Mag-log in"Apa maksudnya?" gumam Sari seraya mengernyitkan dahi. Gurat kebingungan di wajahnya menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Jadilah istriku! Aku akan membayarmu," tegas Wira bersungguh-sungguh. Kedua mata Sari membulat sempurna. Ia tak habis pikir dengan lelucon gila yang pria itu lontarkan. Seburuk itukah harga dirinya di mata Wira? Sampai-sampai pria itu berani mempermainkan sakralnya ikrar pernikahan demi uang. "Walaupun dibayar, aku tetap tidak mau!" Sari memberi penekanan pada setiap katanya. "Sudahlah, aku harus pergi. Tugasku sudah selesai dan aku tidak mau berurusan lagi dengan semua drama ini." Sari berbalik, berniat meninggalkan area parkir itu secepat mungkin. "Tunggu!" seru Wira, berusaha menghentikan langkah gadis itu. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga kembali berhadapan dengan Sari. "Lima ratus juta. Hanya untuk satu tahun. Jadilah istriku." Langkah Sari terhenti. "Setelah itu, aku akan menceraikanmu dan kamu bebas melakukan apa pun dengan uang itu." "Gila..." batin Sari, menatap tajam pria di depannya. Bagaimana bisa uang sebanyak itu dikorbankan hanya demi permainan konyol? Apakah pria di hadapannya ini sedang mabuk atau memang sudah kehilangan kewarasan? Menikah hanya untuk satu tahun, lalu bercerai. Sari bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang ingin dicapai Wira dari perjanjian absurd ini? Wira menatap dalam ke arah Sari. Ia cukup terkesan; ternyata nominal besar yang ia sebutkan belum cukup untuk meruntuhkan pendirian gadis itu. Tanpa pilihan lain, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar kertas kecil. "Ambil ini," ucap Wira pelan. "Hubungi aku jika kamu berubah pikiran." Wira melangkah pergi, meninggalkan Sari yang tanpa sadar telah menerima kartu nama tersebut. Di atas kertas elegan itu, hanya tertera nama dan nomor ponsel. Wira Adi Cakra. Sari menoleh, menatap punggung Wira yang kian menjauh. Dua pria berseragam tampak berlari menjemput dan segera menuntun langkahnya dengan sigap. Drt... Drt... Drt... Getaran ponsel dari dalam tas memecahkan lamunan Sari. Ia segera meraih ponselnya. Sebuah panggilan dari salah satu kerabatnya. Tumben sekali, pikirnya. Jarinya menggeser layar dan menjawab panggilan itu. "Halo, Paman? Ada apa?" "Ayahmu masuk rumah sakit!" Suara pria di seberang telepon terdengar panik, membuat jantung Sari seakan berhenti berdetak. "Apa?! Bagaimana bisa?" Sari tersentak hebat. "Bagaimana keadaannya sekarang?" "Sudah, nanti saja bicaranya! Kamu langsung ke rumah sakit sekarang!" "Baik, Paman. Aku segera ke sana!" Sari menutup teleponnya dengan tangan gemetar. Ia berlari sekuat tenaga menuju tempat parkir mobil katering. Ia menemukan Krisna sedang duduk santai di kursi pengemudi dengan sebatang rokok di tangan. Pintu yang terbuka membuat Sari mudah berteriak dari kejauhan, "Mas, ayo berangkat sekarang!" "Lho, ada apa? Kenapa buru-buru?" tanya Krisna heran melihat Sari yang tergesa-gesa menarik sabuk pengaman. "Ayahku masuk rumah sakit, Mas!" seru Sari dengan suara parau menahan tangis. Mendengar berita itu, Krisna langsung mematikan rokoknya di asbak. Ia sigap menginjak pedal gas, membawa mobil boks itu melesat meninggalkan hotel mewah tersebut. Lima belas menit berlalu. Untungnya, lokasi hotel tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat ayah Sari dirawat. Begitu mobil berhenti, Sari langsung melompat turun tanpa sempat berpamitan. Pikirannya kacau. Ia berlari melewati pintu lobi, mengamati setiap sudut ruangan dengan napas tersengal. Memori sepuluh tahun lalu saat orang tuanya mengalami kecelakaan kembali membayang. Sensasi dingin dan menyesakkan itu terulang kembali. Sari sangat takut. Ia tidak ingin kehilangan lagi. "Bibi!" panggil Sari saat melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan meja resepsionis. "Bagaimana keadaan Ayah?" "Dia ada di IGD," sahut bibinya lirih. Matanya sembap dan ia tampak menghindari tatapan Sari. Keheningan bibinya justru membuat perasaan Sari semakin tidak enak. Ia menggertakkan gigi dan kembali berlari menyusuri lorong panjang yang berbau karbol itu. Di depan ruang IGD, ia menemukan pamannya sedang berbicara dengan seorang dokter. "Kankernya sudah mulai menyebar. Jika tidak segera dilakukan tindakan medis yang serius, kami takut pasien tidak akan mampu bertahan," ucap dokter itu. "Kanker?" Sari terhuyung lemas. Langkahnya melambat, sekujur tubuhnya mendadak