Home / Romansa / Posessive Husband / Janda Muda Kaya Raya

Share

Janda Muda Kaya Raya

last update Last Updated: 2025-12-20 07:50:56

Di sebuah rumah mewah dan megah yang bernuansa klasik, terdapat keluarga Sagara yang sedang berkumpul. Kediaman ini dihuni oleh kedua orang tua Sagara, saudarinya, serta suaminya.

Malam ini, Manda dan suaminya yang baru saja pulang dari berlibur, langsung menuju rumah orang tuanya tanpa menginap di hotel terlebih dahulu. Bayangkan saja, bertapa lelahnya mereka saat ini.

"Akhirnya, putri kesayangan mama udah pulang!" seru Bu Mirna sambil memeluk erat putri semata wayangnya itu.

Manda membalas pelukan sang ibu, hampir dua minggu mereka tak bertemu, membuat rasa rindu semakin mendalam.

"Gimana liburannya, Sayang? Seru, nggak?" tanya Bu Mirna dengan antusias, ingin mendengar cerita anaknya tentang perjalanan mereka.

"Mah, biarkan Manda dan Ardan untuk beristirahat dulu. Mereka kan baru pulang, masa mama langsung mencecar mereka dengan banyaknya pertanyaan?" ujar Pak Abas, yang prihatin pada anak dan menantunya yang pasti lelah menghadapi perjalanan yang jauh.

"Yaudah, iya deh!" sahut Bu Mirna, memasang wajah kecewa pada suaminya. "Aku kan hanya ingin melepas rindu!" gumamnya pelan.

Kemudian ia menoleh ke arah anak perempuan itu dengan senyuman hangat, "sekarang kamu buruan ke kamar, istirahat. Besok baru kita cerita-cerita, ya?!!" ucap Bu Mirna penuh semangat.

Manda hanya mengangguk, sedangkan itu Ardan segera berpamitan untuk masuk ke kamar dengan membawa dua buah koper.

"Saga di apartemennya lagi?" tanya Manda, sedari tiba di rumah besar dan mewah itu, ia belum melihat sosok adik semata wayangnya itu.

Bu Mirna hendak menjawab, namun terinterupsi oleh menantunya.

"Sayang, buruan. Ini kopernya mau ditaroh di mana?" tanya Ardan dari dalam kamar.

Belum sempat mendengar jawaban sang ibu dari pertanyaannya, Manda segera pamit dan berlari kecil menuju kamarnya.

* * *

   Sagara duduk di ruang kerjanya, dikelilingi tumpukan kertas tugas mahasiswa yang harus ia periksa. Matanya mulai lelah menatap angka-angka dan catatan, tapi ia tetap fokus.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar. Ia melirik sekilas, mengira itu hanya pesan biasa. Namun, ketika melihat nama pengirimnya, Sagara menghentikan pekerjaannya.

 ARGA :  “Bro, kabar baik. Karin bakal pulang ke Indonesia minggu depan. Katanya dia kangen sama semua orang, termasuk elu. Siap-siap ya, mungkin dia bakal ngajak ngobrol soal masa lalu kalian.”

Sagara menghela napas panjang. Pesan itu membuat pikirannya terlempar ke dua tahun yang lalu. Karin, mantan tunangannya, yang meninggalkannya untuk mengejar karir di luar negeri. Mereka tidak pernah benar-benar putus, tapi sejak saat itu, hubungan mereka seperti dibiarkan menggantung.

“Kenapa sekarang?” gumamnya pelan sambil menutup pesan itu.

Sagara mulai menari-narikan jarinya di layar ponselnya, menuliskan balasan pesan untuk Arga.

SAGARA : “masih kontekan lu ama dia?" 

  ARGA : “nggak, sore tadi tiba-tiba banget dia ngechat gue.”

  ARGA : “eh, nggak deng. Dia sering ngechat gue, nanyain gimana kabar lu”

   Sagara yang hendak membalas pesan dari Arga itu, seketika terhenti saat sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.

“siapa nih?” gumam Sagara dengan kedua alis yang mengerut.

Sagara tampak memicingkan matanya, berpikir sejenak, siapa gerangan yang menelponnya, “apa Karin, ya?!" gumamnya dengan tangan yang menyentuh dagunya.

