Home / Romansa / Posessive Husband / Sebuah Rahasia.

Share

Sebuah Rahasia.

last update Last Updated: 2026-01-19 17:40:35

Sagara sudah lebih dulu tiba di kelas. Duduk dengan tenang di depan, ia membuka laptopnya sambil memeriksa beberapa dokumen. Kelas sudah ramai, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, tetapi Sagara memperdulikannya. Ketika suasana begitu damai, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari koridor.

"Yar, tungguin kita dong!!" teriak Alina.

“Cepat, kita udah telat nih!” Qaiyara berteriak, berhenti sejenak untuk menunggu kedatangan sahabatnya itu, lalu ia langsung menarik tangan Dion dan Alina yang hampir kehabisan napas.

“Yar, kalau kita mati di perjalanan ini, kamu yang tanggung jawab!” keluh Dion, napasnya tersengal.

“Lebih baik mati karena lari daripada mati karena dimarahi Dosen killer itu!” sahut Qaiyara tanpa ragu.

Namun, tepat ketika mereka sampai di pintu kelas, suara Sagara yang dingin dan tegas menghentikan langkah mereka.

“Stop.”

Ketiganya langsung berhenti seperti robot yang kehabisan daya. Qaiyara, Dion, dan Alina menatap Sagara yang sudah berdiri di sana dengan wajah datar khasnya, melipat tangan di dada.

“Jam berapa sekarang?” tanya Sagara sambil melirik jam tangannya.

Qaiyara dengan polos mengangkat tangannya, menunjukkan jam di ponselnya. “Jam sembilan lewat dua menit, Pak!”

“Bagus. Kalian telat dua menit. Tidak ada yang boleh masuk.”

“Pak, tapi—” Qaiyara mencoba membela diri, tapi tatapan tajam Sagara membuatnya langsung menelan kata-katanya.

“Peraturan tetap peraturan. Kalau saya bisa datang tepat waktu, kalian juga harusnya bisa. Silakan cari aktivitas lain,” jawab Sagara tanpa emosi.

Dion mencoba ikut memohon. “Pak, demi masa depan kami yang cerah. Kasihanilah kami, Pak!”

“Kalau mau masa depan cerah, jangan telat,” sahut Sagara santai.

Qaiyara mencoba tersenyum manis. "Pak, dua menit itu cuma seperenam ratus dari satu hari. Kalau dipikir-pikir, itu nggak ada artinya dibandingkan waktu kita belajar. Dua menit itu cuma kedipan mata, lho. "

Alina dan Dion mengangguki ucapan Qaiyara yang tengah berusaha membujuk dosen dingin itu.

Sagara hanya menggeleng. “Silakan diskusi soal kedipan mata di luar kelas. Terima kasih.”

Alina tak kehabisan akal, ia tak mau nilainya dari dosen killer itu semakin memerah. Akhirnya, ia mencoba pendekatan terakhir. "Pak, kalau kami boleh masuk, saya traktir Bapak kopi satu minggu. Deal?"

Sagara tersenyum tipis—senyum penuh kemenangan. "Silakan pergi."

Mereka bertiga hanya bisa saling pandang sebelum menyerah dan berjalan menjauh dari pintu kelas. Dan Sagara memulai kelas.

“Dua menit! Dua menit! Ini semua gara-gara lo berdua!” keluh Qaiyara.

“Eh, kok gara-gara kita berdua, sih?”

“Ya, gimana, ya? Gue aja baru datang, baru sampai di depan fakultas, eeh, lu berdua malah interogasi gue nggak jelas!” gerutu Qaiyara.

Dion dan Alina mengingatnya, dan keduanya langsung mengangguk, mengakui kesalahan mereka.

"Ya, maklum. Tadi kita diserang kepo parah, nggak bisa berpikir kalau lagi kepo!” tutur Alina.

“Yah, sekarang kita punya banyak waktu untuk berpikir di kantin,” tambah Qaiyara dengan nada pasrah.

“Gue heran, deh! Ada ya, orang secuek dan sekaku Pak Sagara? Waktu ngidam, emaknya makan apa, sih?” tanya Alina keheranan.

