Share

Party

Author: Chili Cemcem
last update publish date: 2025-12-16 11:22:14

Pagi hari berikutnya, dengan lingkar mata yang mulai terlihat, Areta melangkah keluar kamar, masih mengenakan piyama sutra mahalnya, bersiap mencari kopi mahal di luar.

"Selamat pagi, Are," sapa Adam.

Pria itu sudah duduk di depan mesin jahit industrinya yang besar. Ia sudah rapi dalam balutan kemeja kotak-kotak dan celana cingkrang-nya. Di tangannya, ia memegang mug keramik tua.

"Kopiku di mana?" tanya Areta, mengabaikan sapaannya.

"Kopi ada. Tapi gak ada kopi mahal. Adanya kopi hitam. Kalau m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Culun Itu Suamiku   Arkadia Demam

    Malam yang tenang di kediaman Adam dan Areta seketika berubah mencekam saat suara tangis Arkadia terdengar berbeda dari biasanya. Bukan tangis karena lapar atau popok basah, melainkan rintihan kecil yang menyayat hati.Areta yang pertama kali menyadarinya. Saat ia mengangkat Arkadia dari boks, telapak tangannya merasakan panas yang tidak wajar dari dahi sang putra.Kepanikan Ibu Baru“Adam! Adam, bangun!” teriak Areta dengan suara gemetar.Adam langsung terduduk tegak. Ia melihat Areta berdiri di tengah kamar dengan wajah pucat pasi, mendekap Arkadia yang wajahnya tampak kemerahan. Adam segera mengambil termometer digital dan menyentuhkannya ke dahi Arkadia.38,5° Celsius.“Dia demam tinggi, Adam. Bagaimana ini? Apa aku salah memberinya makan? Atau dia tertular virus saat kita ke supermarket kemarin?” Areta mulai menyalahkan dirinya sendiri, air matanya mulai jatuh. Tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan mendadak terasa lemas.Adam Sang PenenangMelihat Areta yang hampir his

  • Pria Culun Itu Suamiku   LDR

    Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu melankolis. Riuh rendah pengumuman keberangkatan dan langkah terburu-buru penumpang seolah menjadi latar belakang yang kabur bagi Luna dan Pierre. Di jari manis Luna, cincin berlian itu berkilau, menjadi satu-satunya benda yang membuat perpisahan ini terasa nyata namun tidak terlalu menyakitkan.Pierre berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional. Ia memegang kedua tangan Luna, seolah enggan melepaskannya meski hanya untuk melewati pemeriksaan paspor.“Aku merasa seperti sedang meninggalkan separuh jiwaku di Jakarta,” bisik Pierre, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit untuk berpaling.Luna mencoba tetap terlihat tegar, ciri khas sekretaris tangguh yang selama ini ia bangun. Ia merapikan kerah kemeja Pierre untuk terakhir kalinya. “Jangan berlebihan, Pierre. Kamu hanya pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita. Ingat, aku tidak mau tinggal di apartemen yang berantakan di Paris nanti.”Pierre terkekeh, namun

  • Pria Culun Itu Suamiku   Lamaran

    Kehidupan di rumah setelah kepulangan dari rumah sakit ternyata tidak semudah sketsa gaun yang indah. Areta, yang biasanya perfeksionis dan terkontrol, kini berhadapan dengan realita menjadi ibu baru. Kurang tidur yang kronis dan perubahan hormon pascapersalinan membuat mood-nya menjadi sangat labil.Malam itu, jam menunjukkan pukul dua pagi. Arkadia baru saja terlelap setelah menangis selama dua jam karena kolik. Areta duduk di pinggir tempat tidur dengan rambut berantakan dan lingkaran hitam di bawah matanya.Adam, yang juga terjaga namun sempat terlelap sebentar di kursi, terbangun dan mencoba membantu. Ia mendekat dengan langkah pelan, membawa segelas air putih hangat.“Are, minumlah dulu. Kamu sudah sangat lelah,” ucap Adam lembut.Areta menoleh, namun alih-alih senyuman, tatapannya tajam dan penuh amarah yang tertahan. “Air? Kamu baru bangun dan menawariku air setelah aku berjuang sendirian menenangkan Arkadia selama dua jam?”Adam tertegun, mencoba tetap tenang. “Maaf, Ar

