LOGIN"Kakek," batin Wira saat menyadari langkah pria tua itu semakin mendekat. Meski hatinya berdesir, Wira tetap memasang raut datar. Ia harus mengunci rapat ekspresinya seolah tak tahu apa-apa demi menjaga sandiwara kebutaan ini tetap sempurna.
Surya tidak datang sendiri. Di belakang, Lembang dan Lingga mengekor dengan wajah malas. Wira bisa menebak, kakek lah yang memaksa mereka untuk menghampirinya. "Kenapa kamu sendirian di sini, Nak?" sapa Surya dengan senyum hangat, menatap cucu sulungnya yang telah sepuluh tahun terasing di negeri orang. "Hanya mengambil minum sambil menikmati suasana pesta, Kek," jawab Wira tenang. "Pfftt..." Lingga yang berdiri di belakang ayahnya mendadak tertawa, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia. "Untung saja dia tidak menabrak tamu yang lain," bisiknya lirih dengan nada mengejek yang sengaja dikeraskan. Lembang hanya menyeringai tengil menanggapi ucapan putranya. Surya menghela napas, merasa tidak enak hati atas tingkah Lingga. "Lingga, sapa kakakmu," tegurnya tanpa menoleh. "Cepat," desis Lembang sembari menyenggol siku putranya. Sambil mendengus kesal, Lingga terpaksa maju. Ia memasang senyum palsu yang memuakkan. "Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Kak?" "Padahal aku lebih tua darinya, tapi kenapa harus aku yang memanggilnya kakak? Hanya karena ayahnya anak pertama, bukan berarti aku harus berada di bawahnya," batin Lingga meradang. Ia mengulurkan telapak tangannya, menyorongkannya ke depan dada Wira. Itu adalah gerakan penghinaan. Ia tahu pria buta di depannya tidak akan bisa melihat jabatan tangan itu. "Lingga, apa yang kamu lakukan? Tidak perlu bersalaman. Kalian kan bukan orang asing, lagipula kakakmu akan kesulitan," bela Lembang dengan nada bicara yang dibuat-buat seolah peduli. "Oh iya, maaf. Aku lupa," sahut Lingga seraya menurunkan tangannya dengan wajah tanpa dosa. Beberapa tamu mulai menoleh, tertarik pada tontonan kecil di sudut ruangan itu. Wira terdiam sejenak, merasakan kepuasan yang memancar dari aura paman dan sepupunya. Ia sudah sangat paham tabiat mereka, licik dan tak punya hati. "Maaf ya, aku tidak bisa bersalaman," celetuk Wira dengan raut polos yang menunjukkan rasa bersalah. Tiba-tiba, Wira mengepalkan tangannya sendiri. Ia menggosokkan jemarinya pada telapak tangan yang sebenarnya tidak gatal. "Lama tinggal di luar negeri membuat kulitku sensitif terhadap benda kotor. Rasanya gatal dan perih sekali." Wira mendongak, menatap ke arah suara Lingga. "Aku terpaksa menolak jabat tanganmu karena takut kuman di tanganmu memperparah alergiku." "Kamu...!" Lingga tergagap, wajahnya merah padam. Giginya mengerat menahan geram mendengar hinaan tadi. Lembang yang menyadari putranya nyaris meledak segera mengalihkan pembicaraan sebelum suasana pesta kacau. "Semoga alergimu cepat membaik," ucapnya sambil menarik lengan Lingga agar mundur. "Oh ya, ke mana pria yang menuntunmu tadi? Kenapa tidak kelihatan?" "Mereka merasa tidak nyaman di keramaian, jadi kusuruh menunggu di luar," jawab Wira santai. Dalam hati, Wira tertawa puas. "Mudah sekali memprovokasi Lingga," pikirnya. "Apa mereka temanmu?" tanya Lembang penuh selidik. "Mereka orang yang kusewa untuk menjemput Wira," Surya menengahi. Lembang tersentak. Ia pikir ayahnya tidak tahu-menahu soal kepulangan Wira. "Jadi... Ayah sudah tahu?" "Tentu saja. Aku yang memberitahu Wira soal pesta ini. Kamu pasti sangat sibuk mengurusi persiapan, jadi biar aku saja yang mengundangnya," ucap Surya telak. Lembang tertawa canggung. Ia merasa tertohok. Ia memang sengaja tidak mengundang Wira, berharap keponakannya itu membusuk di luar negeri. Namun ia lupa, meski ia memegang kendali bisnis, Surya tetaplah pimpinan sah secara hukum yang memegang keputusan hak waris. "Oh iya, ini istri Lingga," Lembang kembali mengalihkan topik, memanggil menantunya. Seorang wanita cantik bernama Cinta mendekat sembari menggandeng putri kecilnya. Ia tampak bingung karena ditarik paksa ke tengah lingkaran. "Kenapa aku harus berurusan dengan pria buta ini?" batin Cinta dengan tatapan jijik yang tersembunyi di balik senyum tipisnya. "Beri salam pada pamanmu," perintah Lembang merendahkan suara pada cucunya. Anak kecil itu mengangguk polos. Dengan langkah mungil, ia mendekati Wira. "Halo, Paman," panggilnya sembari mengulurkan