LOGIN
Dunia alternatif, Negara Naga.
Sebagai salah satu negara adidaya, Negara Naga memiliki kecanggihan teknologi paling maju jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Salah satu bukti kemajuan teknologi Negara Naga adalah keberadaan kereta cepat yang mampu melaju hingga kecepatan seribu mil per jam. Kereta cepat ini merupakan alat transportasi utama di Negara Naga. Alasan utama penduduk memilih moda transportasi ini adalah karena jangkauannya yang telah mencakup seluruh provinsi di negara tersebut. Dengan kata lain, seseorang dapat mengelilingi Negara Naga hanya dengan menaiki kereta cepat ini. Di dalam salah satu gerbong kereta cepat berkode L556, terdapat seorang pemuda yang duduk di pojok dengan ekspresi datar sambil menatap ke luar melalui jendela. Kursi yang ia duduki merupakan kursi kelas ekonomi, sehingga pemuda itu harus berbagi tempat duduk dengan penumpang lain. Total terdapat empat orang yang duduk dalam dua baris kursi. Pemuda itu berada di barisan belakang dan duduk di dekat jendela. Karena keempat orang tersebut tidak saling mengenal, tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka hingga saat ini. “Anu… apa kamu juga mau pergi ke Kota Bunga?” tanya seorang perempuan muda yang duduk di samping pemuda itu, memberanikan diri untuk memulai obrolan. Pemuda itu terkejut sesaat sebelum akhirnya mengangguk dengan ekspresi tetap datar. “…” Perempuan muda yang mendapatkan jawaban seperti itu langsung membeku. Apakah penampilanku tidak cukup menarik baginya? pikir perempuan itu dalam hati. Pemuda yang duduk di dekat jendela menyadari pikiran perempuan muda tersebut dan berkata pelan, “Kamu cantik, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Memang karakternya aku tidak suka banyak bicara.” “…” Perempuan muda itu tertegun. Pipinya mendadak memerah, membuatnya terlihat semakin menarik. “…” Pemuda itu tidak berkata apa-apa lagi setelahnya. Suasana hening mulai terasa sedikit canggung bagi perempuan muda itu. “Anu… siapa namamu?” tanyanya lagi dengan ekspresi penasaran. “Brian Won,” jawabnya dengan nada datar. “Aku Liu Wen. Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?” tanya Liu Wen dengan nada ragu. Brian Won sedikit terkejut sebelum menatap Liu Wen dengan ekspresi aneh. “Apa maumu?” “Aku… aku terlalu lelah karena telah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Aku ingin tidur sebentar di sini, tapi aku takut kalau ada orang jahat yang muncul. Jadi…” Liu Wen menjelaskan dengan cepat. Brian Won semakin terkejut dan berkata pelan, “Kamu takut orang jahat mengganggumu saat tidur, tapi kenapa kamu berani meminta bantuan dariku yang merupakan orang asing?” “…” Liu Wen terdiam. Ia menunduk sejenak sebelum menjawab lirih, “Kamu orang baik, jadi aku tidak ragu untuk mempercayaimu.” “…” Brian Won langsung membeku. Orang baik? Baru kali ini ada orang yang memanggilku seperti itu, gumam Brian Won dalam hati dengan perasaan terkejut. Ekspresi dinginnya perlahan menghilang, digantikan senyum tipis. “Baiklah. Karena kamu mempercayaiku, aku akan menjagamu,” kata Brian Won dengan nada serius. “Terima kasih, Brian! Kamu penyelamatku!!” Liu Wen tersenyum bahagia setelah mendengar jawabannya. Ia tampak sangat bersemangat selama beberapa detik sebelum akhirnya tertidur pulas beberapa menit setelah menutup mata. Brian Won kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dengan senyum tipis terukir di wajah tampannya. Ia mengangkat tangannya dan menatap telapak tangannya dengan ekspresi serius. Tanganku sudah ternoda oleh darah ribuan orang yang berbeda. Apakah aku masih pantas dipanggil orang baik? gumamnya dalam hati. Setelah beberapa menit berpikir, Brian Won menggelengkan kepala dan menutup matanya sejenak. Bruk! Kurang dari tiga detik setelah ia memejamkan mata, bahunya tiba-tiba dihantam sesuatu. Brian Won melirik ke samping dan terkejut saat melihat Liu Wen tertidur pulas sambil bersandar di bahunya. “…” Gadis ini… Brian Won terdiam. Sepertinya dia benar-benar sangat kelelahan. Baiklah, aku akan membiarkanmu bersandar pada bahuku yang kotor ini, gumamnya dalam hati dengan ekspresi pasrah. Saat suasana hatinya mulai membaik, tiba-tiba kakinya ditendang oleh seseorang yang duduk di seberangnya. Ekspresi Brian Won berubah dingin. Ia menatap dua pemuda