“ngidam es batu kali, Dinginnya dari es, kakunya dari batu!” sahut Dion.

“Tapi, cuek-cuek gitu. Banyak loh Fangirl-nya di kampus ini!” ungkap Alina.

Dion dan Qaiyara dengan kompak menatap Alina, “Dan lo salah satunya, 'kan?” tanya Dion tanpa ragu.

Tanpa berpikir panjang, Alina langsung mengangguk sambil tersenyum, “bohong sih kalau nggak suka ama Pak Sagara, secara dia ganteng banget, bodynya... Uh!!” sahut Alina, menggerakkan tangannya di udara, mencoba menggambarkan postur tubuh lelaki tampan yang terkenal killer itu.

“Lin, Stop! Lu yang ngomong kek gitu, tapi gue yang kek mau gumoh dengernya!” pungkas Qaiyara.

“ih, yaudah sih, gumoh aja, nggak ada yang ngelarang. Sekampus ini, cuma elu cewek yang nggak normal!”

“Buset, sejak kapan standar kenormalan di ukur dari seberapa suka kita ama si beruang kutub itu. Noh, kalau mau suka, Prof Bambang aja! Dasar, fangirl-nya beruang kutub itu udah pada nggak waras.”

Dion mengangguk setuju dengan ucapan Qaiyara, “Apa lagi, tadi lu pake acara mau traktir Pak Sagara. Hellow..., Dia itu udah kaya, Lin! Nggak butuh duit recehan lo!” cibir Dion.

“Dih, jahat amat. Giliran lu suka ngemis buat ditraktir, doyan lu ama duit recehan gue?!” gerutu Alina.

Dion meringis bak kuda, menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. “Hehe... Nggak mau munafik, sih. Emang, nyatanya gue doyan. Lagian, Pak Sagara udah sering nolak yang kek gitu-gitu, banyak yang kasih hadiah tapi selalu di tolak mentah-mentah ama Pak Dosen. Terutama si Sarah, fangirl-nya Pak Sagara garis keras!”

Qaiyara memicingkan matanya, dan menatap Dion. “Gue liat-liat, lu banyak tahu juga ya tentang fangirl-nya dosen kutup itu. Curiga gue, kalau lu juga suka ama dia!”

Mendengar itu, Din terkejut, bergidik ngeri. “Buset, nuduhnya kaga ngotak! Gini-gini gue masih normal, dan sukanya ama elu!”

Alina memperbaiki posisi duduknya, melirik keduanya secara bergantian.“Keknya gue nggak lama lagi jadi nyamuk, nih. Udah buruan, balikan aja, deh!” seru Alina.

Qaiyara menghela napas dalam, serta menutup matanya sejenak. “Plis, deh! Itu tahun kapan, itu masih cinta monyet, ege!”

“Dulu cinta monyet. Dan sekarang, rasa cinta udah membesar, jadi cinta gorila.”

* * *

Di tempat lain, suasana berubah tegang. Bu Megan, yang tengah membereskan dapur, merasakan sakit luar biasa di dadanya. Ia mencoba bertahan, tapi tubuhnya tak mampu menahan beban. Gelas di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi pecah yang keras, diikuti tubuhnya yang ambruk.

Pak Haris, yang mendengar suara pecahan itu, berlari ke dapur dengan wajah panik. “Megan! Kamu kenapa?”

Ia langsung menggendong istrinya ke mobil dan melaju ke rumah sakit secepat mungkin. Sepanjang perjalanan, Pak Haris hanya bisa berdoa agar istrinya selamat.

Setelah beberapa jam, Bu Megan akhirnya siuman di ranjang rumah sakit. Pak Haris duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat.

“Kita nggak boleh kasih tahu Qaiyara,” ucap Bu Megan dengan suara lemah, kalimat itu yang selalu ia ucapkan begitu siuman dan saat pertama kali mengetahui penyakitnya.

“Tapi, Megan…”

“Kamu tahu sendiri dia masih kekanak-kanakan. Kalau dia tahu ini, dia pasti sedih. Aku nggak mau itu terjadi. Biarkan dia bahagia terlebih dulu dengan kehidupannya sekarang.”

