MasukSaat Qaiyara fokus melangkah menuju kelas, ia sekilas mendengar perbincangan antara mahasiswi lain.
“Eh, beneran deh, Pak Sagara itu makin ganteng aja. Kayaknya dia lebih pantas jadi model daripada dosen.” “Ya, ganteng sih, tapi dingin banget. Mana berani deketin dia?” sahut yang lain sambil terkikik. “Kalau gue sih, rela dihukum tiap hari asal bisa sering-sering ngobrol sama dia.” Mendengar itu, Qaiyara hanya memutar mata jengah dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. "Gue aja yang baru sehari tinggal bareng dua, rasanya kek mau gumoh!" gumamnya. "Hay, Yar!" sapa Dion yang ternyata sudah berada di dalam kelas sedari tadi, Dion juga termasuk sahabat Qaiyara. "Huh! Huh! Lu tega banget ninggalin gue, Yar!!" gerutu Alina yang baru saja bergabung dengan napas yang tersengal-sengal. "Eh, Dion. Tumben datangnya kaga telat, biasanya lu masuk di detik-detik terakhir sebelum dosen monster itu masuk!" "Siapa dosen monster yang kamu maksud, Qaiyara Zivara?" tanya Sagara yang melangkah dengan tegap memasuki ruangan tersebut. Semua mahasiswa langsung lari berhamburan, kembali ke tempat duduk masing-masing. "Nggak, Pak. Sepertinya Anda salah dengar, deh!" seru Qaiyara. Sagara meletakan tas laptopnya di atas meja dan mulai menyapa para mahasiswa sebagai bentuk, kelas akan segera dimulai, “Selamat pagi,” suara Sagara terdengar tajam namun tidak terlalu keras. “Selamat pagi, Pak,” balas para mahasiswa serempak. Sagara mulai memberikan mereka materi, namun seketika ia terfokus pada Qaiyara yang sedang asik bercerita dengan kedua sahabatnya itu. Melihat hal tersebut, Sagara berdehem, “Ehem, Qaiyara, Dion, dan Alina,” panggil Sagara tiba-tiba, memecah obrolan mereka. Ketiganya tersentak, matanya melebar. “Iya, Pak?” sahut mereka bersamaan. “ini kelas, bukan tempat untuk bergosip ria. Kalau mau bergosip, silahkan keluar!!” ucapnya dengan nada tegas. Ketiganya tertunda, "maaf, Pak!" ucap mereka. Sagara kembali melanjutkan penjelasannya, kelas menjadi hening, yang terdengar hanya suara berat lelaki bertubuh jakun itu yang sedang memberikan penjelasan. Jam kelas selesai, para mahasiswa berhamburan keluar menuju kantin untuk mengisi kampung tengah mereka. "Kesel banget gue ama dosen kutub Utara yang satu itu!!" gerutu Qaiyara sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di kantin. "Udah, nggak usah kesal-kesal. Takutnya, benci jadi cinta, loh!" ujar Alina menggoda sahabatnya itu. "Ih, amit-amit, ampe lebaran monyet pun gue nggak bakalan jatuh cinta ama si beruang kutub itu!" seru Qaiyara. "Oke, Sah! Gue saksinya, ya!!" timpal Dion. Setelah makan siang bersama, Qaiyara pamit untuk ke ruangan Pak Sagara untuk menyerahkan tugasnya. “Kalau bukan karena nilai tugas ini yang penting, gue nggak bakalan mau ketemu si beruang kutub itu,” gumam Qaiyara sambil menatap map di tangannya. Ketika sampai di depan ruangan, ia menghela napas panjang. "Oke, Qai. Just act normal. Dia cuma manusia biasa. Bukan alien. Bukan monster," ujarnya menyemangati diri sendiri. Setelah mengetuk pintu dua kali, suara dingin dari dalam menjawab, “Masuk.” Qaiyara membuka pintu perlahan, dan di sana duduklah Sagara dengan wajah serius di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk mengetik di laptop, sementara segelas kopi mengepul di sebelahnya. “Eh, selamat pagi, Pak,” sapa Qaiyara dengan senyum kikuk. Sagara mendongak, menatapnya dengan ekspresi datar. “Ada perlu apa?” Qaiyara mengangkat map di tangannya. “Saya mau menyerahkan tugas yang minggu lalu, Pak. Kalau bisa, kasih nilai bagus ya, Pak. Itung-itung nilai plus untuk istri Anda.” “Jaga sopan santun kamu, Qaiyara. Ini adalah kampus, di mana saya adalah seorang dosen dan