yang duduk di hadapannya, yang sedang memperlihatkan senyuman mesum ke arahnya. “Apa maksud kalian?” tanya Brian dengan nada datar. “He-he, saudaraku. Apa kamu tidak keberatan bertukar tempat duduk denganku? Sebentar saja kok, setelah selesai kamu bisa duduk lagi di situ,” kata pemuda yang memiliki tahi lalat di pipinya. Rekannya yang mengenakan kacamata hitam mengangguk dengan senyuman penuh arti. Brian Won sudah menebak tujuan mereka dan mengutuk tindakan kedua pemuda itu dalam hati. “Kalian berdua, jangan pikir aku tidak tahu apa tujuan kalian. Aku tegas mengatakan bahwa aku tidak mau bertukar tempat duduk dengan kalian,” ujar Brian Won dengan nada dingin. “Kamu?!” Kedua pemuda itu tidak menyangka jawaban tersebut. Mereka menunjuk Brian dengan kesal dan mendengus dingin. “Lihat saja! Kau akan menyesal karena menolak bertukar tempat duduk denganku!!” ancam pemuda bertahi lalat itu. Pemuda berkacamata hitam mengangguk serius, menatap Brian seperti predator yang sedang mengincar mangsanya. Brian Won hanya mengangkat bahu dengan santai. Baginya, ancaman mereka tidak lebih dari gonggongan anjing yang tak perlu dipedulikan. Sejak kecil, Brian Won telah berhasil masuk sekolah tentara khusus dan lulus dengan nilai terbaik pada usia lima belas tahun. Ia dinobatkan sebagai lulusan termuda sekaligus terbaik dalam sejarah sekolah tersebut. Meski usianya masih sangat muda, Brian Won mampu mengalahkan seorang komandan dalam hal strategi maupun kekuatan bertarung. Berbekal pencapaian luar biasa itu, Brian Won menjadi sosok yang tak terbendung saat pertama kali turun ke medan perang. Ia mengamuk dan berhasil membunuh puluhan musuh negara. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, namun sejak saat itu Brian Won mendapatkan julukan Robot Pembantai. Julukan tersebut terus menyebar seiring dengan banyaknya pencapaian yang ia raih. Hingga empat tahun kemudian—yaitu saat ini—Brian Won harus kembali ke kota akibat sebuah insiden di medan perang. Seorang sahabatnya di pasukan khusus gugur saat menjalankan misi bersama. Dalam kondisi sekarat, sahabat itu berwasiat agar Brian pergi ke kota dan melindungi adiknya yang kini berada dalam bahaya besar. Menghadapi permintaan terakhir sahabatnya, Brian Won tentu tidak bisa menolak. Ia meminta izin kepada komandan tertinggi dan segera berangkat menuju Kota Bunga setelah izin itu didapatkan. “Tidaaak!! Tolong!!” Saat Brian Won tengah tenggelam dalam ingatan akan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku, tiba-tiba teriakan seorang gadis terdengar, membuat Brian Won dan Liu Wen sama-sama terkejut. ---Clack!"Kakak Brian..."Panggilan malu-malu Yim Shu mengalihkan perhatian Brian Won.Brian Won menoleh, terkejut melihat Yim Shu mengenakan lingerie seksi yang menonjolkan dada dan pantatnya.Glek..."Yim Shu? Kenapa kamu berpakaian seperti itu?!"Yim Shu tersipu, berlari dan memeluk Brian Won.Punyu...Payudara Yim Shu menekan dada Brian Won, memberinya rasa nikmat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata."Kakak, aku mencintaimu, tolong terima dedikasiku."Deg-deg!"Kamu yakin? Setelah memulainya, aku tidak akan berhenti sampai puas."Yim Shu tersenyum tipis, berkata dengan nada lembut, "Itulah yang aku inginkan."Brian Won menelan ludah, mencium bibir Yim Shu, lalu membawanya ke tempat tidur.Apa yang terjadi selanjutnya cukup memalukan untuk dibicarakan, yang jelas mereka menjalin kasih selama beberapa jam di kamar Brian Won, lalu berhenti pada saat matahari mulai terbit dari ufuk timur.Brian Won terpaku merasakan kekuatannya yang mengalami peningkatan tidak masuk akal."Tingkat 3
Sekte Aliran Hitam.Setelah percobaan penculikan terakhir kali berakhir dengan kegagalan, kini mereka sedang mengatur strategi ulang."5 Prajurit Senior dikalahkan dengan mudah oleh pensiunan prajurit khusus, dapat dipastikan, lawan bukan prajurit khusus biasa.""Kemungkinan besar dia anggota Organisasi Naga.""Mungkin, tidak diragukan kekuatannya berada di tingkat Master atau di atasnya lagi.""Sekarang bagaimana? Haruskah kita bergerak?""Tidak, biarkan Master Besar yang bergerak lebih dulu. Master Hebat seperti kita tidak bisa seenaknya bergerak, apalagi pergi ke Negara Naga.""Benar juga, kirim semua Master Besar, jangan sisakan satu pun di markas.""Bukannya itu berlebihan? Kita tidak sedang mau melakukan invasi terhadap Negara Naga, kan?""Tidak, tujuan kita hanya mengambil kunci dari Negara Naga.""Lantas kenapa mengirim orang begitu banyak?""... Hanya untuk jaga-jaga, tidak lebih.""... Baiklah, akan segera aku siapkan."....Brian Won menghentikan latihannya, tersenyum puas
