Share

Bab 3

Penulis: Hare Ra
last update Tanggal publikasi: 2026-03-25 14:21:48

“Nyonya…”

“Bimo, kasihan dia sudah sangat keras,” bisik Selvi di telinga Bimo.

Bimo masih sedikit ragu. Ia tahu, ini salah. Tidak seharusnya seperti ini, dan tugasnya adalah menjadi instruktur, bukan menjadi pemuas nafsu. 

Tapi, keadaan ini benar-benar diluar kendalinya, apalagi Selvi dengan tangan lembut dan lentiknya memegang miliknya. 

“Aku tidak bisa,” tolak Bimo beberapa saat kemudian. Ia sedikit mendorong tubuh Selvi agar menjauh.

Tapi, bukan Selvi kalau menurut. Ia malah semakin memainkan milik Bimo. Mengelus dan mencubit kecil, sehingga membuat hasrat Bimo semakin memuncak.

“Cepat, Bimo. Aku sudah tidak tahan,” lenguh Selvi sambil menggerayangi bagian atas tubuhnya sendiri. ia menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi yang benar-benar menggoda.

Bimo tidak tahan melihatnya, ia mendaratkan kembali ciuman brutal ke bibir Selvi, kemudian turun ke leher dan bahunya yang yang putih lembut itu. Bimo menurunkan kedua tali dress yang dikenakan Selvi, sehingga bagian tubuh atasnya yang putih sudah sepenuhnya terlihat. 

“Ahh…” Selvi menjerit tertahan. “Masukkan sekarang, Bimo. Jangan siksa aku begini.”

“Apa Nyonya yakin?” tanya Bimo.

“Iya, aku mau sekarang.”

“Baik, Nyonya. Bersiaplah.”

Melihat Selvi yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, Bimo mulai bergerak, mengarahkan kebanggaannya ke pangkal paha Selvi yang sudah terbuka sejak tadi.

“Kamu sudah basah, Nyonya,” bisik Bimo di telinga Selvi.

Selvi mengangguk, ia semakin membuka kedua kakinya, menarik tangan Bimo agar segera menyatukan tubuh mereka. Namun, baru saja ujungnya menyentuh kulit Selvi, rasa hangat mulai menjalari keduanya, dan…

Telolet!

Suara klakson membahana mengagetkan mereka. Sebuah mobil sedan mewah berada di depan gerbang.

“Mas Bram?” gumam Selvi terkejut, ia hapal dengan suara klakson itu, milik suaminya. Lampu sensor otomatis menyala terang, menembus kaca mobil yang berembun.

Suara itu terus menjerit-jerit, memaksa Bimo dan Selvi menghentikan aktifitas panas mereka. 

Selvi pucat pasi, ia tidak menyangka kalau malam ini suaminya pulang. Padahal kalau seperti kebiasaannya, suaminya tidak akan mungkin pulang. Tapi, entah mengapa hari ini berbeda dari biasanya.

Tiba-tiba saja Bram pulang. 

Ia mendorong Bimo hingga jatuh ke lantai mobil, sedangkan ia duduk dibalik kemudi berusaha santai menaikkan kembali gaunnya dan merapikan rambutnya.

Suasana panas berubah menjadi mencekam karena ketakutan tertangkap basah, apalagi di depan sana Bram masih menekan klakson berkali-kali.

“Siapa?” tanya Bimo setengah berbisik.

“Suamiku.”

“Bagaimana ini, Nyonya?” Bimo panik, tidak mungkin baru sehari bekerja ia langsung dipecat, dan juga kalau suami Selvi tahu, bisa-bisa ia akan babak belur atau malah berakhir di penjara. 

“Pergi,” jawab Selvi mendesis penuh penekanan.

Bimo mengangguk, lalu merapikan pakaiannya dalam hitungan detik dan merangkak keluar lewat pintu samping menuju taman belakang, menghilang di balik semak kamboja dengan jantung yang berdegup kencang.

Ia sudah seperti maling yang tertangkap basah, bahkan tidak lagi peduli keadaan sekelilingnya. Yang penting bisa kabur dari situasi itu.

