Share

Transformasi Adam

Author: Chili Cemcem
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-01 23:51:08

"Jangan melunjak!" potong Areta cepat, wajahnya memerah. "Tempel sendiri! Gunakan penggaris pola atau apa pun kalau tanganmu tidak sampai. Jangan manja."

Areta segera melangkah pergi menuju area workshop dengan langkah cepat, menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas. Di dapur, Adam hanya bisa terkekeh pelan. Meski kata-katanya masih tajam, tindakan Areta barusan membuktikan bahwa dinding es di hati istrinya itu mulai retak, meski hanya setebal selembar koyo.

Sore harinya, suasana butik m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pria Culun Itu Suamiku   Ingin Pindah

    Suasana di kediaman mewah milik Papa Rajes siang itu terasa begitu hidup namun penuh dengan dinamika tersembunyi. Meskipun Adam dan Areta menempati salah satu sayap rumah yang sangat luas dan nyaman, tetap saja ada perasaan "menumpang" yang terkadang menghinggapi benak Adam sebagai seorang kepala keluarga.​Begitu Mama Veronica dan Papa Rajes sampai di kamar cucu mereka, ketegangan semalam langsung mencair menjadi haru biru keluarga besar.​​"Maafkan Mama, Are ... Adam ...." Mama Veronica berkali-kali menciumi tangan Arkadia yang sedang tertidur pulas setelah suhunya kembali normal. "ART baru bilang tadi di bawah. Kenapa kalian tidak telepon Mama semalam? Papa bisa langsung minta kolega dokternya datang ke sini jam itu juga!"​Papa Rajes berdiri di samping boks bayi yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah, bagian dari kemewahan rumah ini. "Betul, Dam. Di rumah ini, fasilitas apapun bisa kita datangkan secepat kilat. Lain kali, langsung lapor Papa. Jangan menanggung beban sendiria

  • Pria Culun Itu Suamiku   Arkadia Demam

    Malam yang tenang di kediaman Adam dan Areta seketika berubah mencekam saat suara tangis Arkadia terdengar berbeda dari biasanya. Bukan tangis karena lapar atau popok basah, melainkan rintihan kecil yang menyayat hati.Areta yang pertama kali menyadarinya. Saat ia mengangkat Arkadia dari boks, telapak tangannya merasakan panas yang tidak wajar dari dahi sang putra.Kepanikan Ibu Baru“Adam! Adam, bangun!” teriak Areta dengan suara gemetar.Adam langsung terduduk tegak. Ia melihat Areta berdiri di tengah kamar dengan wajah pucat pasi, mendekap Arkadia yang wajahnya tampak kemerahan. Adam segera mengambil termometer digital dan menyentuhkannya ke dahi Arkadia.38,5° Celsius.“Dia demam tinggi, Adam. Bagaimana ini? Apa aku salah memberinya makan? Atau dia tertular virus saat kita ke supermarket kemarin?” Areta mulai menyalahkan dirinya sendiri, air matanya mulai jatuh. Tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan mendadak terasa lemas.Adam Sang PenenangMelihat Areta yang hampir his

  • Pria Culun Itu Suamiku   LDR

    Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu melankolis. Riuh rendah pengumuman keberangkatan dan langkah terburu-buru penumpang seolah menjadi latar belakang yang kabur bagi Luna dan Pierre. Di jari manis Luna, cincin berlian itu berkilau, menjadi satu-satunya benda yang membuat perpisahan ini terasa nyata namun tidak terlalu menyakitkan.Pierre berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional. Ia memegang kedua tangan Luna, seolah enggan melepaskannya meski hanya untuk melewati pemeriksaan paspor.“Aku merasa seperti sedang meninggalkan separuh jiwaku di Jakarta,” bisik Pierre, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit untuk berpaling.Luna mencoba tetap terlihat tegar, ciri khas sekretaris tangguh yang selama ini ia bangun. Ia merapikan kerah kemeja Pierre untuk terakhir kalinya. “Jangan berlebihan, Pierre. Kamu hanya pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita. Ingat, aku tidak mau tinggal di apartemen yang berantakan di Paris nanti.”Pierre terkekeh, namun