terasa tak bertulang. "Apa yang dokter katakan? Ayah sakit apa, Dok?" "Kanker paru-paru, sudah stadium empat," jawab dokter tersebut dengan nada prihatin namun tetap profesional. "Bagaimana bisa? Sejak kapan?" Sari menatap pamannya, menuntut penjelasan. Selama ini ia tidak pernah tahu ada penyakit ganas yang sedang menggerogoti tubuh ayahnya. "Paman juga tidak tahu. Sepertinya ayahmu sengaja menyembunyikan ini dari kita semua," sahut sang paman pelan. Dokter itu pun berpamitan meninggalkan mereka untuk melanjutkan tugasnya. "Ck! Ini pasti gara-gara kebiasaan buruknya. Setelah ibumu meninggal, dia semakin aktif merokok," gerutu sang paman dengan nada ketus. "Kamu juga! Bagaimana bisa sebagai putrinya kamu tidak tahu? Kalian kan tinggal serumah!" Ucapan tajam itu menghujam jantung Sari. Benar. Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya? Seharusnya ia curiga saat melihat ayahnya semakin kurus atau saat ayahnya sering terbangun di tengah malam. "Dia pasti tidak ingin merepotkanmu. Pantas saja belakangan ini dia bersikeras mencarikanmu jodoh," lanjut pamannya. "Dia pasti tahu ajalnya sudah dekat." "Paman, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Ayah?" tanya Sari dengan tatapan memohon. Ia harus menguatkan diri. Menyesal sekarang tidak akan mengubah apa pun. "Kata dokter, jalan satu-satunya adalah kemoterapi. Tapi itu pun biayanya sangat mahal. Sekali kemo saja bisa menghabiskan 50 juta. Dari mana kita dapat uang sebanyak itu?" Paman menaikkan alisnya, lalu mendekat dengan senyum yang tampak dipaksakan. "Tapi, kalau kamu mau berhutang, Paman punya kenalan yang bisa membantu." Sari terdiam. Ia tidak tahu bahwa di dalam kepala pamannya sedang tersusun rencana licik untuk menjualnya kepada tuan tanah demi melunasi hutang yang sengaja diciptakan. "Sari..." Suara lirih memanggil dari dalam ruangan. Sari segera berlari menghampiri ranjang di mana ayahnya terbaring lemah. Tangan ayahnya yang gemetar berusaha menggapai Sari. "Ayah... Ayah tenang saja, aku akan menyelamatkanmu," bisik Sari sembari mencium tangan ayahnya. Hatinya teriris melihat senyum hangat yang masih dipaksakan pria itu di tengah napasnya yang terengah. "Cepat putuskan, Sari," ucap paman yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Sari menoleh. Meski pria ini adalah kakak kandung ayahnya, Sari merasakan firasat buruk dari tawaran paman. Ia lebih baik mempercayai orang asing daripada jatuh ke lubang yang disiapkan kerabatnya sendiri. Ia teringat kartu nama di saku jaketnya. Nama besar Cakra. "Paman, tolong panggilkan dokternya," ucap Sari dengan suara yang kini terdengar lebih tegas. "Katakan padanya untuk segera memulai pengobatan Ayah. Urus semua formalitasnya." "Tapi biayanya, Sari? Apa kamu punya uang sebanyak itu?" tanya pamannya bingung. "Soal biaya, biar aku yang urus. Aku harus pergi sebentar untuk mengurus uangnya. Tolong paman selesaikan urusan administrasi di sini. Aku mohon." Tanpa menunggu jawaban, Sari berbalik dan melangkah pergi dengan tekad bulat. Pamannya hanya bisa terdiam menatap keponakannya yang kian menjauh. "Apa yang sebenarnya direncanakan gadis itu?""E-eh, jangan menangis..." gumam Wira panik, melihat air mata wanita di hadapannya mulai menetes. Secara refleks, kedua tangannya bergerak mencengkeram lengan Kasih. Pria itu sedikit menundukkan tubuh, mencoba menyamakan tinggi demi menyalurkan ketenangan. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena sudah salah paham." "Hiks..." Kasih masih sesenggukan. Perlahan, ia mendongak sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sepasang matanya yang mengerjap basah menatap Wira dengan bibir mengerucut cemberut. Detik berikutnya, pandangan Kasih sekilas beralih pada tangan kekar Wira yang masih berada di lengannya. Tanpa ragu, ia meraih salah satu telapak tangan pria itu dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu... apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Kasih dengan suara serak. "Katakan saja," sahut Wira singkat. Merasa tidak nyaman dengan