Pak Haris mengangguk pelan, meski hatinya berat. Ia tahu betapa Qaiyara menyayangi ibunya, tapi mereka telah sepakat untuk menjaga rahasia ini.

* * *

Setelah menyelesaikan kelas, Sagara langsung meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk rekan dosennya yang sedang dirawat. Namun, ketika melewati lorong rumah sakit, matanya menangkap sosok yang tak asing: Pak Haris yang berjalan tergesa-gesa dengan sekantong obat di tangannya.

Sagara terdiam, bingung kenapa ayah mertuanya ada di rumah sakit. Dengan rasa penasaran, ia memutuskan untuk mengikuti Pak Haris.

Ketika Pak Haris masuk ke sebuah kamar, Sagara berdiri di luar sejenak, mencoba memahami situasinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk dan terkejut melihat Bu Megan terbaring lemah di ranjang.

“Sagara?” Pak Haris terkejut melihatnya, begitu juga dengan Bu Megan.

Sagara melangkah masuk, menatap mereka berdua dengan ekspresi bingung. “Apa yang terjadi? Kenapa Ibu di sini?”

Bu Megan mencoba tersenyum lemah. “Hanya sakit biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Namun, Sagara bukan orang yang mudah dibohongi. “Ini bukan sakit biasa. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sagara, ia melihat banyaknya alat medis yang menempel ditubuh mertuanya itu.

Setelah beberapa saat terdiam, Pak Haris akhirnya menceritakan semuanya. Tentang penyakit Bu Megan, tentang alasan mereka menyetujui pernikahan Sagara dan Qaiyara yang sangat tiba-tiba, dan keinginan mereka agar Qaiyara tidak terbebani dengan keadaan ini.

“Kami hanya ingin Qaiyara bahagia. Kalau dia tahu soal ini, dia pasti akan sedih dan kuliahnya terganggu,” jelas Pak Haris.

Sagara menatap mereka dengan perasaan campur aduk. Ia membayangkan bagaimana reaksi Qaiyara jika tahu soal ini. Gadis ceria itu pasti akan hancur.

“Saya janji tidak akan memberitahunya,” ucap Sagara akhirnya.

Bu Megan tersenyum lemah. “Terima kasih, Sagara. Dan tolong… tetap sabar dengan Qaiyara. Dia memang kadang menyebalkan, tapi dia gadis yang baik.”

Sagara hanya mengangguk, meski dalam hatinya mulai muncul rasa iba yang mendalam.

Dengan lemas, Bu Megan mengangkat tangannya, menyentuh tangan menantunya itu. “Berjanjilah pada ibu, bahagiakan Qaiyara.” pinta Bu Megan dengan nada lirih.

Pak Haris menyentuh lengan istrinya, dan berkata, “Megan, semua itu tidak bisa kita paksakan. Awal pernikahan mereka bukan karena cinta, meskipun kita mengharapkan rumah tangga mereka kokoh, tapi semua keputusan ada pada mereka.”

Sagara hanya terdiam, ia tak bisa berkata-kata untuk menganggapi hal yang diluar kemampuannya.

* * *

Kembali pada 3 serangkai, setelah mata kuliah jam kedua usai. Kini, Qaiyara, Dion, dan Alina duduk di taman fakultas sambil menggerutu soal Sagara.

“Dua menit, Dion. Dua menit!” Qaiyara mengulang sambil menatap gelas kopinya dengan dramatis.

“Kamu pikir Sagara itu siapa? Malaikat penjaga waktu?” sahut Dion.

“Dia lebih kayak penjaga neraka, sih. Dingin banget,” tambah Alina sambil mengunyah keripik kentang.

Qaiyara mengangguk setuju. “Iya! Nggak ada toleransi. Dua menit aja kayak dua abad.”

“Eh, tapi jujur ya, dosen killer itu ganteng banget, pokoknya tipe aku banget, deh!” ungkap Alina tiba-tiba.

Qaiyara langsung menatap Alina dengan tatapan tajam. “Tolong ya, ini forum anti-Sagara. Jangan bawa-bawa ketampanannya ke sini.”

“Yee... Forum anti-Sagara. Tapi yang bahas dia duluan!” seru Dion.

