Masuk"Lho, eh?!" Sari terbelalak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Keadaan aula seketika riuh. Para tamu serta keluarga Cakra terperangah melihat Wira dengan begitu protektif menggandeng tangan seorang gadis asing. Kasak-kusuk mulai memenuhi ruangan. Namun, di antara kerumunan itu, sepasang suami istri tampak paling terguncang. Wajah Lingga dan Cinta memerah, menunjukkan kekesalan yang mendalam. "Siapa namamu?" bisik Wira tepat di samping telinga Sari, suaranya rendah dan menggetarkan. "Sari?" Lingga tiba-tiba berseru, memanggil nama mantan kekasihnya itu di hadapan semua orang. "Kamu kenal gadis itu?" tanya Lembang dengan suara bergumam, matanya menyipit mencoba mencerna situasi. Ia tidak habis pikir, bagaimana keponakannya yang buta bisa mengenal seorang gadis, apalagi sampai membawanya ke pesta dan mengaku akan menikah. "Gadis ini kenal dengan Lingga?" batin Wira terkejut sekaligus puas. Kebetulan ini bagai hadiah yang jatuh dari langit. Sepertinya kehadiran Sari akan menambah sensasi drama yang sempurna untuk mengacaukan keluarga Cakra. Wira sedikit menoleh, memandang ke arah Sari yang masih diam mematung. Gadis itu tampak syok mendapat serangan bertubi-tubi. Padahal, Sari hanya berniat membela pria buta yang ia kira tak berdaya. Siapa sangka, niat baiknya justru menggali lubang masalah yang sangat dalam. Wira berbalik menghadap keluarganya sambil tetap mengeratkan genggaman tangannya pada Sari. "Sebenarnya, kami sedang dalam perjalanan menuju kantor urusan agama." "Karena searah, aku memutuskan untuk mampir sekalian meminta doa restu," tambah Wira dengan nada bicara yang begitu meyakinkan. "Situasi apa ini?!" teriak Sari dalam hati. Dadanya terasa sesak karena panik. Begitu banyak sorot mata menghakimi yang tertuju padanya. Terlebih lagi, ia terpaksa berhadapan dengan orang yang paling ingin ia hindari seumur hidup. Sari menatap wajah Lingga yang terlihat berang, sementara Cinta menatapnya dengan tatapan penuh dendam. "Bagaimana ini? Aku harus apa?" Sari kelabakan. Ia menoleh ke arah pria yang menggandengnya, mencari penjelasan. Ia mencubit kuat punggung tangan Wira, mencoba memaksa pria itu memberi arahan. "Bantu aku keluar dari sini," bisik Wira sangat pelan. Permintaan singkat itu entah mengapa menyentuh lubuk hati Sari. Ia menyadari betapa sulitnya posisi Wira. Setelah menjadi bahan gunjingan para tamu, pria ini masih harus menghadapi anggota keluarganya sendiri yang terus mencari celah untuk mempertontonkan kelemahannya. "Aku harus menolongnya," tegas Sari dalam hati. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Walau telapak tangannya masih terasa dingin, ia memantapkan langkah. "Ayo," ajaknya dengan suara rendah. Wira sedikit takjub dengan keberanian Sari. Antara naif atau bodoh, gadis ini begitu mudah memenuhi permintaannya. Di sisi lain, Lingga menggertakkan gigi kuat-kuat. Melihat kedekatan mereka membuat amarahnya berada di ambang batas. "Sejak kapan kalian---" "Aku pamit dulu. Kami sudah membuat janji dengan petugas, jadi kami tidak boleh terlambat," potong Wira cepat sebelum Lingga sempat menyelesaikan kalimatnya. "Tidak masalah kan, Kek? Jika kami pergi lebih dulu?" "Tentu saja. Jika memang urusannya sepenting itu, kalian harus segera berangkat," sahut Surya sembari mengangguk. Ia menatap Sari dengan senyum hangat sebagai bentuk sapaan. "Ini memang terlalu mendadak, tapi jika urusan kalian sudah selesai, jangan lupa hubungi Kakek. Banyak yang ingin Kakek bicarakan." Wira tersenyum tipis, lalu menuntun Sari berjalan meninggalkan aula yang megah itu. Begitu sampai di area parkir yang sepi, Sari langsung melepaskan tangannya. "Aku tahu kamu sedang kesulitan, tapi apa-apaan itu tadi?!" protesnya dengan kedua alis bertaut. "Bukankah kamu sendiri yang mengaku sebagai calon istriku?" sahut Wira santai, bibirnya menyunggingkan senyum sarkas. Sari tersentak. Jadi pria ini mendengar semua ucapannya saat ia membela di depan kerumunan wanita tadi? "Aku... aku hanya asal membantu!" gumam Sari dengan suara merendah, wajahnya memanas karena malu. "Berarti aku meminta bantuan pada orang yang tepat," balas Wira enteng. Sari mengernyit kesal. Bisa-bisanya pria ini bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Nanti kamu harus menjelaskan pada mereka. Aku tidak mau terjadi salah paham." "Kamu lihat sendiri, kan, bagaimana sikap mereka padaku? Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, mereka pasti akan semakin mengejekku," dalih Wira, nada suaranya berubah menjadi sedikit memelas. "Terus bagaimana? Aku tidak mau ikut campur masalah keluarga kalian," Sari menggeleng pelan. "Bagaimana kalau kamu benar-benar menikah denganku?" "Hah?!" Sari menganga. Kalimat itu terdengar begitu konyol sekaligus lancang. Bagaimana bisa pria yang baru ditemuinya ini melamar begitu saja? "Tunggu dulu. Sepertinya kamu salah paham. Tadi itu aku hanya spontan ingin membantu..." Sari berusaha menjelaskan. Baginya, mustahil menikahi pria yang bahkan nama panjangnya saja ia tidak tahu. "Meskipun aku mengaku sebagai calon istrimu, bukan berarti aku benar-benar mau menikah denganmu." Ucapan itu membuat Wira mendengus, senyumnya berubah menjadi getir. "Aku tahu itu." "Mana mungkin gadis cantik sepertimu mau menikah dengan pria buta miskin yang hidup dari sumbangan keluarganya," lanjut Wira, suaranya merendah dan terdengar suram. "Cantik? Dia memujiku... tapi sepertinya aku salah bicara," pikir Sari menyesal saat melihat perubahan raut wajah Wira. Wira sejenak merasa kecewa, menyadari bahwa pembelaan Sari tadi mungkin hanyalah bentuk simpati belaka. Namun, ia tidak akan membiarkan rencananya gagal begitu saja. Reaksi Lingga tadi sudah cukup menjadi bukti, sepupunya itu sangat terusik. "Kita sudah terlanjur mengaku sebagai calon mempelai. Jadi, bagaimana kalau kamu membantuku sekali lagi? Tenang saja, ini tidak gratis.""E-eh, jangan menangis..." gumam Wira panik, melihat air mata wanita di hadapannya mulai menetes. Secara refleks, kedua tangannya bergerak mencengkeram lengan Kasih. Pria itu sedikit menundukkan tubuh, mencoba menyamakan tinggi demi menyalurkan ketenangan. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena sudah salah paham." "Hiks..." Kasih masih sesenggukan. Perlahan, ia mendongak sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sepasang matanya yang mengerjap basah menatap Wira dengan bibir mengerucut cemberut. Detik berikutnya, pandangan Kasih sekilas beralih pada tangan kekar Wira yang masih berada di lengannya. Tanpa ragu, ia meraih salah satu telapak tangan pria itu dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu... apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Kasih dengan suara serak. "Katakan saja," sahut Wira singkat. Merasa tidak nyaman dengan
Tubuh pria itu terseret pasrah di atas lantai beton yang dingin.BRUG!Dua pasang tangan kekar mencengkeram ketiaknya tanpa belas kasihan. Matanya dibalut selembar kain hitam yang diikat kencang, sementara kedua tangannya terkunci rapat di belakang punggung.Meski pandangannya gelap gulita, indra pendengarannya menajam. Pria itu bisa mendengar dengung suara salah satu penculiknya yang sedang berbisik di telepon, melaporkan situasi."Siapa yang menyuruh kalian?! Cepat katakan!" pekiknya, mendongak secara asal.Tidak ada sahutan. Sunyi.Dua pria berbadan tegap itu hanya menatapnya dingin seolah sedang melihat seonggok daging tak berharga.Suara engsel pintu yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian. Pria itu refleks menolehkan kepala, mencoba menebak di mana dia berada sekarang. Tak berselang lama, hidungnya mengendus aroma parfum maskulin. Dia memiringkan telinga, menangkap bunyi ketukan sepatu pantofel yang kian mende