tangan. "Hai, salam kenal," sahut Wira dengan senyum yang tulus. "Kenapa Paman tidak menjabat tanganku?" tanya anak itu bingung. "Sayang, dengar ya. Lain kali tidak usah mengajak bersalaman, karena pamanmu tidak bisa melihat tangan kecilmu," sela Cinta sembari menarik pundak anaknya mundur. Meski terdengar halus, kalimat itu bak sembilu yang sengaja disayatkan ke hati Wira. "Salam kenal, Kak. Aku Cinta, istri Lingga," tambahnya dengan senyum palsu. "Salam kenal," balas Wira singkat. "Apa Kakak datang sendirian? Di mana istri Kakak?" tanya Cinta, mengangkat alisnya dengan nada meremehkan. "Apa yang kamu tanyakan, Sayang? Kakak menghabiskan sepuluh tahun untuk mengobati matanya, mana punya waktu mencari istri," cibir Lingga, merasa menang. Cinta menutup mulutnya, pura-pura menyesal. "Maaf, Kak, aku baru tahu." "Hmm." Wira mendengus takjub. Sandiwara keluarga ini sungguh menghibur. Ia semakin yakin keputusannya untuk datang adalah tepat. "Siapa bilang aku datang sendiri?" seru Wira tiba-tiba, membuat suasana membeku. Ia melirik ke arah di mana Sari berdiri. Sari, yang sejak tadi mengamati drama keluarga kaya itu dari kejauhan, tertegun. Ia tak menyangka pria buta itu bisa merasakan keberadaannya. Tanpa ia sadari, kakinya seolah terpaku di lantai saat Wira mulai mengangkat tongkat panjangnya dan melangkah ke arahnya. "Dia mau ke mana?" pikir Sari heran menatap pria yang berjalan semakin mendekat. Jantung Sari berdegup kencang saat Wira berhenti tepat di hadapannya. Pria itu tersenyum lebar, sebuah senyum yang tampak sangat tulus sekaligus berbahaya. "Ini dia calon istriku," ucap Wira lantang sembari menunjuk Sari di hadapan keluarganya yang tercengang.Ketukan langkah kaki yang pelan terdengar dari arah pintu depan. Suara itu seketika mencuri perhatian Sari yang tengah sibuk menata makanan di atas meja.Dengan celemek yang masih terikat di pinggang, Sari bergegas meninggalkan tugasnya. Senyum riangnya merekah, bersiap menyambut kepulangan sang suami.Sari berjalan melewati ruang tengah, namun langkahnya melambat saat melihat Wira melangkah masuk dengan raut wajah yang amat murung."Apa terjadi sesuatu di luar?" batin Sari penasaran. Matanya menatap lekat Wira yang berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa.Wira langsung menjatuhkan diri ke atas sofa, menyandarkan tubuhnya yang tampak letih. Dia mendongak, memejamkan mata rapat-rapat. Rambutnya tampak begitu kusut, seolah terlalu sering diusap dengan frustrasi.Namun, sedetik kemudian, napas Sari tercekat. Matanya terbelalak mendapati noda merah yang mengering di kemeja putih suaminya."Wira, kamu habis dari mana?" Sari ber
"E-eh, jangan menangis..." gumam Wira panik, melihat air mata wanita di hadapannya mulai menetes. Secara refleks, kedua tangannya bergerak mencengkeram lengan Kasih. Pria itu sedikit menundukkan tubuh, mencoba menyamakan tinggi demi menyalurkan ketenangan. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena sudah salah paham." "Hiks..." Kasih masih sesenggukan. Perlahan, ia mendongak sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sepasang matanya yang mengerjap basah menatap Wira dengan bibir mengerucut cemberut. Detik berikutnya, pandangan Kasih sekilas beralih pada tangan kekar Wira yang masih berada di lengannya. Tanpa ragu, ia meraih salah satu telapak tangan pria itu dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu... apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Kasih dengan suara serak. "Katakan saja," sahut Wira singkat. Merasa tidak nyaman dengan
Tubuh pria itu terseret pasrah di atas lantai beton yang dingin.BRUG!Dua pasang tangan kekar mencengkeram ketiaknya tanpa belas kasihan. Matanya dibalut selembar kain hitam yang diikat kencang, sementara kedua tangannya terkunci rapat di belakang punggung.Meski pandangannya gelap gulita, indra pendengarannya menajam. Pria itu bisa mendengar dengung suara salah satu penculiknya yang sedang berbisik di telepon, melaporkan situasi."Siapa yang menyuruh kalian?! Cepat katakan!" pekiknya, mendongak secara asal.Tidak ada sahutan. Sunyi.Dua pria berbadan tegap itu hanya menatapnya dingin seolah sedang melihat seonggok daging tak berharga.Suara engsel pintu yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian. Pria itu refleks menolehkan kepala, mencoba menebak di mana dia berada sekarang. Tak berselang lama, hidungnya mengendus aroma parfum maskulin. Dia memiringkan telinga, menangkap bunyi ketukan sepatu pantofel yang kian mende