Namun, Sagara memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut, meskipun berapa kali ponselnya berdering.

* * *

Di apartemen, Qaiyara mondar-mandir sambil memegang ponselnya. Ia menatap layar dengan wajah kesal.

“Dasar beruang kutub!” gerutunya sambil menggerakkan jari-jarinya di layar ponselnya. "Punya suami gini amat, ditelepon ngalahin pak presiden sibuknya," imbuhnya.

Ya, yang sedari tadi menelpon Sagara adalah Qaiyara. Akhirnya, ia memutuskan untuk menuliskan pesan, berharap suaminya itu membaca pesan singkat darinya.

* * *

Setelah mengabaikan panggilan tersebut, Sagara kembali menyelesaikan pekerjaan, berharap bisa segera pulang dan beristirahat dengan tenang.

Begitu pekerjaan rampung, Sagara bergegas pulang. Namun, saat masih dalam perjalanan, fokusnya segera terganggu oleh suara notifikasi pesan masuk. Kali ini, nomor tak dikenal tadi mengiriminya sebuah pesan.

Tanpa membutuhkan pertimbangan yang lama, ia langsung meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.

NOMOR TAK DIKENAL : “Lapor, Pak DOSEN! Saya mau keluar rumah sebentar. Kalau izin ini ditolak, saya akan demo di depan kamar Anda dengan poster bertuliskan ‘Kebebasan Istri Adalah Hak Asasi!’ P.S. Jangan khawatir, saya nggak akan kabur ke kutub selatan.”

Sagara membaca pesan tersebut dengan satu alis yang terangkat naik, dari membaca isi pesan tersebut saja, ia sudah tahu pasti siapa gerangan.

Saat hendak menuliskan balasan untuk pesan tersebut, tiba-tiba saja ponsel Sagara mati, "argh, pakai acara mati segala!" gumam Sagara, ponselnya lowbat total.

Tanpa aba-aba, Sagara langsung menginjak pedal gas dan melaju dengan cepat membelah jalan yang cukup senggang dari pengemudi lainnya malam itu.

   * * *

Qaiyara yang sedari tadi menunggu pesan balasan dari suaminya yang tak kunjung masuk, hanya menggidikkan bahunya dengan mulut yang mengerucut ke bawah.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “sok ngartis banget sih? Masa pesan manusia cantik nan imut seperti aku ini hanya di-read, doang?!" gerutu Qaiyara yang memilih untuk segera bersiap.

Setelah memastikan semuanya siap, ia akhirnya memutuskan untuk keluar tanpa menunggu izin Sagara. “Kalau dia marah, biarin aja. Lagian, siapa suruh nggak ngebalas chat aku. Lagian, Nggak ada yang lebih seru daripada lihat muka dosen killer itu meledak-ledak penuh amarah.”

Dengan pakaian sederhana, dress merah merah selutut membuat warna kulit terlihat makin putih dan bersih, ia segera keluar dari kamarnya dan bergegas membuka pintu utama.

Namun, begitu membuka pintu, Qaiyara terkejut melihat sosok suaminya yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu.

Sagara menyilangkan tangan di dada. “Mau ke mana?”

“Nggak usah ikut campur! Ini urusan pribadi. Kalau nggak suka, ya lapor aja sama pengacara!”

Sagara maju beberapa langkah, mengikis jaraknya dengan Qaiyara, kali ini tatapannya lebih tajam. “Ingat peraturan dalam kontrak. Kamu harus lapor setiap kali keluar rumah. Kalau melanggar, kamu tahu akibatnya.”

Aksi Qaiyara berikut di luar dugaan sagar, Qaiyara justru menegakkan tubuhnya, melipat tangannya di depan dadanya, sambil berkata, "memangnya, apa akibat yang akan saya terima? Kan dalam peraturan itu nggak tertulis akibat yang akan diterima bila melanggar peraturan, blee!!" ucapnya sambil menjulurkan lidahnya, meledek lelaki bertubuh tinggi yang ada dihadapannya itu.