Tubuh pria itu terseret pasrah di atas lantai beton yang dingin.BRUG!Dua pasang tangan kekar mencengkeram ketiaknya tanpa belas kasihan. Matanya dibalut selembar kain hitam yang diikat kencang, sementara kedua tangannya terkunci rapat di belakang punggung.Meski pandangannya gelap gulita, indra pendengarannya menajam. Pria itu bisa mendengar dengung suara salah satu penculiknya yang sedang berbisik di telepon, melaporkan situasi."Siapa yang menyuruh kalian?! Cepat katakan!" pekiknya, mendongak secara asal.Tidak ada sahutan. Sunyi.Dua pria berbadan tegap itu hanya menatapnya dingin seolah sedang melihat seonggok daging tak berharga.Suara engsel pintu yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian. Pria itu refleks menolehkan kepala, mencoba menebak di mana dia berada sekarang. Tak berselang lama, hidungnya mengendus aroma parfum maskulin. Dia memiringkan telinga, menangkap bunyi ketukan sepatu pantofel yang kian mende
"Cih! Pantas saja tadi pagi langsung menghilang, ga mau sarapan. Ternyata sedang menjemput perempuan lain!" batin Sari, menggerutu habis-habisan dalam hati."Bisa-bisanya istri sendiri dibiarkan menyetir sendirian ke kantor."Sari berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah mengentak. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung mengempaskan tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman keras. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang sudah membubung hingga ke ubun-ubun.Di sudut ruangan, Kasih tersentak. Perempuan itu terdiam, meremas jemarinya dengan panik. Matanya sibuk melirik ke segala arah, terlalu takut untuk sekadar mendongak dan menatap langsung ke arah Sari."Anu ... maafkan saya, Bu," cicit Kasih lirih.Sari tidak menyahut, hanya menatapnya dingin."Mereka tidak bersalah. Jadi, tolong jangan hukum mereka," imbuh Kasih sembari membungkuk dalam-dalam."Eh? Apa maksudmu?" Sari mengangkat sebelah alisnya, benar-benar dibuat bingung oleh drama
"Hei, kenapa teleponku tidak diangkat?" tegur Sari dengan bibir mengerucut, menatap suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sari sempat dirundung khawatir karena seharian ini Wira pergi tanpa kabar. Puluhan panggilan dan pesan singkatnya tak kunjung dibalas, memaksanya menunggu dalam kecemasan. Sekilas, Sari melirik jam dinding, bertanya-tanya urusan apa yang membuat suaminya pulang selarut ini."Maaf, ya. Tadi ada urusan mendadak dan ponselku ketinggalan di mobil," jawab Wira santai. Ia melangkah ke tengah dapur, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat."Kenapa aku mencium parfum wanita?" batin Sari mengernyit. Ia terus mengendus, mendekatkan hidungnya pada kemeja Wira guna mengenali aroma manis yang sangat asing di indranya."Kamu tidak selingkuh, kan?" selidik Sari curiga."Hei, yang benar saja. Buat apa aku menyelingkuhi wanita secantik dan seseksi kamu?" sahut Wira menggoda. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya sem
"Maksudnya?" Pria itu mengangkat alis, tidak memahami arah pembicaraan Wira."Sebelum memutuskan siapa yang salah, bagaimana kalau kita dengar ceritanya dari kedua sisi? Biarkan nona ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Wira tenang, namun penuh penekanan."B-baiklah, Anda benar." Pria itu mengangguk patuh.Manajer hotel sebelumnya sudah mengonfirmasi kedatangan tamu agung yang saat ini berdiri di hadapan mereka. Wira Adi Cakra, pemilik Line Group sekaligus pewaris tunggal Cakra Corp. Sosok yang belakangan ini wajahnya menghiasi setiap laman berita bisnis."Kenapa orang sekelas dia mau ikut campur masalah sepele begini?" gumam pria itu dalam hati. "Pokoknya turuti saja, jangan sampai aku membuat kesalahan dan menyinggung orang sepenting ini."Ia berdeham, lalu menoleh pada gadis di depannya. "Kasih, cepat ceritakan apa yang terjadi!""Tadi saya datang membantu Bu Lastri membersihkan kamar. Lalu saya menemukan kalung
Aktivitas kantor dimulai seperti biasa pagi itu. Wira duduk di balik meja besarnya yang telah ditumpuki puluhan berkas. Di sampingnya, Gilang berdiri sigap, membantu sang atasan memeriksa dokumen satu per satu."Tuan kelihatan berbeda hari ini," gumam Gilang.Gilang menatap kagum, seakan melihat pancaran cahaya mengelilingi pria di depannya. Tidak biasanya Wira tersenyum tanpa sebab di tengah tumpukan pekerjaan yang menjemukan."Apa semalam Tuan tidur lebih awal?" tanya Gilang penasaran."Tidak juga. Memangnya kenapa?" jawab Wira santai tanpa menoleh."Tidak apa-apa. Hanya saja hari ini Tuan kelihatan jauh lebih bersemangat.""Begitukah?" Wira menoleh dengan kedua alis terangkat. Senyumnya mengembang mengingat kejadian manis bersama Sari. "Padahal aku sibuk sekali sampai begadang.""Jangan sampai Tuan kecapekan. Lain kali, biar saya saja yang membantu mengerjakannya," tawar Gilang tulus."Hei, enak saja! Kamu ma







