MasukMendengar ucapan Qaiyara, Bu Mirna, Pak Abas dan Ardan tahu bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata, dan ketiganya tertawa mendengar candaan tersebut. Lain halnya dengan Sagara dan Manda, Sagara terus fokus pada makanannya, sementara Manda menjentikkan matanya, melihat suami dan kedua orang tuanya yang tertawa dengan tatapan penuh ketidaksukaan.
"Ternyata kamu selucu itu, ya?!" puji Bu Mirna. Qaiyara hanya tersenyum, memasang wajah polosnya. Mendengar pujian tersebut, Manda memutar mata jengahnya, melirik sinis pada Qaiyara. Setelah makan malam, Manda langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bu Mirna menatap Qaiyara dan Sagara dengan senyum lebar. “Kalian nggak usah pulang malam-malam begini. Nginep aja di sini, lagian kamar Sagara masih ada kok.” Qaiyara yang sedang minum hampir tersedak mendengar itu. “Ng-nggak perlu, Mah! Kami bisa pulang. Lagian, kan deket,” katanya cepat. “Deket apanya? Dari sini ke apartemen kalian itu lumayan jauh, lho,” balas Bu Mirna sambil melipat tangan. Qaiyara memutar otak mencari alasan. “Eh, tapi di apartemen kami lupa nyabut rice cooker, Mah. Kalau nggak balik, nanti korsleting!” “Rice cooker? Kamu yakin?” Sagara menatapnya dengan tatapan skeptis. “Eh… iya, pokoknya ada deh!” Qaiyara memiringkan kepalanya, mengikis jarak antara ia dan suaminya. "Iyain aja, Napa sih? Kebelet banget mau sekamar ama saya!" bisik Qaiyara. Sagara melirik Qaiyara sejenak, kemudian membuang muka, enggan menggubris perempuan itu. Bu Mirna hanya tersenyum tipis, tak mempan dengan alasan Qaiyara. “Udah, nginep aja. Itung-itung, nginep pertama kali di rumah mertua tercinta. Ya?!” seru Bu Mirna sambil menaik turunkan alisnya, membujuk Qaiyara. Qaiyara mencoba mencari alasan lain, tapi Sagara langsung memotong. “Udah, kita nginep aja. Jangan bikin drama.” “Drama? Ini bukan drama! Ini namanya survival mode!” balas Qaiyara dengan wajah panik. Sagara hanya menghela napas panjang. “Kamu kebanyakan nonton film.” * * * Malam itu, Qaiyara dan Sagara akhirnya harus sekamar di kamar masa kecil Sagara. Kamarnya rapi dan wangi, tapi Qaiyara justru merasa gugup. “Tidur di sini… bareng… kamu?” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Kamu mau tidur di mana lagi? Di garasi atau di loteng, tidur bareng tikus?” Sagara menutup pintu dengan santai. Qaiyara memelototinya. “Eh, tapi kan… saya cewek. Kalau Mas—ehm— melakukan yang nggak-nggak, gimana?” Sagara memutar matanya dengan malas, "iya, saya tahu kalau kamu itu cewek. Kalau cowok nggak mungkin saya mau nikahin!" seru Sagara sambil berjalan menuju ranjangnya yang sudah hampir sebulan tak lagi ia tiduri, "lagian, kamu tenang aja. Saya nggak bakalan perk*sa kamu!" "Buset, ngomongnya nggak difilter!" gumam Qaiyara pelan. "Kalau Mas tidur di situ? Saya tidur di mana, dong?" tanya Qaiyara. Sagara berbaring dan memejamkan matanya, “di mana aja, terserah! Mau di lantai kek, di balkon atau di kamar mandi, terserah!” sahut Sagara, “yang penting nggak tidur seranjang bareng saya!” Qaiyara mendengus kesal, lalu duduk di sofa kecil di sudut kamar. “Aku tidur di sini aja!” “Awas aja, kalau Mas macem-macem ama saya. Saya jago bela diri, tahu!” ancam Qaiyara. Sagara mengangkat kepalanya, meletakan lengannya sebagai bantalan. “Percaya deh, kamu bukan tipe saya.” Perasaan Qaiyara sedikit lega, tapi juga kesal. “Cih, ada ya, laki-laki sok kegantengan seperti dosen kutub yang satu ini?!” “Udah, stop buat keributan! Saya nggak akan perk*sa kamu, tenang aja! Tapi kalau saya mau, saya nggak butuh alasan buat ‘melakukan hal itu. Kan secara, kamu udah halal buat saya.’ Jadi santai aja, nggak akan jatuh zina.” Qaiyara langsung merinding, matanya membulat. “DASAR, DOSEN MESUM!!!” pekik Qaiyara sambil melemparkan bantal sofa ke arah ranjang, lebih tepatnya ke arah Sagara. “Mak, anakmu ini ada di kandang harimau yang kelaparan!!” Mendengar teriakan Qaiyara yang mampu menusuk kupingnya, Sagara mendesah panjang dan bangkit dari tidurnya. “kalau kek gini, saya nggak akan bisa tidur!” protes Saga dengan kesal. “Tidur sana, saya bukan harimau lapar, nggak akan ngapa-ngapain. Kalau kamu takut, saya bisa kunci pintu dari dalam, jadi nggak ada yang bisa masuk.” “Nggak, nggak perlu dikunci. Nanti suasana kamar ini akan makin horor!” “Yaudah, tutup mulutmu dan buruan tidur! Kalau kamu nggak mau tidur, jangan ajak saya begadang. Paham!” seru Sagara sambil kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Malam itu, meski sekamar, mereka tidur berjauhan. Namun, entah kenapa, Qaiyara tidak bisa berhenti memperhatikan punggung Sagara yang terpantul cahaya remang lampu meja. Qaiyara menggelengkan kepalanya, sambil berkata, “Jangan tidur, Qai. Kalau kamu sampai ketiduran, pasti si dosen mesum itu akan berubah jadi harimau yang lapar.” gumam Qaiyara bermonolog, membayangkan hal tersebut, ia sampai bergidik ngeri. Beberapa menit berlalu, suasana kamar menjadi hening, tak ada lagi suara dari perempuan bertubuh mungil itu. Sagara membuka mata, melirik perempuan itu yang ternyata sudah terlelap dalam tidurnya. Sagara dapat menangkap, kalau Qaiyara tidur dengan menahan dingin, namun kalau diperhatikan lebih dalam lagi, posisi Qaiyara lebih mirip orang terjerat kabel. Ia segera beranjak dari ranjangnya, mengambil remote AC dan menaikkan suhu kamarnya. Kemudian, ia membuka lemarinya untuk mengambil selimut, namun sayangnya, di kamarnya hanya ada satu selimut, itupun selimut yang ada diatas ranjang. Tanpa berpikir panjang, Sagara meraih selimut itu dan segera menyelimuti tubuh mungil istrinya. Ia menatap dengan intens wajah natural Qaiyara. Tanpa ia sadari, sebuah senyuman simpul terulas, “tenangnya pas tidur doang." Sagara teringat, betapa aktif dan ceritanya Qaiyara. Tiba-tiba, Sagara terfokus pada beberapa helai rambut yang menutupi wajah Qaiyara, membuatnya terlihat seperti hantu film indie dengan low budget. Dengan hati-hati, Sagara mengulurkan tangan, berniat menyingkap rambut itu dan menyelipkannya ke belakang telinga Qaiyara. Namun, baru saja jarinya mendekat, Qaiyara tiba-tiba menggeliat seperti cacing kena garam. Matanya tetap terpejam, tapi mulutnya mulai bergerak. “Mbak... nasi goreng spesial satu...” gumam Qaiyara dengan suara serak ala penyanyi dangdut. Sagara berhenti sejenak, menatap bingung. Tapi dia membiarkan Qaiyara melanjutkan. “Pakai telur dua... satu mata sapi... satu lagi telur rebus. Tapi, kuningnya harus MATANG ya, Mbak! Kalau setengah matang, saya refund!” suaranya naik seperti pelanggan marah di warung. Sagara menahan sesuatu yang menggelitik diperutnya, tapi tidak berhasil. Bahunya bergetar, dan dia akhirnya tertawa kecil. “Saya tarik kembali ucapan saya yang tadi. Bahkan dalam mimpi pun dia sangat cerewet.” Lalu, Qaiyara mengubah posisi, membalik tubuhnya, dan mendekap bantal erat-erat seperti mangkok nasi goreng. Dengan nada tegas, dia menutup igauannya, “Kalau bisa, kasih diskon ya, Mbak. Saya langganan!” Sagara akhirnya menyerah, tertawa terpingkal-pingkal. Dia berdiri sambil berkata, “Oke, Bu Pelanggan Nasi Goreng. Besok-besok saya pesankan sekalian chef buat kamu.” Sambil berjalan pergi, dia berbisik, “Untung kamu nggak pesan kambing guling.” Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, akan tetapi Qaiyara masih terlelap dalam tidurnya. Melihat istrinya yang masih terlelap. “Astaga, dia tidur atau cosplay jadi orang mati?” Sagara berusaha mencari cara untuk membangunnya tanpa menyentuh. Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang melintas dipikirannya, ia tersenyum misterius sebelum menjalankan aksinya. "Okey, kamu suka kan dengan lagu dangdut!" Sagara menuju lemarinya, mengambil sebuah speaker portable dari atas sana. Kemudian, dia memutar musik dangdut koplo dengan volume maksimal. Lagu itu berjudul "Goyang Dumang" dengan full bass, cukup kencang hingga membuat seisi kamar itu bergetar. Untungnya, kamar Sagara kedap suara, jadi orang yang diluar tidak akan mendengar guncangan tersebut. Tiba-tiba saja, Qaiyara tersentak dari tidurnya, dengan cepat menutup telinganya dengan bantal. “ASTAGA! TSUNAMI MUSIK APA INI?! MASIH JAM 6, KAMPRET!” teriaknya. Tapi Sagara, yang perfeksionis dan anti-kasihan, tidak berhenti. “Dari cara bicara, sepertinya dia belum sadar sepenuhnya.” Sagara malah membawa improvisasi ke level berikutnya. Qaiyara akhirnya bangkit dengan rambut acak-acakan, bantal masih menempel di tangannya. “MAS, APA SEMUA DISEN TIDAK PUNYA HATI DAN PERASAAN?! KENAPA RUMAH BERUBAH JADI KONSER DANGDUT?” Sagara melipat tangan di dadanya. “Kalau saya tidak punya hati, pasti saya udah tinggalin kamu di sini. Seketika udah hampir jam 7, dan saya punya kelas jam setengah 9, begitu juga dengan kamu. Bangun dan cepat bergerak atau saya panggil marching band kampus untuk tampil di depan kamar ini.” Qaiyara mendengus sambil menggerutu. “Ya ampun, hidup saya ini apa sih? Rumah tangga kontrak atau pelatihan militer?!” “Keduanya. Selamat pagi.” Dia mematikan speaker dan meninggalkannya begitu saja. Qaiyara berteriak dari dalam kamar, “DASAR BERUANG KUTUB PSIKOPAT!” Belum berapa langkah keluar dari kamar, Sagara membalas santai, “Saya dengar itu, Qaiyara. Bergegaslah, yang lain sudah menunggu di meja makan.” Mendengar hal itu, mata Qaiyara seketika membuat, dengan mulut yang ikut terbuka lebar. "Astaga, Qaiyara. Bisa-bisanya kamu lupa, ini di rumah mertua dan kamu bangun kesiangan? Mana di rumah ini ada singa betina yang sinisnya minta ampun!" Qaiyara merutuki dirinya. Dengan cepat ia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera keluar untuk bergabung dengan yang lainnya. Begitu keluar dari kamar, dengan perasaan ragu, malu dan was-was, ia tetap menuju dapur untuk bergabung dengan yang lain. "Waduh, keknya semalam ada yang kerja lembur, nih!" celetuk Bu Mirna sambil tersenyum. Qaiyara hanya ikut tersenyum dan duduk di samping suaminya. "Mah, udah. Kasihan Yara, mukanya udah memerah tuh!" timpal Pak Abas. “Wah, wajahnya merah-merah! Ini efek malu-malu atau efek semalam, ya?” Ardan ikut menimpali. Sedangkan itu, Manda memutar mata jengah, "Cih!" Qaiyara segera duduk, dan Bu Mirna langsung menyendokkan makanan untungnya. Qaiyara mulai menyantap makanan dengan lahap, berharap ia bisa segera pergi dari