Sagara menarik salah satu sudut bibirnya, terlihat senyumannya itu cukup misterius, "kamu lupa? Kalau saya adalah peraturan mutlak! Jadi, akibat dari melanggar peraturan adalah denda 20 juta sekali melanggar!" pungkas Sagara dengan suara beratnya yang mampu menggetarkan hati.

Mendengar penuturan tersebut, mata Qaiyara langsung membelalak sempurna, terlihat ia bersusah payah untuk menelan ludahnya, "buset, sekali melanggar, uang bulanan sebulan langsung melayang! Pikiran awal, setelah bercerai, gak apa-apa jadi janda, yang penting janda muda kaya raya. Kalau gini mah, yang ada janda gembel!" gumamnya dalam hati.

“Saya mau keluar sebentar doang, kok!! Katanya sih saya ini istri kontrak, tapi rasanya kayak napi kontrak. Saya cuma mau beli boba biar bisa tetap waras menghadapi ‘Kulkas Berjalan’ alias Anda. Tenang aja, saya nggak akan kabur ke antartika buat ketemu penguin. Kalau masih dilarang juga, saya bakal buka layanan curhat online tentang kehidupan istri di bawah ‘diktator rumah tangga.’ Jangan lupa, kalau saya nggak pulang tepat waktu, mungkin saya diculik alien karena saya terlalu lucu buat tinggal di Bumi. Over and out, bye!” seru Qaiyara panjang kali lebar dan segera melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah.

Belum sampai keluar pagar, Sagara membuka suara dan mampu menghentikan langkah perempuan bertubuh mungil itu, "mau kemana, Qaiyara Zivara?!!!" tanyanya penuh penekanan.

Qaiyara menoleh dengan ragu-ragu, kemudian meringis untuk menutupi ketegangannya.

"Mau ke Indomaret doang kok, beli Boba!" sahut Qaiyara.

"Sejak kapan Indomaret jualan Boba? Lagian,

"Kamu mau minum Boba malam-malam begini?" tanya Sagara dengan kedua alis yang mengerut.

Qaiyara tertawa kecil. “Iya. Kan lagi ngidam Boba.”

Sagara menatapnya tajam. “Kamu bukan ibu hamil, Qaiyara. Jangan cari alasan. Diam di sini dan jelaskan.”

Qaiyara menghela napas, lalu memberikan pernyataan yang sesungguhnya. “saya mau beli roti bersayap, Pak Dosen!”

"Hah?" beo Sagara dengan ekspresi kebingungan.

Qaiyara mendengus kesal, "Softex, Pak, Softex. Kalau nggak ngerti juga, pembalut. Apa perlu saya jelaskan lebih rinci lagi?"

Sagara mengangkat tangannya, sambil berkata, "udah, cukup!"

Sagara menarik napas dalam, lalu ia hembuskan dengan teratur, “yaudah, kamu tunggu aja di rumah, nanti saya yang keluar buat belikan,” ucap Sagara.

“nggak usah, Pak!" tolak Qaiyara.

"Ingat, saya bukan bapak kamu!"

"Eh, maksud saya. Nggak usah, Mas. Saya bisa beli sendiri kok!”

“bisa nggak kamu diam dan ikuti saja ucapan saya?” pinta Sagara dengan tegas.

Qaiyara menggelengkan kepalanya, "nggak bisa, mungkin kalau di kampus bapak bisa seenaknya ama saya, tapi lain halnya di rumah. Anda pikir, ini kampus, Pak Dosen?" Qaiyara mendekatkan wajahnya ke Sagara dengan gaya menantang, “lagian, bicara itu bagian dari hak asasi manusia. Kalau bapak larang saya bicara, berarti bapak melanggar HAM!”

Sagara menghela napas, berusaha untuk bersabar menghadapi perempuan bertubuh mungil yang ektra berisiknya.

"Ngomongnya, udah? Kalau udah, biarkan saya untuk pergi ke Indomaret!" tanya sagar sambil menatap Qaiyara, setelah melihat anggukan dari istrinya, barulah Sagara berbalik dan bergegas pergi ke Indomaret.

"Titip Boba, ya!" pekik Qaiyara sebelum Sagara benar-benar pergi.

"Nggak mau!" sahut Sagara dengan nada datar.

