Share

Karin?

last update Last Updated: 2025-12-20 07:52:42

Di kamarnya, Sagara belum tertidur karena masih larut dalam pikirannya, ia tengah melamun di balkon, dengan ditemani angin sepoi-sepoi malam itu.

Saat asik memandangi gelapnya langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, sebuah notifikasi pesan masuk mampu membuyarkan lamunan Saga. Kali ini, pesannya singkat tapi membuat Sagara makin gelisah.

ARGA : “Karin bilang, dia mau ketemu elu begitu sampai di Indonesia.”

Saga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tampak, Sagara menyentuh lehernya, dan berdehem berulang kali, rasanya lehernya sangat kering.

Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Namun, baru saja melangkah keluar, ia melihat tv yang masih menampilkan kartun.

"Dasar bocah!!" gumam Sagara, menghiraukan hal itu dan segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air.

Setelah kembali dari dapur, Sagara melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk menyuruh Qaiyara agar segera tidur, melatih perempuan itu untuk tidur lebih awal, agar di kelas nanti ia tak ketiduran lagi disaat dosen memberikan penjelasan.

Sagara mendengus kesal, ia teringat bahwa Qaiyara sering tertidur di kelasnya, dan sekarang ia tahu alasannya. "Kalau nggak tidur di kelas, ya bergosip ria dengan teman-temannya yang nggak jelas itu."

"Ini udah jam berapa? Kasihan tv-nya, butuh istirahat!" seru Sagara sambil mengambil remote yang terletak di atas meja, lalu menekan tombol off.

Tak ada suara, tak ada protes dari perempuan itu, Sagara menoleh dan rupanya Qaiyara sudah terlelap sedari tadi. Melihat hal itu, Sagara hanya menggelengkan kepalanya, "Dasar anak kecil! Malah tv yang nontonin dia tidur."

Tanpa berpikir panjang lagi, Sagara langsung mengangkat tubuh mungil istrinya itu, membawanya masuk ke dalam kamar. Dengan perlahan, Sagara membaringkan Qaiyara di ranjang yang kemarin baru saja resmi menjadi milik gadis itu.

Sagara memperhatikan wajah polos Qaiyara untuk sesaat, kemudian bergegas keluar dari sana.

* * *

   Pagi ini, Manda yang baru saja selesai mandi dan berdandan, segera keluar kamar untuk sarapan bersama suami dan kedua orang tuanya.

“Good morning!!” sapa Manda dengan penuh keceriaan.

“Pagi juga anak Mama!” sahut Bu Mirna.

“Pagi, Sayang!” balas Pak Abas.

Pagi ini, mereka sarapan dengan ditemani obrolan hangat.

“Gimana liburannya, seru nggak?” tanya Bu Mirna penasaran.

Ardan yang fokus menikmati makanannya, hanya melirik istrinya. Sedangkan itu, Manda mengangguk penuh semangat, dengan mulut yang masih asik mengunyah makanannya, "seru dong, Mah. Seru banget malah!" sahut Manda.

Saat hendak menyuap makanan ke dalam mulutnya, Manda teringat sesuatu, ia bertanya, "oh ya, Mah. Saga nggak pernah lagi nginep di sini? Betah banget ya dia tinggal sendirian di apartemen," ucapnya.

Pak Abas dan Bu Mirna saling melirik, ragu untuk memberitahukan yang sebenarnya pada anak sulung mereka.

"Ya, gimana nggak betah ya, sekarang kan dia udah ada yang ngurusin di sana," ungkap Bu Mirna yang diangguki Pak Abas.

Mendengar ucapan Bu Mirna, Manda dan Ardan terkejut, sampai-sampai keduanya keselek makanan.

Manda terbatuk-batuk, dengan cepat Ardan memberikan segelas air minum dan langsung diminum oleh Manda sampai airnya sisa setengah.

Setelah ia rasa mendingan, Manda menatap kedua orang tuanya, meminta penjelasan, "maksud Mama, Papa. Saga udah nikah, gitu?" tanya Manda dengan ekspresi tak percaya.