kamu mahasiswi, lagian pernikahan kita hanya sebatas formalitas!" seru Sagara dengan tegas, "Letakkan di meja. Dan jangan buat keributan,” balas Sagara singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Yee... Saya juga nggak berharap pernikahan ini menjadi realistis!" gumamnya. Qaiyara berjalan mendekat, tapi saat hendak meletakkan map, sikunya tidak sengaja menyenggol gelas kopi di meja. BRUK! Gelas itu tumpah, dan kopi hitam yang masih panas mengalir ke arah laptop Sagara. “Oh my God! Pak! Saya nggak sengaja!” Qaiyara panik sambil mencari sesuatu untuk membersihkan meja. Ia meraih tisu dari tasnya dengan tergesa-gesa. Sagara, yang biasanya tenang, langsung bangkit dari kursinya. “Qaiyara! Apa kamu tidak bisa berhati-hati?!” suaranya meninggi. “Saya... saya nggak sengaja, Pak!” Qaiyara mencoba mengeringkan bagian keyboard laptop Sagara dengan tisu, tapi justru membuatnya semakin berantakan. “Jangan sentuh! Kamu malah memperparah keadaan,” gerutu Sagara, menarik laptopnya dengan cepat. “Saya cuma mau bantu, Pak.” “Kalau mau bantu, jangan bikin masalah!” Qaiyara mendengus kesal. “Halah, ini kan cuma kopi. Laptop bapak itu terlalu manja kalau nggak bisa nerima kopi sedikit.” Sagara menatapnya tajam. “Kamu pikir laptop itu murah? Kalau rusak, siapa yang akan ganti?” Qaiyara langsung mundur selangkah, merasa kalah dalam argumen. “Ya udah, kalau rusak, saya ganti. Tapi bapak jangan ngegas terus, dong. Saya jadi stres.” “Stres? Seharusnya saya yang stres karena ulah kamu,” balas Sagara sambil menghela napas berat. Setelah menenangkan diri, Sagara duduk kembali. Ia mencoba menyalakan laptopnya, tapi tampaknya keyboardnya mulai bermasalah. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. “Pak, kalau keyboardnya rusak, saya punya kenalan tukang servis laptop. Orangnya murah dan jujur.” Sagara mendongak, menatapnya tanpa ekspresi. “Oh, sekarang kamu jadi makelar tukang servis?” Qaiyara tersenyum canggung. “Saya cuma mencoba membantu, Pak.” Sagara menggelengkan kepalanya. “Keluar. Sebelum kamu membuat kekacauan lain.” “Tapi tugas saya—” “Sudah, pergi saja.” Qaiyara mendengus kesal lagi. “Oke, oke. Saya pergi. Tapi ingat, Pak. Kalau laptop bapak sembuh, itu mungkin berkat tisu ajaib saya tadi,” ujarnya dengan nada mengejek sebelum melangkah keluar. "Dasar, beruang kutub!!" gumam Qaiyara. "Apa kamu bilang?" tanya Sagara. Qaiyara tersentak, menoleh sambil tersenyum, "hehe... Saya nggak ada bilang apa-apa, pak. Sepertinya anda salah dengar," ujar Qaiyara bergegas keluar dari ruangan yang mencekam itu. * * * "Menurut Ayah, Qaiyara bakalan betah nggak sih tinggal serumah dengan dosennya?" tanya Bu Megan, ibu Qaiyara. "Aku kasihan deh ama Yara," imbuh Bu Megan. Pak Haris menarik napas dalam, "bagaimanapun juga, sebenarnya aku juga berat untuk melepaskan putri kita dengan lelaki yang belum kita ketahui bibit-bebet-bobotnya, tapi mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat. Lagian, aku yakin, pasti Sagara bisa dipercaya!" ujar Pak Haris dengan mantap. "Tapi, maksud aku, bukannya terlalu cepat buat kita percaya ama laki-laki itu? Kan mereka bisa tinggal di sini dulu, biar sekalian kita pantau mereka," ujar Bu Megan sedikit khawatir. “Bu, biarkan saja. Saga punya hak untuk membawa istrinya, biarkan mereka hidup berdua, belajar saling menerima satu sama lain.” * * * “Qaiyara, sini sebentar!” suara berat Sagara terdengar seperti perintah militer. Qaiyara bingung, ada apa lelaki itu memanggilnya, ia segera menghampiri suaminya itu. Dengan malas, Qaiyara melangkah turun. “Ada apa, Pak?” tanya Qaiyara. “Nggak usah panggil pak, saya bukan bapak kamu. Lagian ini di luar kampus!” ujar sagara. “Yaudah, ada