Beranda / Romansa / Posessive Husband / Kontrak Pernikahan

Share

Kontrak Pernikahan

Penulis: Tinta Digital
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 07:42:41

Saat Qaiyara fokus melangkah menuju kelas, ia sekilas mendengar perbincangan antara mahasiswi lain.

“Eh, beneran deh, Pak Sagara itu makin ganteng aja. Kayaknya dia lebih pantas jadi model daripada dosen.”

“Ya, ganteng sih, tapi dingin banget. Mana berani deketin dia?” sahut yang lain sambil terkikik.

“Kalau gue sih, rela dihukum tiap hari asal bisa sering-sering ngobrol sama dia.”

Mendengar itu, Qaiyara hanya memutar mata jengah dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.

"Gue aja yang baru sehari tinggal bareng dua, rasanya kek mau gumoh!" gumamnya.

"Hay, Yar!" sapa Dion yang ternyata sudah berada di dalam kelas sedari tadi, Dion juga termasuk sahabat Qaiyara.

"Huh! Huh! Lu tega banget ninggalin gue, Yar!!" gerutu Alina yang baru saja bergabung dengan napas yang tersengal-sengal.

"Eh, Dion. Tumben datangnya kaga telat, biasanya lu masuk di detik-detik terakhir sebelum dosen monster itu masuk!"

"Siapa dosen monster yang kamu maksud, Qaiyara Zivara?" tanya Sagara yang melangkah dengan tegap memasuki ruangan tersebut.

Semua mahasiswa langsung lari berhamburan, kembali ke tempat duduk masing-masing.

"Nggak, Pak. Sepertinya Anda salah dengar, deh!" seru Qaiyara.

Sagara meletakan tas laptopnya di atas meja dan mulai menyapa para mahasiswa sebagai bentuk, kelas akan segera dimulai, “Selamat pagi,” suara Sagara terdengar tajam namun tidak terlalu keras.

“Selamat pagi, Pak,” balas para mahasiswa serempak.

Sagara mulai memberikan mereka materi, namun seketika ia terfokus pada Qaiyara yang sedang asik bercerita dengan kedua sahabatnya itu.

Melihat hal tersebut, Sagara berdehem, “Ehem, Qaiyara, Dion, dan Alina,” panggil Sagara tiba-tiba, memecah obrolan mereka.

Ketiganya tersentak, matanya melebar. “Iya, Pak?” sahut mereka bersamaan.

“ini kelas, bukan tempat untuk bergosip ria. Kalau mau bergosip, silahkan keluar!!” ucapnya dengan nada tegas.

Ketiganya tertunda, "maaf, Pak!" ucap mereka.

Sagara kembali melanjutkan penjelasannya, kelas menjadi hening, yang terdengar hanya suara berat lelaki bertubuh jakun itu yang sedang memberikan penjelasan.

Jam kelas selesai, para mahasiswa berhamburan keluar menuju kantin untuk mengisi kampung tengah mereka.

"Kesel banget gue ama dosen kutub Utara yang satu itu!!" gerutu Qaiyara sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di kantin.

"Udah, nggak usah kesal-kesal. Takutnya, benci jadi cinta, loh!" ujar Alina menggoda sahabatnya itu.

"Ih, amit-amit, ampe lebaran monyet pun gue nggak bakalan jatuh cinta ama si beruang kutub itu!" seru Qaiyara.

"Oke, Sah! Gue saksinya, ya!!" timpal Dion.

Setelah makan siang bersama, Qaiyara pamit untuk ke ruangan Pak Sagara untuk menyerahkan tugasnya.

“Kalau bukan karena nilai tugas ini yang penting, gue nggak bakalan mau ketemu si beruang kutub itu,” gumam Qaiyara sambil menatap map di tangannya.

Ketika sampai di depan ruangan, ia menghela napas panjang. "Oke, Qai. Just act normal. Dia cuma manusia biasa. Bukan alien. Bukan monster," ujarnya menyemangati diri sendiri.

Setelah mengetuk pintu dua kali, suara dingin dari dalam menjawab, “Masuk.”

Qaiyara membuka pintu perlahan, dan di sana duduklah Sagara dengan wajah serius di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk mengetik di laptop, sementara segelas kopi mengepul di sebelahnya.

“Eh, selamat pagi, Pak,” sapa Qaiyara dengan senyum kikuk.

Sagara mendongak, menatapnya dengan ekspresi datar. “Ada perlu apa?”

Qaiyara mengangkat map di tangannya. “Saya mau menyerahkan tugas yang minggu lalu, Pak. Kalau bisa, kasih nilai bagus ya, Pak. Itung-itung nilai plus untuk istri Anda.”