Dengan kompak, kedua orang tuanya mengangguk.

"What? Saga nikah ama siapa? Kok aku nggak tahu, dan nggak diberitahu?" kata Manda penuh dengan tanda tanya.

Pak Abas mulai menjelaskan, menceritakan semuanya sebagaimana mestinya. Wajah Manda yang awalnya ceria, berubah masam setelah mendengar kabar tentang adiknya yang telah menikah.

“Jadi... kalian menikahkan Saga begitu saja dengan perempuan yang bahkan kalian belum tahu latar belakangnya?” Manda melipat tangan di dada, sorot matanya menusuk ke arah ibunya.

Bu Mirna, yang sejak tadi tenang, tersenyum tipis. “Manda, mama dan papa nggak punya pilihan. Kalau nggak dinikahkan, reputasi keluarga kita bisa hancur. Lagipula, mama senang akhirnya adikmu itu menikah. Selama ini, kamu sendiri yang sering bilang kalau dia terlalu lama menjomblo, kan?”

“Tapi, Bu! Kenapa harus dengan perempuan yang asal-asalan begitu?” Manda memprotes dengan nada tinggi. “Padahal Karin—”

“Sayang,” potong Ardan, suaminya, sambil mengelus pundaknya. “Jangan langsung menilai buruk. Mungkin aja perempuan itu gadis baik. Kita belum mengenalnya lebih jauh.”

Manda menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu membelanya? Kamu bahkan belum melihatnya! Dia bisa saja manipulatif atau hanya ingin memanfaatkan adikku! Fix, dia hanya mau mengincar harta Saga, harta keluarga kita!!”

Bu Mirna menghela napas panjang. “Manda, Karin sudah pergi dua tahun yang lalu. Sagara bahkan tidak pernah membicarakannya lagi. Apa kamu yakin dia masih ingin melanjutkan hubungan dengan perempuan yang memilih pergi, padahal hari H pernikahan mereka tinggal sebentar lagi?!”

“Dan nggak lama lagi, Karin akan pulang!” seru Manda penuh semangat. “Aku yakin dia akan mencoba memperbaiki hubungan mereka. Dia lebih cocok untuk Sagara daripada perempuan itu.”

Ardan mencoba menenangkan istrinya lagi. “Manda, kita lihat saja nanti. Jangan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan.”

Manda mendengus, tapi tidak lagi melanjutkan perdebatan.

* * *

Minggu pagi, Sagara terbangun karena suara ribut dari arah dapur. Suara sendok jatuh, gemericik minyak, ditambah alunan lagu dangdut remix membuat Sagara mengerutkan dahi. Ini apartemen atau pasar? Dengan rasa penasaran yang bercampur dengan firasat buruk, ia berjalan menuju dapur.

Begitu sampai di sana, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuatnya nyaris kehilangan kata-kata. Qaiyara berdiri di depan kompor, mengenakan celemek kebesaran dengan tulisan “Kiss the Cook”. Tangan kanannya sibuk membalik telur goreng di penggorengan, sementara tangan kirinya memegang sendok yang entah kenapa ada bumbu mie instan menempel di sana. Yang lebih parah, ada segelas kopi di sebelah penggorengan, lengkap dengan sedotan pink.

“Kamu lagi masak apa? Telur atau eksperimen kimia?” tanya Sagara, suaranya dingin.

Qaiyara menoleh sambil tersenyum lebar. “Pagi, Pak Dosen! Seperti yang Anda liat, ini saya lagi latihan sirkus, Pak Dosen mau jadi monyetnya?”

Sagara menatap tajam kearah Qaiyara, “QAIYARA ZIVARA?!!"  tegur Saga dengan nada pelan, namun penuh penekanan.

Qaiyara menarik sudut bibirnya dan berkata, “Cieee... hapal banget ama nama saya, Pak. Lagian, Mas Dosen pake acara basa-basi segala, udah liat saya goreng telur. Pake acara nanya segala.”