“Sial, kenapa harus seperti ini?” tanya Bimo pelan pada dirinya sendiri.

Bimo mengintip Selvi keluar mobil dengan wajah tenang, dressnya sudah rapi kembali, menyambut suaminya seolah ia baru saja selesai latihan parkir yang membosankan.

“Hai, Sayang. Aku senang sekali kamu pulang,” ucap Selvi menyambut kedatangan Bram.

“Hmm.”

“Aku kangen sama kamu.” Selvi langsung bergelayut manja di lengan kanan Bram setelah mengecup bibir sang suami.

“Kenapa lama sekali membuka gerbang?” tanya Bram.

“Aku baru saja memarkirkan mobil, ternyata sulit sekali belajar mengemudi. Apalagi saat mau parkir, itu sangat membosankan. Kalau tidak kamu paksa, aku tidak mau latihan.” Selvi menjawab sambil manyun, seolah ia sedang merajuk kepada Bram.

“Sudah mulai latihan?”

“Iya, Sayang.”

“Baguslah. Agar tidak merepotkan lagi kalau mau pergi kemana-mana,” ucap Bram datar.

Sementara itu, Bimo perlahan-lahan mulai keluar dari semak kamboja di taman. Beruntungnya Bram tidak menyadari adanya motor butut Bimo yang terparkir di luar pagar.

“Ah sial, bagaimana dengan ini?” tanya Bimo sambil menatap celananya yang kini masih menggembung, sisa hasrat masih belum sepenuhnya hilang.

Sembari mengendarai motor tua itu, kepalanya seperti nyut-nyutan. Gairah yang sudah di ujung kepala harus berhenti secara mendadak itu meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.

Ia merasa seperti sampah saja, sebelum dia tergoda dirayu dengan sedemikian rupa. Tapi, saat hasratnya sudah mulai bangkit, malah harus berakhir seperti ini.

Bimo sadar, pekerjaannya ini sangat berbahaya. Godaannya dari kliennya begitu kuat, juga adrenalinnya yang tertantang, takut ketahuan dari suaminya. Bahkan sekarang, ia merasa tidak lebih dari seorang gigolo.

Akhirnya, Bimo tiba di rumah petakannya. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya selama di kota.

Klik!

Bimo menekan saklar di dekat pintu, seketika ruangan itu terang benderang. Ruangan yang kosong, hanya ada karpet tipis, lemari plastik dan tas yang ia bawa dari desa. Selebihnya kosong, bahkan kipas angin kecil murahan pun tidak ada.

Kamar mandinya terletak diluar, bergabung dengan penghuni petakan yang lainnya.

Tapi, bagi Bimo ini sudah cukup. Setidaknya, selama disini tubuhnya terlindungi dari panas dan hujan. Ini rumah yang disediakan gratis oleh kantor tempatnya terdaftar sebagai instruktur mengemudi.

“Terpaksa harus solo sebentar lagi,” ucap Bimo sambil mengusap miliknya dengan lembut dari luar celananya.

Bimo merebahkan tubuhnya pada kasur tipis itu, tapi pada saat itu, ponsel yang masih berada di dalam saku celananya itu bergetar.

Sebuah notifikasi dari Selvi berisi foto bekas gigitan Bimo di bahunya: "Baru pemanasan saja sudah sekuat itu. Besok aku tunggu kamu jam sepuluh malam di villa belakang, kita tuntaskan semuanya. Aku ingin merasakan tubuhmu yang kekar itu, Bimo.”

Bimo tertegun sejenak.

“Villa belakang? Jam sepuluh malam?” Bimo membeo, membaca kembali pesan yang dikirimkan Selvi, seketika ia kembali teringat bagaimana bentuk tubuh wanita muda itu. Meskipun sudah memiliki suami, tapi tubuhnya masih sangat indah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 153