sana. “Qaiyara, kamu bisa masak nggak?” tanya Manda tiba-tiba, sambil memandangi Qaiyara dengan senyum tipis yang tidak menyenangkan. "Bisa!" bukan Qaiyara yang menjawab, melainkan Sagara dengan suara tegasnya sambil menatap kakaknya dengan datar. Qaiyara menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Eh, bisa sih. Masak air, mie, telur...,” “Itu doang? Wah, Karin itu bisa masak apa aja, lho. Dari makanan Indonesia sampai western. Bahkan dia pernah bikin beef wellington buat Mama,” kata Manda sambil tersenyum bangga. “Aku jadi kasihan ama adikku, hidup bareng kamu, pasti dia akan kekurangan gizi!” Qaiyara hanya bisa menelan ludah, merasa semakin kecil. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Sagara tiba-tiba berbicara. “Karin memang pintar masak, tapi Qaiyara juga punya kelebihan lain.” Semua orang di meja menatap Sagara, termasuk Qaiyara yang terbelalak kaget. “Kelebihan lain?” tanya Manda, penuh rasa ingin tahu. Sagara tidak berniat untuk memberikan jawaban, ia beranjak dari duduknya dan mengajak Qaiyara untuk segera pulang ke apartemen. Qaiyara beranjak dari duduknya, tak lupa untuk berpamitan pada semuanya. * * * Di perjalanan pulang, Sagara terus fokus mengemudi, menyalip beberapa mobil yang ada di depannya. Jalan pagi ini cukup padat, tetapi Sagara mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hal itu mampu membuat Qaiyara tegang, ia berpegang di hand grip, matanya melirik spidometer, lalu berkata, “Pak, niat banget sih mau sehidup semati dengan saya!” Sagara fokus pada jalan. “Ini semua Karena kamu, kalau kamu nggak kesiangan. Saya juga nggak mau sehidup semati dengan kamu!” Setelah melalui drama sehidup semati, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Begitu sampai di basement apartemen, seorang tetangga wanita paruh baya mendekati mereka dengan rasa penasaran. “Eh, Mas Sagara. Pacarnya, ya? Kok beda dengan yang kemarin-kemarin?” tanya Wanita paruh baya itu sambil melirik Qaiyara. Sagara hanya mengangguk kecil, malas meladeni. Namun, Qaiyara yang ceria langsung menanggapi. “Iya, benar! Saya pacar halalnya. Kenapa, Bu? Mau pinjam uang?” Ibu itu terkejut. “Oh, istrinya ya? Saya kirain pacarnya.” Sagara yang malas meladeni ibu itu, karena tahu bahwa beliau adalah admin grub gosip apartemen itu. Ia segera merangkul Qaiyara dan pamit pada ibu dan segera masuk ke dalam apartemennya. “Haduh!! Ini pertama kalinya saya terlambat seperti ini. Semuanya gara-gara kamu!” gerutu Sagara, bergegas masuk ke kamarnya dan bersiap-siap untuk menjalani profesinya sebagai Dosen. “loh, kok gara-gara saya, sih?” protes Qaiyara yang tak terima disalahkan. Sebelum menutup pintunya dengan rapat, Sagara dapat mendengar ucapan Qaiyara. “Ya memang gara-gara kamu. Makanya, lain kali, kalau tidur jangan sekalian belajar mati!” cibir Sagara dari dalam kamarnya. Qaiyara tidak membuka suara lagi, karena kamar Sagara kedap suara, jadi, ia tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan lelaki itu. Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk ke kampus. Setelah siap, Sagara langsung pergi ke kampus. Meninggalkan Qaiyara yang masih sibuk mencari bukunya. Lagipula, semenjak tinggal bersama, mereka ke kampus selalu pergi terpisah. * * * Begitu sampai di kampus, Qaiyara langsung disergap oleh Alina dan Dion di taman depan fakultas. “Qai! Kemarin lu ke mana aja? Kok nggak ngabarin, padahal gue dan Dion udah nungguin elu di taman?” tanya Alina dengan nada penuh curiga. Qaiyara berusaha tersenyum santai, memikirkan jawaban yang tepat, “Emmh... Kemarin aku ke rumah sepupunya nyokap gue!” jawabnya. "Masa sih? Padahal, kata nyokap lo, lo pulang kampung ke rumah nenek lu," ungkap Dion sambil menatap penuh curiga. Rasa panas mulai menjalar di seluruh tubuh Qaiyara, ia tetap berusaha untuk tersenyum dan terlihat santai. “Eg, iya. Kan rumah sepupunya nyogak gue, dekatan Ama rumah nenek!” jawabnya dengan cepat. Qaiyara berusaha tersenyum santai. “Eh, aku kan nggak seminggu, cuma… ya, sibuk dikit.” “rumah nenek apa rumah nenek? Jangan bilang, Lo lagi menyembunyikan sesuatu dari gue dan Dion!” Alina menyipitkan matanya, mencoba membaca ekspresi Qaiyara. Qaiyara terkekeh gugup. “Apaan sih? Nggak ada rahasia. Aku cuma lagi… fokus sama tugas-tugas.” Dion menatap Qaiyara dengan tatapan mencurigakan. “Tugas apa? Jangan-jangan...!” Qaiyara bingung harus beralasan apa lagi. Tiba-tiba, matanya menangkap seorang dosen yang berjalan menuju kelas mereka. “Eh, Pak Sagara udah otw ke kelas!!” seru Qaiyara sambil berlari menuju kelas. Alina dan Dion ikut berlari menuju kelas, pertanyaan tadi sudah mereka lupakan saking paniknya mereka saat melihat Dosen killer itu sebentar lagi masuk ke kelas. Di sisi lain, Qaiyara merasa lega karena bisa selamat dari pertanyaan kedua sahabatnya itu. “Kali ini masih selamat, mungkin tidak untuk berikutnya!!” batinnya.Qaiyara bersorak gembira, ia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah orangtuanya, walaupun baru saja kemarin ia bertemu dengan ibunya, tapi hari ini ia sudah merindukannya lagi.* * * “Semoga panjang umur, sehat selalu dan bahagia terus ya, anakku!!” tutur Bu Megan sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya.Qaiyara tersenyum dan mengangguk, “Terimakasih ya, Bu!” seru Qaiyara sambil mendaratkan pelukan hangat pada sang ibu“Kamu makan yang banyak ya, ibu udah masakin semua makanan kesukaan kamu,” ujar Bu Megan dengan nada lembut.Qaiyara melepaskan pelukannya, melihat banyaknya menu makanan kesukaannya di atas meja, kemudian menatap ibunya dengan perasaan iba. “Seharusnya ibu nggak usah masak sebanyak ini, lihat ibu sehat aja itu udah jadi hadiah terindah buat aku, Bu.”Setelah suasana sedih memenuhi ruangan tersebut, kini mereka menikmati makan malam bersama dan setelah itu Bu Megan pamit lebih dulu untuk beristirahat, Qaiyara mengantar ibunya ke kamarnya
Karin merasa ia telah salah memilah kata-kata, ia terdiam sejenak, melirik Manda untuk meminta pertolongan pada sahabatnya itu. Manda hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan pada Karin, agar ia tetap tenang.“Seperti yang kita tahu, pernikahan Qaiyara dan Sagara itu nggak serius, mereka bakal tetap akhiri semuanya, sesuai dengan yang tertera di surat kontrak yang mereka buat,” ungkap Manda sambil tersenyum miring, merasa puas karena sudah membeberkan hal besar itu pada sang ibu.Mendengar ucapan putri semata wayangnya itu, mata Bu Mirna seketika membulat sempurna.“Jadi, pada akhirnya, pasti Sagara dan Karin akan tetap menikah, melanjutkan pernikahan mereka yang sudah tertunda,” imbuh Manda dengan mantap.* * *Setelah kelas pagi dan satu-satunya kelas mereka hari ini, Qaiyara diajak ke kantin oleh Alina.Di kantin, Sarah dan Dion sudah siap dengan segala hal yang mereka persiapkan sedari tadi, kejutan sederhana untuk Qaiyara.