“Kamu mau goreng telur atau menghancurkan dapur saya?” tanya Sagara, suaranya mulai naik, matanya menelusuri keadaan dapur yang kini lebih mirip lokasi syuting film bencana. Ada cangkang telur di lantai, tepung entah kenapa tercecer di meja, dan minyak yang memercik ke mana-mana.

Qaiyara mendengus sambil memasukkan telur ke piring dengan gaya dramatis. “Eh, Mas Dosen jangan marah-marah dong. Yaudah, ini telur spesial buatan saya buat Mas Dosen aja deh, biar nggak marah-marah di minggu pagi yang ceria ini!” seru Qaiyara sambil menyerahkan piring yang berisikan telur pada lelaki itu.

Sagara menghela napas panjang. “Spe--”

“Iya, spesial!” potong Qaiyara dengan senyum penuh percaya diri.

Sagara duduk di meja makan, menatap telur goreng hasil masakkan Qaiyara. Warnanya terlalu cokelat, hampir gosong, dan ada aroma yang... Ya, tidak seharusnya ada.

Dengan ragu, Sagara mengambil garpu dan mencicipi sedikit. Begitu telur itu menyentuh lidahnya, ia langsung terbatuk. “Ini... telur apa garam berbentuk bundar?!” Sagara langsung meminum segelas air putih.

“Eh? Asin, ya?” Qaiyara mencicipi sedikit dari piring suaminya. Ekspresi wajahnya langsung berubah, lalu refleks menjulurkan lidahnya. “Ups, kebanyakan garam, kayaknya.”

“Kebanyakan garam? Kamu goreng telur ini pakai minyak atau diceburin ke laut?”

"Maaf, keknya tadi saya terlalu bersemangat,"

“Semangat buat apa? Membunuh saya?”

Qaiyara mendesah, lalu menatap Sagara dengan mata memohon. “Mas Dosen jangan marah-marah gitu, dong. Nih, saya bikin lagi kalau perlu.”

Sagara berdiri, mengambil spatula dari tangan Qaiyara. “Minggir. Daripada saya mati keracunan, lebih baik saya yang masak.”

“Wah, Pak Dosen bisa masak juga? Jangan-jangan masakannya kayak nilai ujian mahasiswa, nggak enak!”

“Setidaknya, masakan saya nggak membunuh,” balas Sagara dingin.

Lima Belas Menit Kemudian

Nasi goreng buatan Sagara sudah selesai. Aromanya menggoda, membuat Qaiyara menelan ludah. Tapi Sagara, dengan sikap dinginnya, hanya menyendok nasi goreng itu ke piringnya sendiri.

“Eh, bagian saya mana?” tanya Qaiyara dengan nada protes.

Sagara menunjuk piring kosong di rak. “Ambil sendiri.”

“Ck, dasar suami nggak pengertian. Nggak pantas jadi seorang imam!” cibir Qaiyara.

“Imam itu tugasnya memimpin, bukan melayani,” jawab Sagara sambil duduk tenang.

Dengan kesal, Qaiyara mengambil nasi gorengnya sendiri. Begitu mencicipinya, ia langsung terdiam. “Pak... ini enak banget!”

Sagara menoleh dengan alis terangkat. “Tentu saja. Masakan saya selalu berhasil.”

“Wah, saya beruntung banget punya chef dengan kontrak 6 bulan!”

Sagara hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak tahu harus berkata apa lagi, rasanya kali ini ia kehabisan kata-kata untuk menghadapi perempuan bertubuh mungil itu.

 * * *

Di taman pinggir danau, Dion duduk sambil memainkan ponselnya. Alina, yang duduk di sebelahnya, terus-menerus memutar sedotan di gelasnya.

“Kenapa sih Qaiyara nggak bales chat?” keluh Alina.

“Mungkin dia lagi sibuk,” jawab Dion santai.

“Sibuk apa? Nonton drama Korea?”