Alina menatap Qaiyara dengan kaget. “Kata gue mah, mendingan lu jangan benci banget ama Pak Sagara, takutnya nanti lu jatuh cinta lagi. Jadi, fangirl garis kerasnya”

“Plis lah, hargain perasaan gue!” seru Dion menatap jutek pada Alina.

Qaiyara hanya tertawa, mencoba menyembunyikan rona di pipinya. “Ya gimana, Dion? Ganteng itu fakta. Dosa kalau nggak diakui.”

Alina tertawa terbahak-bahak, sementara Dion hanya bisa menghela napas panjang.

“Tuhkan, akhirnya diakui juga ketampanannya!”

* * *

Sedari rumah sakit, Sagara tak langsung pulang ke apartemen. Ia mampir ke perusahaannya yang masih terbilang kecil, jam terbangnya belum setinggi perusahaan orang tuanya. Namun, itu adalah hasil kerja keras Sagara.

Saat ini, perusahaannya itu ditangani oleh orang yang ia percaya, sahabatnya, Arga.

“Ets, Pak Ceo datangnya kesorean, deh!” Sery Arga saat melihat kedatangan Sagara.

Sagara membuka jasnya, menggantungnya di punggung kursi, kemudian duduk berhadapan dengan tumpukan dokumen yang harus ia tanda tangani.

“Sorry, Bro. Akhir-akhir ini gue sibuk banget,” ungkapnya, tetap fokus pada dokumen untuk menandatangani.

Arga tersenyum, menaik turunkan alisnya, menggoda sang sahabat. “Sibuk banyak kerjaan, atau sibuk mikirin Karin yang bentar lagi balik ke Indonesia?”

Sagara yang tadinya fokus pada tumpukan dokumen itu, mendengar nama Karin disebut, ia mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan wajah datar. Belum sempat membuka mulut, notifikasi pesan masuk mengiterupsi segalanya, dengan cepat ia merogoh ponselnya dan membuka pesan tersebut.

QAIYARA : “Mas Dosen, halo? Ada niatan pulang atau emang udah pindah jadi dosen tetap di Pluto? Nih, istrimu yang cantik, baik hati, dan sabarnya setara biksu lagi kelaparan parah. Di kulkas isinya cuma udara sama suhu dingin. Itu pun udah mau angkat kaki karena nggak sanggup liat saya yang dramatis menatap kosong ke arah kulkas.

Mau pesan makanan, dompetku udah kosong kerontang. Mau keluar ngamen? Ogah! Takut diculik alien, Mas. Soalnya saya tuh kandidat utama buat jadi ratu galaksi. Jadi gini aja, Mas pesanin gofood aja, ya. Dan baca ini baik-baik, kalau pulangnya lebih dari dua menit setelah pesenan sampai, saya bakalan kunci pintu rumah dari dalam! Jangan kaget kalau Mas liat saya melambai dari jendela sambil ngemilin angin. Jadi, buruan pulang, ya, sebelum saya jadi berita utama: 'Istri cantik kelaparan, ditemukan mengunyah katalog IKEA!'”

Membaca pesan yang cukup panjang dari Qaiyara, Sagara menggelengkan kepalanya, sejujurnya dalam hati kecil ada rasa yang menggelitik.

Sagara segera menuliskan balasan untuk pesan yang panjangnya mengalahkan surat klarifikasi.

SAGARA : “Kirim no rek kamu, biar saya tranferin!”

QAIYARA : “Ngak punya rekening:)”

QAIYARA : “Bisa nggak sih pesanin sekarang, saya udah laper banget, Pak. Nggak lama nih saya makan angin aja, biar kembung sekalian.”

* * *

Qaiyara yang sedang menantikan pesan balasan dari Sagara, duduk di meja makan dan sesekali menegak minumannya untuk mengganjal perutnya yang keroncongan sedari tadi.

Ting!

Notifikasi pesan masuk berbunyi, buru-buru Qaiyara membuka dan membacanya.

SAGARA : “Tunggu, saya pulang sekarang!”

Balasan singkat dari Sagara, mampu membuat Qaiyara menatap keheranan.