"Hee, buat apa kau menemuiku? Aku tidak punya hubungan dengan kekasihmu." Ekspresi Zhou Jiajia menjadi dingin, tatapannya tajam tanpa emosi. "Ugh, aku cuma ingin bicara denganmu, jadi tolong turunkan permusuhanmu," ucap Jeni Yan dengan lembut dan penuh kasih.Bahkan Zhou Jiajia tidak tahan dengan pernyataan Jeni Yan, dia berdehem lalu kembali bersikap seperti biasa."Baiklah, maafkan aku."Jeni Yan tersenyum penuh pengertian, menggelengkan kepalanya dengan tatapan hangat penuh cinta."Aku mengerti alasanmu marah, tidak perlu meminta maaf."Zhou Jiajia kembali menurunkan kewaspadaannya."Tidak nyaman bicara sambil berdiri, ayo duduk dulu," ucap Zhou Jiajia.Jeni Yan tersenyum getir, berkata dengan nada santai, "Aku juga berpikir begitu."Mereka duduk di sudut restoran, memesan makanan dan mulai bicara sambil menunggu pesanan datang."Kamu mau bicara apa?" tanya Zhou Jiajia.Jeni Yan menarik napas, berkata dengan nada lembut, "Kamu tidak mau memikirkan kembali soal hubunganmu dengan Br
Sejak insiden penyanderaan, Vivian jadi melekat dengan Brian Won.Mereka sangat lengket hingga membuat Yim Shu cemburu, kadang sampai harus ditegur langsung oleh Yim Shu.Brian Won hanya tertawa, meladeni dua wanita besar itu dengan sepenuh hati.Yu'er butuh lebih banyak perhatian daripada Vivian, Brian Won terpaksa membawanya ke mana-mana sampai dia melupakan insiden yang menimpanya.Apartemen Jeni Yan.Brian Won dan Jeni Yan berpelukan di tempat tidur, baru saja selesai bertarung dengan sengit setelah sekian lama.Kamar itu kacau balau, dipenuhi aroma ambigu yang merangsang."Aku mengerti, jadi itu alasanmu tidak bisa datang menemuiku." Jeni Yan menggambar lingkaran di dada Brian Won.Menggelitik Brian Won hingga membuatnya tidak bisa menahan tawa."Maafkan aku, aku akan berusaha agar bisa lebih sering menemanimu.""He he he, aku tidak keberatan menunggu, lagipula kamu selalu bisa memuaskanku, meski hasratku sudah menumpuk sedemikian rupa."Brian Won tersenyum bangga, merasa senang
Brian Won berhasil melumpuhkan tiga penyusup dengan mudah.Sebelum dia sempat merayakan keberhasilannya, Brian Won tertegun, wajahnya menjadi pucat saat dia berlari dengan tergesa-gesa menuju ke kamar Vivian.Duar!Pintu didobrak hingga hancur oleh Brian Won.Brian Won mendarat di tengah kamar, terpaku melihat penyusup yang tengah menyandera Vivian."Berhenti! Jika kau bergerak, wanita ini akan mati!"Mendengar ancaman penyusup, Brian Won terpaku, mengangkat tangan ke atas sebagai tanda menyerah."Tidak... Lepaskan aku..."Vivian berteriak sedih, terlihat sangat putus asa dengan mata memerah dan berlinang air mata.Yim Shu berbaring di lantai tidak sadarkan diri, Yu'er meringkuk di pojokan dengan tubuh gemetaran serta ekspresi ketakutan yang terlihat depresi.Hati Brian Won dingin, rasanya ingin sekali menghajar penyusup di depannya tapi dia tidak bisa melakukannya karena terhalang sandera."Empat temanmu sudah tertangkap, lebih baik menyerah atau kau akan menyesal seumur hidup.""Huh
Hari - hari diabaikan terasa cukup sepi bagi Brian Won. Meski begitu dia tidak bisa berbuat apa - apa karena bahkan tidak diberi waktu untuk bicara dengan Yim Shu dan Vivian.Dibandingkan Vivian, Yim Shu lebih baik karena masih mau menanggapinya meski sedikit dingin.'Apa boleh buat, ini juga akibat dari sikap pengecutku.'(...).....Tiga orang duduk di aula Keluarga Wan dengan wajah serius.Mereka adalah Wan Liu, Wan Dahai dan Juli Ying."Ayah, kali ini ada masalah apa?" tanya Wan Dahai ragu.Juli Ying menatap penasaran ke arah Wan Liu.Wan Liu menarik napas dalam lalu berkata dengan sungguh - sungguh."Tidak salah lagi, yang mengincar Vivian adalah orang - orang itu."Wajah Wan Dahai langsung berubah pucat."Ayah yakin?"Wan Liu mengangguk serius."Kalau benar begitu, Brian saja tidak mungkin untuk melindungi Vivian," ucap Juli Ying ragu.Wan Dahai mengangguk setuju tapi Wan Liu menggelengkan kepalanya."Kalau Brian yang dulu mungkin tidak bisa, tapi dia yang sekarang pasti bisa."