“Bisa jadi. Atau mungkin dia lagi sibuk bantuin ayam jantan bertelur emas,” balas Dion sambil terkekeh.

Alina menatap Dion dengan pandangan tajam. “Lu tuh ya, nggak ada serius-seriusnya. Udah, kita ke rumahnya aja!”

Sesampainya di rumah Qaiyara, mereka disambut oleh Bu Megan yang ramah. “Oh, Dion, Alina. Ada apa ke sini?” sejujurnya, ia was-was, karena sudah tahu pasti apa tujuan mereka datang.

“Kami mau ketemu Qaiyara, Tante. Kok dia nggak balas chat kita, ya?” tanya Alina.

“Oh, Yara?" beo Bu Megan yang berusaha memutar otak untuk mencari alasan yang tepat, "Emmmh..., ia lagi pulang kampung ke rumah neneknya,” jawab Bu Megan.

Dion dan Alina saling pandang dengan alis terangkat.

“Pulang kampung? Kok tumben nggak bilang?” bisik Alina.

“Mungkin... rahasia keluarga?” balas Dion pelan.

“Tante, kapan Yara baliknya?” tanya Alina, mencoba menyelidik.

“Oh, nggak lama lagi kok. Mungkin minggu depan.”

Dengan berat hati, Dion dan Alina pergi, tapi mereka tidak berhenti bertanya-tanya dalam hati.

* * *

  Dari siang tadi, Sagara sudah memberitahukan Qaiyara, kalau sang ibu menelpon, memanggil mereka untuk makan malam bersama di rumahnya.

Setelah malam tiba, Qaiyara dan Sagara datang ke rumah orang tua Sagara untuk makan malam. Di ruang tamu, Bu Mirna langsung menyambut mereka dengan pelukan hangat.

“Akhirnya kalian datang juga!” katanya ceria.

Namun, suasana menjadi canggung begitu Manda, kakak perempuan Sagara, muncul. Tatapannya langsung terarah pada Qaiyara.

“Jadi, ini istri Saga,” katanya dengan nada yang sulit diartikan.

“Qai, nggak usah tegang banget? Kayak mau ujian nasional aja,” gumam Qaiyara dalam hati, mencoba menenangkan dirinya.

Qaiyara menyunggikan senyuman, “Iya, Mbak! Saya Qaiyara. Senang bertemu dengan Mbak!” Qaiyara menyodorkan tangannya dengan semangat.

Manda hanya membalas dengan senyum tipis, membuat suasana makin kaku.

Di tengah makan malam, Qaiyara tiba-tiba mengeluarkan kotak brownies yang ia bawa. “Tante, saya bawa brownies buatan sendiri! Semoga suka.”

"Loh, kok manggilnya 'tante' sih? Panggil 'Mama' dong. Kamu kan sekarang udah jadi istrinya anak Mama!"

Qaiyara tersenyum canggung, ini sangat aneh baginya, hal baru yang baru saja ia rasakan.

Sagara langsung menoleh cepat. “Brownies? Kamu masak lagi?” tanyanya dengan berbisik.

“Santai aja, Mas Dosen. Yang ini aman.”

Bu Mirna terlihat senang menerima brownies itu, tapi saat mencicipi, ekspresinya berubah sedikit aneh.

“Uh... unik ya rasanya, Yar,” kata Bu Mirna sopan.

“Unik? Maksudnya kurang matang?” potong Sagara dengan nada sarkastis.

Qaiyara menatap Sagara dengan kesal. “Eh, Pak, jangan bikin malu dong. Brownies saya tuh terkenal di kompleks!”

“Terkenal karena apa? Karena nggak ada yang mau makan?”

Manda menahan tawa kecil, tapi Qaiyara tetap percaya diri. “Pokoknya, brownies ini dibuat dengan cinta!”

“Cinta apa? Cinta untuk menguji kesabaran orang?” Sagara berbisik pelan.

Meskipun begitu, suasana makan malam berakhir dengan hangat, terutama karena Qaiyara yang terus melempar candaan.