“Ngapain suruh gue nungguin dia pulang? Saya butuh makanan yang datang, bukan Anda Pak Dosen!!!” gerutu Qaiyara. “Memangnya, kalau anda yang datang, saya harus makan anda, gitu?” imbuhnya frustasi, seolah tengah berbicara langsung dengan dosennya itu.

* * *

Setelah berbalas pesan dengan Qaiyara, Sagara langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Meraih jasnya dan segera memakainya kembali.

“Loh, mau kemana? Ini dokumennya belum semua lo tanda tangani!” seru Arga pada Sagara yang mengambil tas laptopnya dengan tergesa-gesa.

“Lo lanjutin aja, gue harus pulang sekarang juga!” ungkap Sagara yang berjalan dengan langkah cepat.

Melihat Sagara yang tampak terburu-buru, Arga sedikit kebingungan. “Pesan dari siapa, sih? Keliatan serius banget,” tanya Arga penasaran.

“Istri gue udah menunggu di rumah!” ungkap Sagara tanpa menoleh, keluar dari sana, meninggalkan Arga yang masih diselimuti kebingungan dan dan keterkejutan dalam waktu yang bersamaan.

“Hah, gue nggak salah dengar, 'kan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Posessive Husband    58

    Qaiyara bersorak gembira, ia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah orangtuanya, walaupun baru saja kemarin ia bertemu dengan ibunya, tapi hari ini ia sudah merindukannya lagi.* * * “Semoga panjang umur, sehat selalu dan bahagia terus ya, anakku!!” tutur Bu Megan sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya.Qaiyara tersenyum dan mengangguk, “Terimakasih ya, Bu!” seru Qaiyara sambil mendaratkan pelukan hangat pada sang ibu“Kamu makan yang banyak ya, ibu udah masakin semua makanan kesukaan kamu,” ujar Bu Megan dengan nada lembut.Qaiyara melepaskan pelukannya, melihat banyaknya menu makanan kesukaannya di atas meja, kemudian menatap ibunya dengan perasaan iba. “Seharusnya ibu nggak usah masak sebanyak ini, lihat ibu sehat aja itu udah jadi hadiah terindah buat aku, Bu.”Setelah suasana sedih memenuhi ruangan tersebut, kini mereka menikmati makan malam bersama dan setelah itu Bu Megan pamit lebih dulu untuk beristirahat, Qaiyara mengantar ibunya ke kamarnya

  • Posessive Husband    57

    Karin merasa ia telah salah memilah kata-kata, ia terdiam sejenak, melirik Manda untuk meminta pertolongan pada sahabatnya itu. Manda hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan pada Karin, agar ia tetap tenang.“Seperti yang kita tahu, pernikahan Qaiyara dan Sagara itu nggak serius, mereka bakal tetap akhiri semuanya, sesuai dengan yang tertera di surat kontrak yang mereka buat,” ungkap Manda sambil tersenyum miring, merasa puas karena sudah membeberkan hal besar itu pada sang ibu.Mendengar ucapan putri semata wayangnya itu, mata Bu Mirna seketika membulat sempurna.“Jadi, pada akhirnya, pasti Sagara dan Karin akan tetap menikah, melanjutkan pernikahan mereka yang sudah tertunda,” imbuh Manda dengan mantap.* * *Setelah kelas pagi dan satu-satunya kelas mereka hari ini, Qaiyara diajak ke kantin oleh Alina.Di kantin, Sarah dan Dion sudah siap dengan segala hal yang mereka persiapkan sedari tadi, kejutan sederhana untuk Qaiyara.

  • Posessive Husband    56

    Tak tanggung-tanggung, Sarah menginjak kaki Arga, membuat lelaki itu kesakitan dan menoleh ke padanya dengan mata yang membulat sempurna. “Plis, iyain aja!!!” bisik Sarah penuh harap.Arga kembali menoleh ke layar ponsel, tersenyum canggung dan mengangguk pelan. “Hallo, Tante!” sapanya pada Bu Sani.* * * Setelah Qaiyara mengganti bajunya, ia dan suaminya menikmati sarapan pagi yang dimasak oleh lelaki itu. Kemudian, setelah sarapan, ia memutuskan untuk segera ke kampus.Begitu membuka pintu utama, ia terkejut, matanya membulat sempurna saat melihat sebuah boneka beruang putih berukuran besar dan sebuah balon yang ada di depan pintu apartemen.“Mas Gara, kita kedatangan tamu!!” panggil Qaiyara.Sagara yang tengah bersiap untuk ke kampus, segera keluar dari kamar dan menghampiri Qaiyara.“Siapa?” tanyanya.Tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab, Qaiyara hanya menunjuk ke arah boneka dan balon tersebut. Dan Sagara ikut melihat ke arah yang ditunjuk perempuan itu.“Grizzly dan balonn

