Share

Kakak & Adik

Author: Chili Cemcem
last update publish date: 2026-05-14 23:52:33

Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka.

"Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini haru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kakak & Adik

    Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka."Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini harus bercerita siapa kamu. Pierre mungkin ingin sesuatu yang megah, tapi aku ingin sesuatu yang... benar-benar Luna."Luna berjalan perlahan, jemarinya menyentuh kelopak bunga mawar putih yang sempurna, lalu beralih ke bunga Lily of the Valley. "Aku suka yang putih, Kak. Tapi aku merasa ada yang kurang kalau hanya putih."Areta mengambil setangkai Calla Lily putih yang jenjang dan kokoh, lalu memadukannya dengan beberapa kuntum Eustoma (Lisianthus) berwarna ungu muda yang sangat lembut dan kelopa

  • Pria Culun Itu Suamiku   Persiapan Luna

    Setelah perdebatan panjang soal garis pinggang dan pola payet mereda, Pierre tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memasang wajah misterius, lalu melirik ke arah tas jinjing kulit besar yang ia letakkan di pojok butik sejak tadi."Luna, sebelum Areta melepaskan kain percobaan ini dari tubuhmu, aku punya satu hal lagi," ujar Pierre dengan nada suara yang tiba-tiba merendah dan penuh perasaan.Ia melangkah perlahan, mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam tasnya. Dengan gerakan perlahan layaknya sedang melakukan ritual suci, Pierre membukanya di hadapan Luna dan Areta.Areta spontan menutup mulut dengan tangannya, matanya membelalak kagum. Di dalam kotak itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi dengan desain yang sangat artistik. Bagian tumitnya terbuat dari logam tipis berwarna perak yang meliuk indah, sementara bagian badannya dilapisi kain sutra transparan yang dihiasi sulaman bunga melati kecil, bunga favorit Luna, yang dibuat dari kerajinan tangan yang luar

  • Pria Culun Itu Suamiku   CEO Junior Terlelap

    Energi Arkadia akhirnya habis juga. Setelah berkali-kali meluncur di perosotan barunya, bocah mungil itu mulai mengucek mata dan bersandar di kaki kursi kebesaran Papanya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak naik ke atas kursi kulit yang luas itu, kursi yang bagi orang lain adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arkadia tak lebih dari tempat tidur yang empuk.Hanya dalam hitungan menit, Arkadia sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja diletakkan Areta di sana. Tubuh kecilnya terlihat sangat kontras dengan kursi CEO yang megah, menciptakan pemandangan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.Adam yang baru saja akan kembali ke mejanya terhenti. Ia memberikan isyarat telunjuk di depan bibir kepada Luna yang baru saja mau masuk membawa map."Jangan berisik," bisik Adam pelan. "Jagoan kecilku sedang menguasai singgasananya."Areta tersenyum simpul melihat suaminya yang rela "terusir" dari meja kerjanya sendiri. Tanpa keluhan, Adam memindahkan laptop dan bebera

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kejutan Manis

    Keesokan harinya, Areta memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Setelah menyelesaikan beberapa pesanan di butik, ia menggendong Arkadia dan menyiapkan kotak bekal berisi masakan rumah favorit Adam.“Kita kasih kejutan buat Papa ya, Arkadia,” bisik Areta sambil mencium pipi gembul putranya.Areta memesan taksi online menuju gedung pencakar langit Rajawali Jaya Group.Begitu taksi online berhenti tepat di depan lobi utama gedung Rajawali Jaya, para petugas keamanan yang tadinya berdiri tegak langsung memberikan hormat paling takzim yang pernah Areta lihat. Mereka tidak menyapa dengan “Selamat siang, Bu,” melainkan dengan anggukan dalam seolah menyambut ratu yang pulang ke istananya.Areta melangkah masuk dengan tenang sembari menggendong Arkadia. Di lobi, Luna sudah menunggu dengan wajah sumringah.“Kak Areta! Akhirnya Pangeran Kecil mampir ke sini,” seru Luna riang. Ia langsung mengambil alih tas perlengkapan bayi Areta. “Tuan Adam ada di atas. Beliau baru saja menyelesai