Namun, tak lama kemudian, Manda membuka suara, membuat suasana menjadi sedikit tegang, “oh ya, Gar. Nggak lama lagi, Karin balik ke Indonesia, loh!" beber Manda penuh semangat.

"Karin?" beo Qaiyara dengan raut wajah yang serius.

Semua mata tertuju pada Qaiyara, dengan ekspresi mereka masing-masing. Manda mengangguk penuh semangat, “Ya, Karin. Tunangan Saga!”

Qaiyara membulatkan bibirnya, “Oh, tunangan Mas Saga?!” ucap Qaiyara sambil melirik suaminya

Sementara itu, Sagara hanya memasang wajah datarnya dan terus menikmati makanannya, seolah tak mendengar obrolan yang ada.

Lagi dan lagi, Manda mengangguk, “Kenapa? Kamu kenal ama Karin?" tanyanya.

Qaiyara menggelengkan kepalanya, "nggak, aku pikir Karin yang penjual Kodok bakar itu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Posessive Husband    Seranjang.

    “Udah, nggak usah kebanyakan drama.”Sagara dengan wajah datarnya, beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjangnya, sambil menatap Qaiyara yang bergelung di balik selimut.“Turun,” ucapnya pendek.Qaiyara memeluk bantal lebih erat. “Enggak.”“Qaiyara.” Nada suaranya mulai tegas.“Mas Sagara.” Nada Qaiyara tak kalah menantang.“Ini ranjang saya.”“Tapi ini istri kamu,” balas Qaiyara sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum puas.Sagara memijat pelipisnya. “Kamu tidur di sofa.”“Enggak mau. Saya udah capek, rela batalin ke rumah orang tua saya, buat ngucapin ulang tahun buat mama kamu. Sekarang, gantian dong kamu yang ngalah. Kamu tidur di sofa.”Sagara berpikir sejenak. Kalau dia terus berdebat, Qaiyara pasti akan minta pulang. Dengan menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah.“Baik. Kamu menang.”Qaiyara tersenyum lebar. “Bagus. Saya memang selalu menang.”Sagara berbalik menuju sofa, sambil menggumam, “Kalau saya tahu begini, saya bakal cari alasan lain!” ia mendengus ke

  • Posessive Husband    Plot Twist

    “Pak, kenapa saya ditarik kayak mau diculik? Ini kampus, lho, semua orang ngelihat!” protes Qaiyara sambil melipat tangan di dada.Sagara tidak memberikan jawaban, ia masih bingung harus beralasan apa agar Qaiyara tidak ke rumah orang tuanya saat ini, sebab Bu Megan masih di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.Melihat Sagara yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, Qaiyara berniat untuk keluar dari mobil, ketika ia mencoba membuka pintu mobil, Sagara dengan sigap mengunci pintu otomatis.Berulangkali Qaiyara mencoba untuk membuka pintu mobil, namun hasilnya tetap sama, tak bisa untuk dibuka. Ia menoleh dengan kesal ke arah suaminya itu. “Pak Dosen yang terhormat, mohon izinkan saya untuk keluar! Kalau nggak, saya akan bawa kasus ini ke meja hijau, kasus penculikan!” ancam Qaiyara.“Silahkan, laporankan saja!” seru Sagara penuh tantangan. “Saya penasaran, bagaimana media akan meluncurkan berita, 'Seorang perempuan diculik oleh suaminya sendiri'?” gumam Sagara denga