"Cih! Pantas saja tadi pagi langsung menghilang, ga mau sarapan. Ternyata sedang menjemput perempuan lain!" batin Sari, menggerutu habis-habisan dalam hati."Bisa-bisanya istri sendiri dibiarkan menyetir sendirian ke kantor."Sari berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah mengentak. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung mengempaskan tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman keras. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang sudah membubung hingga ke ubun-ubun.Di sudut ruangan, Kasih tersentak. Perempuan itu terdiam, meremas jemarinya dengan panik. Matanya sibuk melirik ke segala arah, terlalu takut untuk sekadar mendongak dan menatap langsung ke arah Sari."Anu ... maafkan saya, Bu," cicit Kasih lirih.Sari tidak menyahut, hanya menatapnya dingin."Mereka tidak bersalah. Jadi, tolong jangan hukum mereka," imbuh Kasih sembari membungkuk dalam-dalam."Eh? Apa maksudmu?" Sari mengangkat sebelah alisnya, benar-benar dibuat bingung oleh drama
"Hei, kenapa teleponku tidak diangkat?" tegur Sari dengan bibir mengerucut, menatap suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sari sempat dirundung khawatir karena seharian ini Wira pergi tanpa kabar. Puluhan panggilan dan pesan singkatnya tak kunjung dibalas, memaksanya menunggu dalam kecemasan. Sekilas, Sari melirik jam dinding, bertanya-tanya urusan apa yang membuat suaminya pulang selarut ini."Maaf, ya. Tadi ada urusan mendadak dan ponselku ketinggalan di mobil," jawab Wira santai. Ia melangkah ke tengah dapur, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat."Kenapa aku mencium parfum wanita?" batin Sari mengernyit. Ia terus mengendus, mendekatkan hidungnya pada kemeja Wira guna mengenali aroma manis yang sangat asing di indranya."Kamu tidak selingkuh, kan?" selidik Sari curiga."Hei, yang benar saja. Buat apa aku menyelingkuhi wanita secantik dan seseksi kamu?" sahut Wira menggoda. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya sem
"Maksudnya?" Pria itu mengangkat alis, tidak memahami arah pembicaraan Wira."Sebelum memutuskan siapa yang salah, bagaimana kalau kita dengar ceritanya dari kedua sisi? Biarkan nona ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Wira tenang, namun penuh penekanan."B-baiklah, Anda benar." Pria itu mengangguk patuh.Manajer hotel sebelumnya sudah mengonfirmasi kedatangan tamu agung yang saat ini berdiri di hadapan mereka. Wira Adi Cakra, pemilik Line Group sekaligus pewaris tunggal Cakra Corp. Sosok yang belakangan ini wajahnya menghiasi setiap laman berita bisnis."Kenapa orang sekelas dia mau ikut campur masalah sepele begini?" gumam pria itu dalam hati. "Pokoknya turuti saja, jangan sampai aku membuat kesalahan dan menyinggung orang sepenting ini."Ia berdeham, lalu menoleh pada gadis di depannya. "Kasih, cepat ceritakan apa yang terjadi!""Tadi saya datang membantu Bu Lastri membersihkan kamar. Lalu saya menemukan kalung
"Halo, ini aku... yang tadi bertemu di pesta," ucap Sari sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Suaranya terdengar ragu, bergetar oleh kecemasan yang mendalam."Aku tidak menyangka kamu akan menghubungiku secepat ini," sahut suara berat pria di balik telepon. "Apa kamu berubah pikiran?""Iya.
"Apa maksudnya?" gumam Sari seraya mengernyitkan dahi. Gurat kebingungan di wajahnya menuntut penjelasan lebih lanjut."Jadilah istriku! Aku akan membayarmu," tegas Wira bersungguh-sungguh.Kedua mata Sari membulat sempurna. Ia tak habis pikir dengan lelucon gila yang pria itu lontarkan. Seburuk it
"Lho, eh?!" Sari terbelalak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Keadaan aula seketika riuh. Para tamu serta keluarga Cakra terperangah melihat Wira dengan begitu protektif menggandeng tangan seorang gadis asing. Kasak-kusuk mulai memenuhi ruangan. Namun, di antara kerumunan itu, sepasang suam
"Tenang, Sari. Itu semua cuma masa lalu. Sekarang, fokuslah pada pekerjaanmu," gumam Sari pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debar jantung yang tak karuan.Ia menarik napas panjang, lalu menoleh cepat ke arah Krisna yang masih menunggunya di dekat area logistik. "Oh ya, Mas! Penampilanku bag







