sudah merestui kita," lanjut Arjuna sambil mendekatkan wajahnya ke leher Thalia, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan ekspresi penuh nafsu yang menjijikan. "Malam ini, di tempat ini, k
"Lepasin! Arjuna, jangan ambil ponselku!" jerit Thalia histeris saat tubuhnya ditarik paksa. Arjuna melihat layar ponsel Thalia yang baru saja mengirimkan titik lokasi terkini ke kontak 'Pak Zacky'. "Beraninya kamu kirim lokasi ke Pak Zacky itu!" bentak Arjuna dengan tatapan tajam penuh amarah. PRAAKKK..! Arjuna melemparkan ponsel milik Thalia ke luar jendela mobil, menghantam aspal jalanan hingga hancur berkeping-keping dan mati total. "Gak ada yang bisa menyelamatkanmu malam ini, Thalia! Tidak ada!" desis Arjuna dingin, mencengkram rahang Thalia hingga gadis itu meringis kesakitan. "A-Arjuna... Sakit! Lepasin!" rintih Thalia serak, air matanya menetes deras membasahi jemari Arjuna yang mencengkeram kuat rahangnya. "Sakit?!" kekeh Arjuna sinis, memiringkan kepalanya dengan tatapan mengerikan. "Ini belum seberapa dibanding rasa sakit dan malu yang harus aku
"Sshhh.. Eummmhh..." Thalia mengeluh pelan saat kesadarannya perlahan terkumpul kembali. Kepalanya terasa sangat berat, pandangannya masih berbayang, dan aroma zat kimia yang menyengat masih menempel samar di indra penciumannya. Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ia merasakan pergelangan tangannya terikat di belakang punggungnya. Kakinya juga terikat rapat dengan tali plastik yang menekan kulitnya hingga perih. Thalia mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa takut, cemas dan panik. Gadis itu tetap berpura-pura masih terkulai lemah dengan mata memejam, membiarkan kepalanya tersandar di pintu mobil. Namun dalam pikiran gadis itu berputar cepat mencari celah menyelamatkan diri. 'Aku gak boleh menyerah... Aku harus bisa keluar dari sini! Zacky pasti sedang mencariku...' batin Thalia menahan tangis. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Thalia meraba saku
Thalia tersentak kaget, langkah kakinya seketika terhenti kaku saat suara berat yang sangat dibenci mendadak terdengar memecah keheningan lobby. Matanya membelalak lebar melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya dengan pakaian serba hitam dan raut wajah penuh dendam. "A-Arjuna...?!" jerit Thalia tertahan, wajahnya seketika pucat pasi melihat sosok pria itu. ‘Bagaimana mungkin Arjuna bisa berada di sini?! Bukankah dia seharusnya masih ditahan di kantor polisi atas laporan dari tim hukum Zacky?!’ batinnya mulai gelisah. Arjuna menyunggingkan senyum miring yang begitu mengerikan, melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. "Kenapa? Kaget melihatku bebas, hah?!" desis Arjuna penuh amarah yang tertahan. "Kamu pikir Pak Zacky bisa mengurungku selamanya di penjara, Thalia?!" "K-kamu... Bagaimana bisa kamu keluar?!" cicit Thalia panik setengah mati, kakinya melangkah mun