“Dih, punya suami gitu banget” gumam Qaiyara, “Semoga Allah melembutkan hati Anda kayak topping boba. Amin!”

Beberapa menit kemudian, tak butuh waktu lama, akhirnya Sagara kembali dengan menenteng satu kantong kresek hitam berukuran besar.

"Nih!" serunya sambil menyerahkan kresek itu pada Qaiyara yang menunggu di ruang keluarga sambil menonton tv.

Qaiyara menerima kresek itu, dan segera membukanya, begitu melihat isi di dalam kresek tersebut, seketika mata Qaiyara terbelalak sempurna dengan mulut yang ikut terbuka lebar, "buset, banyak amat. Sampe saya menopause pun, nih barang nggak bakalan abis!" kata Qaiyara yang spontan keluar begitu sja dari bibir ranumnya. "Lagian, saya nggak biasa pakai yang merek ini."

Sagara hanya melirik Qaiyara dengan tatapan sabar. “Kalau mau komplen, silakan tulis surat dan kirim ke alamat email saya,” ucapnya, kemudian berlalu pergi dari hadapan perempuan itu.

“Yaudah, nggak apa-apa, sih! Itung-itung mengirit uang bulanan, biar janda muda kaya raya bisa tercapai. Lagian, jarang-jarang pakai merek malah kek gini," gumam Qaiyara yang kembali memperhatikan benda tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Posessive Husband    Seranjang.

    “Udah, nggak usah kebanyakan drama.”Sagara dengan wajah datarnya, beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjangnya, sambil menatap Qaiyara yang bergelung di balik selimut.“Turun,” ucapnya pendek.Qaiyara memeluk bantal lebih erat. “Enggak.”“Qaiyara.” Nada suaranya mulai tegas.“Mas Sagara.” Nada Qaiyara tak kalah menantang.“Ini ranjang saya.”“Tapi ini istri kamu,” balas Qaiyara sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum puas.Sagara memijat pelipisnya. “Kamu tidur di sofa.”“Enggak mau. Saya udah capek, rela batalin ke rumah orang tua saya, buat ngucapin ulang tahun buat mama kamu. Sekarang, gantian dong kamu yang ngalah. Kamu tidur di sofa.”Sagara berpikir sejenak. Kalau dia terus berdebat, Qaiyara pasti akan minta pulang. Dengan menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah.“Baik. Kamu menang.”Qaiyara tersenyum lebar. “Bagus. Saya memang selalu menang.”Sagara berbalik menuju sofa, sambil menggumam, “Kalau saya tahu begini, saya bakal cari alasan lain!” ia mendengus ke

  • Posessive Husband    Plot Twist

    “Pak, kenapa saya ditarik kayak mau diculik? Ini kampus, lho, semua orang ngelihat!” protes Qaiyara sambil melipat tangan di dada.Sagara tidak memberikan jawaban, ia masih bingung harus beralasan apa agar Qaiyara tidak ke rumah orang tuanya saat ini, sebab Bu Megan masih di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.Melihat Sagara yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, Qaiyara berniat untuk keluar dari mobil, ketika ia mencoba membuka pintu mobil, Sagara dengan sigap mengunci pintu otomatis.Berulangkali Qaiyara mencoba untuk membuka pintu mobil, namun hasilnya tetap sama, tak bisa untuk dibuka. Ia menoleh dengan kesal ke arah suaminya itu. “Pak Dosen yang terhormat, mohon izinkan saya untuk keluar! Kalau nggak, saya akan bawa kasus ini ke meja hijau, kasus penculikan!” ancam Qaiyara.“Silahkan, laporankan saja!” seru Sagara penuh tantangan. “Saya penasaran, bagaimana media akan meluncurkan berita, 'Seorang perempuan diculik oleh suaminya sendiri'?” gumam Sagara denga