apa, Pakde?!” Mendengar dirinya dipanggil dengan panggilan tersebut, Sagara mendongak dan menatap Qaiyara tanpa ekspresi. “Qaiyara, bisa serius, nggak?!” tegas Sagara. Qaiyara menggelengkan kepalanya, “Nggak bisa, pernikahan ini kan hanya sekedar formalitas, nggak membutuhkan keseriusan,” ujar Qaiyara. “Bisa nggak sih kamu panggil saya dengan sebutan yang benar?!” “Hmmm..., Pak Sagara mau dipanggil apa? Abang? Kakak? Babe? Atau Kakek?” ledek Qaiyara sambil menahan tawa. Sagara tidak mengeluarkan suara, namun tatapannya sungguh mematikan, membuat Qaiyara bungkam dan berusaha untuk serius. “Yaudah, saya manggil 'mas' aja deh. Biar nggak formal-formal banget,” Ujar Qaiyara, “memangnya, mas ngapain panggil saya?” tanyanya penasaran. Sagara menunjukan kertas di atas meja itu, terdapat tulisan yang cukup banyak dalam kertas itu, “Sekarang tanda tangan di sini,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah dokumen dan mengarahkan tempat Qaiyara untuk membubuhkan tanda tangannya. Qaiyara tak langsung menuruti perintah lelaki itu, ia memandang penuh curiga kearah kertas tersebut, “bentar, ini bukan tanda tangan buat pinjol, 'kan ya?!” tanya Qaiyara penuh curiga. Sagara memijat pelipisnya, menghembuskan nafasnya dengan perlahan, “saya udah kaya, Qaiyara Zivara. Buruan tanda tangan di sini!” “Buset, manggilnya lengkap banget. Memangnya, ini dokumen apa sih?” tanyanya penasaran. “Kontrak pernikahan!” ungkap Sagara. “Ah, ribet banget.” Tanpa pikir panjang, Qaiyara langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Namun, setelah selesai menandatangani kontrak itu, Qaiyara baru teringat sesuatu. Sagara mendesah panjang. “Baiklah, karena kamu sudah tanda tangan, kamu harus menaati semua peraturan yang sudah tertera.” “Eh, tapi kan saya belum baca isi kontraknya!” “Nih, kalau mau dibaca, biar kamu nggak melanggar peraturan yang saya buat!” seru Sagara sambil menyerahkan kertas itu pada Qaiyara. Qaiyara menerima dokumen itu membaca isi kontraknya, baru saja mulai membaca, seketika alisnya mengerut. “6 bulan? Buset, lama bener. Keburu Mas jatuh cinta ama saya kalau gini.” “Baca semuanya, biar kamu nggak salah paham!” seru Sagara. Lagi dan lagi, begitu melanjutkan bacaannya , alis Qaiyara kembali mengerut, “Loh, kok di sini kesannya saya sebagai istri benaran sih?” protes Qaiyara. “Istri benaran? Memangnya, disitu saya tulis kalau kamu harus melayani saya sebagaimana kewajiban seorang istri? Nggak, kan?!!” “Ya, bukan itu sih. Tapi, ini, masa iya saya mau kemana-mana harus izin mas dulu sih?!” protes Qaiyara. Sagara menarik napas dalam, lalu ia hembuskan dengan teratur, “Qaiyara, walaupun pernikahan ini tidak benar-benar nyata, tapi sekarang kamu jadi tanggung jawab saya. Kalau kamu keluar tanpa sepengetahuan saya, terus tiba-tiba ketabrak mobil dan meninggal di tempat, gimana? Siapa yang mau disalahkan?” “Buset, amit-amit. Parah amat sampai ketabrak dan meninggal di tempat, niat banget Mas ngomong kek gitu.” Qaiyara melanjutkan membaca isi surat kontrak itu. “3. Tidak mengganggu privasi satu sama lain. Okey, ini saya setuju banget!” Seketika matanya membelalak lagi saat membaca point ke 4. “Uang bulanan 20 juta? Wah, ini sih enak banget! Tapi… tunggu. Nggak boleh menyimpan perasaan? Halah, Mas takut jatuh cinta sama saya, ya?” “Lebih tepatnya, sih. Saya takut kamu yang jatuh cinta pada saya,” imbuh Sagara dengan ekspresi dingin. “Duh, Mas. Jangan terlalu percaya diri. Saya lebih suka beruang Kutub lain yang lebih ramah.” “Terserah kamu, mau suka beruang kutub lain kek, monyet utan kek, terserah!! Saya nggak peduli!” Melihat betapa cueknya Sagara, Qaiyara tertawa kecil, “ati-ati, ntar mas Saga jatuh cinta ama saya