“Jaga sopan santun kamu, Qaiyara. Ini adalah kampus, di mana saya adalah seorang dosen dan kamu mahasiswi, lagian pernikahan kita hanya sebatas formalitas!" seru Sagara dengan tegas, "Letakkan di meja. Dan jangan buat keributan,” balas Sagara singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

"Yee... Saya juga nggak berharap pernikahan ini menjadi realistis!" gumamnya.

Qaiyara berjalan mendekat, tapi saat hendak meletakkan map, sikunya tidak sengaja menyenggol gelas kopi di meja.

BRUK!

Gelas itu tumpah, dan kopi hitam yang masih panas mengalir ke arah laptop Sagara.

“Oh my God! Pak! Saya nggak sengaja!” Qaiyara panik sambil mencari sesuatu untuk membersihkan meja. Ia meraih tisu dari tasnya dengan tergesa-gesa.

Sagara, yang biasanya tenang, langsung bangkit dari kursinya. “Qaiyara! Apa kamu tidak bisa berhati-hati?!” suaranya meninggi.

“Saya... saya nggak sengaja, Pak!” Qaiyara mencoba mengeringkan bagian keyboard laptop Sagara dengan tisu, tapi justru membuatnya semakin berantakan.

“Jangan sentuh! Kamu malah memperparah keadaan,” gerutu Sagara, menarik laptopnya dengan cepat.

“Saya cuma mau bantu, Pak.”

“Kalau mau bantu, jangan bikin masalah!”

Qaiyara mendengus kesal. “Halah, ini kan cuma kopi. Laptop bapak itu terlalu manja kalau nggak bisa nerima kopi sedikit.”

Sagara menatapnya tajam. “Kamu pikir laptop itu murah? Kalau rusak, siapa yang akan ganti?”

Qaiyara langsung mundur selangkah, merasa kalah dalam argumen. “Ya udah, kalau rusak, saya ganti. Tapi bapak jangan ngegas terus, dong. Saya jadi stres.”

“Stres? Seharusnya saya yang stres karena ulah kamu,” balas Sagara sambil menghela napas berat.

Setelah menenangkan diri, Sagara duduk kembali. Ia mencoba menyalakan laptopnya, tapi tampaknya keyboardnya mulai bermasalah. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi.

“Pak, kalau keyboardnya rusak, saya punya kenalan tukang servis laptop. Orangnya murah dan jujur.”

Sagara mendongak, menatapnya tanpa ekspresi. “Oh, sekarang kamu jadi makelar tukang servis?”

Qaiyara tersenyum canggung. “Saya cuma mencoba membantu, Pak.”

Sagara menggelengkan kepalanya. “Keluar. Sebelum kamu membuat kekacauan lain.”

“Tapi tugas saya—”

“Sudah, pergi saja.”

Qaiyara mendengus kesal lagi. “Oke, oke. Saya pergi. Tapi ingat, Pak. Kalau laptop bapak sembuh, itu mungkin berkat tisu ajaib saya tadi,” ujarnya dengan nada mengejek sebelum melangkah keluar.

"Dasar, beruang kutub!!" gumam Qaiyara.

"Apa kamu bilang?" tanya Sagara.

Qaiyara tersentak, menoleh sambil tersenyum, "hehe... Saya nggak ada bilang apa-apa, pak. Sepertinya anda salah dengar," ujar Qaiyara bergegas keluar dari ruangan yang mencekam itu.

 * * *

   "Menurut Ayah, Qaiyara bakalan betah nggak sih tinggal serumah dengan dosennya?" tanya Bu Megan, ibu Qaiyara. "Aku kasihan deh ama Yara," imbuh Bu Megan.

Pak Haris menarik napas dalam, "bagaimanapun juga, sebenarnya aku juga berat untuk melepaskan putri kita dengan lelaki yang belum kita ketahui bibit-bebet-bobotnya, tapi mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat. Lagian, aku yakin, pasti Sagara bisa dipercaya!" ujar Pak Haris dengan mantap.

"Tapi, maksud aku, bukannya terlalu cepat buat kita percaya ama laki-laki itu? Kan mereka bisa tinggal di sini dulu, biar sekalian kita pantau mereka," ujar Bu Megan sedikit khawatir.

“Bu, biarkan saja. Saga punya hak untuk membawa istrinya, biarkan mereka hidup berdua, belajar saling menerima satu sama lain.”

* * *

    “Qaiyara, sini sebentar!” suara berat Sagara terdengar seperti perintah militer.

Qaiyara bingung, ada apa lelaki itu memanggilnya, ia segera menghampiri suaminya itu. Dengan malas, Qaiyara melangkah turun. “Ada apa, Pak?” tanya Qaiyara.