  • Posessive Husband    Nafkah

    Sagara memarkir mobilnya di basement apartemen. Dengan langkah mantap, dia menuju lift dan menekan tombol lantai apartemennya. Dalam pikirannya, ada banyak hal yang berkecamuk, terutama tentang rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambutnya. Namun, suara televisi yang samar terdengar dari ruang tamu segera menarik perhatiannya.Dia berjalan pelan menuju sofa dan melihat sosok Qaiyara tergeletak dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Satu kaki menggantung di sisi sofa, tangan memeluk bantal, dan rambutnya menutupi sebagian wajah. Di layar televisi, kartun kesukaannya, Tom and Jerry, masih beraksi dengan suara nyaring.Sagara hanya bisa menghela napas. “Kamu ini lebih kayak anak kecil daripada mahasiswa.”Namun, saat memperhatikan wajah Qaiyara yang tertidur lelap, perasaan iba menyelimutinya. Ia teringat kondisi orang tua Qaiyara. Gadis itu terlihat begitu riang setiap hari, tapi Sagara tahu jika suatu saat dia tahu tentang kenyat

  • Posessive Husband    Sebuah Rahasia.

    Sagara sudah lebih dulu tiba di kelas. Duduk dengan tenang di depan, ia membuka laptopnya sambil memeriksa beberapa dokumen. Kelas sudah ramai, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, tetapi Sagara memperdulikannya. Ketika suasana begitu damai, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari koridor. "Yar, tungguin kita dong!!" teriak Alina. “Cepat, kita udah telat nih!” Qaiyara berteriak, berhenti sejenak untuk menunggu kedatangan sahabatnya itu, lalu ia langsung menarik tangan Dion dan Alina yang hampir kehabisan napas. “Yar, kalau kita mati di perjalanan ini, kamu yang tanggung jawab!” keluh Dion, napasnya tersengal. “Lebih baik mati karena lari daripada mati karena dimarahi Dosen killer itu!” sahut Qaiyara tanpa ragu. Namun, tepat ketika mereka sampai di pintu kelas, suara Sagara yang dingin dan tegas menghentikan langkah mereka. “Stop.” Ketiganya langsung berhenti seperti robot yang kehabisan daya. Qaiyara, Dion, dan Alina menatap Sagara yang sudah berdiri di sana dengan

  • Posessive Husband    Harimau Lapar

    Mendengar ucapan Qaiyara, Bu Mirna, Pak Abas dan Ardan tahu bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata, dan ketiganya tertawa mendengar candaan tersebut. Lain halnya dengan Sagara dan Manda, Sagara terus fokus pada makanannya, sementara Manda menjentikkan matanya, melihat suami dan kedua orang tuanya yang tertawa dengan tatapan penuh ketidaksukaan."Ternyata kamu selucu itu, ya?!" puji Bu Mirna.Qaiyara hanya tersenyum, memasang wajah polosnya. Mendengar pujian tersebut, Manda memutar mata jengahnya, melirik sinis pada Qaiyara.Setelah makan malam, Manda langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bu Mirna menatap Qaiyara dan Sagara dengan senyum lebar. “Kalian nggak usah pulang malam-malam begini. Nginep aja di sini, lagian kamar Sagara masih ada kok.”Qaiyara yang sedang minum hampir tersedak mendengar itu. “Ng-nggak perlu, Mah! Kami bisa pulang. Lagian, kan deket,” katanya cepat.“Deket apanya? Dari sini ke apartemen kalian itu lumayan jauh, lho,” balas Bu Mirna sambil melipat tangan.

  • Posessive Husband    Karin?

    Di kamarnya, Sagara belum tertidur karena masih larut dalam pikirannya, ia tengah melamun di balkon, dengan ditemani angin sepoi-sepoi malam itu.Saat asik memandangi gelapnya langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, sebuah notifikasi pesan masuk mampu membuyarkan lamunan Saga. Kali ini, pesannya singkat tapi membuat Sagara makin gelisah.ARGA : “Karin bilang, dia mau ketemu elu begitu sampai di Indonesia.”Saga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tampak, Sagara menyentuh lehernya, dan berdehem berulang kali, rasanya lehernya sangat kering.Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Namun, baru saja melangkah keluar, ia melihat tv yang masih menampilkan kartun."Dasar bocah!!" gumam Sagara, menghiraukan hal itu dan segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air.Setelah kembali dari dapur, Sagara melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk menyuruh Qaiyara agar segera tidur, melatih perempuan itu untuk tidur lebih aw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status