  • Pria Culun Itu Suamiku   Baju Pengantin Luna

    Pagi ini, butik terasa lebih tenang. Setelah mengantar Areta ke butik, dan Arkadia ke rumah mama Veronica, Adam langsung berangkat ke kantor.Saat Areta sedang menyusun sketsa di meja kerjanya, pintu butik terbuka. Luna melangkah masuk dengan senyum formal yang biasa ia tunjukkan di kantor pusat."Selamat pagi, Nyonya Areta," sapa Luna dengan takzim, membungkukkan kepalanya sedikit.Areta meletakkan pensilnya, lalu menatap Luna dengan senyum tipis yang penuh arti. "Luna, sudahlah. Berhenti memanggilku 'Nyonya' dengan nada sekaku itu. Kita sedang di butik, bukan di ruang rapat Rajawali Jaya."Luna sedikit tersentak, matanya membelalak kecil. "Jadi ... saya harus panggil apa, nyonya? Sis?” kekeh Luna.“Boleh. Kakak ... aku lebih suka. Aku ingin seorang adik perempuan. Kamu bukan hal yang buruk. Mau?”“Tentu, Nyonya. Eh ... maksud saya, Kakak Areta.”Areta mengangguk diiringi senyuman. “Luna, kudengar kamu ke sini bukan untuk urusan kantor pusat?"Luna tersenyum tulus, kali ini le

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pengunduran Diri Luna

    Suasana di kantor pusat Rajawali Jaya terasa lebih tenang sore itu, namun tidak di meja kerja Luna. Wanita yang dikenal sebagai “tangan kanan” Adam yang paling tangguh itu kini hanya terduduk diam. Di hadapannya, sebuah amplop putih bersih terletak di atas meja marmer yang biasanya dipenuhi tumpukan berkas dan jadwal CEO.Selembar surat di dalamnya terasa begitu berat, meski hanya terdiri dari beberapa paragraf. Surat pengunduran diri.Luna menyentuh permukaan amplop itu dengan ujung jarinya. Menjadi sekretaris Adam bukan sekadar pekerjaan baginya, itu adalah identitasnya selama bertahun-tahun. Ia yang mengatur setiap detak napas perusahaan ini, ia yang menjadi tameng Adam di saat-saat tersulit, dan ia pula yang menjadi saksi bisu kembalinya cinta Adam dan Areta.“Apa aku benar-benar sanggup meninggalkan semua ini?” bisiknya pada keheningan ruangan.Namun, bayangan wajah Pierre seketika melintas di benaknya. Pierre, pria Paris dengan senyum santai dan selera humor yang mampu merunt

  • Pria Culun Itu Suamiku   Ketahuan Tapi Manis

    Adam bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekati pintu kamar mandi. Ia berdiri tepat di depan pintu, masih dengan aura tenang yang membuat Areta di dalam sana semakin gemetar.​"Are, aku sudah siapkan handuk bersih di depan pintu," ucap Adam lembut, suaranya kembali ke mode "Adam si suami perhati

  • Pria Culun Itu Suamiku   Rencana Jahat

    “Aku di sini untuk menyaksikan kehancuranmu, Areta! Aku tahu kamu dapat undangan makan malam pribadi. Aku hanya ingin semua orang tahu kalau kamu memanfaatkan kecantikanmu untuk mendekati Pak CEO!”Di tengah keriuhan itu, pintu besar ruangan VIP terbuka. Luna, sang sekretaris, melangkah keluar den

  • Pria Culun Itu Suamiku   Mencari Alasan

    “Oh, gantungan kunci ini?” Adam (versi CEO) mengambil benda itu dengan gerakan tenang, seolah-olah itu hanya benda remeh yang tidak berharga. Ia memutarnya di sela jari dengan santai. “Ini adalah merchandise resmi dari program ‘Rajawali Peduli Driver’ yang kami jalankan bulan lalu, Ibu Areta. Kam

  • Pria Culun Itu Suamiku   cantik

    "Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status