“Nggak usah panggil pak, saya bukan bapak kamu. Lagian ini di luar kampus!” ujar sagara.

“Yaudah, ada apa, Pakde?!”

Mendengar dirinya dipanggil dengan panggilan tersebut, Sagara mendongak dan menatap Qaiyara tanpa ekspresi. “Qaiyara, bisa serius, nggak?!” tegas Sagara.

Qaiyara menggelengkan kepalanya, “Nggak bisa, pernikahan ini kan hanya sekedar formalitas, nggak membutuhkan keseriusan,” ujar Qaiyara.

“Bisa nggak sih kamu panggil saya dengan sebutan yang benar?!”

“Hmmm..., Pak Sagara mau dipanggil apa? Abang? Kakak? Babe? Atau Kakek?” ledek Qaiyara sambil menahan tawa.

Sagara tidak mengeluarkan suara, namun tatapannya sungguh mematikan, membuat Qaiyara bungkam dan berusaha untuk serius.

“Yaudah, saya manggil 'mas' aja deh. Biar nggak formal-formal banget,” Ujar Qaiyara, “memangnya, mas ngapain panggil saya?” tanyanya penasaran.

Sagara menunjukan kertas di atas meja itu, terdapat tulisan yang cukup banyak dalam kertas itu, “Sekarang tanda tangan di sini,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah dokumen dan mengarahkan tempat Qaiyara untuk membubuhkan tanda tangannya.

Qaiyara tak langsung menuruti perintah lelaki itu, ia memandang penuh curiga kearah kertas tersebut, “bentar, ini bukan tanda tangan buat pinjol, 'kan ya?!” tanya Qaiyara penuh curiga.

Sagara memijat pelipisnya, menghembuskan nafasnya dengan perlahan, “saya udah kaya, Qaiyara Zivara. Buruan tanda tangan di sini!”

“Buset, manggilnya lengkap banget. Memangnya, ini dokumen apa sih?” tanyanya penasaran.

“Kontrak pernikahan!” ungkap Sagara.

“Ah, ribet banget.” Tanpa pikir panjang, Qaiyara langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Namun, setelah selesai menandatangani kontrak itu, Qaiyara baru teringat sesuatu.

Sagara mendesah panjang. “Baiklah, karena kamu sudah tanda tangan, kamu harus menaati semua peraturan yang sudah tertera.”

“Eh, tapi kan saya belum baca isi kontraknya!”

“Nih, kalau mau dibaca, biar kamu nggak melanggar peraturan yang saya buat!” seru Sagara sambil menyerahkan kertas itu pada Qaiyara.

Qaiyara menerima dokumen itu membaca isi kontraknya, baru saja mulai membaca,  seketika alisnya mengerut.

“6 bulan? Buset, lama bener. Keburu Mas jatuh cinta ama saya kalau gini.”

“Baca semuanya, biar kamu nggak salah paham!” seru Sagara.

Lagi dan lagi, begitu melanjutkan bacaannya , alis Qaiyara kembali mengerut, “Loh, kok di sini kesannya saya sebagai istri benaran sih?”  protes Qaiyara.

“Istri benaran? Memangnya, disitu saya tulis kalau kamu harus melayani saya sebagaimana kewajiban seorang istri? Nggak, kan?!!”

“Ya, bukan itu sih. Tapi, ini, masa iya saya mau kemana-mana harus izin mas dulu sih?!” protes Qaiyara.

Sagara menarik napas dalam, lalu ia hembuskan dengan teratur, “Qaiyara, walaupun pernikahan ini tidak benar-benar nyata, tapi sekarang kamu jadi tanggung jawab saya. Kalau kamu keluar tanpa sepengetahuan saya, terus tiba-tiba ketabrak mobil dan meninggal di tempat, gimana? Siapa yang mau disalahkan?”

“Buset, amit-amit. Parah amat sampai ketabrak dan meninggal di tempat, niat banget Mas ngomong kek gitu.”

Qaiyara melanjutkan membaca isi surat kontrak itu. “3.  Tidak mengganggu privasi satu sama lain. Okey, ini saya setuju banget!”

   Seketika matanya membelalak lagi saat membaca point ke 4. “Uang bulanan 20 juta? Wah, ini sih enak banget! Tapi… tunggu. Nggak boleh menyimpan perasaan? Halah, Mas takut jatuh cinta sama saya, ya?”

“Lebih tepatnya, sih. Saya takut kamu yang jatuh cinta pada saya,” imbuh Sagara dengan ekspresi dingin.

