LOGINAlaric mengerjapkan mata satu kali, lalu mengangguk. “Okay, Daddy.” Ethan lalu berjalan melewati mereka menuju pintu masuk rumah. Iris menatap punggung ayahnya sebentar sebelum kembali melihat Alaric. “Kau beruntung.” “Kenapa?” Alaric masih menatap punggung ayahnya yang baru saja menghilang di balik pintu. “Daddy tidak melihat lututmu kemarin.” Alaric menyeringai kecil. “Kalau Daddy melihat, aku tetap akan mencoba lagi.” Iris tidak terlihat terkejut mendengar itu. Ia sudah tahu satu hal tentang adiknya sejak . Alaric Winchester tidak terlalu peduli pada kemungkinan jatuh. Bocah laki-laki itu hanya ingin tahu apakah ia mampu berdiri lagi setelahnya atau tidak. *** Delapan tahun kemudian. Senja itu, suasana di ruang keluarga mansion terasa sangat tenang. Ivy sedang duduk di sofa dekat jendela besar, fokus membaca beberapa berkas laporan bulanan dari The Alden Circle. Ia terlihat segar, rambutnya tertata anggun, dan sesekali menyesap teh melati tanpa ada tanda-tand
“Aku di sini,” ucap Ethan tegas. Memahami gerakan istrinya.Beberapa menit kemudian, tangisan bayi akhirnya memecah ruangan.Suara itu tajam dan kuat.Seluruh tubuh Ivy langsung melemas di tempat tidur.Ketegangan yang menahan sarafnya selama berjam-jam akhirnya hilang sekaligus.“Bayi laki-laki,” kata dokter.Beberapa saat kemudian Ethan menerima bayi itu di lengannya. Sesuai dugaan semua orang. Anak keduanya adalah laki-laki. Tetua Oakhaven menyebutnya pewaris, dan ia sendiri menganggap bayi ini menyulitkan sang istri—pemikiran yang sama seperti saat Iris dilahirkan.Ethan menghela napas pelan. Tampak jelas bahwa ia tidak ingin ada kali ketiga setelah ini. Tatapannya turun, menatap putranya yang bergerak aktif bahkan sebelum tangis benar-benar reda.Jari kecil itu langsung mencengkeram jari Ethan dengan kekuatan yang mengejutkan.Ethan memperhatikan cengkeraman itu beberapa detik. “Alaric Winchester,” ucapnya rendah. Terpikir begitu saja dengan cepat dan spontan. Ia menoleh pada I
Iris.Gadis kecil itu sering duduk di dekat ibunya dengan buku di pangkuannya, atau menggambar di lantai sambil sesekali menoleh memastikan Ivy baik-baik saja.Kadang ia menempelkan telinganya ke perut Ivy dengan sangat serius.“Dia masih di sana,” gumam Iris suatu sore.Ivy yang sedang berbaring di sofa tersenyum tipis. “Tentu saja.”Iris mengangguk kecil, seolah itu jawaban yang sudah ia duga.Namun alih-alih langsung kembali bermain, gadis kecil itu tetap berdiri di sana beberapa detik lagi. Mata jernihnya memperhatikan wajah Ivy dengan tenang, seperti sedang memastikan sesuatu sebelum akhirnya kembali ke bukunya.Kebiasaan itu mulai sering Ivy perhatikan akhir-akhir ini.Iris jarang bereaksi terburu-buru seperti anak-anak lain. Putrinya itu lebih sering diam sejenak, mengamati, baru kemudian berbicara atau bertindak.Bagi Ivy, itu bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.Jika ada, sifat itu justru terlalu mengingatkannya pada seseorang—Ethan.***Ivy menghela napas pelan. Ia tidak seda
Ivy berhenti sejenak.Istilah itu hampir tidak pernah lagi mereka gunakan sejak pulang dari Oakhaven bertahun-tahun lalu.“Kenapa Iris tanya begitu?” tanya Ivy pelan.Gadis kecil itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tangannya dengan ringan di perut Ivy, seperti sedang memastikan sesuatu.“Karena di sini rasanya berbeda,” gumamnya.Ivy menunduk melihat tangan kecil itu. “Berbeda bagaimana?”Iris mengerutkan kening sedikit, mencoba mencari kata yang tepat seperti kebiasaan anak kecil yang sedang berpikir keras. “Seperti ada suara,” katanya akhirnya.“Suara?”Iris mengangguk kecil. “Seperti musik. Tapi pelan sekali.”Jantung Ivy berdegup lebih cepat.Ia belum merasa mual. Bahkan ia belum memeriksa apa pun. Namun sensasi halus di dalam tubuhnya memang mulai muncul beberapa hari terakhir—denyut samar yang dulu pernah diperingatkan oleh Dokter Aris.Ivy menarik napas perlahan. Apakah sudah tiba waktunya?***Malam itu, saat Ethan pulang, Ivy sudah menunggu di kamar.Ethan baru saja me
Ivy tidak langsung menjawab. Ia menatap Anastasia beberapa detik, seolah memastikan sesuatu. Raut wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi yang bisa sang mertua tebak.Lalu Ivy menunduk pada Iris yang masih duduk nyaman di pangkuannya. “Sayang,” bisiknya lembut, mengusap rambut halus putrinya. “Ingat Grandma?”Iris mengedipkan mata jernihnya, menatap wajah ibunya lebih dulu sebelum mengikuti arah pandangan Ivy.Anastasia tidak bergerak. Ia hanya duduk tegak dengan kedua tangan masih bertaut rapi di pangkuannya, menunggu. Jantungnya berdebar saat Ivy menyebut ‘Grandma’ seolah sebutan itu memang ia tunggu-tunggu.“Grandma pernah datang saat kau lahir,” lanjut Ivy pelan, seakan benar-benar sedang memperkenalkan seseorang pada bayi yang belum tentu mengerti.Iris memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengeluarkan suara kecil. “Da …”Ivy tersenyum tipis, mengusap pipi putrinya. “Bukan Daddy,” gumamnya pelan.Baru setelah itu Ivy kembali mengangkat pandangannya pada Anastasia. Tanpa mengatakan
Ethan mengernyit mendengar peringatan itu, tapi segera dilanjutkan sebelum ia membuka suara.“Karena apa yang kalian lakukan di bawah langit Oakhaven seminggu ini bukan sekadar nafsu. Itu adalah proses penciptaan seorang pemimpin,” jelasnya tenang, beralih menatap Ivy. “Badai itu adalah ujian untuk memastikan apakah pondasi Winchester-Harrington memang sekuat yang dunia bicarakan.”Ivy mengangguk pelan. “Terima kasih atas nasihatnya.”Dari sana, Ethan mengambil alih dengan mengatakan beberapa kalimat pamit yang formal. Silas dan pria-pria di sisinya mengangguk bijak dan menatap kepergian mereka sampai jauh.Saat akhirnya kendaraan mulai bergerak meninggalkan batas desa Oakhaven, suasana di dalam mobil terasa hening.Iris tertidur lelap dengan sisa garis senyum kecil di bibirnya, sementara Ivy menyandarkan kepalanya di bahu Ethan.“Mereka bicara seolah-olah hidup kita akan menjadi medan perang setelah ini,” bisik Ivy, jemarinya memainkan kancing mantel Ethan.Ethan menatap keluar jende