  • Pria Culun Itu Suamiku   Berdua Hanya Denganmu

    Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar apartemen Luna terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Luna terbangun dengan senyum yang langsung mengembang di wajahnya. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menyentuh puncak kepalanya, teringat usapan lembut Pierre semalam.Baru saja ia merenggangkan tubuh, ponsel di atas nakas bergetar. Nama “Pierre (Paris)” muncul di layar. Luna berdeham, mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu girang.“Halo?” ucap Luna, berusaha terdengar seperti orang yang baru bangun tidur tapi tetap profesional.“Selamat pagi, ma belle,” suara bariton Pierre terdengar segar di seberang sana. “Aku sudah berada di bawah, di depan lobi apartemenmu. Aku berpikir, sarapan di hotel sangat membosankan. Maukah kamu menemaniku sarapan sebentar lalu aku antar kamu berangkat kerja ke kantor Rajawali Jaya?”Luna bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju balkon dan mengintip ke bawah. Benar saja, mobil yang sama dengan semalam sudah terparkir manis di san

  • Pria Culun Itu Suamiku   Luna dan Pierre

    Sore harinya, mereka berkumpul di ruang tengah. Papa Rajes tampak sibuk mengambil foto sang cucu dari berbagai sudut, sementara Mama Veronica bolak-balik memastikan sup sehat untuk Areta tersedia.“Arkadia, lihat Kakek,” ujar Rajes dengan suara yang dipaksakan imut—sesuatu yang belum pernah dilihat Areta sebelumnya dari sosok ayahnya yang kaku.Areta bersandar di bahu Adam, menikmati keramaian kecil di rumahnya. Tidak ada lagi suasana sepi yang dingin. Sekarang, rumah itu penuh dengan suara tawa, diskusi tentang popok, dan rencana masa depan.“Rasanya aneh ya, Adam,” bisik Areta. “Dulu kita hanya bicara tentang persaingan bisnis, sekarang kita bicara tentang kapan Arkadia harus menyusu.”Adam mencium pelipis istrinya. “Itulah indahnya hidup, Are. Kita sudah selesai menjahit masa lalu yang retak, sekarang saatnya kita menikmati pakaian kebahagiaan yang baru ini.”Di tengah kehangatan itu, Arkadia menggeliat kecil dan membuka matanya, seolah menyadari bahwa ia kini telah berada di

  • Pria Culun Itu Suamiku   Orangtua Baru

    Areta memutuskan untuk duduk di kursi menyusui yang ada di dekat boks bayi. Namun, saat ia baru saja akan duduk, ia merasakan sepasang tangan yang kokoh namun lembut menahan pundaknya dari belakang.“Kenapa tidak bangunkan aku, Are?”Suara berat dan serak khas orang bangun tidur itu terdengar tepat di telinganya. Areta menoleh dan mendapati Adam sudah berdiri di sana, matanya masih sedikit merah karena kantuk, namun sorot matanya penuh dengan kekhawatiran sekaligus penyesalan karena membiarkan istrinya berjalan sendirian.“Aku tidak tega, Adam. Kamu baru saja memejamkan mata,” jawab Areta lirih.Adam tidak menjawab, ia hanya mengambil alih Arkadia dari pelukan Areta dengan sangat hati-hati, lalu membantu istrinya duduk di kursi dengan perlahan. “Tugasmu adalah menyusuinya, Are. Tugasku adalah mengantarnya padamu dan menjagamu tetap nyaman. Jangan pernah menanggung nyeri itu sendirian lagi.”Adam berlutut di samping kursi Areta, memastikan posisi bantal menyusui sudah benar, sambi

  • Pria Culun Itu Suamiku   Mencari Alasan

    “Oh, gantungan kunci ini?” Adam (versi CEO) mengambil benda itu dengan gerakan tenang, seolah-olah itu hanya benda remeh yang tidak berharga. Ia memutarnya di sela jari dengan santai. “Ini adalah merchandise resmi dari program ‘Rajawali Peduli Driver’ yang kami jalankan bulan lalu, Ibu Areta. Kam

  • Pria Culun Itu Suamiku   cantik

    "Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yan

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pelukan Singkat

    Lobi samping dekat kantin karyawan Rajawali Tower mendadak riuh. Areta berlari setengah tidak peduli dengan bunyi hak sepatunya yang beradu keras dengan lantai marmer. Di sana, di tengah kepungan tiga satpam berbadan tegap, ia melihat "Gus"—suaminya—sedang berdiri memegang helm kusamnya dengan waja

  • Pria Culun Itu Suamiku   Jadi Orang Lain

    Pagi itu, suasana di kediaman Mama Veronica terasa tenang, namun ketegangan di hati Adam belum sepenuhnya sirna. Sebelum sinar matahari benar-benar menyengat, Adam melangkah menuju ruang kerja di lantai bawah. Di sana, ia melihat sosok pria yang sangat ia hormati sedang menyesap kopi hitamnya sambi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status