"Cih! Pantas saja tadi pagi langsung menghilang, ga mau sarapan. Ternyata sedang menjemput perempuan lain!" batin Sari, menggerutu habis-habisan dalam hati."Bisa-bisanya istri sendiri dibiarkan menyetir sendirian ke kantor."Sari berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah mengentak. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung mengempaskan tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman keras. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang sudah membubung hingga ke ubun-ubun.Di sudut ruangan, Kasih tersentak. Perempuan itu terdiam, meremas jemarinya dengan panik. Matanya sibuk melirik ke segala arah, terlalu takut untuk sekadar mendongak dan menatap langsung ke arah Sari."Anu ... maafkan saya, Bu," cicit Kasih lirih.Sari tidak menyahut, hanya menatapnya dingin."Mereka tidak bersalah. Jadi, tolong jangan hukum mereka," imbuh Kasih sembari membungkuk dalam-dalam."Eh? Apa maksudmu?" Sari mengangkat sebelah alisnya, benar-benar dibuat bingung oleh drama
"Hei, kenapa teleponku tidak diangkat?" tegur Sari dengan bibir mengerucut, menatap suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sari sempat dirundung khawatir karena seharian ini Wira pergi tanpa kabar. Puluhan panggilan dan pesan singkatnya tak kunjung dibalas, memaksanya menunggu dalam kecemasan. Sekilas, Sari melirik jam dinding, bertanya-tanya urusan apa yang membuat suaminya pulang selarut ini."Maaf, ya. Tadi ada urusan mendadak dan ponselku ketinggalan di mobil," jawab Wira santai. Ia melangkah ke tengah dapur, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat."Kenapa aku mencium parfum wanita?" batin Sari mengernyit. Ia terus mengendus, mendekatkan hidungnya pada kemeja Wira guna mengenali aroma manis yang sangat asing di indranya."Kamu tidak selingkuh, kan?" selidik Sari curiga."Hei, yang benar saja. Buat apa aku menyelingkuhi wanita secantik dan seseksi kamu?" sahut Wira menggoda. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya sem
"Maksudnya?" Pria itu mengangkat alis, tidak memahami arah pembicaraan Wira."Sebelum memutuskan siapa yang salah, bagaimana kalau kita dengar ceritanya dari kedua sisi? Biarkan nona ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Wira tenang, namun penuh penekanan."B-baiklah, Anda benar." Pria itu mengangguk patuh.Manajer hotel sebelumnya sudah mengonfirmasi kedatangan tamu agung yang saat ini berdiri di hadapan mereka. Wira Adi Cakra, pemilik Line Group sekaligus pewaris tunggal Cakra Corp. Sosok yang belakangan ini wajahnya menghiasi setiap laman berita bisnis."Kenapa orang sekelas dia mau ikut campur masalah sepele begini?" gumam pria itu dalam hati. "Pokoknya turuti saja, jangan sampai aku membuat kesalahan dan menyinggung orang sepenting ini."Ia berdeham, lalu menoleh pada gadis di depannya. "Kasih, cepat ceritakan apa yang terjadi!""Tadi saya datang membantu Bu Lastri membersihkan kamar. Lalu saya menemukan kalung
Aktivitas kantor dimulai seperti biasa pagi itu. Wira duduk di balik meja besarnya yang telah ditumpuki puluhan berkas. Di sampingnya, Gilang berdiri sigap, membantu sang atasan memeriksa dokumen satu per satu."Tuan kelihatan berbeda hari ini," gumam Gilang.Gilang menatap kagum, seakan melihat pancaran cahaya mengelilingi pria di depannya. Tidak biasanya Wira tersenyum tanpa sebab di tengah tumpukan pekerjaan yang menjemukan."Apa semalam Tuan tidur lebih awal?" tanya Gilang penasaran."Tidak juga. Memangnya kenapa?" jawab Wira santai tanpa menoleh."Tidak apa-apa. Hanya saja hari ini Tuan kelihatan jauh lebih bersemangat.""Begitukah?" Wira menoleh dengan kedua alis terangkat. Senyumnya mengembang mengingat kejadian manis bersama Sari. "Padahal aku sibuk sekali sampai begadang.""Jangan sampai Tuan kecapekan. Lain kali, biar saya saja yang membantu mengerjakannya," tawar Gilang tulus."Hei, enak saja! Kamu ma