  • Pria Culun Itu Suamiku   Lamaran

    Kehidupan di rumah setelah kepulangan dari rumah sakit ternyata tidak semudah sketsa gaun yang indah. Areta, yang biasanya perfeksionis dan terkontrol, kini berhadapan dengan realita menjadi ibu baru. Kurang tidur yang kronis dan perubahan hormon pascapersalinan membuat mood-nya menjadi sangat labil.Malam itu, jam menunjukkan pukul dua pagi. Arkadia baru saja terlelap setelah menangis selama dua jam karena kolik. Areta duduk di pinggir tempat tidur dengan rambut berantakan dan lingkaran hitam di bawah matanya.Adam, yang juga terjaga namun sempat terlelap sebentar di kursi, terbangun dan mencoba membantu. Ia mendekat dengan langkah pelan, membawa segelas air putih hangat.“Are, minumlah dulu. Kamu sudah sangat lelah,” ucap Adam lembut.Areta menoleh, namun alih-alih senyuman, tatapannya tajam dan penuh amarah yang tertahan. “Air? Kamu baru bangun dan menawariku air setelah aku berjuang sendirian menenangkan Arkadia selama dua jam?”Adam tertegun, mencoba tetap tenang. “Maaf, Ar

  • Pria Culun Itu Suamiku   Berdua Hanya Denganmu

    Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar apartemen Luna terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Luna terbangun dengan senyum yang langsung mengembang di wajahnya. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menyentuh puncak kepalanya, teringat usapan lembut Pierre semalam.Baru saja ia merenggangkan tubuh, ponsel di atas nakas bergetar. Nama “Pierre (Paris)” muncul di layar. Luna berdeham, mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu girang.“Halo?” ucap Luna, berusaha terdengar seperti orang yang baru bangun tidur tapi tetap profesional.“Selamat pagi, ma belle,” suara bariton Pierre terdengar segar di seberang sana. “Aku sudah berada di bawah, di depan lobi apartemenmu. Aku berpikir, sarapan di hotel sangat membosankan. Maukah kamu menemaniku sarapan sebentar lalu aku antar kamu berangkat kerja ke kantor Rajawali Jaya?”Luna bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju balkon dan mengintip ke bawah. Benar saja, mobil yang sama dengan semalam sudah terparkir manis di san

  • Pria Culun Itu Suamiku   Luna dan Pierre

    Sore harinya, mereka berkumpul di ruang tengah. Papa Rajes tampak sibuk mengambil foto sang cucu dari berbagai sudut, sementara Mama Veronica bolak-balik memastikan sup sehat untuk Areta tersedia.“Arkadia, lihat Kakek,” ujar Rajes dengan suara yang dipaksakan imut—sesuatu yang belum pernah dilihat Areta sebelumnya dari sosok ayahnya yang kaku.Areta bersandar di bahu Adam, menikmati keramaian kecil di rumahnya. Tidak ada lagi suasana sepi yang dingin. Sekarang, rumah itu penuh dengan suara tawa, diskusi tentang popok, dan rencana masa depan.“Rasanya aneh ya, Adam,” bisik Areta. “Dulu kita hanya bicara tentang persaingan bisnis, sekarang kita bicara tentang kapan Arkadia harus menyusu.”Adam mencium pelipis istrinya. “Itulah indahnya hidup, Are. Kita sudah selesai menjahit masa lalu yang retak, sekarang saatnya kita menikmati pakaian kebahagiaan yang baru ini.”Di tengah kehangatan itu, Arkadia menggeliat kecil dan membuka matanya, seolah menyadari bahwa ia kini telah berada di

  • Pria Culun Itu Suamiku   Jangan Cemas, Are

    Tante Linda merampas bolpoin dari tangan Adam dengan tergesa. Tanpa membaca lebih teliti lagi, ia membubuhkan tanda tangan di atas materai. Baginya, lembaran kertas itu adalah tiket keselamatannya dari kejaran mobil-mobil hitam yang mengintai di kegelapan gang."Sudah! Sekarang suruh mereka pergi!"

  • Pria Culun Itu Suamiku   Gagal Cium

    Begitu mobil mewah itu berhenti di depan mulut gang, Adam segera turun dengan langkah terburu-buru, mencoba menghalau rasa panas yang membakar wajahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung terduduk di kursi kayu ruang tamu, memejamkan mata rapat-rapat karena uap mentol masih menyengat matanya hingga

  • Pria Culun Itu Suamiku   Efek Minyak Angin

    Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di butik untuk mengerjakan sketsa pesanan Nyonya Dewi, matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Sesuai janji, mereka pulang lebih awal karena kondisi "kesehatan" Adam yang tampak belum stabil.Kembali ke jalanan, mobil tua Adam itu kembali batuk-batuk.

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pura-Pura Tumbang

    Adam mengambil selembar kain sutra organza dan melampirkannya di manekin dengan teknik draping yang sangat cepat dan presisi, sebuah teknik tingkat tinggi yang hanya dikuasai penjahit berserifikat kelas dunia."Jangan gunakan pola potongan biasa," ucap Adam sambil menekuk kain itu menjadi lipatan-li

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status