loh!” seru Qaiyara menggoda dosennya itu, yang kini telah merangkap sebagai suaminya. “Hidup itu jangan kebanyakan nonton drama Korea, sampai kapanpun, saya nggak akan pernah jatuh cinta ama kamu, manusia cebol!” Qaiyara menggidikan bahunya San mencebikkan bibirnya, “oke, saya pegang ucapannya ya, saya jamin, kurang dari 6 bulan. mas Saga bakalan klepek-klepek ama manusia cebol ini! Dasar, tiang listrik!” Qaiyara kembali melanjutkan bacaannya, segera menyelesaikan point terakhir yang belum sempat ia baca tadi, begitu membaca point terakhir, seketika raut wajahnya berubah, “Nggak bisa gitu dong, Pak. Eh, Mas. Masa iya kamu yang jadi peraturan mutlaknya?! Nggak adil buat saya dong!!” Protes Qaiyara yang tak terima dengan perjanjian diakhiri. “Sengaja saya tulis begitu, karena masih banyak peraturan yang belum saya tulis, jadi tulisnya dipersingkat gitu aja,” ungkap Sagara. Qaiyara mengembuskan napas dengan gusar, “buset, ini pernikahan apa penjara ya? Banyak banget peraturannya,” gumam Qaiyara yang tak habis pikir dengan semua ini. Setelah bersepakat untuk isi peraturan tersebut, Qaiyara bersandar di sofa dengan wajah lelah. “Ini semua bikin kepala saya pening. Tapi oke, saya setuju. Selama 6 bulan ke depan, kita main drama suami istri. Tapi, ati-ati ya, ntar jatuh cinta beneran!”“Udah, nggak usah kebanyakan drama.”Sagara dengan wajah datarnya, beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjangnya, sambil menatap Qaiyara yang bergelung di balik selimut.“Turun,” ucapnya pendek.Qaiyara memeluk bantal lebih erat. “Enggak.”“Qaiyara.” Nada suaranya mulai tegas.“Mas Sagara.” Nada Qaiyara tak kalah menantang.“Ini ranjang saya.”“Tapi ini istri kamu,” balas Qaiyara sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum puas.Sagara memijat pelipisnya. “Kamu tidur di sofa.”“Enggak mau. Saya udah capek, rela batalin ke rumah orang tua saya, buat ngucapin ulang tahun buat mama kamu. Sekarang, gantian dong kamu yang ngalah. Kamu tidur di sofa.”Sagara berpikir sejenak. Kalau dia terus berdebat, Qaiyara pasti akan minta pulang. Dengan menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah.“Baik. Kamu menang.”Qaiyara tersenyum lebar. “Bagus. Saya memang selalu menang.”Sagara berbalik menuju sofa, sambil menggumam, “Kalau saya tahu begini, saya bakal cari alasan lain!” ia mendengus ke
“Pak, kenapa saya ditarik kayak mau diculik? Ini kampus, lho, semua orang ngelihat!” protes Qaiyara sambil melipat tangan di dada.Sagara tidak memberikan jawaban, ia masih bingung harus beralasan apa agar Qaiyara tidak ke rumah orang tuanya saat ini, sebab Bu Megan masih di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.Melihat Sagara yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, Qaiyara berniat untuk keluar dari mobil, ketika ia mencoba membuka pintu mobil, Sagara dengan sigap mengunci pintu otomatis.Berulangkali Qaiyara mencoba untuk membuka pintu mobil, namun hasilnya tetap sama, tak bisa untuk dibuka. Ia menoleh dengan kesal ke arah suaminya itu. “Pak Dosen yang terhormat, mohon izinkan saya untuk keluar! Kalau nggak, saya akan bawa kasus ini ke meja hijau, kasus penculikan!” ancam Qaiyara.“Silahkan, laporankan saja!” seru Sagara penuh tantangan. “Saya penasaran, bagaimana media akan meluncurkan berita, 'Seorang perempuan diculik oleh suaminya sendiri'?” gumam Sagara denga
