LOGINBRAK!!Suara dentuman keras membelah kesunyian rumah tua itu. Pintu kayuterbuka setelah menerima tendangan kasar dari luar. Lingga melangkah masuk dengan napas memburu."Tuan Lingga? Ada perlu apa datang ke sini secara mendadak?" Ajis, paman Sari, berlari tergopoh-gopoh dari ruang tengah. Di belakangnya, Ratih dan Raisa mengekor dengan wajah pucat pasi, antara panik dan bingung melihat kedatangan tamu agung mereka yang bersikap seperti preman."Cepat, suruh Sari kembali kepadaku!" titah Lingga tanpa basa-basi. Tatapannya tajam, mengunci manik mata Ajis dengan tekanan yang mengintimidasi.Ajis tertegun, lidahnya mendadak kelu. "S-saya sudah mencoba. Saya sudah menyuruh Sari menceraikan suaminya, tapi anak itu keras kepala. Dia tidak mau---""Kalau dia tidak mau, ya dipaksa! Bukankah kamu pakarnya dalam hal paksa-memaksa?! Kemana perginya keahlianmu itu?" potong Lingga dengan suara meninggi. "Bawa dia kembali kepadaku, apa pun caranya!""Tapi, Tuan... Sari sudah berubah. Akhir-akhir ini
"Wah, dari dulu memang tidak berubah. Wira tetap jadi cucu kesayangan Kak Surya," bisik seorang wanita paruh baya di sudut meja. Ia adalah adik Surya yang datang bersama putranya, Setyo."Pantas saja kita disuruh menunggu lama, ternyata hanya demi Wira," sahut Setyo, menimpali bisikan ibunya dengan nada sinis.Di sisi lain meja, Lingga hanya terdiam dan memalingkan muka. Ia sudah muak dengan pemandangan itu. Di sampingnya, Sila, adik perempuannya, hanya menatap datar ke arah piring kosong."Oh ya, Sari. Aku punya sesuatu untukmu!" Surya tiba-tiba merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru.Sebuah kalung dengan permata biru berukuran besar berkilau di bawah lampu kristal ruang makan."Pernikahan kalian terlalu mendadak, dan aku belum sempat memberikan hadiah yang layak," lanjut Surya."Ayah!" Lembang memotong, suaranya meninggi. "Itu kan kalung warisan keluarga Cakra. Apa tidak berlebihan memberikan barang sepentin
Keesokan harinya, atmosfer di kantor terasa mencekam. Desas-desus merayap di sela-sela pembatas, dipicu oleh unggahan sebuah akun anonim yang mendadak viral. Rupanya, Cinta telah bergerak lebih cepat dari bayangan siapa pun. Foto yang diambilnya kemarin berhasil membingkai Sari dalam posisi yang tampak sangat intim dengan pria lain."Bu Sari selingkuh sama adik iparnya sendiri? Yang benar saja!" celetuk salah satu karyawan yang tengah bergerombol.Topik itu menyebar cepat bagai api yang melalap jerami kering. Setiap pasang telinga di kantor seolah gatal ingin mendengar lebih banyak."Katanya, sih... dulu mereka pernah pacaran. Tapi, Bu Sari malah menikahi kakak sepupunya!" timpal yang lain dengan nada penuh cemooh.Sari melangkah masuk ke dalam pantry dengan niat sederhana, menyeduh kopi untuk meredakan kepalanya yang pening. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat percakapan yang menyakitkan itu menusuk pendengarannya."Kalau sudah nikah, kenapa masih menggoda adik ipar
Suara gemericik air mengisi keheningan ruang VIP itu. Lingga memutar gelas minumannya pelan, mengamati pusaran cairan di dalamnya dengan tatapan bosan. "Kira-kira, manajer seperti apa yang akan kutemui?" gumam Lingga penasaran. Ia melirik singkat ke arah pintu jati yang masih tertutup rapat. Demi memenangkan hati klien besar, ia rela memesan tempat privat yang mewah ini. "Apa benar LineGroup sehebat rumornya?""Anda tidak boleh meremehkan mereka, Tuan Muda. Ingat, Anda di sini untuk mengajak mereka bekerja sama, Pak Lembang sendiri yang memerintahkan Anda," tegur pria bersetelan gelap yang berdiri tegak di samping sofa.Pria itu adalah asisten sekaligus pengawas yang dikirim untuk memastikan Lingga tidak berulah. Sebagai calon pewaris, Lingga dipaksa untuk belajar bernegosiasi dan menjaga wibawa keluarga Cakra."Jadi, bersikaplah sebaik mungkin agar tidak memalukan nama besar keluarga," tambahnya datar."Cih, banyak bicara! Cuma bawahan
Di sela waktu saat rumah dalam keadaan sepi, tepatnya setelah Sari berangkat kerja, Gilang sering berkunjung menemui tuannya. Demi mengurangi kecurigaan, mereka menjadikan rumah itu sebagai tempat berdiskusi. Terlalu berisiko jika Wira harus sering keluar atau berkunjung langsung ke perusahaan. "Jadi, Lingga menghubungi paman Sari? Apa kamu sudah memastikannya?" celetuk Wira sambil menatap tajam asistennya itu. Ia bersandar di sofa selayaknya tuan rumah yang berkuasa. "Sudah saya pastikan, Tuan. Dia sendiri yang mengaku kepada saya. Setelah saya telusuri..." Gilang melirihkan suaranya, "ternyata dulu paman Nyonya memang sering menghubungi Pak Lingga untuk meminta uang." "Anehnya, kemarin justru Pak Lingga yang menghubungi lebih dulu. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu," tambah Gilang. Wira terdiam, otaknya mulai menyusun kepingan teka-teki. Alasan di balik tindakan lawannya sudah pasti karena Lingga masih menyimpan perasaan pada Sari. "Apa dia sudah bosan dengan istrinya?"
Ting! Pintu lift terbuka. Sari melangkah keluar dengan cepat menuju lobi hotel. Ia menghampiri sosok Wira yang terlihat sedang menyandarkan lengannya ke dinding dengan kepala menunduk. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Sari cemas. Ia melihat Wira tampak mengatur napasnya yang tersengal, yang Sari kira sebagai ekspresi menahan sakit. "Lho, Pak Gilang? Bukannya tadi masih di atas?" Sari mengangkat alis melihat Gilang sudah berdiri di samping suaminya. Mereka bahkan tidak berpapasan di lift. "Haha... inilah gunanya punya kaki panjang, Bu Sari," tawa Gilang kikuk. Sari hanya mengangguk, tak mau ambil pusing. Ia kembali memastikan kondisi suaminya. "Kamu berkeringat banyak sekali," ujarnya sambil mengusap dahi Wira yang basah kuyup akibat maraton tangga darurat tadi. "Ayo, kita ke rumah sakit!" ajak Sari dengan nada sedikit panik. "Tidak usah. Aku mau pulang saja. Kalau dibawa istirahat, pasti nanti sembuh," jawab Wira sambil menggelengkan kepala. "Periksa saja, supaya dikasih obat. Takut