“Duh, Mas. Jangan terlalu percaya diri. Saya lebih suka beruang Kutub lain yang lebih ramah.”

“Terserah kamu, mau suka beruang kutub lain kek, monyet utan kek, terserah!! Saya nggak peduli!”

Melihat betapa cueknya Sagara, Qaiyara tertawa kecil, “ati-ati, ntar mas Saga jatuh cinta ama saya loh!” seru Qaiyara menggoda dosennya itu, yang kini telah merangkap sebagai suaminya.

“Hidup itu jangan kebanyakan nonton drama Korea, sampai kapanpun, saya nggak akan pernah jatuh cinta ama kamu, manusia cebol!”

Qaiyara menggidikan bahunya San mencebikkan bibirnya, “oke, saya pegang ucapannya ya, saya jamin, kurang dari 6 bulan. mas Saga bakalan klepek-klepek ama manusia cebol ini! Dasar, tiang listrik!”

  Qaiyara kembali melanjutkan bacaannya, segera menyelesaikan point terakhir yang belum sempat ia baca tadi, begitu membaca point terakhir, seketika raut wajahnya berubah, “Nggak bisa gitu dong, Pak. Eh, Mas. Masa iya kamu yang jadi peraturan mutlaknya?! Nggak adil buat saya dong!!” Protes Qaiyara yang tak terima dengan perjanjian diakhiri.

“Sengaja saya tulis begitu, karena masih banyak peraturan yang belum saya tulis, jadi tulisnya dipersingkat gitu aja,” ungkap Sagara.

Qaiyara mengembuskan napas dengan gusar, “buset, ini pernikahan apa penjara ya? Banyak banget peraturannya,” gumam Qaiyara yang tak habis pikir dengan semua ini.

Setelah bersepakat untuk isi peraturan tersebut, Qaiyara bersandar di sofa dengan wajah lelah. “Ini semua bikin kepala saya pening. Tapi oke, saya setuju. Selama 6 bulan ke depan, kita main drama suami istri. Tapi, ati-ati ya, ntar jatuh cinta beneran!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Posessive Husband    58

    Qaiyara bersorak gembira, ia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah orangtuanya, walaupun baru saja kemarin ia bertemu dengan ibunya, tapi hari ini ia sudah merindukannya lagi.* * * “Semoga panjang umur, sehat selalu dan bahagia terus ya, anakku!!” tutur Bu Megan sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya.Qaiyara tersenyum dan mengangguk, “Terimakasih ya, Bu!” seru Qaiyara sambil mendaratkan pelukan hangat pada sang ibu“Kamu makan yang banyak ya, ibu udah masakin semua makanan kesukaan kamu,” ujar Bu Megan dengan nada lembut.Qaiyara melepaskan pelukannya, melihat banyaknya menu makanan kesukaannya di atas meja, kemudian menatap ibunya dengan perasaan iba. “Seharusnya ibu nggak usah masak sebanyak ini, lihat ibu sehat aja itu udah jadi hadiah terindah buat aku, Bu.”Setelah suasana sedih memenuhi ruangan tersebut, kini mereka menikmati makan malam bersama dan setelah itu Bu Megan pamit lebih dulu untuk beristirahat, Qaiyara mengantar ibunya ke kamarnya

  • Posessive Husband    57

    Karin merasa ia telah salah memilah kata-kata, ia terdiam sejenak, melirik Manda untuk meminta pertolongan pada sahabatnya itu. Manda hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan pada Karin, agar ia tetap tenang.“Seperti yang kita tahu, pernikahan Qaiyara dan Sagara itu nggak serius, mereka bakal tetap akhiri semuanya, sesuai dengan yang tertera di surat kontrak yang mereka buat,” ungkap Manda sambil tersenyum miring, merasa puas karena sudah membeberkan hal besar itu pada sang ibu.Mendengar ucapan putri semata wayangnya itu, mata Bu Mirna seketika membulat sempurna.“Jadi, pada akhirnya, pasti Sagara dan Karin akan tetap menikah, melanjutkan pernikahan mereka yang sudah tertunda,” imbuh Manda dengan mantap.* * *Setelah kelas pagi dan satu-satunya kelas mereka hari ini, Qaiyara diajak ke kantin oleh Alina.Di kantin, Sarah dan Dion sudah siap dengan segala hal yang mereka persiapkan sedari tadi, kejutan sederhana untuk Qaiyara.