  • Posessive Husband    55

      Di tempat lain, tampak seorang pria sudah sampai di depan toko kue, dengan langkah gusar dan napas lelahnya, ia masuk ke dalam toko tersebut.“Haduh, lain yang jatuh cinta, lain yang repot. Gini banget ya, kalau cowok baru ngerasain jatuh cinta setelah sekian lamanya dia mati rasa akan yang namanya cinta,” gerutu Arga begitu memasuki toko kue langganannya.Begitu ia berdiri di depan etalase yang menyuguhkan banyaknya pilihan kue, Arga mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket dan membuka ruang obrolannya dengan Sagara.Sagara : “Cariin kue yang menyimbolkan keromantisan, tapi jangan terlalu alay, kalau bisa yang sederhana aja gitu, tapi keliatan elegan dan mewah.”  Begitulah isi pesan dari Sagara yang dikirimkan dari jam 6 pagi tadi. Ya, itu terlalu pagi.Setelah membaca pesan tersebut untuk yang kedua kalinya, Arga hanya mampu memutar mata jengah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.“Sederhana tapi keliatan mewah, gima

  • Posessive Husband    54

    “Mas Gara ngapain sih ngasih harapan palsu ke ibu?” gerutu Qaiyara sesampainya di apartemen.“Harapan palsu apa sih, Qai-chai?” tanya Sagara sambil menghembuskan napas lelah.Qaiyara yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah, segera menoleh saat mendengar panggilannya dari sang suami.“Apa? Aku nggak salah dengar, nih?” tanyanya dengan kedua alis yang mengerut.Alis Sagara ikut mengerut, “Apaan?” Sagara bertanya balik, ia belum ngeh dengan apa yang ditanyakan Qaiyara.“Tadi Mas Gara manggil aku apa? Qai-chai?”Setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Qaiyara, Sagara hanya menganggukinya.“Iya, Qai-chai.”“Qai-chai apaan, dah?”“Dalam bahasa Hindi, Chai bermakna teh. Jadi, sudahi minum kopi, dan berpaling ke teh, meskipun minum teh juga nggak sehat-sehat banget, setidaknya nggak seburuk minum kopi berlebihan seperti kebiasaanmu!” seru Sagara menjelaskan panjang lebar, dan belum sempat Qaiyara berkutit dan memberikan responnya, Sagara lebih dulu berlalu dari sana.Qaiy

  • Posessive Husband    53

    “Astaga, Ibu!!! Ngapain sih ibu ngurus masakan? Ibu kan baru pulang dari rumah sakit, ibu harus banyak istirahat dulu!!!” pungkas Qaiyara yang begitu sampai di rumah orang tuanya dan menemui ibunya yang tengah berkutat di dapur.Tampak pak Haris hanya mampu menghembuskan napas beratnya, sepertinya ia juga sudah berusaha untuk menasehati istrinya Agara beristirahat terlebih dulu, namun tetap mendapatkan penolakan dari Bu Megan.Bu Megan hanya menoleh untuk sesaat, kemudian kembali fokus mengiris perbawangan.“Ibu hanya ingin masakin makanan kesukaanmu, katanya kamu rindu sama masakan ibu,” tutur Bu Megan.Qaiyara memeluk ibunya dari belakang, menempelkan kepalanya di pundaknya ibunda tercintanya.“Maafin aku ya, Bu. Aku belum bisa menjadi anak yang baik buat ayah dan ibu,” gumamnya.Bu Megan menghentikan aktifitasnya itu, kemudian menghadap anaknya dan memeluknya dengan tulus dan penuh kehangatan. “Dengan menjadi istri yang baik u

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status