Sagara memarkir mobilnya di basement apartemen. Dengan langkah mantap, dia menuju lift dan menekan tombol lantai apartemennya. Dalam pikirannya, ada banyak hal yang berkecamuk, terutama tentang rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambutnya. Namun, suara televisi yang samar terdengar dari ruang tamu segera menarik perhatiannya.Dia berjalan pelan menuju sofa dan melihat sosok Qaiyara tergeletak dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Satu kaki menggantung di sisi sofa, tangan memeluk bantal, dan rambutnya menutupi sebagian wajah. Di layar televisi, kartun kesukaannya, Tom and Jerry, masih beraksi dengan suara nyaring.Sagara hanya bisa menghela napas. “Kamu ini lebih kayak anak kecil daripada mahasiswa.”Namun, saat memperhatikan wajah Qaiyara yang tertidur lelap, perasaan iba menyelimutinya. Ia teringat kondisi orang tua Qaiyara. Gadis itu terlihat begitu riang setiap hari, tapi Sagara tahu jika suatu saat dia tahu tentang kenyat
Sagara sudah lebih dulu tiba di kelas. Duduk dengan tenang di depan, ia membuka laptopnya sambil memeriksa beberapa dokumen. Kelas sudah ramai, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, tetapi Sagara memperdulikannya. Ketika suasana begitu damai, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari koridor. "Yar, tungguin kita dong!!" teriak Alina. “Cepat, kita udah telat nih!” Qaiyara berteriak, berhenti sejenak untuk menunggu kedatangan sahabatnya itu, lalu ia langsung menarik tangan Dion dan Alina yang hampir kehabisan napas. “Yar, kalau kita mati di perjalanan ini, kamu yang tanggung jawab!” keluh Dion, napasnya tersengal. “Lebih baik mati karena lari daripada mati karena dimarahi Dosen killer itu!” sahut Qaiyara tanpa ragu. Namun, tepat ketika mereka sampai di pintu kelas, suara Sagara yang dingin dan tegas menghentikan langkah mereka. “Stop.” Ketiganya langsung berhenti seperti robot yang kehabisan daya. Qaiyara, Dion, dan Alina menatap Sagara yang sudah berdiri di sana dengan
Mendengar ucapan Qaiyara, Bu Mirna, Pak Abas dan Ardan tahu bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata, dan ketiganya tertawa mendengar candaan tersebut. Lain halnya dengan Sagara dan Manda, Sagara terus fokus pada makanannya, sementara Manda menjentikkan matanya, melihat suami dan kedua orang tuanya yang tertawa dengan tatapan penuh ketidaksukaan."Ternyata kamu selucu itu, ya?!" puji Bu Mirna.Qaiyara hanya tersenyum, memasang wajah polosnya. Mendengar pujian tersebut, Manda memutar mata jengahnya, melirik sinis pada Qaiyara.Setelah makan malam, Manda langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bu Mirna menatap Qaiyara dan Sagara dengan senyum lebar. “Kalian nggak usah pulang malam-malam begini. Nginep aja di sini, lagian kamar Sagara masih ada kok.”Qaiyara yang sedang minum hampir tersedak mendengar itu. “Ng-nggak perlu, Mah! Kami bisa pulang. Lagian, kan deket,” katanya cepat.“Deket apanya? Dari sini ke apartemen kalian itu lumayan jauh, lho,” balas Bu Mirna sambil melipat tangan.
Di kamarnya, Sagara belum tertidur karena masih larut dalam pikirannya, ia tengah melamun di balkon, dengan ditemani angin sepoi-sepoi malam itu.Saat asik memandangi gelapnya langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, sebuah notifikasi pesan masuk mampu membuyarkan lamunan Saga. Kali ini, pesannya singkat tapi membuat Sagara makin gelisah.ARGA : “Karin bilang, dia mau ketemu elu begitu sampai di Indonesia.”Saga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tampak, Sagara menyentuh lehernya, dan berdehem berulang kali, rasanya lehernya sangat kering.Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Namun, baru saja melangkah keluar, ia melihat tv yang masih menampilkan kartun."Dasar bocah!!" gumam Sagara, menghiraukan hal itu dan segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air.Setelah kembali dari dapur, Sagara melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk menyuruh Qaiyara agar segera tidur, melatih perempuan itu untuk tidur lebih aw