Tak tanggung-tanggung, Sarah menginjak kaki Arga, membuat lelaki itu kesakitan dan menoleh ke padanya dengan mata yang membulat sempurna. “Plis, iyain aja!!!” bisik Sarah penuh harap.Arga kembali menoleh ke layar ponsel, tersenyum canggung dan mengangguk pelan. “Hallo, Tante!” sapanya pada Bu Sani.* * * Setelah Qaiyara mengganti bajunya, ia dan suaminya menikmati sarapan pagi yang dimasak oleh lelaki itu. Kemudian, setelah sarapan, ia memutuskan untuk segera ke kampus.Begitu membuka pintu utama, ia terkejut, matanya membulat sempurna saat melihat sebuah boneka beruang putih berukuran besar dan sebuah balon yang ada di depan pintu apartemen.“Mas Gara, kita kedatangan tamu!!” panggil Qaiyara.Sagara yang tengah bersiap untuk ke kampus, segera keluar dari kamar dan menghampiri Qaiyara.“Siapa?” tanyanya.Tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab, Qaiyara hanya menunjuk ke arah boneka dan balon tersebut. Dan Sagara ikut melihat ke arah yang ditunjuk perempuan itu.“Grizzly dan balonn
Di tempat lain, tampak seorang pria sudah sampai di depan toko kue, dengan langkah gusar dan napas lelahnya, ia masuk ke dalam toko tersebut.“Haduh, lain yang jatuh cinta, lain yang repot. Gini banget ya, kalau cowok baru ngerasain jatuh cinta setelah sekian lamanya dia mati rasa akan yang namanya cinta,” gerutu Arga begitu memasuki toko kue langganannya.Begitu ia berdiri di depan etalase yang menyuguhkan banyaknya pilihan kue, Arga mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket dan membuka ruang obrolannya dengan Sagara.Sagara : “Cariin kue yang menyimbolkan keromantisan, tapi jangan terlalu alay, kalau bisa yang sederhana aja gitu, tapi keliatan elegan dan mewah.” Begitulah isi pesan dari Sagara yang dikirimkan dari jam 6 pagi tadi. Ya, itu terlalu pagi.Setelah membaca pesan tersebut untuk yang kedua kalinya, Arga hanya mampu memutar mata jengah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.“Sederhana tapi keliatan mewah, gima
“Mas Gara ngapain sih ngasih harapan palsu ke ibu?” gerutu Qaiyara sesampainya di apartemen.“Harapan palsu apa sih, Qai-chai?” tanya Sagara sambil menghembuskan napas lelah.Qaiyara yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah, segera menoleh saat mendengar panggilannya dari sang suami.“Apa? Aku nggak salah dengar, nih?” tanyanya dengan kedua alis yang mengerut.Alis Sagara ikut mengerut, “Apaan?” Sagara bertanya balik, ia belum ngeh dengan apa yang ditanyakan Qaiyara.“Tadi Mas Gara manggil aku apa? Qai-chai?”Setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Qaiyara, Sagara hanya menganggukinya.“Iya, Qai-chai.”“Qai-chai apaan, dah?”“Dalam bahasa Hindi, Chai bermakna teh. Jadi, sudahi minum kopi, dan berpaling ke teh, meskipun minum teh juga nggak sehat-sehat banget, setidaknya nggak seburuk minum kopi berlebihan seperti kebiasaanmu!” seru Sagara menjelaskan panjang lebar, dan belum sempat Qaiyara berkutit dan memberikan responnya, Sagara lebih dulu berlalu dari sana.Qaiy
“Astaga, Ibu!!! Ngapain sih ibu ngurus masakan? Ibu kan baru pulang dari rumah sakit, ibu harus banyak istirahat dulu!!!” pungkas Qaiyara yang begitu sampai di rumah orang tuanya dan menemui ibunya yang tengah berkutat di dapur.Tampak pak Haris hanya mampu menghembuskan napas beratnya, sepertinya ia juga sudah berusaha untuk menasehati istrinya Agara beristirahat terlebih dulu, namun tetap mendapatkan penolakan dari Bu Megan.Bu Megan hanya menoleh untuk sesaat, kemudian kembali fokus mengiris perbawangan.“Ibu hanya ingin masakin makanan kesukaanmu, katanya kamu rindu sama masakan ibu,” tutur Bu Megan.Qaiyara memeluk ibunya dari belakang, menempelkan kepalanya di pundaknya ibunda tercintanya.“Maafin aku ya, Bu. Aku belum bisa menjadi anak yang baik buat ayah dan ibu,” gumamnya.Bu Megan menghentikan aktifitasnya itu, kemudian menghadap anaknya dan memeluknya dengan tulus dan penuh kehangatan. “Dengan menjadi istri yang baik u