  • Posessive Husband    56

    Tak tanggung-tanggung, Sarah menginjak kaki Arga, membuat lelaki itu kesakitan dan menoleh ke padanya dengan mata yang membulat sempurna. “Plis, iyain aja!!!” bisik Sarah penuh harap.Arga kembali menoleh ke layar ponsel, tersenyum canggung dan mengangguk pelan. “Hallo, Tante!” sapanya pada Bu Sani.* * * Setelah Qaiyara mengganti bajunya, ia dan suaminya menikmati sarapan pagi yang dimasak oleh lelaki itu. Kemudian, setelah sarapan, ia memutuskan untuk segera ke kampus.Begitu membuka pintu utama, ia terkejut, matanya membulat sempurna saat melihat sebuah boneka beruang putih berukuran besar dan sebuah balon yang ada di depan pintu apartemen.“Mas Gara, kita kedatangan tamu!!” panggil Qaiyara.Sagara yang tengah bersiap untuk ke kampus, segera keluar dari kamar dan menghampiri Qaiyara.“Siapa?” tanyanya.Tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab, Qaiyara hanya menunjuk ke arah boneka dan balon tersebut. Dan Sagara ikut melihat ke arah yang ditunjuk perempuan itu.“Grizzly dan balonn

  • Posessive Husband    55

      Di tempat lain, tampak seorang pria sudah sampai di depan toko kue, dengan langkah gusar dan napas lelahnya, ia masuk ke dalam toko tersebut.“Haduh, lain yang jatuh cinta, lain yang repot. Gini banget ya, kalau cowok baru ngerasain jatuh cinta setelah sekian lamanya dia mati rasa akan yang namanya cinta,” gerutu Arga begitu memasuki toko kue langganannya.Begitu ia berdiri di depan etalase yang menyuguhkan banyaknya pilihan kue, Arga mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket dan membuka ruang obrolannya dengan Sagara.Sagara : “Cariin kue yang menyimbolkan keromantisan, tapi jangan terlalu alay, kalau bisa yang sederhana aja gitu, tapi keliatan elegan dan mewah.”  Begitulah isi pesan dari Sagara yang dikirimkan dari jam 6 pagi tadi. Ya, itu terlalu pagi.Setelah membaca pesan tersebut untuk yang kedua kalinya, Arga hanya mampu memutar mata jengah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.“Sederhana tapi keliatan mewah, gima

  • Posessive Husband    54

    “Mas Gara ngapain sih ngasih harapan palsu ke ibu?” gerutu Qaiyara sesampainya di apartemen.“Harapan palsu apa sih, Qai-chai?” tanya Sagara sambil menghembuskan napas lelah.Qaiyara yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah, segera menoleh saat mendengar panggilannya dari sang suami.“Apa? Aku nggak salah dengar, nih?” tanyanya dengan kedua alis yang mengerut.Alis Sagara ikut mengerut, “Apaan?” Sagara bertanya balik, ia belum ngeh dengan apa yang ditanyakan Qaiyara.“Tadi Mas Gara manggil aku apa? Qai-chai?”Setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Qaiyara, Sagara hanya menganggukinya.“Iya, Qai-chai.”“Qai-chai apaan, dah?”“Dalam bahasa Hindi, Chai bermakna teh. Jadi, sudahi minum kopi, dan berpaling ke teh, meskipun minum teh juga nggak sehat-sehat banget, setidaknya nggak seburuk minum kopi berlebihan seperti kebiasaanmu!” seru Sagara menjelaskan panjang lebar, dan belum sempat Qaiyara berkutit dan memberikan responnya, Sagara lebih dulu berlalu dari sana.Qaiy

  • Posessive Husband    53

    “Astaga, Ibu!!! Ngapain sih ibu ngurus masakan? Ibu kan baru pulang dari rumah sakit, ibu harus banyak istirahat dulu!!!” pungkas Qaiyara yang begitu sampai di rumah orang tuanya dan menemui ibunya yang tengah berkutat di dapur.Tampak pak Haris hanya mampu menghembuskan napas beratnya, sepertinya ia juga sudah berusaha untuk menasehati istrinya Agara beristirahat terlebih dulu, namun tetap mendapatkan penolakan dari Bu Megan.Bu Megan hanya menoleh untuk sesaat, kemudian kembali fokus mengiris perbawangan.“Ibu hanya ingin masakin makanan kesukaanmu, katanya kamu rindu sama masakan ibu,” tutur Bu Megan.Qaiyara memeluk ibunya dari belakang, menempelkan kepalanya di pundaknya ibunda tercintanya.“Maafin aku ya, Bu. Aku belum bisa menjadi anak yang baik buat ayah dan ibu,” gumamnya.Bu Megan menghentikan aktifitasnya itu, kemudian menghadap anaknya dan memeluknya dengan tulus dan penuh kehangatan. “Dengan menjadi istri yang baik u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status