    "Apa kamu serius, Bimo?" tanya Pak Rahmat.Bimo menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan foto yang ia ambil. Terlihat jelas bekas potongan rapi di tengah besi motor Pak Rahmat."Berarti ini saat Bapak di sawah parkir. Mungkin ada yang diam-diam melakukan ini pakai gergaji besi," ucap Bimo."Siapa yang mau membunuh bapak kamu?" tanya Sulis."Biar aku selesaikan, Bi. Bibi tidak perlu khawatir dan Bibi juga tidak perlu merawat Bapak di sini. Biar aku saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku akan menetap di sini," ucap Bimo.Pak Rahmat menatap Bimo tidak percaya. Keputusan Bimo tampak terdengar terburu-buru. Tapi jujur dalam hatinya merasa senang akhirnya anaknya mau kembali ke desa.Pun dengan Alena dan Lia, keduanya langsung menatap Bimo tidak berkedip mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo.Mereka tidak menyangka kalau akhirnya Bimo memutuskan tidak kembali lagi ke kota."Nah, gitu harusnya. Sejak ibu kamu meninggal tidak usah pergi ke mana-mana. Katanya sudah beli banyak sawa

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 152

    "Kak Bimo, tunggu!" teriak Lia yang berlari menyusul Bimo, buru-buru masuk ke dalam rumah.Tampak beberapa orang menoleh ketika melihat Bimo dan Lia datang."Bimo, akhirnya kamu pulang," sambut para tetangga melihat kedatangan Bimo."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bimo."Bapak kamu mengalami kecelakaan, Bim. Tadi saat mengangkut gabah dari sawah, motornya tiba-tiba belah dua."Seorang lelaki paruh baya menjelaskan kepada Bimo apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Bapaknya Bimo sudah berada di rumah, baru dibawa pulang dari puskesmas.Beliau mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan tertimpa gabah."Belah dua? Bagaimana?" tanya Bimo heran."Iya, antara kepala dan belakangnya itu belah jadi dua gitu. Nggak tahu kenapa, besinya kayak patah."Bimo mendekat. Bapaknya tampak sudah sadar, tapi menurut beberapa orang kaki dan tangannya mengalami keseleo."Bapak!" panggil Lia yang langsung memeluk Pak Rahmat yang kini terbaring di kasur. Beliau dirawat oleh adik kandungnya yang memang

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 151

    Alena terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo, karena yang ia tahu seharusnya hari ini Bimo bertemu dengan ibunya untuk memutus rantai perjanjian yang menjerat itu."Hah? Apa yang terjadi? Dia mengancammu?" tanya Alena.Bimo menghela napas berat dan memegang kepalanya. Rasanya begitu sakit. Ia terbentur antara prinsip dan kenyataan."Nyonya Rossa menggunakan keselamatan Lia untuk menekanku."Alena menggelengkan kepalanya. Ia tahu posisi Bimo pasti serba salah dan kesulitan karena Lia adalah adik kesayangannya. Lia adalah satu-satunya saudara kandungnya.Tapi kalau seperti ini berarti hubungan mereka tidak akan pernah meningkat dan berpacaran secara resmi sebab Bimo masih terikat kontrak dan masih menjadi gigolo.Namun, di sisi lain Alena juga tidak bisa menyalahkan Bimo. Jika berada di posisi Bimo, pastinya sangat berat."Ya sudah, tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, yang pastinya aku mencintaimu," ucap Alena.Bimo tidak menjawab. Ia merasa tidak pantas membalas ra

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 150

    "Aku nggak apa-apa, Lia," ucap Bimo menenangkan Lia.Bimo yang sakit, tapi Lia yang menangis. Alena malah tampak bingung melihat dua saudara ini.Alena melihat bagaimana rasa sayangnya dan hubungan persaudaraan antara Lia dan Bimo. Lia begitu mengkhawatirkan Bimo. Bahkan melihat Bimo hanya sakit biasa saja, Lia sampai menangis.Tapi dari situ juga Alena sadar kalau Lia itu seperti menyimpan trauma. Ia takut kalau orang yang disayanginya pergi begitu saja untuk selama-lamanya.Pengalaman kehilangan sang ibu ternyata membuat Lia menjadi over ketakutan.Alena memegang tangan Lia."Lia, kakak kamu sepertinya hanya demam biasa. Kamu jangan nangis lagi. Tapi kita akan bawa kakak kamu ke rumah sakit agar ia segera diobati," ucap Alena."Kak Bimo jangan tinggalin aku," ujar Lia menatap Bimo lekat."Lia, kakak cuma pusing, bukan mau mati," jawab Bimo.Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen, dan Alena lah yang akan mengemudikan mobil.Dan ketika mereka sedang berjalan menuju mobil