  • Posessive Husband    Nafkah

    Sagara memarkir mobilnya di basement apartemen. Dengan langkah mantap, dia menuju lift dan menekan tombol lantai apartemennya. Dalam pikirannya, ada banyak hal yang berkecamuk, terutama tentang rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambutnya. Namun, suara televisi yang samar terdengar dari ruang tamu segera menarik perhatiannya.Dia berjalan pelan menuju sofa dan melihat sosok Qaiyara tergeletak dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Satu kaki menggantung di sisi sofa, tangan memeluk bantal, dan rambutnya menutupi sebagian wajah. Di layar televisi, kartun kesukaannya, Tom and Jerry, masih beraksi dengan suara nyaring.Sagara hanya bisa menghela napas. “Kamu ini lebih kayak anak kecil daripada mahasiswa.”Namun, saat memperhatikan wajah Qaiyara yang tertidur lelap, perasaan iba menyelimutinya. Ia teringat kondisi orang tua Qaiyara. Gadis itu terlihat begitu riang setiap hari, tapi Sagara tahu jika suatu saat dia tahu tentang kenyat

  • Posessive Husband    Sebuah Rahasia.

    Sagara sudah lebih dulu tiba di kelas. Duduk dengan tenang di depan, ia membuka laptopnya sambil memeriksa beberapa dokumen. Kelas sudah ramai, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, tetapi Sagara memperdulikannya. Ketika suasana begitu damai, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari koridor. "Yar, tungguin kita dong!!" teriak Alina. “Cepat, kita udah telat nih!” Qaiyara berteriak, berhenti sejenak untuk menunggu kedatangan sahabatnya itu, lalu ia langsung menarik tangan Dion dan Alina yang hampir kehabisan napas. “Yar, kalau kita mati di perjalanan ini, kamu yang tanggung jawab!” keluh Dion, napasnya tersengal. “Lebih baik mati karena lari daripada mati karena dimarahi Dosen killer itu!” sahut Qaiyara tanpa ragu. Namun, tepat ketika mereka sampai di pintu kelas, suara Sagara yang dingin dan tegas menghentikan langkah mereka. “Stop.” Ketiganya langsung berhenti seperti robot yang kehabisan daya. Qaiyara, Dion, dan Alina menatap Sagara yang sudah berdiri di sana dengan

  • Posessive Husband    Harimau Lapar

    Mendengar ucapan Qaiyara, Bu Mirna, Pak Abas dan Ardan tahu bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata, dan ketiganya tertawa mendengar candaan tersebut. Lain halnya dengan Sagara dan Manda, Sagara terus fokus pada makanannya, sementara Manda menjentikkan matanya, melihat suami dan kedua orang tuanya yang tertawa dengan tatapan penuh ketidaksukaan."Ternyata kamu selucu itu, ya?!" puji Bu Mirna.Qaiyara hanya tersenyum, memasang wajah polosnya. Mendengar pujian tersebut, Manda memutar mata jengahnya, melirik sinis pada Qaiyara.Setelah makan malam, Manda langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bu Mirna menatap Qaiyara dan Sagara dengan senyum lebar. “Kalian nggak usah pulang malam-malam begini. Nginep aja di sini, lagian kamar Sagara masih ada kok.”Qaiyara yang sedang minum hampir tersedak mendengar itu. “Ng-nggak perlu, Mah! Kami bisa pulang. Lagian, kan deket,” katanya cepat.“Deket apanya? Dari sini ke apartemen kalian itu lumayan jauh, lho,” balas Bu Mirna sambil melipat tangan.

  • Posessive Husband    Karin?

    Di kamarnya, Sagara belum tertidur karena masih larut dalam pikirannya, ia tengah melamun di balkon, dengan ditemani angin sepoi-sepoi malam itu.Saat asik memandangi gelapnya langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, sebuah notifikasi pesan masuk mampu membuyarkan lamunan Saga. Kali ini, pesannya singkat tapi membuat Sagara makin gelisah.ARGA : “Karin bilang, dia mau ketemu elu begitu sampai di Indonesia.”Saga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tampak, Sagara menyentuh lehernya, dan berdehem berulang kali, rasanya lehernya sangat kering.Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Namun, baru saja melangkah keluar, ia melihat tv yang masih menampilkan kartun."Dasar bocah!!" gumam Sagara, menghiraukan hal itu dan segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air.Setelah kembali dari dapur, Sagara melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk menyuruh Qaiyara agar segera tidur, melatih perempuan itu untuk tidur lebih aw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status