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 149

    "Apa aku tidak salah dengar? Kamu menikmatinya?" tanya Bimo heran. "Tentu," jawab Andi. "Kalau begitu, selamat menikmatinya," ucap Bimo akhirnya karena ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia juga tidak kenal Andi. Apakah benar lelaki itu benar-benar menikmati perannya saat ini atau karena tidak punya pilihan lain? "Memangnya kamu tidak menikmatinya? Bahkan yang dibilang dalam beberapa hari kamu bergabung dengan para nyonya sosialita itu, kamu sudah melunaskan utangmu di desa." "Aku ingin melepaskan diri," jawab Bimo. Andi tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Bimo. Mungkin ia merasa lucu ada seorang gigolo yang sedang galau, yang ingin melepaskan diri dari jerat para wanita. Padahal jelas selama ini ia menikmati uang yang banyak itu. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Bimo kesal. "Iya, baru kali ini aku melihat manusia munafik seperti kamu. Ternyata di balik pujian para wanita itu, kamu adalah manusia yang sangat munafik." Bimo membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan o

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 148

    "Apa kamu sudah berani melawanku, Bimo?" tanya Nyonya Rossa menatap Bimo dengan tajam. Pastinya Nyonya Rossa tidak pernah menyangka kalau Bimo berani menolak permintaannya. Bimo tidak ingin menandatangani surat pembaharuan perjanjian yang ia buat. "Aku tidak melawan. Aku hanya mengemukakan pendapatku. Dan karena kontrak pertama kita sudah berakhir, jadi aku tidak terikat dengan siapapun dan aku berhak menolak," jawab Bimo. "Kamu sudah bosan hidup?" "Hidup dan matiku bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan." "Bimo, kamu tahu betapa banyaknya kerugian yang kamu alami kalau menolak kontrak ini. Uang puluhan juta yang kamu terima selama ini akan lenyap. Hidupmu akan kembali sengsara dan miskin." Bimo menghela napas berat. Ia tahu sekali terikat dengan mereka sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Tapi Bimo sudah bertekad, kali ini ia akan lepas. "Kali ini pesertanya bukan lagi yang lama, tapi orang-orang yang baru dan hanya lima orang," ujar Nyonya Rossa kemudian sambil m

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 2

    “Nyonya maaf, jangan seperti ini,” ujar Bimo menarik kembali tangannya yang gemetar tidak karuan.Ia bisa merasakan pangkal paha Selvi yang lembab itu, dan ia yakin di dalam sana mungkin sudah basah.“Kenapa?”“Saya ditugaskan untuk menjadi instruktur, Nyonya.”“Ini juga bagian dari kursus kok,” ja

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 1

    “Nak, maafkan bapak dan Ibu ya. Kamu sampai harus kerja merantau demi kami…”Bimo mengusap wajahnya yang berminyak. Tangannya gemetar memegang ponsel, mendengar suara parau ibunya. Di hadapannya kini berdiri rumah mewah bercat putih dengan pagar setinggi dua meter. Bimo tak pernah membayangkan aka

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 4

    Keesokan paginya, Bimo kembali ke kantor. Ini adalah hari kedua ia bekerja sebagai instruktur mengemudi, tapi ia menyebut pekerjaannya adalah uji nyali.“Entah, gebrakan apa lagi yang akan Nyonya Selvi berikan hari ini,” gumam Bimo sambil berjalan santai menuju loker kerjanya.Ia ditugaskan menjadi

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 5

    Bimo menatap Selvi dengan tajam, napasnya mulai memberat. "Nyonya yakin mau melakukan ini?" tanyanya dengan suara rendah yang mengintimidasi.Selvi tersenyum menggoda, menatap tepat ke mata pria itu. "Tentu saja. Apalagi yang kamu tunggu?”Bimo menatap Selvi dengan tajam. Tanpa ragu, ia melepaskan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status